
Happy Reading 🤗
.
.
.
.
.
“Maafkan saya tuan, saya harus menghentikan tuan, jika tidak, tuan akan membunuh adik saya!” seorang pria segera melerai perkelahian dua pria yang berbeda umur itu, mendengar ucapan dari pria tadi membuat Luffi tersadar dan menghentikan tinjunya, namun kilatan amarah di matanya masih menyala dan berapi-api. Sementara itu, sekretaris Han membantu adiknya berdiri, ia melihat wajah Arsenio yang babak belur merasa sedih, namun ia tidak mungkin marah, biar bagaimanapun Luffi adalah bossnya.
“Segera kirim adik kamu ke Washington, jika tidak ingin dia mati!!” seru Luffi dengan nada datar, Luffi kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut dengan menarik pergelangan tangan Adira. Semua mata tertuju pada Luffi dan Adira, mereka pikir bahwa gadis tersebut adalah milik Arsenio, senior mereka, namun rupanya mereka salah besar.
Luffi membuka pintu mobil dan mempersilahkan Adira masuk, ia kemudian berjalan mengitari mobilnya dan membuka salah satu pintu mobil, ia naik dan menjatuhkan pantatnya di atas kursi kemudi. Tidak ada pembicaraan di antara keduanya, suasana tampak sunyi tidak ada yang berani angkat bicara termasuk Adira. Gadis itu diam dengan memandangi setiap bangunan melalui kaca mobil. Mobil yang dikendarai Luffi bergerak sangat cepat meninggalkan halaman Cafe Shop.
Sesekali Adira melirik ke arah Luffi, ia melihat raut wajah pria di sampingnya sangat buruk, membuatnya sulit sekadar bersuara. Cengkeraman pada setir mobil membuat Adira bergidik ngeri, ini pertama kalinya melihat Luffi semarah itu padanya, ia tidak tahu bagaimana cara membujuk seseorang yang tengah marah. Dia belum pernah melakukannya sebelumnya, terutama pada kekasih yang baru jadian. Namun, sebisa mungkin ia mencairkan suasana di dalam mobil, atmosfernya sangat tidak stabil, lama-lama mobilnya akan meledak karena panasnya amarah dari pria tersebut, jika tidak redakan segera.
“Ekheeem!” Adira berdehem keras, dan mencuri-curi pandang ke arah Luffi, pria itu menatapnya sekilas dan kembali fokus melihat jalanan.
“Aku minta maaf” cicitnya dengan suara pelan, namun tak ada reaksi dari pria di sebelahnya, gadis itu hendak membuka sabuk pengaman, namun langsung ditatap datar oleh Luffi.
“Pakai itu jika tidak mau mati” tukas Luffi membuat Adira mengurungkan niatnya, mendengar nada dingin dari Luffi membuatnya mencebikkan bibirnya kesal, ia mengerlingkan matanya ke atas dan kembali melihat ke arah Luffi.
“Aku tidak melakukan kesalahan apapun, kenapa daddy marah padaku? lagipula aku tidak memiliki kuasa jika Arsenio menyatakan cintanya padaku… kenapa daddy harus marah seperti ini, kekanakan!” cerocosnya mengeluarkan isi hatinya, dan hal itu membuat Luffi membanting setir mengakibatkan mobilnya menjadi tidak seimbang. Mobil yang dikendarai Luffi seketika berhenti di sisi jalan, hal itu menyebabkan beberapa mobil hampir mengalami kecelakaan.
“Kekanakan? Kamu keluar tidak memberitahu daddy, apa itu sikap tidak kekanakan? Kamu membuat daddy khawatir, dan kenapa kamu mau keluar dengan Arsenio? bukankah daddy sudah melarangmu untuk tidak berhubungan dengannya, kenapa kamu tidak pernah sekalipun mendengar daddy? semakin dewasa semakin pembangkang” ucapnya tegas dengan tatapan dingin melihat ke arah Adira, gadis itu terdiam dengan wajah yang sulit diartikan, bahkan matanya menjadi merah dengan linangan air mata yang akan segera keluar. Namun, kemarahan Luffi membuatnya tidak berempati, egonya mengalahkan cintanya dan membuatnya tidak peduli pada gadisnya. Rasa cemburu terkadang membuat seseorang menjadi gila sampai kehilangan kesadaran bahwa, sikap mereka bisa saja melukai perasaan orang di sisinya.
