
Happy Reading
.
.
.
.
.
Setelah asik berfoto dan puas melihat pemandangan, mereka kemudian pergi ke salah satu Cafe yang berada di hotel Bellagio, mereka pergi ke teras samping hotel Bellagio lantai 4, di sana sudah tertata rapi sebuah meja persegi dan empat buah kursi di masing-masing sisi meja. Teras samping hotel Bellagio di jadikan sebagai Cafe, dengan pemandangan yang luar biasa, memperlihatkan indahnya danau yang dalam dan besar, juga pemandangan jalan raya yang di lalui oleh sejumlah kendaraan bermerek.
Tiga anak manusia itu duduk di salah satu meja yang dekat dengan pembatas besi, mereka dengan jelas melihat pemandangan indah danau.
“Wow, luar biasa… apakah itu surga?”
“Yups, surga dunia” jawab Cristian menanggapi pertanyaan Adira, gadis itu belum pernah melihatnya, selama tinggal bersama ayahnya, ia seperti Putri Mansion, yang tidak diperbolehkan keluar kecuali pergi bersama ayahnya, itupun hanya ke tempat kerja Mario. Sekarang ia benar-benar merasakan indahnya kebebasan, dan menikmati surga dunia yang berada di kota kelahirannya itu.
Tak berselang lama, seorang wanita muda tinggi datang menghampiri meja mereka, sembari membawa sebuah buku dan pulpen di tangannya. Wanita itu menyapa sopan dengan bibir tersenyum.
“Selamat datang di Cafe hotel Bellagio Stave Vegas, nona dan tuan ingin memesan apa?”
“Kamu mau pesan apa?” Adira menunjuk salah satu menu favoritnya, yaitu Fish Sandwich dan Berry Cheesecake. Pelayan wanita itu kemudian mencatatnya di buku kecil yang di pegang.
“Saya pesan Homemade Meat Loaf dan Raspberry Chocolate Cake”
“Saya pesan Bellagio Turkey Club, Carrot Cake. Untuk minumannya jus Apel satu dan coklat panas dua” pelayan wanita itu terus mencatat pesanan yang telah mereka sebutkan, usai dengan kegiatan mencatatnya, ia tersenyum dan mengatakan untuk tunggu sebentar, pesanan akan di antar lima belas menit kemudian.
Mereka bertiga terdiam, sembari memandangi pemandangan di halaman hotel Bellagio yang memiliki danau terbesar dan terluas, dan kendaraan beroda empat terus berlalu-lalang di jalan raya.
“Om, aku ingin pipis, bisakah menemaniku ke toilet?” tanyanya dengan wajah menahan sesuatu. Billi tiba-tiba beranjak dan meraih jemari tangan mungil itu, untuk di gandengnya. Toilet di lantai empat berada di bagian ujung koridor sebelah kanan. Mereka berjalan menyusuri koridor . Tepat di toilet wanita, Billi berhenti dan membiarkan Adira masuk sendirian. Pria itu bersandar di dinding sembari memainkan ponsel di tangannya, tiba-tiba empat orang pria datang menghampirinya dan merebut ponselnya.
“Siapa kalian?” tanya Billi dengan ekspresi datar, ia meraih ponselnya, namun salah seorang pria yang mengambilnya menjauh darinya, mereka tertawa dan menyudutkan Billi, membuat pria itu geram akan tingkah mereka yang bar-bar.
“Kembalikan ponsel itu! aku tidak ingin ribut dengan kalian” tuturnya malas meladeni sekelompok pria di depannya.
“Cih! habisi dia!”
BUGH
BAGH
Billi langsung menghindar kala salah seorang dari mereka hendak memberikan bogeman, untung saja dia dengan sigap menghindar. Billi mengambil posisi kuda-kuda, dua tangannya dikepal, sementara matanya melihat gerak-gerik lawannya.
“Sial, Adira ada di dalam toilet, semoga dia belum selesai, aku harus segera membereskan sekumpulan binatang ini” batinnya.
“Ayo segera habisi dia, jangan membuang-buang waktu lagi!” seorang pria berbaju kaos hitam berkata, dan teman-temannya mengangguk. pertarungan sengit pun di mulai, empat lawan satu, Billi termundur ke belakang, dan terpojok karena jumlah lawannya yang banyak, sementara dirinya hanya seorang diri. Ia terus menangkis dengan dua tangannya, sedangkan ia tidak bisa melakukan serang balik.
