
Happy Reading 🤗
.
.
.
.
Pagi harinya, Luffi sudah rapi dengan style kantoran, begitu pula dengan Adira, gadis itu mengenakan celana kain dengan bahan berwarna hitam yang terlihat sangat pas di tubuhnya, dengan atasan kemeja putih lalu di memasukkan ke dalam celananya, tidak lupa jas berbahan warna hitam yang memiliki lengan baju hanya sampai di bawah sikunya. Keduanya berpapasan di ruang tengah, tujuan Adira yaitu menuju ke dapur untuk sarapan, sementara Luffi hendak keluar, dengan sekretaris Han sudah menunggu di luar Mansion.
“Kamu tidak sarapan?” Tanya Adira berhenti di depan Luffi. Tatapan pria itu tidak lagi sama seperti dulu, hangat bahkan terasa sangat aman, namun yang Adira rasakan seperti tatapan asing, dan terlihat menghindarinya.
“Tidak. Kamu menyetirlah sendiri ke perusahaan, mulai sekarang aku akan pergi sendiri” jawabnya, yang langsung pergi meninggalkan Adira yang masih belum mencerna ucapan Luffi. Ia masih terpaku dengan otak belum bekerja sepenuhnya, melihat punggung pria yang semakin jauh dari pandangannya. Ia merasa Luffi telah berbeda semenjak mengetahui kehamilan dirinya, lagipula janin yang ia kandung adalah darah daging Luffi, lantas kenapa pria itu malah lari dari tanggung jawab? Jujur saja, Adira merasa sakit hati, namun ia tidak punya kuasa sepenuhnya, sekalipun mereka berstatus kekasih saat ini.
Adira melihat benda dengan bahan berwarna hitam, yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu menunjukan pukul tujuh lebih empat puluh lima menit, itu berarti waktu yang ia tempuh untuk sampai di perusahan tidak keburu lagi, karena jam masuk kantor adalah pukul delapan pagi. Jika ia harus sarapan, dirinya pasti akan terlambat, dengan sikap Luffi sekarang, ia takut jika terlambat ia pasti akan kena semprot oleh pria itu, alhasil Adira tidak jadi sarapan, ia langsung menuju ke ruang bawah tanah, tempat mobil Luffi terkumpul dalam satu ruangan luas, seperti hamparan lapangan.
Adira memilih mengendarai motor sport berwarna hijau, karena mengingat pagi ini ia begitu buru-buru, apalagi semua orang pasti akan pergi bekerja di waktu-waktu sekarang. Kini, ia telah berhasil keluar dari basement parkiran Mansion, dengan mengendarai motor sport merek Ducati Monster, dengan harga empat ratus empat puluh lima juta. Ducati Monster ini digerakkan oleh mesin 821 cc dengan transmisi tujuh kecepatan. Ducati Monster memiliki tinggi jok tujuh ratus delapan sembilan millimeter, dengan bobot dua ratus enam, tujuh kilogram. Sementara, rem depannya menggunakan Cakram Ganda, dan rem belakang Disc. Pesaing terdekat Ducati Monster adalah CBR250RR dan 502C.
Benar saja, di jalan raya terlihat begitu macet, karena kendaraan beroda empat. Untung saja, ia sudah memikirkannya untuk menggunakan motor, hingga ia tidak begitu sulit untuk menghadapi situasi seperti ini. Ia menyalip setiap kendaraan beroda empat, yang berhenti di jalan akibat macet. Dan ia hanya membutuhkan waktu tujuh belas menit untuk tiba di kantor, sekalipun dirinya pasti terlambat. Ia melihat nama perusahan yang dibangun oleh Luffi terpampang sangat jelas di matanya, PT Plaza Shoping Las Vegas. Puas menatapnya, ia langsung menuju ke parkiran perusahan khusus motor, ia buru-buru turun dan segera berjalan menuju lobi perusahaan. Di sana ia melihat ada banyak sekali karyawan yang berdiri berjajar seperti sedang apel, jantungnya berdegup sangat kencang, sepertinya ia terlambat.
“Mampus! Aku terlambat” batinnya begitu apes di hari keduanya bekerja di perusahan Luffi. Langkah kakinya ia percepat dan bergabung ke salah satu barisan. Ia menundukkan kepalanya menghadap lantai, sementara Luffi melihatnya dengan tatapan datar.
“Adira!” teriak Luffi dengan cukup keras, membuat gadis itu seketika menatap Luffi dengan perasaan terkejut, perasannya menjadi campur aduk dan terasa bibirnya menjadi kaku untuk sekadar menjawab.
Sekretaris Han yang berada tidak jauh dari Luffi, mengerutkan kedua alisnya, ia tidak mengerti kenapa sikap bossnya berubah aneh kepada Adira, gadis yang sangat dicintai oleh bossnya, namun perubahan yang dilihatnya membuatnya tersenyum simpul nyaris tak terlihat. Ia terlihat sangat bahagia, karena bossnya bersikap dengan yang ia inginkan, ia tidak perlu repot-repot untuk mengingatkan bossnya itu.
“Di-dia membentakku? Bahkan di depan umum dia berani melakukannya, tanpa memikirkan perasaanku? Apa dia sungguh membenciku sekarang, tidak ada lagi kah cintanya untukku?” tuturnya membatin sedih, ia menahan air matanya agar tidak keluar, benar-benar menyakitkan, baru kali ini ia mendapat perlakuan tak mengenakan dari Luffi, setelah dirinya benar-benar jatuh cinta pada pria itu. “Jatuh cinta, sungguh-sungguh menyakitkan” Gumamnya pelan. Ia masih menundukkan kepalanya.
“Saya tidak ingin melihat ataupun mendengar, karyawan di perusahan PT Plaza Shoping, terlambat! Cukup hari ini, jika tidak ingin kalian saya pecat!” Tegas Luffi dengan wajah dingin dan dengan tatapan tajam seperti Elang.
“Karyawan yang terlambat, harus membersihkan toilet di semua lantai perusahan, sebagai hukuman atas ketidak disiplinnya, saya tidak mau tahu, harus dibersihkan hari ini juga, jika belum jangan coba-coba pulang” Jelasnya lagi yang langsung meninggalkan semua karyawan yang masih tercengang dengan hukuman Luffi. Masalahnya, jumlah lantai di perusahaan tempat mereka kerja, adalah sebanyak dua puluh Sembilan lantai, dengan masing-masing lantai memiliki delapan toilet, empat bilik toilet untuk wanita dan empat bilik lainnya adalah untuk digunakan pria, sementara jumlah karyawan yang terlambat adalah lima belas orang.
Adira tercengang mendengar hukuman dari Luffi, ia melihat ke arah pria yang sudah masuk ke dalam lift tanpa peduli dengan hukuman yang dia berikan. Tangannya terkepal kuat, ia tidak mungkin mampu menyelesaikan tugas tersebut, hukuman yang diberikan Luffi sangatlah berat baginya, apalagi dirinya belum pernah melakukan pekerjaan seperti itu. Namun, ia tidak punya pilihan selain mengikuti perintah Luffi, dia adalah bawahan Luffi dan tidak ada cara lain selain melakukannya.
"Benar-benar sial hari ini! Mood boss Danie sangat jelek hingga kita menjadi imbasnya" ketus salah satu keryawan yang terlambat. Wajahnya terlihat tidak bersemangat dan merasa kesal. Sementara Adira langsung berjalan menuju toilet di lantai satu, untuk menyelesaikan tugasnya, ia tidak yakin bisa menyelesaikannya dengan cepat namun, ia harus melakukannya.
"Apakah karena aku, jadi karyawan lainnya mendapat imbasnya? Apa harus dia melakukannya sampai sebegitunya" Ketusnya dengan nada dongkol. Ia menggantung tasnya di gantungan toilet, dan mulai mengambil peralatan bersih-bersih.
.
.
.
.
Bersambung