DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)

DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)
BAB 53 Pergi Bersama Arsenio



Happy Reading


.


.


.


.


.


Kini, Adira telah berhasil keluar dari ruangan yang membuatnya bosan, hidup di dalam ruangan terkunci sungguh menyebalkan, dan tak ada satupun sesuatu yang istimewa di dalamnya, hanya berkutat dengan tv, benar-benar hidup yang sangat melelahkan.


Ia telah berada di lantai bawah, merasa senang karena bisa menghirup udara segar sekarang, ia seperti budak yang baru dibebaskan, benar-benar membuat bibirnya tidak berhenti tersenyum. Waktu telah menunjukan pukul sebelas siang, ia menyempatkan dirinya untuk ke cafe dekat Apartemen. Sebab, dirinya belum makan apapun saat ini. Makanan yang dipesan oleh Luffi ia letakan di dalam kamar karena ia tidak mood untuk mencicipinya, sepertinya perasaan kesalnya terhadap Luffi masih menjalar di hatinya, hingga dirinya masih menyimpan amarah itu.


Adira duduk di salah meja yang terletak di sudut ruangan, ia melihat buku menu di atas meja, membacanya satu persatu, ia terpaku pada salah menu favoritnya, ia pun memanggil pelayan, tak berselang lama seseorang datang menghampirinya dengan membawa sebuah catatan kecil di tangan.


“Nona, ingin pesan apa?”


“Spaghetti meatballs, dan sandwich untuk minumannya grapefruit juice” jawab Adira sembari membaca nama menu yang tertulis di dalam lembaran buku menu. Pelayan wanita itu pun mengangguk mengerti dan melempar senyum ramah pada Adira, kemudian pelayan yang menggunakan seragam khusus, meninggalkan Adira sembari membawa catatan kecil yang berisi menu pesanan Adira. Sementara itu, Adira melihat orang-orang yang berada di ruang yang sama dengannya, semuanya membawa pasangan masing-masing, lantas ia pun hanya bisa menghela napas kasar, dengan wajah ditekuk.


Ia berpikir, akan lebih bagus jika membawa pasangan juga, duduk di meja yang sama dan menikmati hidangan lezat setiap harinya, tiba-tiba bibirnya tersenyum tanpa sadar, namun ia segera menghentikan aksinya, merasa takut jika orang-orang menganggap dirinya gila sebab melihatnya tersenyum tanpa sebab. Adira duduk dengan menyilangkan kedua kaki, sebelah tangannya menekuk dan sikunya berpijak di atas meja, sementara kepalan tangannya ia sandarkan di pipinya sembari memainkan telunjuknya di atas meja, menggambar pola abstrak tanpa makna.


“Daddy pergi ke mana? Apa dia melupakanku yah, dia bahkan tidak pikir jika aku sangat kesepian” gerutunya mencebikan bibirnya kesal. Entah kenapa jika memikirkan kejadian saat di dalam kamar, ia sangat marah pada Luffi, namun di saat bersamaan, ia merindukan pria yang telah membuat hari-harinya menjadi tidak tenang, sebab pikirannya selalu melayang, berfantasi hidup bahagia bersama dengan Luffi.


“Baru beberapa jam ditinggal olehnya, aku begitu sangat merindukannya, tidak akan kubiarkan seorangpun mendekati daddyku, daddy Luffi hanya milik aku seorang” tuturnya bersemangat. Lima belas menit menunggu, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang, seorang pelayan yang berbeda membawa sebuah nampan berisi pesanannya, wanita itu meletakan nampan di atas meja Adira, dan meletakan dua piring dan satu gelas berisi jus anggur.


“Selamat menikmati hidangannya nona”


“Terima kasih” jawabnya yang langsung menarik piring berisi Spaghetti, ia mengambil garpu dan mulai melilitkannya pada Spaghetti, dan mulai menyantap hidangan yang dipesannya, menutup mata dan merasakan sensasi pedas manis di lidahnya, begitu gurih dan sangat lezat, ia bahkan tidak dapat berhenti untuk mengunyah. Lidahnya bergoyang, dan memutarnya di dalam area pribadinya, setelah merasa telah hancur ia pun menelannya.


