DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)

DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)
BAB 30 Sekretaris Han



Happy Reading


.


.


.


.


.


Ketika Adira keluar dan mencari keberadaan Cristian, ia tidak menemukannya, bahkan sekretaris Jesica pun tidak ada, ia mencari ke semua tempat di koridor itu tapi tidak menemukan mereka, tersisa sekretaris Han yang berdiri menatap gadis kecil itu dengan tatapan malas.


“Cristian sedang pergi bersama sekretaris Jesica, kamu tunggulah sebentar di sini” masih dengan ekspresi yang sama ia tunjukan pada Adira, gadis itu menatap memelas ke arah sekretaris Han, memainkan jari-jarinya dan memberanikan diri berujar


“Daddy mengatakan, agar paman membawaku jalan-jalan ke perusahan”


“Tidak!” jawabnya tegas, bersamaan dengan itu, sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya, ia lalu membukanya, kemudian melirik Adira dengan tatapan tajam. Sekretaris Han berjongkok di depan Adira, tatapan dingin itu begitu menusuk relung hati Adira membuatnya mundur ke belakang, ia ketakutan melihat tatapan tajam dari pria di depannya.


“Sshhhhhh” desisnya kala lengannya dicengkeram kuat oleh sekretaris Han, pria itu menarik tangan Adira hingga medekat padanya, Adira tidak bisa melawan, ia menahan sakit pada lengannya.


“Sa-sakit” keluhnya dengan tatapan hampir menangis, namun sekretaris Han acuh tak acuh melihatnya, ia mengangkat sebelah sudut bibirnya, kemudian berbisik “Gadis kecil, mungkin sekarang aku tidak tahu niat busukmu terhadap Luffi. Tapi ingat, jika sampai aku mendapati sesuatu yang mencurigakan darimu, maka kau tahu akibatnya? Kematian adalah jalan terakhirmu” Adira menggigit bibirnya, menahan tangisnya agar tidak menimbulkan suara, air matanya tiba-tiba mengalir, merasa sangat takut terintimidasi oleh pria di depannya.


Sekretaris Han kemudian berdiri, merapikan jasnya lalu melihat benda di pergelangan tangannya, waktu menunjukan pukul 11 siang, ia melirik ke arah Adira lagi dan berkata “Hapus air matamu, aku akan menemanimu berkeliling. Tidak tahu apa yang kamu berikan pada Luffi sampai begitu baik padamu”


Adira dengan patuh menghapus air matanya, kemudian mengikuti langkah kaki sekretaris Han, ia berjalan menunduk, masih merasa takut pada pria di depannya, rasanya ingin sekali bertemu Cristian dan segera pulang ke Mansion, berlama-lama dengan pria mendominasi membuatnya merasa tidak aman, di Mansion adalah tempat yang paling aman untuk berlindung.


“Kita lewat tangga saja”


“Ta-tapi, bukankah ada lift….” Adira seketika terdiam, kala sekretaris Han memelototinya, gadis itu bungkam dan tidak berani berkata lagi, selagi masih di sini ia tidak bisa berkutik dan tidak dapat mengadu. Yang harus ia lakukan adalah menuruti setiap perintah dari pria yang mendominasi itu. Bersabar adalah cara yang tepat untuk menghindari konflik dari orang tertentu, ia tidak boleh gegabah melakukan sesuatu yang membuatnya membuatnya dalam bahaya, pikirnya begitu.


“Pria ini berpikir aku adalah penyihir jahat yang tinggal di kediaman daddy Luffi, pikirannya kuno sekali… aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, bagaimana bisa aku berpikiran sempit mencelakainya. Haissshh, benar-benar sial bertemu pria jahat ini” batinnya memaki sekretaris Han, saat sedang berjalan, tiba-tiba pria di depannya berhenti membuat Adira menabrak paha sekretaris Han.


“Awww, apa aku sedang menabrak batu? sakit sekali” Adira tidak menyadari jika yang di tabrak adalah paha sekretaris Han, saat sadar sudah terlambat, pria itu berbalik dan bertolak pinggang di hadapannya. Adira nyengir kuda, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Saat pria itu hendak menggapai Adira, gadis itu langsung berlari dan menuju koridor di mana ruang Luffi berada. Adira segera membuka pintu ruangan Luffi membuat sang empu terkejut.


Luffi melihat Adira yang tergesa-gesa segera menghampirinya “Ada apa, kenapa kamu kelihatan seperti sedang melihat hantu?” gadis itu mengatur napasnya, dan mengajak Luffi untuk duduk di sofa, ia kemudian melirik ke pintu, Luffi mengerutkan alisnya tidak mengerti dengan sikap aneh putri angkatnya.


