DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)

DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)
BAB 26 Panggilan Daddy



Happy Reading


.


.


.


.


.


.


Hari semakin malam, jarum jam menunjukkan angka pukul satu dini hari, seorang gadis kecil menggeliat dalam tidurnya, perlahan-lahan mengerjap-ngerjap matanya. Pandangannya sedikit buram, ia menggosok-gosoknya, sampai pandangannya terlihat jelas. Perutnya keroncongan ia sangat lapar, dan ia ingin makan sekarang. Setelah penculikan yang dialaminya, ia belum mengisi perutnya dengan makanan apapun, terakhir dia makan adalah ketika bersama Jaguar.


KRUYUUUUK


“Apa kau lapar? Ayo bangun aku buatkan pasta untukmu” seseorang bersuara, membuat Adira terkejut bukan main, ia melonjak kaget dan langsung terbangun dari tidurnya. Suara itu adalah Luffi, ia tidak tidur dan malah duduk di kursi samping kasur Adira, menjaga gadis kecil itu di saat sedang istirahat. Luffi memegang sebuah buku yang berjudul “Belajar Menjadi Ayah” sepertinya ia ingin menjadi sosok ayah untuk Adira, mengganti posisi Mario yang telah ia bunuh beberapa waktu yang lalu.


“Om kenapa ada di sini? Om, tidak tidur?” tanyanya memandang polos ke arah Luffi, pria itu tertawa kecil, ia mengusap kepalanya dan tiba-tiba mencium kening Adira, gadis itu terdiam, merasakan kembali sosok ayahnya yang hilang dalam perlakuan Luffi padanya barusan. Ia merindukan ayahnya, tiba-tiba air matanya keluar. Luffi melihat Adira sedih, segera duduk di hadapan Adira.


“Kau merindukannya?” Adira mengangguk dengan kepala menunduk, air mata itu terus mengalir keluar dari pelupuk matanya. Luffi mendesah berat, kemudian menarik tubuh kecil itu ke pelukannya, dan Adira semakin menangis tersedu-sedu.


“Huhuhu, aku merindukan daddy, aku ingin bertemu dengan daddy” Luffi hanya bisa mengelus punggung Adira, ia tidak bisa berkata-kata, sebab dirinyalah yang memisahkan ayah dan anak itu, dan Mario tidak bisa kembali lagi, sebab dia sudah mati.


“Kamu bisa memanggilku daddy, aku akan memperlakukanmu seperti putriku sendiri, mulai sekarang aku adalah daddy kamu… jangan menangis lagi, ayo kita ke dapur” Adira melepas pelukannya, dan mengusap air matanya. Ia tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih nan rapi, ia menggenggam jemari tangan pria di depannya dan mengajaknya turun dari kasur. Dua anak manusia yang berbeda gender itu melangkah keluar kamar, Luffi terus tersenyum mengamati setiap langkah pendek Adira, hatinya sangat senang sehingga sulit baginya menutupi kebahagiaan itu.


Mereka menuju dapur, Luffi akan membuatkan Spaghetti untuk Adira, pria itu mengangkat tubuh kecil Adira dan menurunkannya di atas kursi. Adira tersenyum lebar merasakan kehangatan Luffi padanya.


“Kamu tunggu di sini sebentar, daddy akan membuatkan makanan untukmu” Adira mengangguk dengan dua jari jempol terangkat di depan Luffi.


“Semangat daddy” mendengar panggilan daddy dari mulut Adira, membuat hatinya berbunga-bunga, dirinya seperti seorang remaja yang sedang di mabuk cinta, tapi ini bukan tentang cinta pasangan dewasa, namun cinta seorang ayah kepada anaknya.


“Astaga, ada apa denganku sekarang, kenapa aku sering tersenyum di depannya” batinnya tidak mengerti tentang perubahan drastis dirinya. Luffi kemudian berjalan menuju kulkas dan membukanya, ia mengambil sebuah bungkusan berwarna biru dan putih, dengan nama La Fonte Spaghetti. Ia menatapnya dengan saksama mencari petunjuk cara memasaknya. Sebenarnya Luffi belum pernah memasak bahkan untuk dirinya sendiri, namun entah kenapa ia ingin sekali memberikan yang terbaik kepada gadis kecil yang sedang menunggunya. Hal terbaik itu adalah makanan, sebab makanan yang di masak sendiri dapat mengembangkan cinta bagi yang memakannya, itu adalah kalimat yang sering ia dengar di khalayak ramai, oleh sebabnya ia ingin membuktikannya sekarang.


