
Happy Reading 🤗
.
.
.
.
.
Luffi menggila karena kepergian Adira, temperamennya semakin buruk, bahkan setiap hari terus marah-marah tidak jelas. Malam itu setelah kepergian Adira, hidup Luffi runtuh seakan awan gelap selalu menyelimutinya, kesuraman selalu berada di dekatnya. Bahkan setelah mengerahkan seluruh anggota Talaskar untuk mencari Adira, namun jejak Adira bagai ditelan Bumi, tak satupun petunjuk yang mereka dapatkan tentang keberadaan Adira. Setiap hari, Luffi mengabiskan sepuluh botol minuman beralkohol dengan tingkat persentase alkohol di atas dua puluh. Pria itu mengurung dirinya di dalam kamar, tak sedikitpun cahaya menyinari ruang pribadinya. Bau alkohol serta asap rokok sungguh menyengat di pernapasan manusia, mungkin jika ada lalat yang hinggap di dirinya, lalat itu pasti mati karena keracunan akibat aroma yang sangat bau.
Pria itu menyesali perbuatannya terhadap Adira, mencaci maki, bahkan tak sedikitpun bulian ia lakukan kepada Adira, gadis mana yang tidak tahan jika diperlakukan kasar seperti itu, sampai membuatnya muak dan memilih pergi dari kehidupan Luffi, toh pria itu sangat membencinya, alangkah baiknya jika ia segera pergi dari kehidupan pria itu, agar tidak ada lagi hati yang tersakiti.
Penyesalan memang selalu datang belakangan, siapa yang tahu perbuatannya yang sangat keterlaluan itu membuatnya tersiksa. Merindukan seseorang selama tujuh belas tahun bersamanya kini telah menghilang karena perlakuannya yang tidak menyenangkan, hingga ia dihukum atas kejahatan yang dia lakukan. Menyendiri di sebuah ruangan gelap, menghabiskan hari-harinya dengan bermabuk-mabukan, dan rokok yang selalu bertengger di kedua sisi jari tengah dan telunjuk. Bahkan perusahannya ia bebankan kepada sekretaris Han dan Jesika, mereka berdualah yang beberapa minggu ini sibuk dengan urusan perusahaan, hingga tak ada waktu sedikitpun untuk istirahat.
“Aku belum pernah melihat situasi seperti ini? Pria yang terkenal kejam di wilayah dunia bawah, sangatlah lemah terhadap seorang wanita, bahkan anak dari seorang musuh. Cinta benar-benar membutakan matanya, sampai kewarasannya ikut tenggelam ke dalam ilusi permainan wanita… aku tidak tahu jika wanita sangatlah licik, mereka adalah bahaya dari kaum pria” gumam seorang pria menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kebesarannya. Melihat dengan pandangan serius ke arah rak buku di depannya, dengan tangan ia lipat di atas perutnya.
“Aku tidak akan membiarkan boss besar tersiksa karena wanita jahanam itu, aku harus menyadarkannya!” Pria itu seketika bangkit dari duduknya, berjalan keluar dari ruangan CEO menuju sebuah ruangan berwarna putih. Ia berdiri di depan pintu, orang yang berada di dalam segera bangkit dari duduknya dan membuka pintu lebar-lebar.
“Saya mau pergi menjenguk boss, kamu urus perusahaan, jika ada masalah segera telepon saya”
“Baik, sampaikan salam saya kepada boss besar” Sekretaris Han mengangguk dan segera meninggalkan Adira yang masih menatapnya, hingga tak lagi terlihat punggung kekar dari pria itu, kemudian sekretaris Jesika kembali masuk ke ruangannya. Sementara itu sekretaris Han sudah tiba di dalam mobilnya, ia menyetir mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Hari ini waktu menunjukan pukul dua belas siang, matahari begitu terik menyinari Bumi, jalanan pun tidak semacet ketika waktu malam, sebab kebanyak penduduk Las Vegas, akan keluar di waktu sore hingga malam. Vibesnya akan terlihat berbeda jika di malam hari, terutama sekarang adalah musim panas, tentu sebagian besar dari mereka menghindari sinar matahari yang hampir membakar kulit. Mereka lebih memilih berjalan sore atau malam, selain karena memiliki hawa yang adem, pemandangannya pun akan terlihat menarik di malam hari.