“Jangan biarkan dia lolos, dia sepertinya sudah kelelahan! Ini kesempatan kita menculik anak itu” mendengar mereka menyebut seorang anak, Billi tidak berkonsentrasi, ia memikirkan Adira di dalam toilet. Situasi yang sepi menguntungkan ke-empat pria asing itu, pukulan dan tendangan terus mengenai wajah dan perut Billi, ia sangat kesakitan, namun ia harus bertahan, sepertinya yang mereka incar adalah Adira. Entah rencana apa yang di lakukan oleh gerombolan pria itu.
BUGH
BAGH
“Uhuk-uhuk” Billi terbatuk-batuk, kala bogeman keras menghantam wajahnya, itu sangat menyakitkan, sudut bibirnya pecah, dan darah segar keluar. Ia melapnya menggunakan ujung jempolnya dan meludah. Tatapan marah itu terlihat sangat jelas di mata Billi, seketika matanya membesar, kala seorang pria keluar menggendong seorang gadis kecil bergaun biru laut, itu adalah Adira. Gadis itu berada dalam gendongan pria asing, dia tidak sadarkan diri sepertinya ia pingsan.
“Lepaskan anak itu!” serunya lantang. Tangannya memegang perutnya yang kesakitan dengan pandangan khawatir tertuju pada Adira.
“Habisi dia, aku akan membawa anak ini kepada boss” pria gondrong dengan tubuh lebih tinggi dari rekan-rekannya, membawa Adira pergi. Billi yang hendak menghentikannya dihalangi oleh tiga orang pria. Mereka kembali bertarung, dengan sisa tenaganya ia berusaha untuk tetap melawan, pukulan dan tendangan ia layangkan kepada lawannya, menendangnya dengan beberapa kali putaran bebas.
“Kuat juga kau, setelah dihantam oleh kami”
“Cih!”Billi berdecak sambil menaikan sudut bibirnya tinggi, menatap datar wajah tiga pria yang tengah sigap dengan persiapan tarungnya.
BUGH
Billi memukul wajah salah satu musuhnya, hantaman itu mengenai lehernya hingga membuatnya jatuh terpental ke lantai. Ia dengan sigap menghindar kala musuhnya mengarahkan tangannya ke arahnya, dan....
BUGH
Seseorang menendangnya membuatnya terjatuh, ia hendak bangkit, namun langsung di pukul oleh seorang pria dari belakang, tiba-tiba dari arah depan seorang pria berteriak, dia adalah Cristian. Tiga pria asing yang melihat kedatangan Cristian segera kabur meninggalkan Billi yang terbaring lemas di atas lantai. Melihat kondisi Billi yang terluka parah segera membantunya untuk bangkit, mata Billi perlahan-lahan mulai tertutup, namun bibirnya terus menyebut nama Adira, membuat Cristian tersadar, bahwa Adira menghilang.
“Di mana Adira? kenapa bisa kamu di pukul, siapa mereka?” cercahnya dengan berbagai pertanyaan, namun Billi tidak tahu, ia benar-benar lemas sekarang.
“A-adira di cu-lik…”tuturnya terbata-bata.
“Berengsek! Ayo, aku bantu kamu, setelah ini aku akan mencarinya” Cristian memapah tubuh Billi, berjalan menuju lift, mereka akan kembali ke Mansion, lalu dirinya akan mencari Adira.
Setelah kepergian Billi dan Adira, Cristian duduk sendiri di Cafe, pesanan mereka telah datang, lima belas menit berlalu, namun tidak ada tanda-tanda kemunculan Billi dan Adira membuatnya begitu khawatir. Akan tetapi, Cristian tidak berpikir bahwa Billi telah di serang oleh sekelompok orang tak di kenal. Hingga tiga puluh menit pun berlalu, ia akhirnya menyusul Billi, namun ketika tiba di koridor toilet, ia melihat pemandangan di mana temannya di serang.
Usai membayar makanan yang mereka pesan, kedua pria itu segera meninggalkan hotel Bellagio, kali ini Cristian yang menyetir, membawa laju mobil Ferrari merah, menuju Mansion tempat mereka tinggal. Kini hari semakin sore, dan langit pun semakin gelap, awan jingga menyelimuti sebagain besar kota Las Vegas.
.
.
.
.
.
.
Bersambung