
Happy Reading
.
.
.
.
.
.
Waktu terus berputar, hari berganti minggu, kemudian berganti bulan, lalu berganti tahun. Sudah dua belas tahun lamanya, gadis kecil Mario tinggal bersama Luffi, gadis itu tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik, dan pemberani. Keterampilan dalam bidang menembak sudah menjadi makanan sehari-hari baginya, terutama ilmu bela dirinya tidak tertandingi.
Adira tidak pernah bersekolah, namun bukan berarti tidak belajar, Luffi menyewa beberapa guru untuk mengajari putri angkatnya, ia tidak mau jika Adira mengenal dunia luar, dan ia selalu menghabiskan setiap waktunya di Mansion mewah di mana ia tinggal. Bermain bersama Cristian dan anggota Talaskar lainnya, terkadang bermain bersama Jaguar di hutan lindung.
Kini, gadis itu akan menemui ayah angkatnya, ia telah rapi dengan style kasualnya. Celana jeans hitam panjang, baju kaos berkerah panjang yang memiliki warna terang, yaitu biru laut, serta jaket kulit berwarna hitam, kesukaannya. Tidak lupa sepatu boots hitam, sebagai pelengkap dari stylenya. Sementara rambutnya ia kuncir kuda, ia lebih menyukai gaya rambut seperti itu, sebab terlihat rapi daripada tergerai, akan berantakan jika tertiup angin nanti.
Hari ini ia akan mengendarai motor Kawasaki Ninja H2 Carbon, motor tersebut adalah hadiah dari Luffi saat ulang tahunnya yang ke- delapan belas tahun. Motor Kawasaki hitam dan sebagian lainnya memiliki warna silver, merupakan warna yang sangat di sukai Adira, ia memintanya sendiri pada Luffi untuk memilihnya warna tersebut.
Motor yang dinaikinya perlahan-lahan bergerak, meninggalkan halaman luas Mansion megah itu, tangannya memainkan gas motor, menghasilkan bunyi yang begitu khas. Ia melajukan kecepatan motornya hingga tiba dirinya di jalan raya, setelah menempuh waktu tiga puluh menit dari Mansion. Ia memilih untuk menggunakan motor daripada mobil, sebab kendaraan beroda dua itu lebih praktis, dan tidak akan terkena macet. Ia ingin sekali bertemu dengan pria yang di panggil daddy, rasanya ia begitu merindukan pria bernama Luffi itu.
“Akhr-akhir ini, daddy sangat sibuk, sampai tidak ada waktu untuk menjengukku” keluhnya mencebikkan bibirnya, ia terus melajukan motornya, dan terus menyalip kendaraan di depannya, sangat mudah baginya, sebab ia menggunakan motor yang yang memiliki ukuran lebih kecil daripada kendaraan beroda empat. Dua puluh menit berkendara, hingga tiba dirinya di sebuah bangunan tinggi, ia memarkirkan motornya di parkiran motor dan segera berjalan menuju lobi perusahan.
Adira berhenti di depan meja resepsionis, seorang wanita yang berkutat di depan komputer segera melirik ke arah Adira dengan tatapan datar, ia kemudian menghentikan kegiatannya lalu bertanya pada gadis remaja itu. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Aku ingin bertemu dengan CEO perusahan ini” jawabnya melipat kedua tangannya di atas dada.
“Mohon maaf, apakah anda telah membuat janji temu dengan tuan Dannie?” Adira memutar bola matanya malas, ia begitu membenci pertanyaan yang sama setiap kali hendak bertemu dengan ayahnya, ia mendesah kasar dan menatap datar wanita dengan pakaian formal itu.
“Belum, tapi saya harus bertemu dengannya”
“Lebih baik, anda membuat janji temu terlebih dulu, saya tidak bisa mengizinkan anda untuk masuk mengacau di perusahan ini, tuan Dannie begitu sibuk dan sekarang tuan ada tamu penting… anda bisa datang kembali jika telah membuat janji” ucap wanita tersebut, dan kembali melanjutkan kegiatannya berkutat di depan komputer.
Adira tidak bisa berkata-kata, ia hendak berbalik, namun matanya tidak sengaja melihat sekretaris Han, seketika senyum terbit di bibirnya, ia berlari menghampiri pria dewasa itu, sekalipun sekretaris Han tidak menyukainya, tetapi ia harus memohon padanya untuk mengantarnya ke ruangan Luffi. Sebenarnya bisa saja baginya untuk langsung masuk, namun perusahan memiliki aturan tersendiri, dan ia harus mematuhinya.