Luffi mulai menyalakan kompor, ia mengambil panci gagang stainless dan mengisinya air secukupnya, lalu kemudian meletakannya di atas kompor yang sedang menyala. Kemasan Spaghetti ia robek. Ia melihat air telah mendidih, ia pun memasukan mie Spaghetti ke dalam panci berisi air mendidih. Waktu yang dibutuhkannya hanya tujuh menit, itu adalah waktu yang tepat untuk membuat Spaghetti matang secara sempurna. Luffi melirik pada benda yang melingkar di pergelangan tangannya, tersisa dua menit lagi untuk mengangkat Spaghetti itu.


Kini tujuh menit telah berlalu, Luffi mematikan api kompor, ia mengambil saringan mie, lalu menuangkan semua isi di dalam panci ke dalam saringan tersebut. Dia lupa bahwa tidak ada bumbu instan untuk Spaghetti, alhasil dirinya membuka youtube dan melihat cara membuat Spaghetti sederhana.


Luffi mulai meletakan wajan di atas kompor, dan menyalakan apinya, ia kemudian menuangkan minyak secukupnya, menunggu hingga panas, lalu menumis bawang putih dan bawang merah bersamaan. Ia tersenyum simpul, kala masakannya mengeluarkan aroma wangi yang sedap, itu terlihat seperti sangat lezat. Setelah bawang yang ditumis berubah menjadi kuning kecoklatan, ia menambahkan garam dan kaldu ayam bubuk, kemudian menuangkan paprika yang di potong tadi, mengaduknya hingga rata. Ia menunggu paprika sampai matang. Pria itu begitu telaten dalam memasak, ia mengikuti setiap arahan dari video yang dia tonton tadi.


Setelah memastikan Paprika telah matang, selanjutnya ia memasukan saus tomat, saus sambal dan sedikit kecap manis, lalu selanjutnya adalah potongan sosis yang telah dia potong, mengaduknya hingga merata, dan yang terakhir adalah Spaghetti yang ia sisihkan tadi, ia mencampurnya bersama bumbu yang ia tumis, dan membiarkannya sampai bumbunya meresap. Luffi mengecilkan api kompor, dua menit kemudian ia mematikan apinya, lalu segera menyajikannya ke dalam piring lebar dan berjalan menuju Adira berada. Ia menghabiskan waktu selama 30 menit di depan kompor, dan Adira telah tertidur di sana.


“Apa aku sangat lama sampai dia tertidur di sini?” gumamnya, dan meletakan piring berisi Spaghetti di atas meja, dengan lembut ia menyentuh bahu Adira dan membangunkannya.


“Sayang, ayo bangun, masakannya sudah matang” bisiknya lembut, dan Adira terbangun, ia menguap dan menggosok-gosok matanya, menghalau rasa ngantuk itu.


“Oh sudah selesai… wah, apakah ini buatan daddy? Ini terlihat sangat lezat” pekiknya semangat, ia menarik piring tersebut dan langsung melahapnya.


“Ummmm, ini sangat enak… daddy benar-benar jago dalam soal memasak, aku menyukainya” Adira benar-benar lahap memakan Spaghetti buatan Luffi, melihat itu Luffi benar-benar senang, ini adalah masakan pertamanya dan Adira begitu menyukainya, sepertinya ia akan lebih sering membuatkannya masakan untuk putri angkatnya itu.


“Jika kamu mau, daddy akan membuat makanan untukmu setiap hari”


“Benarkah? Apa itu tidak akan mengganggu pekerjaan daddy?” tanya Adira dengan mulut masih penuh oleh Spaghetti, bibirnya belepotan oleh saus dari makanannya. Luffi melapnya menggunakan jari jempolnya lalu berujar


“Iya… makanlah dengan pelan, tidak ada yang merebutnya darimu”


“Heeeemm”


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung