
Happy Reading
.
.
.
.
.
Tibalah kedua anak manusia itu, di sebuah Cafe Shop yang begitu ada banyak kumpulan anak muda yang sedang menikmati harinya dengan secangkir coffee dengan iringan musik. Rupanya, tempat itu terdapat live musik yang dapat dinikmati oleh para pengunjung di sana. Gadis dengan kemeja hitam, melirik Arsenio dengan tatapan penuh tanya, sebab mereka belum lama ini dari Cafe, dan sekarang mereka pergi ke Cafe lagi. Adira tersenyum sembari geleng-geleng pelan, namun ia tetap mengikuti langkah kaki pria yang sedang menautkan tangannya dengan jari-jari tangan Adira.
Ada banyak pasang mata yang melihat keduanya masuk, Adira sedikit tersipu malu, apalagi ini kali pertamanya menjadi pusat perhatian. Tiba-tiba Arsenio melepas genggaman tangannya dan naik ke atas panggung, semua pengunjung bersorak heboh, saat Arsenio berdiri di depan mic. Adira mengerutkan alisnya tinggi dengan tatapan bingung, sembari melihat orang-orang yang masih berteriak keras.
“Apa yang sedang dia lakukan? apa dia begitu suka menjadi pusat perhatian?” bisiknya dalam hati. Gadis itu melipat kedua tangannya di atas perut, dan memperhatikan di setiap kelilingnya, namun berbeda dengan pria di atas panggung yang kini menjadi perhatian massa, ia tersenyum dan terus menatap Adira.
“Hari ini aku akan bernyanyi… lagu yang akan kubawakan, adalah bentuk pernyataan cintaku kepada seseorang….”
“Yeaaahhhh, horaaaaaa” Arsenio melempar senyum kepada Adira, gadis polos yang tidak mengerti maksud dari senyuman Arsenio, ia pun membalasnya tak kalah ramah. Arsenio merupakan seseorang yang sering menyumbangkan lagu di Cafe tersebut, dan banyak dari pengunjung di sana mengenalnya, oleh sebabnya ketika melihat Arsenio datang, banyak yang senang, dan ia termasuk banyak penggemarnya sebab memiliki suara yang sangat bagus. Itulah kenapa saat dirinya naik di atas panggung, terdengar riu sorakan menggema akibat begitu semangatnya para penonton yang ingin menikmati nyanyian Arsenio. Bisa dibilang dia adalah senior di sana.
“Apakah suaranya sangat bagus? sepertinya dia banyak kenalan di sini, dilihat dari respon mereka, Arsenio mungkin sering mengunjungi Cafe ini dan bernyanyi di sini, aku tidak tahu jika dia bisa bernyanyi” tuturnya membatin.
Ia menunggu penampilan Arsenio, dan ingin melihat sebagus apa suaranya, tiba-tiba dirinya melempar senyum kepada Arsenio dan mengepalkan sebelah tangannya ke atas sebagai ucapan semangat, dan Arsenio membalasnya dengan isyarat berbeda, jari jempol dan telunjuknya membentuk lingkaran dan menunjukannya kepada Adira.
“Apakah dia tahu jika aku akan menyatakan perasaanku di sini? Sepertinya dia menyukaiku dan mengharapkan pernyataan cintaku padanya… dia pasti sangat senang karena aku dengan jantannya mengungkapkan perasaanku di depan umum” Arsenio begitu bersemangat dan penuh percaya diri. Musik pun terdengar, begitu merdu dan para penonton sangat menikmati iringan musik yang terdengar di telinga. Arsenio mulai memegang mic di depannya, sebab lirik lagu akan segera dinyanyikannya.
