
Happy Reading
.
.
.
.
.
Luffi terpaku dalam diam, merasakan lembut bibir yang menempel pada bibirnya, sementara sang pelaku tersenyum lebar tanpa merasa berdosa, atas apa yang dirinya lakukan pada pria dalam pelukannya. Gadis itu tidak menyadari raut wajah Luffi yang berubah menjadi merah. Merasakan keanehan dalam diri Luffi, gadis itu melepas rangkulannya dan menatap Luffi dengan pandangan bingung.
“Dad, are you okay? (Dad, apa kau baik-baik saja?)”
“Jangan mencium bibir daddy, biar bagaimanapun daddy adalah pria dewasa, apa kau mengerti?” ujar Luffi dengan nada tegas. Pria itu tidak menjawab pertanyaan Adira malah langsung menegaskan untuk tidak mengulang perbuatannya tadi.
Ia berkata seperti itu agar tidak ingin Adira membiasakan dirinya mencium bibirnya, biar bagaimanapun dia adalah pria normal. Selain itu, ia takut jika kebiasaan Adira yang sering mencium sembarangan akan berlaku pada pria lain. Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi, oleh sebabnya ia harus tegas pada putrinya itu. Namun, gadis itu menyalahartikan maksud Luffi, ia tertunduk dengan wajah sedih. Merasa sakit hati dengan ucapan Luffi padanya.
“Ke-kenapa wanita lain boleh melakukannya, sementara aku tidak boleh? Daddy bohong, baru saja mengatakan jika daddy adalah milikku, tapi kenapa sudah ingkar saja!” ketusnya, namun tidak berani melirik pria di sampingnya. Mata Luffi terbelalak, ia menepuk jidatnya tidak mengerti dengan jalan pemikiran anak gadisnya.
“Astaga, apa dia tidak mengerti arti dari ciuman bibir?” Luffi bertanya-tanya dalam benaknya, sembari melihat Adira yang terlihat cuek.
“Ciuman bibir hanya dilakukan oleh dua pasangan, seperti suami istri, ayah dan anak tidak boleh melakukannya, apa kau mengerti sekarang?” Luffi menangkup kedua pipi gadis itu, ia menyelipkan setiap anak rambut yang menutupi wajah Adira. Pria itu menatap anak gadisnya, begitupun sebaliknya.
“Kalau begitu, kita jadi pasangan saja, aku mencintai daddy bukan sebagai ayah, melainkan sebagai pria dewasa” ucapnya bersungguh-sungguh. Kalimat yang dilontarkan Adira membuat Luffi meraup wajahnya kasar, ia menggeleng tidak mengerti dengan jalan pikiran gadis yang sedang menatapnya penuh cinta.
“Kamu, sepertinya sedang sakit. Istirahtlah, daddy mau keluar sebentar” tanpa menunggu jawaban Adira, pria itu segera keluar dari ruangan VIP, dan berjalan menuju lift hendak ke lantai satu. Pikirannya kacau, perasaannya menjadi campur aduk bahkan tatapannya seakan kosong. Dirinya seperti sedang dihantam batu besar, kenapa sampai putrinya menyukainya? apakah ia harus mendekatkan putrinya dengan pria lain, agar putrinya menyadari bahwa apa yang dirasakannya bukanlah sebuah cinta kepada pria. Mungkin ia harus melakukannya, ia menyadari bahwa ia salah dalam hal ini, mengurung Adira bersamanya tanpa membiarkannya bersosial di luar sana.
“Siapa pria yang cocok untuk putriku? mengenal bahwa sebagian besar pria sangatlah berengsek, aku tidak ingin membiarkan putriku sampai dilukai, aku harus benar-benar mencari pria yang tulus padanya… atau, jika tidak maka aku akan membunuh mereka” ia menyadari sebagai seorang ayah yang memiliki seorang putri, tentu akan memberikan yang terbaik padanya. Dan ia mengakui bahwa dirinya adalah pria berengsek di kotanya, namun ketika itu menyangkut masa depan sang putri, ia tidak bisa untuk tidak peduli, ia sangat paham tentang karakter pria, sebab dirinya pernah mengalaminya.
Sementara di kamar VIP, seorang gadis tengah terbaring dengan air mata yang terus jatuh mengalir, membasahi pelipisnya. Merasa kecewa dengan jawaban Luffi yang tidak sesuai harapannya. Ia pikir bahwa Luffi juga mencintainya, namun rupanya hanya dirinyalah yang memupuk cinta itu tanpa balasan. Ia pikir bahwa perhatian yang diberikan Luffi padanya adalah bentuk sebuah cinta, namun ia tidak sangka bahwa perasaannya di tolak mentah-mentah, ia menggigit bibirnya, dan menahan tangis dalam diam.
