
Happy Reading
.
.
.
.
.
Adira berdiri di depan lift, menatap dinding lift dengan tatapan kosong, lalu berbalik menatap koridor tempat ia pergi tadi, namun dihalangi oleh sekretaris Jesika. Ia menghela napas panjang, dan menghembuskannya melalui mulutnya, terkadang berputar dan berjalan ke depan koridor lalu kembali ke depan lift lagi. Begitu terus ia lakukan selama lima menit, seperti seseorang yang linglung, tidak tahu ke mana tujuan yang ia tuju.
“Baiklah, aku harus ke ruangan daddy, apapun yang terjadi, aku akan tetap masuk” ucapnya dengan semangat empat lima. Gadis itu berjalan mengendap-endap menuju koridor yang di tuju. Hingga tiba dirinya di depan ruangan sekretaris Jesika, ia lanjut menuju ke arah kanan, di mana ruang ayahnya berada.
“Nona!” mendengar suara yang begitu familiar memanggilnya, tanpa berbalik ke belakang, ia langsung menancap gas, berlari menuju tempat yang di tuju dan….
BRAKKK
Ia mendobrak pintu ruangan Luffi, membuat orang di dalam ruangan seketika menatap ke arahnya. Namun, pada saat itu, Adira tertegun tentang apa yang ia lihat di depan matanya. terdiam dengan pemandangan yang sulit di cerna dengan akal sehatnya. Sementara itu, sekretaris Jesika berhenti di belakang Adira, wanita dengan jas lengkap kantoran menepuk jidatnya, merasa takut akan kena marah oleh boss besarnya.
Di sisi lain, seorang wanita seketika berdiri dari atas tubuh pria yang terbaring di atas sofa. Pakaian wanita itu sedikit berantakan, membuatnya segera merapikannya. Gaun yang dipakainya pun begitu minim, mungkin jika berjongkok sedikit saja, akan terlihat bagian yang seharusnya menjadi privasinya, sementara bagian dadanya terbelah dan memperlihatkan dua gunung yang cukup besar.
Adira melihat pria itu, dengan tatapan yang sulit di mengerti, entah kenapa ada rasa yang tidak bisa ia ungkapkan, rasa tak suka pada adegan yang ia lihat barusan, sesuatu yang menjanggal di hatinya, ketika melihat ayahnya berpose mesra dengan seorang wanita yang seumuran dengan ayahnya. Ia mengepalkan tangannya kuat, dan melempar senyum masam pada pria yang sedang merapikan jasnya itu.
“Kenapa tidak mengetuk pintu sebelum masuk? Daddy sudah katakan ber….”
“Maaf dad, aku salah…. aku pergi dulu, kalian lanjutkan saja” selanya, dan segera menarik gagang pintu kemudian menutupnya kembali. Adira melewati sekretaris Jesika tanpa sepata kata pun, ia berjalan dengan langkah lebar menuju lift, tangannya segera menekan tombol buka, ia benar-benar ingin pergi dari tempat itu.
Ketika pintu itu terbuka, seorang pria keluar, dan langsung menatap tajam pada Adira, namun gadis itu begitu serius dengan dunianya sendiri, sampai tidak tahu jika ada pasang mata sedang menatapnya tajam. Saat hendak masuk, pergelangan tangannya di cengkeram, oleh seseorang, membuatnya berhenti dan mendongak pada pria tinggi di depannya.
“Sudah kubilang jangan menemuinya, tap… ka-kamu menangis?” air mata Adira mengalir jatuh ke pipinya, ia melepas cengkeraman itu dan masuk ke dalam lift, tanpa memperdulikan pertanyaan dari pria yang di anggap sebagai kaki tangan Luffi. Rasa takut yang selalu hadir kala bersua dengan sekretaris Han, kini sirna dengan pemandangan yang ia lihat di ruangan ayahnya, pemandangan yang mampu membuatnya tidak berkutik dan begitu mengganggu pikirannya.
“Ada apa dengan dia? Apakah tuan Luffi memarahinya? tapi jika benar dia tidak akan mungkin sesakit itu, aku tahu seperti apa dirinya” batin sekretaris Han, menatap kepergian Adira dengan perasaan penasaran.
Di dalam lift, ia menghapus air matanya, ia menatap pantulan dirinya di dinding lift, menertawakan tingkahnya yang kekanak-kanakan, ia tidak mengerti apa yang ia tangisi, ia bahkan tidak sadar bahwa dirinya sedang menangis saat ini.
“Apa yang aku tangisi? bukankah bagus jika ayah memiliki kekasih, tetapi kenapa hatiku begitu sakit melihatnya, memikirkan saja membuatku tidak mampu” gumamnya menyentuh dadanya yang terasa pilu. Pintu lift kemudian terbuka, ia segera keluar dan meninggalkan perusahan milik Luffi, menaiki motornya dan segera melajukan motornya menuju jalan raya.