Dua puluh menit berlalu, sebuah mobil sedan putih terparkir rapi di depan Mansion megah nan mewah. Mansion dengan ciri khas bangunan Eropa. Seseorang turun dari dalam mobil bermerek, pria dengan setelan formal kantoran berjalan dan menapaki area teras Mansion yang memiliki luas sekitar seratus meter. Dua penjaga yang berjaga di depan pintu masuk, membungkukan tubuhnya sebagaimana yang dilakukan boss besar mereka. Sekretaris Han adalah kaki tangan Luffi, memiliki kedudukan kuat kedua setelah Luffi dalam organisasi Mafia, tak jarang jika anggota Talaskar begitu menghormati sekretaris Han.
Tidak berbeda jauh dengan Luffi, rupanya sekretaris Han terkenal kejam, bahkan tak segan-segan dirinya membunuh keluarga anggota Talaskar, jika berkhianat, sebesar apapun jasanya, ia akan menarik pelatuk senjata apinya untuk membunuh parasit yang mengguncang kedudukan Luffi. Bisa dikata, bahwa sekretaris Han merupakan singa perang bagi Luffi. Ia akan menjadi tameng untuk melindungi tuannya, walau nyawa adalah taruhannya.
TOK TOK TOK
Sekretaris Han mengetuk pintu, dan memanggil nama Luffi, namun tak ada suara yang terdengar dari dalam. Pria itu sungguh mencemasi Luffi, ia terlihat seperti seorang istri yang mengkhawatirkan kesehatan suaminya. Karena tidak ada suara, sekretaris Han memberanikan diri untuk mendobraknya, ia tidak bisa berdiam lagi. Terutama Luffi tidak makan teratur belakangan ini.
“Aku sangat mencemaskan dirinya, tetapi apa yang dia lakukan… mengecewakan sekali” tuturnya dengan nada jengkel. Ia sedikit menjauh dari kamar Luffi, dengan posisi tubuh sedikit miring. Kekuatannya ia kumpulkan di satu titik yaitu kaki. Tiba-tiba ia berlari begitu cepat dengan….
BRAAKK
“Uhuk, uhuk,uhuk, bau apa ini? Busuk sekali” Sekretaris Han terbatuk-batuk dan mengibas-ngibaskan tangannya di udara tepat di bagian wajahnya. Ia mencium bau alkohol yang menyengat membuatnya ingin sekali muntah. Matanya menangkan sesosok pria yang terbaring tak sadarkan diri di atas lantai, dengan tampilan acak-acakan.
“Tuan, apa kamu baik-baik saja?” Sekretaris Han berlari menghampiri Luffi yang terbaring tak sadarkan diri di atas lantai. Ia memangkunya dan menepuk-nepuk pelan pipi Luffi, untuk menyadarkannya. Namun, pria itu sudah pingsan. Rambutnya tak terurus, acak-acakan terlihat seperti pria pengemis. Sekretaris Han, hanya mampu geleng-geleng kepala melihat kelakuan gila tuannya.
“Apa anda sangat gila? Kenapa anda harus menyakiti diri sendiri, seperti ini? Tuan bisa mencari wanita lain, tapi tidak dengan anak Mario!” titahnya tegas. Ia lalu mengangkat tubuh Luffi ke atas kasur, dan mulai membereskan kekacauan yang terjadi di kamar Luffi, itu kelihatan seperti kamar kapal pecah.
“Ja-jangan ganggu aku, aku ingin menebus kesalahanku karena kebodohanku, menyiksanya tanpa alasan, padahal aku begitu mencintainya” kata Luffi ngelantur. Sekretaris Han menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Aku akan membunuh gadis itu agar tidak membuatmu gila seperti ini” batin sekretaris Han penuh tekad.
.
.
.
.
Bersambung