“Ummm, kenapa aku baru tahu jika ada pasta seenak ini? sangat di sayangkan sisa hidupku yang dulu kusia-siakan tanpa mengetahui ada makanan selezat ini, di sini” saat asik menyantap makanan di depannya, tiba-tiba seseorang duduk dengan wajah dinginnya, serta tatapan khawatir tertuju pada gadis yang tidak menyadari ada orang lain yang sedang tidak baik-baik saja.


“Kamu kemarin baik-baik saja kan? Tidak di marahin oleh tuan Luffi?” Adira seketika berhenti mengunyah dan melihat seseorang yang berbicara kepadanya, matanya terkejut namun diiringi dengan suara tawa, seakan pria di depannya adalah badut yang sedang melucu.


“Arsenio? Kamu… kenapa bisa ada di sini?” bukannya menjawab ia balik bertanya dengan dahi berkerut.


“Itu karena aku menaruh obat tidur di minumanmu, sementara aku memberikan obat perangsang ke dalam gelasku, semoga mereka tidak tahu jika aku merencanakan ini semua” bisik Adira dalam hati.


“Emmm, sepertinya anak buah daddy yang membawa kamu ke rumah, oh iya ini buat kamu” Adira menyodorkan sepiring sandwich ke hadapan Arsenio, tampak wajah Adira menjadi kaku dan merasa tidak nyaman, merasa takut jika perbuatannya itu akan diketahui oleh pria yang duduk di depannya, sebisa mungkin ia bersikap biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa kemarin. Ia juga merasa senang dan berterima kasih kepada Arsenio, karena pria itu, ia lebih dekat dengan Luffi dan kini statusnya menjadi beda, ia telah menjadi wanita Luffi, pria yang dipanggilnya Daddy adalah kekasihnya.


Adira memikirkan adegan semalam bersama Luffi, membuatnya senyum-senyum kecil, hingga Arsenio merasa aneh dengan sikap Adira.


“Apa ada hal yang spesial sampai membuatmu senyum-senyum seperti itu?” tanyanya ikut tertawa kecil walaupun tidak mengerti.


“Tidak ada. Ayo di makan” Adira mengalihkan pembicaraan, agar dirinya tidak ditanya terkait kemarin, ia tidak bisa menjawab jika sampai Arsenio menanyakan tentang masalah kemarin, ia tidak mungkin bilang bahwa ia sudah tidur dengan daddynya bukan?


“Besok aku akan ke Washington, hari ini bisakah kamu meluangkan waktumu untukku?”


“Boleh” jawab Adira tersenyum simpul sembari menatap pria di depannya, dan Arsenio menatap Adira dengan mata berbinar, sebab ada sesuatu yang ingin disampaikannya, dan merupakan hal yang paling penting untuk diungkapkan sebelum dirinya terbang ke Washington. Keduanya makan sangat lahap, setelah itu Adira pergi membayar makanannya, lalu keluar dari Cafe bersama Arsenio.


“Kita akan ke mana?” tanya Adira setelah keluar dari Cafe, Arsenio tidak menjawab, ia malah menarik tangan Adira untuk pergi menuju mobilnya, tepat di dekat mobil berwarna coklat, Arsenio membuka pintu mobil bermerek dan mempersilakan gadis berkemeja hitam untuk naik.


“Kamu akan tahu segera tiba di sana” jawabnya setelah duduk di kursi kemudi. perlahan-lahan mobil itu bergerak dan meninggalkan parkiran cafe Begawan. Ekspresi senang Arsenio tidak bisa disembunyikan bibirnya terus-menerus melengkungkan senyum tipis, dan sesekali melirik ke arah Adira, gadis itu menatap jalan di depannya dan tidak tahu jika ada pasang mata yang terus menatapnya.


“Apa kamu akan sekolah di sana?” Arsenio gelagapan ketika dilirik Adira, pria itu mengangguk gugup. Adira tertawa kecil melihat reaksi Arsenio yang tiba-tiba aneh, namun ia tidak ambil pusing akan hal itu.


“Hari ini aku akan mengungkapkan perasaanku padanya, semoga dia dapat menerimaku” bisiknya dalam hati. Tidak tahu saja, jika gadis yang diajaknya jalan-jalan adalah milik boss besarnya.


.


.


.


.


.


Bersambung