
Happy Reading 🤗
.
.
.
.
.
Kini dua pasangan yang baru saja menjalin hubungan belum lama ini, sudah berada di Mansion, seperti biasa para penjaga yang bertugas di depan pintu menyambut hangat kepulangan tuan dan nona muda, membungkuk pelan memberi hormat kepada atasan. Itu telah menjadi rutinitas setiap harinya, sebagai bawahan sudah sepantasnya melakukan hal tersebut.
“Aku sudah meminta koki untuk memasak untuk kita, ayo kita ke dapur” Adira mengangguk pelan dan menggandeng tangan Luffi untuk berjalan menuju dapur, tentu mereka harus melewati ruang tengah sebelum sampai ke tujuan, terlihat dua orang yang sedang berkutat dengan ponsel di tangan, mereka sedang asik memainkan game di ruang tengah. Mereka tidak menyadari kedatangan boss besar dan masih setia menatap layar ponsel.
“Halo om, selamat sore” sapa Adira membuat dua pria yang sedang asik bermain terkejut bukan main, kedua pria itu segera berdiri dengan ekspresi panik, segera menunduk hormat kepada Luffi dan Adira.
“Selamat sore tuan, nona Adira” jawab keduanya terbata-bata. Adira terkekeh kecil melihat reaksi lucu dua pria di depannya, kemudian beralih melirik wajah Luffi yang datar tanpa ekspresi sedikitpun, Adira hanya geleng-geleng, melihat sikap Luffi seperti itu, pantas saja membuat dua pria yang masih menunduk merasa takut dan tidak nyaman.
Setelah Adira menyapa dua pria jomblo yang masih menunduk, mereka langsung menuju ke dapur, sementara Cristian dan Billi menatap dua atasannya dengan pandangan yang sulit diartikan, tampak jelas kemesraan dua sejoli itu perlihatkan, tidak seperti biasanya. Cristian dan Billi saling melirik, bertanya-tanya arti dari kemesraan yang sebelumnya tidak pernah mereka lihat.
“Tidak mungkin boss besar menyukai loli, apalagi nona muda kita kan?” bisik Billi di telinga Cristian, pria itu mengangguk, dan berpikir hal yang sama dengan temannya.
“Kalaupun mereka berdua menjalin hubungan, tidak ada salahnya… yang penting mereka saling mencintai”
“Nona Adira adalah putri musuh kita, tidak mungkin boss besar menjalin hubungan dengan musuh sendiri”
“Ssstttt, jangan dibicarakan lagi! Mungkin boss besar punya rencana atau boss sudah melupakannya, lagipula tidak ada salahnya, lebih baik berhubungan baik daripada harus menjadi musuh” tutur Cristian kembali memainkan game di ponselnya. Sementara itu, di dapur sudah tersedia hidangan mewah di atas meja. Menu malam ini adalah Nashville hot chicken, yang terbuat dari ayam goreng pedas dengan campuran tepung roti, menu ini seperti sandwich yang dilapisi dengan roti tawar berbentuk bulat dan isinya adalah ayam goreng pedas dengan potongan kentang di dalamnya.
Menu tersebut merupakan makanan khas kota Las Vegas dan merupakan makanan terpopuler. Selain itu ada Rao’s Meatball, merupakan masakan Italia yang dipadukan dengan citarasa dari Amerika, bakso tersebut memiliki ukuran bola baseball. Rao’s Meatball akan dicelupkan ke dalam saus cabai dan saus tomat yang dicampur dengan sedikit gula agar memiliki sedikit rasa manis, sehingga warna yang dihasilkan menjadi merah dan sangat menggiurkan. Menu ini dibuat dari daging merah pilihan yang masih segar, sehingga menambah rasa kelezatannya. Selain itu terdapat potongan daun seledri yang akan menambah tampilan lebih menarik.
Selain itu Nom-nom Burger, menjadi menu makanan malam ini, burger termasuk dalam daftar menu yang telah mendunia, dan salah satu ciri khas Las Vegas adalah menu satu ini. Isinya menggunakan sapi kobe pilihan terbaik, dengan tambahan keju cheedar dan saus thousand island, disetiap gigitannya akan merasakan kenikmatan yang tiada bandingannya, kelembutan di dalam daging panggang membuat siapa saja yang menikmatinya, akan lupa dengan masalah hidup, benar-benar menu yang sangat di rekomendasikan.