“Daddy benar, aku tadi melihat hantu, menyeramkan sekali” katanya dengan tubuh merinding, Luffi menatap Adira dengan seksama, ia tersenyum kecil.


“Pasti karena sekretaris Han” bisiknya dalam hati. Luffi menyadari jika yang di maksud putrinya adalah pria kaki tangannya, pria itu sangat tidak menyukai anak kecil, apalagi anak dari musuhnya. Sudah berulang kali Luffi meyakinkannya, bahwa Adira sangat berbeda, ia tidak mungkin akan menghianatinya. Namun pria itu sangat keras kepala, sulit bagi Luffi menasihatinya.


“Hantu itu di luar Dad, dia terlihat sangat marah, aku tidak tahu kesalahan apa yang kuperbuat sampai menyinggung hantu pria kejam. Daddy tahu tidak, wajahnya sangat menakutkan, giginya bertaring, dia juga memiliki dua tanduk di kepalanya, saat hantu itu menatapku dengan mata merah menyala, tiba-tiba….”


“Tiba-tiba apa?” Adira berhenti dan langsung bersembunyi di samping Luffi, ia tidak menyadari bahwa dirinya benar-benar menyinggung sekretaris Han. Ketika ia sedang asik menjelek-jelekan sekretaris Han, rupanya pria itu sudah berdiri lama di depan pintu, dan mendengarkan omong kosong Adira, sementara Luffi malah berpura-pura tidak tahu kehadiran kaki tangannya itu. Sekretaris Han berjalan menghampiri Luffi dan Adira, ia menatap sangar pada gadis kecil berbaju merah, Adira menyembunyikan wajahnya di balik punggung kekar Luffi.


“Han, jangan menakutinya lagi” tegur Luffi dan menarik Adira untuk duduk di sampingnya. Perlahan-lahan wajah Adira mendongak, menatap wajah sekretaris Han yang masih datar seperti sebelumnya.


“Daddy, aku takut… wajah paman itu menakutiku, aku mau pulang sekarang saja” cicitnya, namun berniat menghina sekretaris Han, Luffi melempar tatapan peringatan kepada bawahannya, dan sekretaris Han menghela napas panjang.


“Gadis ini licik sekali, aku belum melakukan apapun padanya, tapi dia malah menghinaku, mengatakan wajahku menakutkan, seperti hantu… tunggu saja, aku akan membuatnya menyesali perbuatannya itu” sekretaris Han segera keluar dengan perasaan dongkol, sementara Adira tersenyum puas, karena berhasil mengusir tikus sawah yang menyebalkan menurutnya. Selang tiga menit kepergian sekretaris Han, Cristian masuk dan seperti biasa, ia membungkuk, tanda hormat pada atasannya.


“Kamu antar Adira kembali ke Mansion, berikan apapun yang dia minta” tutur Luffi, dan Cristian mengangguk pelan tanda mengerti.


“Daddy, aku pulang dulu yah, jangan terlalu keras pada diri sendiri, istirahatlah jika lelah… satu lagi jangan sampai telat makan, okay”


“Baiklah, putriku yang manis. Daddy akan mengingatnya” Luffi tersenyum menatap kepergian Adira, ia menggeleng-geleng pelan, dan terkekeh kecil, gadis kecilnya itu seperti wanita dewasa yang mengkhawatirkan seorang adik.


“Astaga, anak ini umurnya baru berusia enam tahun, namun cara berpikir dan bicaranya seperti orang dewasa saja, lucu sekali dia yang seperti itu” gumamnya, kemudian kembali duduk di kursi kebesarannya. Sementara di luar ruangan, Adira bertemu sekretaris Han, kedua manusia itu saling bersitatap, dan melempar tatapan intimidasi pada lawan, kini Adira tidak lagi takut, ia malah melempar senyum misterius yang hanya dirinya tahu maksudnya.


“Pria jahat, aku pulang dulu, sampai jumpa makhluk jahat” batinnya. Ia melempar senyum lebar di hadapan sekretaris Han, hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih, senyumannya seakan sedang memproklamasikan bahwa dirinya tidak bisa di provokasi, sekretaris Han, hanya menatap datar Adira, membuat gadis itu tidak senang.


Dengan penuh keberanian, Adira mengacungkan jari tengahnya, namun tetap saja tidak ada reaksi apapun yang terlihat dari wajah pria yang sedang berdiri tegap. Sungguh, Adira begitu kesal dan muak, ia langsung bergegas pergi dari sana dengan perasaan dongkol.


Sementara sekretaris Han, menarik sudut bibirnya tersenyum dan bergumam kecil “Umurnya saja yang kecil, tapi otaknya penuh kelicikan”


.


.


.


.


.


.


Bersambung