DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)

DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)
BAB 51 Interogasi



Happy Reading 🤗


.


.


.


.


.


.


Seorang pria tengah duduk di atas kursi dengan kaki menyilang, matanya menatap datar pada pria yang sedang terikat di atas kursi. Tatapan dingin penuh tekanan, membuat pria yang telah babar belur menundukkan kepala dengan ekspresi ketakutan. Pria dengan setelan jas formal, merogok sesuatu di saku celananya dan mengeluarkan sebungkus rokok berwarna putih. Pria itu membuka bungkusan rokok dan mengambil sebatang rokok berukuran kecil, ia kemudian memasukannya ke mulutnya yang diapit oleh bibir atas dan bawah.


Pria itu dengan santai memantik korek api di tangannya, setelah mengeluarkan api, ia mendekatkannya pada ujung rokok di mulut, membakarnya kemudian menghisapnya dalam-dalam, sehingga membuat ujung rokok terbakar dengan cepat. Selepas itu, ia mengepulkan asap rokok ke udara, menyandarkan punggungnya lalu kembali menatap datar wajah pria yang terikat.


“Katakan, siapa yang menyuruhmu melakukannya? sebenarnya… sangat mudah bagiku mendapatkan informasi sekalipun bukan darimu. Namun, aku berbaik hati membiarkanmu lolos dari rasa sakit yang berkepanjangan” setelah berdiam diri cukup lama, pria dengan setelan jas berwarna silver berujar. Namun, pria yang disandera tidak bicara, ia mengunci rapat-rapat bibirnya. Melihat usaha korban di depannya membuatnya tertawa kecil dan menyeringai licik.


“Kau cukup setia kawan, tapi aku sungguh membencinya” ucapnya lagi. Kali ini, pria berjas itu berdiri dan berjalan ke salah satu ruangan yang tertutup, entah apa yang ingin dia lakukan di dalam sana. Pria yang terikat melihatnya diam-diam, ia menelan ludah kasar, entah kenapa perasaannya semakin tidak karuan, ada rasa khawatir ketika melihat pria berjas itu memasuki ruangan.


“Apa yang mau dia lakukan? orang gila itu tidak akan membunuhku, kan?” bisiknya membatin. Terdengar derap langkah kaki berjalan menuju arahnya, pria yang hanya memakai kaos hitam melihat ke sumber suara, tiba-tiba matanya melotot lebar kala melihat penampakan menyeramkan dari benda-benda tajam yang di bawa oleh pria berjas. Sebuah gergaji kayu, palu, sejumlah paku yang terdapat di sebuah plastik bening, serta obeng yang memiliki ujung yang tajam.


Pria berjas itu meletakan barang dari tangannya di atas lantai bawah kursinya, sementara ia berdiri menghadap pria yang sebentar lagi akan sakratul maut. Tubuh korban gemetar hebat, bahkan keringat dingin mulai bercucuran di dahinya, ia bahkan tak berkedip sedikitpun ketika melihat pria berjas sedang memegang palu dan obeng.


“Apa yang mau kau lakukan?” serunya dengan suara gemetar. Namun, pria itu tidak menjawab hanya seringai kecil tampak di wajahnya. Pria berjas semakin mendekat padanya, ia menggeleng pelan dan bahkan matanya telah berkaca-kaca, bukan terharu namun karena rasa takut yang teramat besar. Ia merasa sedang berada di hadapan psikopat gila yang tidak memiliki empati sedikitpun. Ia menggerak-gerakan tubuhnya untuk menjauh dari pria di depannya.


“Tenanglah! Aku akan melakukannya dengan sangat hati-hati, sehingga kamu tidak akan begitu sakit… hehehheh” kalimat yang terdengar horor, ia merasa seperti berada pada adegan film pembunuh berantai, pria di depannya seperti manusia gila yang memiliki kesenangan melihat darah dan sangat menyukai teriakan kesakitan dari mangsanya.


“Jangan lukai aku! Kumohon! aku melakukannya karena terpaksa, aku melakukannya karena benar-benar membutuhkan uang untuk menghidupi keluargaku!” serunya memberontak, pria berjas terkekeh jenaka, ia lantas mengelus kepala mangsanya, dan membelainya selayaknya seorang ibu kepada putranya.


“Tapi aku tidak peduli, aku hanya menginginkan nyawamu” bisiknya di telinga pria berkaos hitam. Pria itu terdiam dengan wajah yang sulit diartikan, menatap dengan tatapan sendu, terlihat seperti seseorang yang kehilangan semangat hidup, kala membayangkan kematian datang menjemputnya tanpa berpamitan pada keluarganya. Tuntutan hidup membuatnya tidak punya pilihan, ia akan menerimanya apapun risikonya, hanya untuk menghidupi keluarga kecilnya sekalipun jalannya yang ditempunya salah.


