
Happy Reading
.
.
.
.
.
Kini Luffi telah sampai di depan rumah sakit yang merawat Adira, ia berjalan ke lobi rumah sakit dan masuk ke lantai satu. Ia menuju lift yang akan membawanya ke lantai 3 di mana ruang inap Adira berada. Pintu lift pun terbuka, ada tiga orang masuk ke dalam, begitupun dengan Luffi. Ia menekan tombol angka 3 lift kemudian bergerak naik.
TING
Lift berhenti tepat di lantai 3 dan pintunya perlahan-lahan terbuka. Kaki panjangnya berjalan keluar dan menuju koridor sebelah kanan dari arah lift. Sebuah ruangan tertutup dengan papan nama tertera jelas di atas, itu merupakan kamar VIP A di mana Adira di rawat. Perlahan-lahan tangannya terulur dan memegang gagang pintu lalu diputarnya. Tampak dua sepasang manusia sedang tertawa lepas, seakan tak ada satupun beban yang dipikul, mengalir layaknya air yang mengalir dari hulu ke hilir.
Sementara pria yang berada di luar ruangan, menatap dengan tatapan membunuh, kepalan tangannya menciptakan urat-urat tangan, yang siap untuk bertarung. Tatapan cemburu tersirat jelas di matanya, kakinya melangkah cepat dan menarik tangan salah seorang pria.
“Beri kami waktu, silakan keluar!” ungkapnya masih dengan menyeret paksa pria yang tertawa bersama gadis di atas bangsal.
“Tuan?”
“Daddy!”
Dia adalah Luffi, pria itu acuh tak acuh pada seruan dua anak manusia muda, berbeda jauh dengannya yang hampir berkepala empat. Pria bernama Arsenio terus meronta, namun cengkeraman Luffi benar-benar kuat tidak sebanding dengan kekuatannya.
BRAKKK
Luffi menutup pintu dengan kasar, menimbulkan suara yang cukup keras, bahkan sampai membuat Adira terlonjak kaget, ia menatap wajah Luffi yang sangat suram dan terlihat menakutkan, ia bahkan sulit bernapas merasakan suasana ruang inapnya seperti berada di dasar neraka, padahal dirinya sedang menyalakan AC. Sungguh ia tidak mengerti apa yang membuat Luffi sampai begitu kesal dan mengusir Arsenio, padahal pria muda itu tidak melakukan kesalahan apapun, namun tampaknya Adira masih belum mengerti, bahwa pria yang dipanggilnya daddy, sedang cemburu berat karenanya.
Sementara itu, di luar ruangan, Arsenio berdiri mematung menatap pintu yang tertutup rapat, ia mengerutkan alisnya tinggi, membayangkan sikap aneh dari Luffi. Sikap seperti seseorang yang tengah cemburu kepada kekasihnya. Ia melipat kedua tangannya di atas dada, dengan ekspresi sedang berpikir keras.
“Apakah tuan Luffi cemburu kepadaku? tapi apa? aku hanya berbincang dengan Adira, dia juga senang dengan kehadiranku, lantas kenapa tuan marah bahkan sangat marah sampai ingin membunuhku” gumamnya mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di atas lengannya.
“Tunggu! apa jangan-jangan…? tidak mungkin, tuan menyukai anaknya sendiri kan?” bisiknya dalam hati, Arsenio kemudian menggeleng membuang pikiran buruknya terhadap Luffi, tidak tahu saja yang dipikirkan adalah sebuah kebenaran. Ia hanya bisa pasrah dan berjalan menuju tangga lantai satu.
Beralih di dalam ruangan, Adira sedang merajuk dan menatap tak suka pada Luffi yang seenak jidat mengusir Arsenio, padahal ia sangat menyukainya, sebab Arsenio merupakan teman pertamanya, dan begitu nyambung jika di ajak bicara. Namun, kedatangan Luffi merusak suasana hatinya, dan kini ia membungkus diri di balik selimut.
“Daddy tidak suka kau terlalu dekat dengan Arsenio, kamu baru beberapa jam bertemu tapi sudah sangat akrab, kamu seharusnya mewaspadainya” tutur Luffi beralibi. Ia berdiri di samping bangsal Adira dan menatap gadis yang berbungkuskan selimut putih.
