
Happy Reading
.
.
.
.
Waktu berlalu cepat, tak terasa hari sudah sore tampak langit mulai gelap, awan jingga bertebaran di atas langit. Terlihat seorang pria sedang duduk di sofa ruang tengah, dan memainkan ponsel ditangannya. Sesekali pandangannya tertuju ke arah pintu utama, kemudian beralih pada benda yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu telah menunjukan pukul setengah tujuh, sementara orang yang ditunggunya belum kunjung terlihat. Kegelisahan terlihat jelas dimatanya, namun ekspresi wajahnya masih tetap datar, tampilan luar mengatakan bahwa ia baik-baik saja, namun dalam hatinya sedang bergejolak, menanti seseorang yang ingin dilihatnya
Pria itu adalah Luffi, ia sudah pulang tiga jam yang lalu, dan kini ia sedang bersantai di ruang tengah. Dua jam yang lalu ia habiskan di ruang tengah seorang diri, masih tetap fokus pada layar ponselnya, sesekali mendesah berat dan tiba-tiba saja Luffi melempar ponselnya di atas meja. Ia bersandar di sandaran sofa, menatap langit-langit Mansion, dan memejamkan matanya sejenak. Ia menjadi kesal sendiri karena tidak melihat Adira.
Luffi membuka matanya, tak sengaja melihat sosok gadis yang sedari tadi membuatnya uring-uringan, seketika itu ia berdiri dan berjalan menghampiri Adira yang tengah menuju kamarnya, bahkan panggilan Luffi pun tidak ia hiraukan, seakan tuli dengan situasinya yang sekarang.
“Berhenti Adira! Apa kamu sungguh tuli? Aku sedang memanggilmu.” Luffi mencengkal pergelangan tangan Adira, membuat sang empu berhenti dan berbalik menghadap Luffi dengan wajah lelahnya. Bekerja seharian tanpa henti, membuatnya sangat kelelahan terutama ia sedang mengandung. Ia butuh kasur saat ini, untuk merelaksasi tubuhnya yang otot-ototnya sudah sangat tegang.
“Ada apa?” tanyanya singkat menatap pria di depannya dengan pandangan sayu. Luffi tidak menjawab ia malah menarik tangan Adira, membawanya masuk ke kamar milik putri angkatnya. Terlihat pria itu mengunci pintu kamar, membuat sang empu mengernyit heran. Luffi menatap serius Adira, sementara itu Adira acuh tak acuh dan membuang tasnya di atas kasur, ia menjatuhkan pantatnya di bibir ranjang, melipat kedua tangannya dan berkata
“Ada apa daddy ke kamarku? Aku ingin istirahat, aku lelah hari ini, jadi jangan menggangguku!” Luffi tertawa kecil, ia berjalan dan berhenti di hadapan Adira. Mengamati seluruh tubuh Adira, gadis itu sungguh risih dan berdecak kesal atas sikap Luffi yang menurutnya aneh.
“Dari mana saja kamu? Kenapa jam segini baru pulang?” Adira menghela napas kasar dan menatap malas Luffi, ia menarik sudut bibirnya dan tertawa jenaka. Ia pikir pria itu tidak akan memperhatikannya, rupanya masih sibuk mengurus dirinya yang merupakan putri seorang musuh, sungguh lelucon yang sangat lucu.
“Cih! Atas dasar apa aku harus memberitahu daddy, kemana aku harus pergi itu adalah urusanku, lagipula aku bukan anak kecil lagi, yang jika pergi keluar akan tersesat” Jawabnya tegas membuat Luffi mengepalkan kedua tangannya. Luffi sangat membenci orang yang menentangnya bahkan tak seorang pun berani berbicara kasar padanya kecuali gadis di depan matanya. Luffi berjalan maju dan menatap tajam ke arah Adira, gadis itu sedikit mundur ke belakang, kedua tangannya bersandar di atas kasur yang ia duduki dan menopang tubuhnya agar tetap berada pada posisi duduk.
“Jangan membuatku marah, Adira! Aku sangat membenci seseorang yang menentang perkataanku, apa kamu ingin aku menyiksamu agar kamu mengerti status kamu yang sebenarnya? Wanita murahan sepertimu, sebaiknya berperilakulah dengan baik, agar aku tidak membunuhmu” Bisik Luffi ditelinga Adira. Gadis itu terdiam dengan rasa sakit dihatinya, mendengar kalimat kejam dari mulut pria yang sangat dicintainya. Setelah mengatakan kalimat yang menyakiti hati, pria itu bergegas keluar dengan angkuhnya, meninggalkan Adira yang menangis dalam diam. Adira menyentuh dadanya yang berdenyut sakit, benda Kristal itu terus mengalir dari pelupuk matanya, bahkan sampai menggigit bibirnya untuk menghalau suara tangisan yang keluar.