“Biarkan aku berpamitan dengan keluargaku, kumohon! setidaknya, jika aku mati aku tidak membiarkan mereka mencariku dan mengkhawatirkanku” tuturnya memohon dengan sangat tulus. Pria berjas itu kemudian mengambil ponselnya di atas kursi yang ia duduki tadi, mengotak-atiknya, lalu tiba-tiba saja, terdengar suara seorang pria berbicara dari sebrang telepon, lalu diikuti dengan suara teriakan wanita dan anak kecil. Mendadak wajah pria yang terikat muram, dan menatap tajam pria berjas dengan pandangan marah, tangannya terkepal kuat hingga menimbulkan urat-urat di tangannya.


“Tolong! Tolong! Jangan lukai kami, apa salah kami! Kenapa kalian menyakiti kami?”


DEG


Suara yang begitu familiar di telinganya, ekspresinya semakin tak karuan, menahan rasa sakit yang sulit digambarkan. Ia lalu menatap pria berjas yang tiba-tiba menyodorkan ponselnya di depan korbannya dan betapa terkejutnya kala i melihat istri dan anaknya sedang diikat seperti dirinya.


“Tidak perlu berpamitan, karena aku akan mengirimkan kalian bersama ke neraka. Hehehehe”


BUGH


BUGH


BUGH


“Akkkhhhhhhhhh, akkkkhhhhhh” teriaknya menggema di dalam ruangan tertutup. Pria berjas itu menghantam kepala dan bahu korbannya dengan menggunakan palu besi. Hantaman keras pada tubuh korban mengakibatkan sobekan besar dan mengeluarkan cairan merah, mengalir membasahi tubuhnya. Pria berjas tertawa kecil melihat korbannya yang menjadi lemas karena ulahnya. Ia menutup matanya merasakan sensasi korbannya yang mengeluarkan darah.


“Kau pasti menikmatinya, bukan?”


“Dasar bedebah gila! Lepaskan aku berengsek!” teriaknya sekuat tenaga, ia kembali memberontak, sekalipun sudah sangat parah namun ia masih berusaha melawan. Melihat buruannya yang sangat aktif membuat pria berjas kembali tertawa kecil, ia menyukai adegan tersebut, di mana korbannya memberontak kesakitan namun tidak bisa melakukan apa-apa.


Pria berjas mengambil sebuah paku, kemudian menancapnya di atas lengan korbannya, ia sudah siap dengan palu besi ditangannya. Mulai meninggikan palunya kemudian menghantam paku dan langsung tertancap di dalam daging sang korban, pria yang di sandera berteriak histeris dengan tatapan menyakitkan, bahkan air matanya sampai keluar merasakan rasa sakit serta nyeri yang luar biasa.


“Akkkkkkkkh, sakiiit! Lepaskan aku berengsek! Dasar bedebah gila! Berengsek!” teriaknya mengumpat, namun semakin ia berteriak semakin sakit tangan serta sekujur tubuhnya, pria berjas semakin menggila dan memaku tangan serta paha dan kaki korban. Sang korban menjadi lemas dengan darah yang terus keluar, bahkan ruangan tersebut mengeluarkan bau amis.


“Ini akibatnya jika kau berani mengusiknya, siapapun yang melukainya, maka aku akan menghabisinya dan membuatnya hidup segan mati tak mau” ungkapnya menyeringai, saat hendak memaku palu, seseorang meneriakinya dan membuatnya berhenti.


“Hentikan Han!” teriak seorang pria dari arah belakang, seketika membuat pria berjas menghentikan kegiatan gilanya, ia melihat Luffi dengan tatapan membunuh, namun perlahan-lahan menjadi tenang dan melempar senyum tipis namun mengandung makna. Luffi berjalan cepat lalu meraih palu dan paku di tangan sekretaris Han. Luffi tahu jika pria di depannya akan menggila seperti ini, ia tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya. Namun, ketika itu berkaitan dengan keselamatan hidupnya maka kepribadian sekretaris Han menjadi berubah, seperti memiliki dua jiwa yang berbeda.


“Kenapa tuan kemari?” tanyanya setelah membungkuk pada Luffi.


“Ayo keluar dari sini!” Luffi menarik tangan sekretaris Han untuk keluar dari ruang bawah tanah miliknya, sementara sang korban dibiarkan begitu saja dengan sejumlah luka parah serta darah yang tak berhenti keluar.


“Aku mau menghabisinya tuan”


“Biarkan saja, dia akan segera mati karena kehabisan darah” jawab Luffi dan sekretaris Han mengangguk mengerti. Keduanya pun, keluar dari ruang bawah tanah dan berakhir di dapur Mansion. Noda darah yang terciprat dipakaian sekretaris Han, segera dibukanya, sementara tangannya segera dicuci untuk menghilangkan bau amis darah ditangannya.


.


.


.


.


.


.


Bersambung