“Tapi dia adalah anggota daddy, bukankah daddy yang membawanya kemari untuk menjagaku, kenapa daddy menyuruhku untuk mewaspadainya, padahal dia bagian dari anggota daddy, apa jangan-jangan daddy tidak pernah tahu mana lawan dan mana kawan? aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran daddy yang kekanak-kanakan” jawabnya tegas membuat Luffi melotot. Luffi terkejut akan reaksi Adira yang sungguh berlebihan menurutnya, reaksi yang pertama kalinya ia rasakan.
“Kau mengatai daddy kekanak-kanakan hanya demi membela pria yang baru saja kamu kenal kemarin? aku adalah daddymu, tidakkah daddy penting di dalam hidupmu? a-apa kau sangat mencintainya sampai kau begitu berani membentak daddy, hah!?” Adira bangun dan melempar selimutnya, ia menatap tajam ke arah Luffi dan mencebikkan bibirnya. Luffi yang melihatnya memelototinya, ia benar-benar tidak habis pikir dengan perubahan tingkah Adira yang membangkang padanya.
“Apa daddy tidak sadar, sikap daddy tadi sudah sangat kelewatan, apa kesalahan yang dibuat Arsenio sampai daddy menariknya keluar? kami bahkan baru saja mengobrol. Daddy benar-benar membuatku marah, l hate you (Aku membencimu)” Luffi terdiam seribu bahasa, melihat ekspresi dingin dari gadis di depannya. Ada rasa sesak di dadanya mendengar ungkapan marah dari Adira, tangannya terkepal kuat, ia melakukan itu karena tidak suka jika Adira dekat dengan pria lain, namun tindakannya malah membuat mereka bertengkar.
Luffi melihat Adira yang berusaha turun dari atas bangsal, ia kemudian mendekatinya dan membantunya untuk berjalan. Namun, tatapan tajam seperti mata elang yang siap memangsa mangsanya, tertuju padanya.
“Aku bisa sendiri, lagipula aku sudah sehat” Adira melepas tangan Luffi dan berjalan menuju bilik kamar mandi, meninggalkan Luffi yang masih diam terpaku menatapnya. Namun, seperkian detik, mata Luffi membulat sempurna dan langsung berlari menghampiri Adira.
“Sayang, kamu terluka? kenapa celanamu berdarah? apakah sakit? kenapa tidak memberitahu daddy kalau kau terluka?” Luffi benar-benar panik, ia langsung menggendong Adira dan membawanya ke atas bangsal, namun di sana terdapat seberkas darah yang menempel di atas seprei kasur Adira. Pria itu menatap Adira dengan tatapan khawatir.
“Kau terluka? darahnya cukup banyak, kenapa kau tidak mengatakan kepada daddy? apakah sakit, hmmmm?” tanyanya dengan deru napas tak beraturan, bahkan matanya berkaca-kaca melihat darah di atas kasur bekas Adira duduk.
“Kamu tunggu di sini, daddy akan memanggil dokter” Luffi menurunkan Adira dari gendongannya, dan hendak berjalan keluar, namun genggaman tangan Adira membuatnya berhenti dan menatap ke arah Adira.
“Kenapa? apa kau tersiksa?” tanyanya khawatir. Entah Adira ingin tertawa atau merasa sedih melihat kepolosan Luffi. gadis itu memeluk tubuh Luffi dan berbisik pelan.
“Aku sedang haid, dad” ucapnya blak-blakan. Adira melempar senyum malu, sementara Luffi bernapas lega. Ia memeluk erat tubuh gadis di depannya, merasa senang sebab putrinya tidak kenapa-kenapa.
“Syukurlah, jika kamu tidak terluka… daddy sangat khawatir dan sangat takut kamu kenapa-kenapa sayang” tuturnya lembut.
“Dad, bisakah membelikanku pembalut, tapi yang bersayap?” Adira menatap memohon ke arah Luffi, pria itu mengangguk tanpa beban sedikitpun.
“Baiklah, daddy pergi sekarang” Luffi kemudian keluar dari ruangan Adira, sementara gadis itu tersenyum lebar, sebab Luffi bisa membantunya untuk membeli pembalut, sebenarnya ia ingin meminta tolong pada Arsenio, namun Luffi tiba-tiba datang dan mengusirnya, oleh sebabnya ia sangat mengandalkan Luffi saat ini.
“Syukurlah, daddy bisa di ajak kerja sama, semoga daddy tidak akan mengomeliku tentang pembalut” gumamnya sambil tersenyum tipis.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung