
Happy Reading
.
.
.
.
Kini Luffi dan Adira telah berada di taman rumah sakit, yang berada di bagian samping hingga belakang rumah sakit. Ada banyak sekali pasien yang berkeliling di sana, bercanda ria dan mengobrol santai dengan keluarga masing-masing. Taman tersebut di desain sebagai tempat bagi pasien yang ingin menghirup udara segar, selain itu bisa menjernihkan pikiran. Uniknya lagi, di taman rumah sakit terdapat begitu banyak bunga-bunga yang tumbuh di sana, terkadang berbentuk love, hewan kangguru, jerapah, bahkan meja dan kursi.
Selain itu, pohon-pohon rindang juga tumbuh di sana, untuk menciptakan udara yang bersih dan tidak mudah terkontaminasi oleh polusi yang dihasilkan dari asap kendaraan yang berlalu lalang. Tampak wajah Adira berseri-seri melihat pemandangan yang menakjubkan di depan matanya, ia kemudian melirik ke arah Luffi dengan senyum merekah.
“Kamu senang, sayang?” tanyanya berjongkok dan membalas tatapan Adira, gadis itu mengangguk sebagai jawaban. Perlahan-lahan Luffi mendorong kursi roda yang di duduki Adira, membawa gadis tersebut ke salah satu pohon yang memiliki ukuran lebih besar dari yang lainnya. Mereka berhenti di bawah pohon tersebut, dengan kursi kayu panjang berwarna putih terletak di dekat pohon.
Dahan dan daun yang lebat, membuat sinar surya tidak dapat menjangkau daerah bawah pohon. Sehingga Adira dan Luffi tidak akan terkena paparan sinar mentari.
“Dad, aku ingin duduk di kursi itu, aku ingin seperti pasien lainnya yang menikmati kursi taman” tuturnya melihat banyaknya pasien yang menghabiskan waktu mereka di kursi taman, tepat di bawah pohon rindang. Taman itu di bangun sebagai fasilitas kepada pasien, untuk dijadikan sebagai tempat liburan dan untuk menghilangkan kepenatan serta stres berlebihan.
Luffi mengangguk, dan mulai menggendong tubuh Adira, ia perlahan-lahan menurunkan tubuh gadis dewasa itu di atas kursi kayu. Ia kemudian duduk di sampingnya, sembari memandangi wajah cantik milik Adira. Luffi bahkan tidak sadar jika Adira memanggilnya, karena pesona cantik itu mampu menyihir Luffi, dan membuatnya seakan tidak sadar jika orang yang dipandang sedang memandanginya balik.
“Kamu cantik” tanpa sadar, kalimat pujian itu keluar begitu saja dari mulut pria dengan setelan jas biru dongker. Adira terpaku dengan ekspresi kaget, mendengar kalimat tersebut membuat pipinya merona merah, entah kenapa ia begitu malu saat ini. Jujur, hatinya sedang berteriak kencang, memintanya untuk membawanya pergi jauh dari Luffi, hanya untuk sementara waktu, sebab ia tidak mampu menahan malu di hadapan sang pujaan hati.
Diam-diam menyimpan perasaan kepada pria di sampingnya, kini memujinya cantik, rasanya ingin menghentikan waktu sebentar, agar dirinya bisa sepuasnya memandangi wajah pria itu tanpa kecangguhan. Tiba-tiba Adira mendekati Luffi dan....
CUP
“Terima kasih atas pujiannya” Luffi seketika tersadar kala ciuman singkat mendarat di pipinya, terpaku dengan perasaan aneh di dadanya. Berusaha bersikap normal, walau jantungnya sedang tidak baik-baik saja saat ini. Luffi melirik gadis di sampingnya dengan kerutan di dahi.
“Pujian apa? Daddy tidak mengatakan apapun” jawabnya santai. Pria itu melirik salah satu aset menarik di wajah Adira, dua lekungan garis dengan ketebalan yang berbeda, garis bawah lebih dominan, berwarna merah muda, itu adalah warna yang begitu menarik perhatian Luffi. Tatapan yang siap menerkam lawan di sampingnya, mampu membuat Adira salah tingkah, ia bahkan terus menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sesekali tersenyum gila walau tidak ada sesuatu yang lucu.
“Daddy memujiku cantik, aku sedikit terharu mendengarnya” Adira segera memalingkan pandangannya ke depan, sebab ia benar-benar tidak mampu menatap wajah pria yang membuat jantungnya berdebar hebat. Tatapan yang diberikan Luffi seperti gempa baginya, mungkin sedikit berlebihan, namun itulah kenyataannya.
“Ya benar. Kamu sangat cantik, sampai daddy begitu cemburu melihatmu mengobrol dengan pria lain, bahkan jika itu adalah anggota Talaskar sekalipun. Daddy cemburu, sebab membiarkan kecantikanmu dipandangi oleh orang lain, mungkin sangat berlebihan namun daddy mau kamu tetap tidak diketahui oleh orang-orang, agar hanya daddy yang bisa menikmati kecantikan wajahmu” jawabnya seperti aliran sungai yang mengalir panjang.
Adira terdiam dengan tatapan yang sulit diartikan, keduanya saling beradu pandang, sorot mata keduanya saling berbicara, mengungkap kasih yang sulit diucapkan bibir. Jika mulut tidak mampu melakukannya, maka matalah yang dapat diandalkan.
“Setiap ayah pasti akan melakukan hal yang sama, melindungi putrinya dari tatapan jahat para pria, itulah sebabnya daddy sangat tidak rela jika kau berbicara dengan pria lain, sebab banyak dari mereka yang tidak pernah tulus” kata Luffi lagi, membuat Adira terkejut sekaligus merasa marah. Ia pikir bahwa kalimat Luffi sebelumnya merupakan ungkapan cinta untuknya, namun ia salah besar, rupanya itu hanyalah cinta seorang ayah kepada putrinya. Namun, yang membuat Adira yakin adalah tatapan Luffi yang tidak biasa, itu terlihat seperti tatapan cinta kepada pasangan bukan kepada anak.
“Tentu saja. Kamu akan selalu menjadi putri kesayangan daddy” balas Luffi, sembari mengelus rambut Adira. Gadis itu tertawa kecil dan menghempas lembut tangan Luffi. Ia duduk sedikit menjauh dari pria itu, dan menatap datar pria di sampingnya. Luffi mengerutkan alisnya tinggi melihat sikap aneh Adira.
“Why? (Kenapa?)” tanyanya bingung.
“Aku tidak selamanya akan hidup bersama daddy. Mungkin, aku harus mencari pria lain untuk kupacari, daddy tenang saja aku akan mencari pria baik tentunya yang menyayangiku” tutur Adira tersenyum lebar. Kalimat Adira membuat ekspresi Luffi berubah drastis, wajah yang tampak bahagia berubah menjadi dingin layaknya es batu. Adira melihatnya tidak peduli, ia menarik sudut bibirnya naik, tersenyum licik.
“Kamu masih kecil, jangan berpikir untuk pacaran” gerutu Luffi dengan pandangan tak suka.
“Kalau begitu kita pacaran saja, bukankah daddy sangat mencintaiku dan menyayangiku lebih dari apapun”
TUK
Tangan besar Luffi menjitak dahi Adira membuat sang empu memekik sakit, gadis itu mengelus bagian yang kesakitan dengan bibir mengerucut lucu.
“Iiiishh, daddy! sakit tahu” gerutunya dengan perasaan dongkol, menahan rasa sakit akibat perbuatan Luffi yang ringan tangan padanya.
“Jangan berkata seperti itu lagi. Lagipula umur daddy berbeda jauh darimu, dan kamu adalah putri daddy, bagaimana mungkin daddy memacarimu… yang benar saja” nasihatnya tertawa kecil, merasa lucu pada perasaan Adira padanya, ia berpikir bahwa perasaan Adira hanyalah perasaan kepada seorang ayah, dan gadis itu masih kecil dan belum mengerti terkait cinta. Begitulah pikir Luffi.
“Seiring berjalannya waktu, kamu akan mengerti arti dari sebuah cinta, mungkin perasaanmu hanyalah sebatas anak kepada ayah, bukan perasaan sesungguhnya kepada pasangan” batin Luffi.
“Daddy berpikir aku masih anak kecil, aku sangat tahu jelas tentang hatiku, perasaanku murni sebuah cinta kepada pasangan bukan sebagai anak kepada ayah” bisik Adira dalam hati, sembari mengepalkan kedua tangannya erat.
“Aku mau kembali dad” lirihnya pelan.
“Baiklah, daddy akan mengantarmu kembali”
.
.
.
.
.
Bersambung