“Tidakkah kamu mengerti perasaan daddy? jangan pernah bergaul dengan pria manapun”. Ungkapnya lagi. Kali ini nada suaranya lebih rendah dari biasanya, namun Adira tidak menjawab, ia memalingkan wajahnya ke arah lain tanpa peduli dengan pria yang berbicara padanya. Luffi kembali menjalankan mobilnya, bergerak melewati gedung-gedung pencakar langit.
Dan tibalah mereka di sebuah bangunan tinggi nan mewah, itu adalah Apartemen yang ditinggali Luffi. Pria itu keluar dari dalam mobilnya, dan membuka pintu untuk Adira, namun gadis itu malah keluar melalui pintu sebelahnya. Melihat reaksi Adira yang merajuk padanya membuatnya menghela napas panjang. Adira berjalan meninggalkan Luffi yang masih berdiri di samping mobilnya, melihat tubuh Adira yang semakin menjauh dari pandangannya. Ia pun mengikuti langkah kaki Adira dan masuk ke dalam lift yang hanya di isi oleh mereka berdua.
“Sayang” panggilnya melirik gadis di sampingnya, namun gadis itu pura-pura tidak mendengarnya. Tatapannya serius tertuju ke depan dan tak sedikitpun bergerak.
Luffi kemudian mengejar langkah kaki Adira, ia menarik tangan gadisnya membuat Adira berhenti. Luffi memutar tubuh Adira hingga menghadap padanya, dan mendorong tubuh Adira ke dinding lalu menghimpitnya dengan tubuh kekarnya.
Tangan Luffi memeluk pinggang Adira sementara satu tangan yang lain menarik tengkuk gadisnya dan langsung mencium bibir gadisnya paksa, ia ******* dan memainkan lidahnya di dalam rongga mulut Adira, melilitnya dengan lidah gadisnya.
“Daddy cemburu melihat kamu dengannya, daddy minta maaf karena terlalu impulsif” bisiknya setelah menghentikan ciumannya. Pipi gadis itu memerah dengan napas memburu. Ia hampir saja kehilangan napas karena kelakukan pria yang tidak tahu malu. Padahal mereka sedang berada di depan umum, namun dengan beraninya Luffi melakukannya, ia sungguh malu dan segera keluar dari dekapan pria yang mendominasi.
“Apa-apaan dia itu? apakah dia tidak malu melakukannya di depan umum? Bahkan anak kecilpun melihatnya” batinnya menggerutu, walau begitu ia menyukai tindakan Luffi padanya, tidak dipungkiri ia sangat menyukai keintiman yang dilakukan Luffi, sangat gila memang, namun hatinya merasa itu adalah sesuatu yang romantis. Diam-diam gadis remaja itu tersenyum simpul, dan menyentuh bibirnya yang basah akibat ciuman singkat dari Luffi.
Adira segera masuk ke dalam kamar setelah menempelkan kartu akses yang diberikan penjaga Apartemen. Pipinya merah seperti kepiting rebus, ia harus menyembunyikan wajah malunya dari Luffi. Namun, tiba-tiba sebuah tangan kekar memeluk pinggang rampingnya, ia terkejut bukan main, sebab wajahnya semakin memerah seperti buah tomat yang sudah matang.
“Sayang jangan marah, daddy tahu daddy salah…tidak seharusnya daddy memarahimu, bisakah untuk tidak diam saja? jawab daddy” tutur Luffi, menjatuhkan dagunya di leher jenjang Adira, sesekali mencium leher gadisnya lembut dan menghirup dalam-dalam aroma harum dari tubuh gadisnya.
“A-aku sudah memaafkan daddy” cicitnya pelan.
“Sepertinya daddy ingin melakukannya lagi, apakah boleh?” belum mendapat persetujuan dari sang empu, Luffi langsung menggendong tubuh Adira dan menjatuhkannya ke atas kasur. Jujur saja, pria itu tidak bisa melepas tubuh seksi Adira, saat malam itu, mereka melakukannya, ia semakin menggila dan tidak dapat melupakan adegan panas tersebut. Gambaran malam itu terus melayang dan berputar-putar di ingatannya, Adira benar-benar membuatnya terlena dan tidak berdaya.
“Maafkan daddy, tapi kamu sangat seksi, sayang”.
"Benar-benar seekor serigala"
.
.
.
.
.
Bersambung