You got me stuck in your love
I don’t wanna go no
Baby I’m so in love with you
In love with you
Yeah, you got me stuck in your love
I don’t wanna go no
Baby I’m so in love with you
In love with you
Tersenyumku tenggelam, dalam pelukanmu
Dibawah sinar mentari hati kita menari
Sambut musim cinta bersemi
Kau dan aku mungkin tahu, cinta kita satu
You got me stuck in your love
I don’t wanna go no
Baby I’m so in love with you
In love with you
You got me stuck in your love
I don’t wanna go no
Baby I’m so in love with you
In love with you
Melukiskan senyum dihati
serasa kudialam mimpi
Hingga waktu terhenti
Kuingin engkau ada di sini
Kau dan aku mungkin tahu, cinta kita satu
You got me stuck in your love
I don’t wanna go no
Baby I’m so in love with you
In love with you
You got me stuck in your love
I don’t wanna go no
Baby I’m so in love with you
In love with you
You got me stuck in your love
I don’t wanna go no
Baby I’m so in love with you
In love with you
Arsenio bernyanyi dengan mata terus tertuju pada Adira, gadis itu menjadi salah tingkah karena pandangan Arsenio. Jantungnya berdebar, bukan karena cinta, namun malu kepada sorakan orang-orang yang tertuju padanya, perlahan-lahan Arsenio turun dari atas panggung dan berhenti tepat di depan Adira. Jantung gadis itu berpacu hebat, berkeringat dingin dengan apa yang dilakukan Arsenio, ia melempar senyum malu dan ingin sekali pergi dari sana.
“Apa yang sedang dia lakukan? apa dia ingin mempermalukan diri sendiri?” bisiknya dalam hati. Ia terus bergumam dengan perasaan kesalnya, namun tidak ada yang mengerti situasinya saat ini, ia hanya bisa terdiam mematung seperti patung hidup. Tiba-tiba seseorang memberikan setangkai bunga mawar merah kepada Arsenio, dan tiba-tiba saja pria itu berjongkok dihadapannya dengan setangkai bunga mawar merah, Adira terbelalak melihatnya, ia menutup mulutnya dan melihat ke sekelilingnya yang bersorak pada mereka.
“Apa yang sedang kamu lakukan? jangan seperti ini!” bisiknya menarik Arsenio berdiri, namun pria itu menenangkan Adira. Jika bisa memilih, ia akan segera lari sekarang, menjadi pusat perhatian bukanlah sesuatu yang disukainya, ia tidak tertarik dan benar-benar membenci situasi tersebut.
“Mungkin ini terlalu cepat untuk mengungkapkannya, namun aku sangat yakin, bahwa perasaan ini murni adalah sebuah cinta. Perasaan ini sudah lama terpendam 5 tahun lalu, kau mungkin tidak menyadarinya, namun aku selalu memantaumu dari jauh, maaf jika yang aku lakukan tidak sopan, namun kau telah memikatku sampai membuatku tidak bisa kehilanganmu… ekheem” Arsenio menarik napas dalam-dalam, sementara orang-orang bersorak untuknya dan menyemangatinya.
“Bunga ini adalah lambang cintaku, maukah kamu menjadi kekasihku, Adira?”
“What! Apa yang harus kulakukan sekarang? oh Tuhan, tolong bantu aku, keluarkan aku dari situasi buruk ini!” teriaknya dalam hati, ia ingin sekali menangis, namun tidak bisa. Jika tidak menerima cinta pria di depannya, pasti akan sangat memalukan bagi Arsenio, namun ia tidak memiliki perasaan cinta padanya, benar-benar situasi yang tidak menguntungkan untuknya.
“Terima! Terima! Terima!” orang-orang di sana berteriak ke arah Adira untuk menerima ajakan Arsenio, mereka tidak tahu jika Adira benar-benar ingin mati saat ini, sementara itu, Arsenio masih terlihat cool dan penuh percaya diri. Ia melempar senyum lebarnya dengan posisi menyodorkan bunga mawar dihadapan Adira. Gadis itu tampak menggaruk kepalanya, yang tidak gatal, namun situasinya membuatnya mati kutu, tak berkutik sama sekali, ia bingung sikap apa yang harus ia tunjukan pada Arsenio, di satu sisi pria itu adalah teman pertamanya, jika tidak menerimanya maka, mungkin Arsenio akan menjauhinya, namun ia tidak mungkin menjadi pacar Arsenio, sebab ia sudah memiliki kekasih.
“Apa aku harus jujur, bahwa aku tidak menyukainya, tapi orang-orang ini? oh Tuhan! Kenapa kau tempatkan aku dalam kondisi yang mencengkam? Aku lebih baik bertemu dengan hantu daripada seperti ini” batinnya menjerit marah.
“A-aku, se-sebenarnya, ah….”
“Adira!”
.
.
.
.
.
Bersambung