Pikirannya menjadi kacau, melihat adegan yang dilihatnya ketika di ruangan Luffi, ayahnya dan seorang wanita sedang berciuman mesra, ia tidak bisa membayangkannya jika ayahnya mencintai wanita lain selain dirinya. Sejak kecil hidup di Mansion bersama Luffi dan anggota Talaskar, tidak ada pria luar yang berteman dengannya, ia banyak menghabiskan waktu bersama Luffi, hal itu membuatnya terbiasa bersama Luffi, dan sangat nyaman berada di sisinya.
Dalam berkendara, ia masih berada dalam bayangan kejadian tadi, tanpa sadar tak melihat jalan di depannya hingga….
BRAKK
BUGH
Mobil yang di tabrak Adira bergerak ke bibir jalan dan berhenti di sana. Seorang pria turun dan berlari menuju tempat Adira terbaring.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya memeriksa keadaan Adira, gadis itu meringis sakit, mengiggit bibirnya untuk tidak mengeluarkan suara. Sementara itu darah mengalir keluar dari kepalanya, ia hendak berdiri, namun kakinya terkilir, membuatnya sulit untuk bergerak.
Pria itu segera menggendongnya, ketika melihat wajah gadis dalam pelukannya, matanya terbelalak.
“Nona Adira?” batinnya terkejut saat dirinya tahu bahwa gadis dalam gendongannya adalah anak Mario, dengan langkah buru-buru, ia menuju mobilnya dan memasukannya ke dalam mobil miliknya. Ia duduk di kursi belakang dan memangku gadis yang sudah tidak sadarkan diri itu.
“Ke rumah sakit terdekat pak, segera!” titahnya tegas. Raut wajahnya terlihat sangat takut, mengkhawatirkan kondisi gadis dewasa di pangkuannya, sementara sang sopir langsung menginjak pedal gas, dan melajukan mobilnya, sesekali melihat ke belakang memastikan tuan dan gadis yang terluka.
“Sepertinya tuan muda, mengenali wanita itu” bisiknya dalam hati, lalu kembali fokus ke depan.
Darah terus mengalir di bagian kepala Adira, pria itu tidak tahu harus berbuat apa, bahkan tangannya gemetar takut, jika terjadi sesuatu pada gadis itu, ia tidak akan bisa memaafkan dirinya. Pria itu adalah Ali, kaki tangan Mario yang berhasil kabur, sebelum kedatangan Luffi ke markasnya, dan sepertinya, Luffi tidak tahu jika dia adalah bawahan Mario, ia bersyukur anggota Crue Danger tidak memberitahu kebenaran tentangnya kepada Luffi.
Sementara itu, di sebuah gedung pencakar langit, seorang pria langsung menghubungi Adira, ketika gadis itu berlari keluar, namun nomor teleponnya tidak dapat dihubungi, membuatnya merasa cemas. Pria itu bahkan tidak memedulikan wanita di ruangannya, ia sibuk dengan benda persegi di tangannya. Ia terus menghubungi nomor putrinya namun tidak aktif, perasaannya tidak nyaman, seketika sebuah gambaran buruk terlintas di pikirannya, ia mendadak terdiam dengan raut wajah dingin.
Wanita dengan gaun minim berwarna merah merasa jengkel terhadap sikap Luffi padanya, ia memberanikan diri menghampiri pria itu, dan memeluknya dari belakang. Tangannya meraba dada Luffi membuat pria itu langsung menghempas kasar tangan wanita itu.
“Hentikan Sandra! aku sedang tidak ingin. Kamu keluarlah!” titahnya dengan nada tegas. Wanita itu menghentakkan kakinya dan berjalan keluar dengan perasaan dongkol. Luffi menghela napas kasar, dan menjatuhkan dirinya di atas kursi kebesarannya, ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, memejamkan matanya sejenak, dan menenangkan dirinya.
“Sepuluh menit lagi akan ada rapat tuan, saya sudah menyiapkan berkas-berkasnya” Luffi membuka matanya, dan menatap datar sekretaris Han.
“Rapatnya di tunda dulu, aku mau bertemu dengan Adira”
“Mohon maaf tuan, rapat ini sangat penting, kita tidak bisa menundanya lagi, kemarin anda telah mengganti jadwalnya” jawabnya dengan kepala menunduk, membuat Luffi tidak dapat membantah, pria itu menatap sekretarisnya dengan tatapan tak suka.
“Baiklah” pasrahnya kembali memejamkan matanya, sementara sekretaris Han kembali ke meja kerjanya.
“Gadis itu membawa pengaruh buruk bagi Luffi, tunggu saat yang tepat aku sendiri yang akan melenyapkannya”
.
.
.
.
.
.
Bersambung