Mata Adira sudah hampir keluar dan air liurnya bahkan sudah menetes, melihat hidangan malam ini, membuatnya sangat tergiur. Soal makanan ia sangat lemah, tidak dipungkiri bahwa kelemahannya adalah makanan, ia tidak bisa mengabaikan lidah dan lambungnya yang sama-sama menyukai makanan enak seperti di depan matanya saat ini.
“Makanlah, air liurmu sudah tumpah, hehehe” ucap Luffi tertawa kecil, melihat gadisnya yang sangat lucu. Jika dulu, ia sangat membenci Adira yang terlihat jorok, seperti orang kelaparan yang tidak pernah memakan makanan mewah, namun entah kenapa sekarang ia malah menyukai setiap tindakan Adira, yang mungkin orang lain lihat itu adalah sesuatu yang jorok. Mungkin cintanya menutupi matanya, hingga hanya menampakkan sesuatu yang indah.
“Ummmm, enak seka-yi, sangat enyak” ucap Adira masih dengan mulut penuh makanan, Luffi terkekeh mendengar bicara Adira yang belepotan, ia hanya bisa geleng-geleng kepalanya.
“Makan dulu baru bicara, hati-hati nanti kamu tersedak, sayang” tuturnya menasihati, Adira mengangguk namun tidak mengikuti nasihat Luffi, ia menyantap burger di tangannya dengan sangat rakut. Kebiasaan itu, tidak pernah hilang dari diri Adira, namun Luffi melihatnya, sangat bahagia, wanitanya makan sangat lahap, itu berarti menu yang diminta untuk dibuatkan oleh kokinya sudah tepat dengan selera Adira.
“Maaf” cicitnya merasa bersalah, namun Luffi segera menggeleng, ia bahkan tersenyum lebar, membuat Adira sedikit keheranan.
“Makanlah, melihatmu sangat lahap aku sangat senang, aku ingin membuatmu berisi agar dua favoritku semakin besar, tanganku bisa merasakan nikmat kelembutannya”
“Uhuk, uhuk, uhuk” Adira tersedak dan terbatuk-batuk mendengar penuturan Luffi yang begitu mesum. Pipinya memerah merasa malu terhadap Luffi yang sangat tidak tahu malu itu. Luffi segera menyodorkan gelas berisi air, dan Adira langsung menenggaknya hingga kandas. Ia melempar tatapan tajam kepada Luffi, pria itu menampilkan ekspresi polos dengan dahi berkerut.
“Dasar mesum!” cebiknya dengan bibir monyong.
“Hehehehehe, aku hanya mesum denganmu, sayang” tawanya jenaka membuat pipi Adira kembali memerah, seperti kepiting rebus. Luffi semakin terbahak melihat wajah Adira, ia ingin sekali melahap gadis di depannya yang membuatnya begitu candu.
“Sepertinya aku ingin memakanmu, sayang. Kamu membuatku kecanduan untuk selalu menikmati tubuh seksimu”
“Uhuk, uhuk, ka-kau!” Adira menutup mulutnya dan melirik kesal pada Luffi yang semakin tidak terkendali, pria itu bahkan tidak malu sedikitpun untuk berbicara begitu mesra, apakah ini adalah sifat lain dari Luffi, selain kejam dia juga sangat mesum.
“Aku tidak tahu jika daddy, sangatlah mesum” cibirnya dalam hati sembari menatap tajam Luffi.
“Kenapa kamu melihatku seperti itu? apakah itu adalah kode untuk kita segera naik ke atas, hmmmm?” Adira menggeleng kencang, ia tidak mau melakukannya untuk sementara waktu, apalagi miliknya masih sangat perih, butuh beberapa waktu untuk sembuh.
“Tidak! Aku sangat lelah, aku ingin istirahat” jawabnya membuat Luffi mendesah kasar, raut wajahnya menjadi tidak bersemangat.
“Baiklah, tapi mulai sekarang kamu harus tidur di kamarku”
“Ta-ap….”
“Tidak ada tapi-tapian, mulai hari ini kamu satu kamar denganku, aku tidak bisa tidur jika tidak memelukmu” tegasnya, membuat sang empu tidak berkutik, ia hanya bisa mengangguk tanpa berani membantah. Sejujurnya ia juga merasa senang, karena setiap hari akan selalu bersama dengan Luffi, pria yang sangat ia puja.
“Baiklah baginda” Luffi tertawa kecil mendengarnya. Kemudian dua sejoli itu kembali melanjutkan makan malamnya.
.
.
.
.
.
Bersambung