“Ak-aku menyesal pernah mencintainya, hiks, hiks, hiks… pria yang sangat kuharapkan untuk menjagaku malah membiarkanku menderita, aku sungguh bodoh mempercayai musuhku sendiri… sudah cukup! Cukup sampai di sini, tidak akan ada lagi cinta dalam hati ini, hatiku telah mati” gumamnya terisak-isak. Adira kemudian berdiri, lalu berjalan menuju lemari pakaian, ia mengambil setelan baju yang sesuai dengan stylenya. Ia segera berganti pakaian, celana jeans hitam sobek serta baju kaos berbahan putih dengan jaket kulit sebagai pelengkapnya. Ia kemudian menuju pintu kamarnya menguncinya kemudian berjalan ke arah jendela.
Ia tahu di jam sekarang, para anggota Talaskar sedang makan malam, dan tidak ada penjaga yang berjaga di teras Mansion, mudah baginya untuk kabur sekarang, walau jarak antara Mansion dengan pintu gerbang sangat jauh, tidak ada masalah baginya, asal dirinya dapat keluar, sudah sangat bagus. Sebelum pergi, ia sudah mengirim pesan kepada Ali untuk menjemputnya dilokasi yang sudah ditentukan, dan ia harus segera keluar dari lingkaran setan itu sebelum Luffi menyadari kepergiannya.
Sementara itu, di meja makan. Luffi duduk bersama Cristian dan Billi, menikmati hidangan yang terbuat dari olahan daging merah pilihan, serta kebab khas Turki sesuai dengan permintaan Billi. Tiga anak manusia itu sedang asik menikmati kebab yang dibuat oleh koki Talaskar, tanpa adanya percakapan apapun.
“Bil, panggil Adira untuk makan malam sekarang!” titahnya dengan nada datar. Billi yang asik mengunya kebab, segera berdiri untuk menjalankan titah dari sang boss. Billi berjalan melewati ruang tengah dan menuju ke kamar Adira. Ia mengetuk pintu, beberapa kali dan memanggil nama Adira, namun suasana tampak hening, tak ada jawaban dari dalam kamar, membuatnya heran.
“Non, nona Adira! Buka pintunya! Jika tidak membukanya aku akan mendobrak pintu!” Teriaknya lagi namun hasilnya tetap nihil. Terbesit rasa curiga, ia mulai berusaha membuka pintu yang terkunci. Perasaannya sudah sangat buruk. Ia mulai mengambil ancang-ancang untuk melakukan aksi dobrak pintu. Dengan jarak satu meter, Billi memusatkan tenaganya pada kakinya, dalam hitungan ketiga, ia mengarahkan kakinya ke arah pintu kayu kamar Adira, hingga….
BRAAKK
Betapa terkejutnya mendapati kondisi kamar Adira kosong, ia masuk ke kamar mandi untuk mengecek keberadaan Adira, namun juga kosong. Ia kemudian membuka lemari pakaian, tetapi semua barangnya masih ada, bahkan ia melihat ponsel serta dompetnya di atas kasur, itu berarti Adira masih berada di Mansion. Billi terdiam mengamati setiap sudut kamar Adira, seketika itu ia menyadari bahwa Adira telah kabur melalui jendela kamar. Ia segera bergegas menemui Luffi.
“Gawat! Nona Adira berulah lagi!” batinnya. Billi sampai di ruang makan dengan napas tak beraturan, Luffi dan Cristian kompak menatap aneh ke arah Billi. Luffi mengerutkan kedua alisnya, dan meletakan kebab di atas piring berwarna merah.
“Ada apa? Di mana Adira?” Billi langsung menunduk dan terus-terusan mengucap maaf, Luffi meliriknya dengan tatapan yang sulit diartikan, ia beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar Adira. Matanya melebar, melihat jendela kamar terbuka lebar. Ia menggertakan giginya, sangat marah terhadap Adira.
“Cari dia sampai ketemu!” serunya lantang, Billi dan Cristian langsung bergegas pergi, untuk mencari Adira sebelum kemarahan boss mereka berada di puncak tertinggi.
.
.
.
Bersambung