“Paman Han!” pria dengan setelan jas lengkap, menghentikan langkahnya dan menatap seorang gadis yang memanggilnya, pria itu menatap datar Adira, sekalipun sudah sering melihat dan merasakannya, namun entah kenapa masih ada rasa takut menyelimuti relung hatinya, Adira berhenti di depan sekretaris Han, menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskan pelan.
Ia memberanikan diri menatap wajah dingin itu, ia menelan ludahnya kasar, kemudian beujar “Aku ingin bertemu dengan daddy”
“Dia ada tamu, lain kali saja”
“Dia bukan kekasihmu, atapun anakmu. Dia bisa menjaga dirinya sendiri. Kamu masih kecil, belajarlah yang rajin dan jangan membuat masalah” ucapnya tanpa peduli terhadap perasaan Adira, gadis itu tertunduk dengan perasaan sakit, ia mengangguk dan pergi dari sana. Tiba-tiba seutas senyum terbit di bibirnya ia terkekeh pelan, dan berbalik menatap punggung sekretaris Han yang tidak terlihat lagi. Ia kemudian melihat ke sekelilingnya, memastikan bahwa tak akan ada yang melihatnya, ia pun buru-buru mendekati lift karyawan, dan segera memencet tombol buka.
Pintu lift terbuka lebar, ia segera masuk dan secara otomatis tertutup kembali. Jari telunjuknya terulur menekan tombol angka 30. Angka tersebut akan membawanya ke lantai terakhir, yang merupakan ruangan CEO berada. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan ayahnya, rasa rindu yang ia pendam selama dua hari begitu menyiksanya. Ia benar-benar mengkhawatirnya ayahnya, yang gila akan pekerjaan, takut jika Luffi tidak bisa menjaga kondisi tubuhnya tetap sehat.
TING
Lift yang dinaikinya berhenti di lantai yang di tuju, ia kemudian keluar setela pintu lift terbuka. Kaki panjangnya melangkah lebar menuju salah satu koridor, dari jauh ia dapat melihat jelas ruangan sekretaris Jesika. Ia semakin bersemangat bertemu Luffi.
Kali ini ia tidak ingin meminta izin pada sekretaris Jesika, ia takut jika ia tidak di izinkan seperti sebelumnya, saat hendak menuju ruangan Luffi seseorang memanggilnya, suara itu adalah milik sekretaris kedua Luffi. Gadis itu menggigit bibirnya dan berbalik, ia melihat sekretaris Jesika sudah berdiri tegap di hadapannya, gadis itu hanya bisa cenger-cengir malu.
“Ada apa tante memanggilku?” tanyanya masih dengan wajah tersenyum, ia menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa begitu gatal menurutnya.
“Tuan mengatakan untuk tidak membiarkan siapapun masuk ke dalam”
“Why? apa daddy begitu sibuk sampai tidak membiarkan aku masuk?”
“Aku semakin ingin masuk ke ruangan daddy, semakin aku di larang, semakin membuatku bersemangat melakukannya” bisiknya dalam benaknya. Entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang dirahasiakan oleh ayahnya, ia ingin tahu, hal apa yang membuat ayahnya sampai begitu tertutup. Kali ini ia harus melakukan trik yang sama agar ia bisa dengan mudah lolos dari pantauan sekretaris Jesika.
“Mohon maaf nona, jika ada yang ingin nona sampaikan, silakan katakan pada saya, jika tuan sudah selesai saya akan menyampaikannya” Adira mengangguk dan tersenyum sopan, namun dalam hatinya memaki wanita di depannya.
“Tidak perlu tante, aku akan pergi dari sini” ucapnya membuat sekretaris Jesika mengangguk.. Adira berjalan pelan meninggalkan depan ruangan ayahnya, ia berbalik memastikan sekretaris Jesika, namun wanita itu masih menatapnya sembari tersenyum. Ia memoncongkan bibirnya kesal.
“Hari ini sial sekali, daddy sendiri begitu sulit untuk bersua, sungguh memuakkan!” gumamnya menendang angin.
“Apakah aku harus memasang kamera kecil di kantor daddy, agar aku dengan mudah memantaunya? Sepertinya itu ide yang bagus… aku benar-benar cemerlang, hehehe”
.
.
.
.
.
.
Bersambung