“Apa aku salah mengatakannya, aku tidak pernah menganggap daddy sebagai ayahku. Hiks, hiks, hiks… aku benar-benar mencintaimu dad, sungguh. Ini adalah cinta kepada pasangan, bukan kepada ayah” gumamnya memukul dadanya yang teramat sakit.
“Jangan pernah mencintainya! Sudah saya katakana kepada nona, dia adalah pembunuh, ayah nona meninggal karena dia” seorang pria dengan dinginnya berkata, membuat Adira langsung menatap pria yang tiba-tiba datang seperti hantu, mengagetkan Adira yang sedang meratapi nasibnya yang di tolak padahal belum mencobanya.
“Bisakah datang tidak seperti hantu? Om membuatku terkejut”
“Jangan pernah mencintai musuh, sebelum perasaan nona belum terlalu besar, saya sarankan untuk tidak melanjutkannya!” tegasnya dengan pandangan datar ke arah Adira, gadis itu mendengus kesal dan menatap tak suka pada pria di depannya.
Tiga jam yang lalu, sebelum kedatangan Luffi di rumah sakit. Setelah pascaoperasi, Adira dipindahkan di ruangan VIP A yang dipesan Ali untuk nona mudanya. Ia berjaga di samping bangsal Adira, menatap wajah Adira yang sangat mirip dengan nyonyanya, walau tidak semuanya sama, namun ia dapat melihat wajah nyonyanya ada pada gadis yang terbaring lemah itu.
Lama menunggu membuatnya mengantuk, namun saat hendak tertidur, ia mendengar lenguhan kecil dari mulut Adira, Ali dengan cepat membuka matanya, ia pun beranjak dari duduknya lalu mengecek keadaan tubuh nona mudanya itu.
“Bagaimana perasaanmu, nona? apa kau baik-baik saja?” tanyanya penuh perhatian. Tenggorokan gadis itu sangatlah kering, hingga ia meminta tolong kepada pria asing untuk mengambilnya air. Dengan penuh kelembutan, Ali membantu Adira untuk bangun dan memberikan segelas air putih yang terdapat di atas meja nakas. Setelah minum, Adira kembali berbaring dan menatap heran pria di sampingnya, ia menatapnya begitu rinci, mengerutkan alisnya tinggi kala ia berada di tempat asing, namun ia menyadari bahwa saat ini ia di rumah sakit akibat kecelakaan yang menimpanya tadi sore.
“Om siapa? apakah om yang membawaku ke rumah sakit?” tanyanya dengan suara serak.
“Benar. Saya yang membawa nona kemari… saya Ali, kaki tangan ayah nona, boss Mario” Adira terkejut sekaligus senang mendengarnya, setidaknya ia bertemu dengan anggota ayahnya, ia sangat merindukan ayahnya, sudah dua belas tahun lamanya. Namun, sang ayah tidak pernah mengabarinya, itu sebabnya ketika mendengar kaki tangan Mario, ia tidak dapat membendung kebahagiaan itu. kebahagiaan yang sebentar lagi akan berkumpul bersama ayahnya yang sudah lama hilang.
“Benarkah? apa om tahu di mana daddy berada? aku sangat merindukannya” tanyanya dengan perasaan sedih, terlihat raut wajahnya yang murung dan tidak bersemangat. Sementara Ali tidak menjawab, terdiam dengan penyesalan yang teramat dalam. Melihat wajah Ali yang tidak baik-baik saja, mengundang banyak pertanyaan dalam benak Adira, gadis itu mengerutkan alisnya tinggi.
“Apa terjadi sesuatu dengan daddy?”
“Maafkan saya nona. Saya lalai menjadi anak buahnya” Adira menelan ludahnya kasar, mengepalkan tangannya. Ia menutup mata mencerna setiap kata yang dilontarkan Ali padanya. Ia menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan.
“Katakan yang sebenarnya, apa yang telah terjadi pada daddy?” gadis itu berusaha menahan air matanya, ia menguatkan hatinya tentang setiap yang akan diucapkan Ali nanti.
“Ayah nona, di bunuh oleh geng Talaskar, Luffi adalah boss mereka. Pria yang menjadi ayah angkat nona sekarang”
DEG
Bagai di sambar petir di siang bolong, mendengar fakta yang sungguh mengejutkannya. Selama ini ia tinggal bersama orang-orang yang menghancurkan keluarganya, tiba-tiba air matanya mengalir deras, ia benar-benar merasa hancur saat ini.
“Daddy Luffi? apakah benar daddy melakukannya? tapi kenapa? kenapa harus daddy aku?” bisiknya dalam hati. Tangannya terkepal merasa marah. Marah karena dirinya tidak bisa membenci pria yang sudah merawatnya.
.
.
.
.
.
Bersambung