
Happy Reading
.
.
.
.
Di sebuah ruangan bernuansa putih, ada sepuluh orang dengan setelan pakaian formal kantoran, sedang duduk saling berhadapan di sebuah meja berbentuk persegi panjang. Mereka sedang melakukan rapat, namun salah seorang pria tampak gelisah dan tidak fokus dengan pertemuan tersebut. Pria itu terus melirik ke ponselnya dan tidak memperhatikan penjelasan orang di depannya.
Semua mata langsung tertuju padanya, ketika pria yang sedang mempresentasikan itu bertanya, namun tidak ditanggapi. Pria itu adalah Luffi, sepertinya perasaan kesal dari rumah sakit ia bawa hingga ke ruang rapat, bahkan acara sepenting itu membuat pikirannya bercabang dan menjadi kacau. Sekretaris Han yang duduk di samping Luffi segera berbisik di telinga tuannya, membuat sang empu melihat ke seluruh staf yang ikut rapat.
Luffi merapikan jasnya kemudian berdiri membuat semua orang bingung tentang sikap aneh dari pria tersebut.
“Kita rapat di lain waktu, saya ada urusan mendadak” katanya enteng dan langsung meninggalkan meja rapat. Semua yang ada di sana saling menatap satu sama lain, sekretaris Han mengikuti langkah kaki tuannya, ia merasa heran dengan sikap tuannya, sebab itu kali pertamanya selama ia bekerja sebagai seorang sekretaris. Luffi tidak akan pernah meninggalkan meja rapat yang belum selesai, namun hari ini ia melakukannya. Sekretaris Han terus bertanya-tanya dalam hatinya tentang perubahan drastis tuannya.
“Apakah karena gadis itu sampai membuat tuan Luffi seperti ini? aiisssh, wanita memang selalu membawa masalah, itulah sebabnya aku ingin segera menyingkirkannya” bisiknya dalam hati.
Kini Luffi telah berada di ruangannya, ia menjatuhkan pantatnya di atas kursi kebesarannya dan menyandarkan punggungnya, ia memijat pelipisnya yang terasa penat menurutnya. Memejamkan matanya untuk meredakan rasa cemburu di hati, pria yang berusia 39 tahun itu, kini terlihat seperti pria remaja yang sedang mengalami masa pubertas kedua, dan begitu sensitif pada hal-hal yang menyinggung perasaannya.
“Arsenio, kau membuatku ingin sekali mengulitimu” batinnya merasa dongkol.
“Maaf tuan, kenapa and….”
“Han, sebaiknya kau segera mengirim Arsenio ke Washington, biarkan dia menetap di sana dengan waktu yang lama” Luffi memotong pembicaraan sekretarisnya, ia membuka matanya dan menatap dingin ke arah sekretaris Han, pria dengan usia di bawah satu tahun dengan Luffi, mengernyit heran. Arsenio adalah adik sekretaris Han, dan ia akan melanjutkan S2-nya di Washington, oleh sebabnya Luffi berkata seperti itu.
“Ada apa? Arsenio sedang menikmati liburannya di sini, jadi dua bulan lagi dia akan kembali ke sana” jawaban sekretaris Han membuat Luffi melotot tajam, pria yang sedang berdiri itu menelan salivanya sulit, melihat tatapan membunuh di mata tuannya.
“Aku tidak mau, minggu ini aku tidak ingin melihatnya di Las Vegas!” tegas Luffi, dan sekretaris Han tidak berkutik, ia mengangguk mengiyakan. Namun, ia sungguh penasaran, ada apa gerangan hingga membuat Luffi menyuruhnya untuk mengirim Arsenio ke kota lain, seakan-akan Arsenio adalah duri bagi kehidupan tuannya.
“Apa yang telah dilakukan bocah itu, sampai membuat tuan Luffi tidak senang?” batin sekertaris Han. Pria yang duduk itu tiba-tiba berdiri dan merapikan jasnya, kemudian berjalan hendak keluar ruangannya, sekertaris Han otomatis mengikuti di belakang tuannya. Namun, Luffi tiba-tiba berhenti dan berbalik menatap sekretarisnya. Sementara pria dengan setelan jas abu-abu segera mengerem kakinya untuk berhenti, jika tidak ia hampir menabrak tubuh tuannya yang hanya selangkah dari hadapannya.
“Ada apa tuan?”
“Aku akan ke rumah sakit, putriku sedang di rawat… kamu handle semua urusan di kantor”
“Baik tuan” jawabnya tanpa bisa membantah, padahal masih banyak pekerjaan penting yang harus dilakukan Luffi, namun sekretaris Han menyadari bahwa Luffi tidak akan mengurung niatnya jika itu berkaitan dengan kesehatan Adira, putri angkatnya itu. Oleh sebabnya, ia hanya mengangguk tanpa menyela.
“Jangan sampai lupa untuk mengirim Arsenio besok!” kalimat penuh penekanan itu keluar dari mulut Luffi lagi, sebagai bawahan ia tidak dapat membantah. Ia terus bertanya-tanya kesalahan apa yang dilakukan adiknya, sampai Luffi sangat ingin menyingkirkannya. Ia menatap punggung Luffi yang terus berjalan menuju lift. Ia mendesah kasar, melihat jelas perubahan Luffi, ia tidak menyukai tuannya yang memiliki empati kepada orang lain, terutama anak dari musuhnya, tangannya terkepal kuat, ia membenci perubahan tersebut, namun ia tidak dapat melakukan apapun.
Sekretaris Han dan Luffi adalah teman masa SMA, bahkan Luffi tinggal di satu atap yang sama dengan sekretaris Han. Kedekatan mereka membuat iri teman-teman sekolahnya, bahkan mereka terlihat seperti saudara kandung, dan mereka menganggap itu adalah hal yang benar. Ketika menjadi buronan polisi atas pembunuhan orang tuanya, Luffi menuju ke Las Vegas, setelah melewati lika-liku kehidupan berat di California.
Pada saat tiba di kota Dosa, hari-harinya seperti berada di neraka, tidak ada ketenangan yang di rasa, bahkan nyawanya pun menjadi incaran para gangster. Suatu ketika, di malam yang sangat gelap, tidak ada satupun bintang terlihat di atas langit. Malam penuh kegelapan seakan mengisyaratkan hari kematian dan bencana besar.
Luffi yang pada saat itu berusia 16 tahun, sedang berjalan-jalan menikmati indahnya malam kota LasVegas yang dipenuhi dengan lampu-lampu neon di setiap tempat, sehingga terlihat tampak lebih hidup. Luffi begitu senang akhirnya bisa menikmati kenyamanan yang belum pernah di rasa. Namun, ketika asik berjalan kaki, tidak sengaja ia melihat seorang pria sedang di keroyok oleh beberapa anak yang seumuran dengannya. Ia segera menghampirinya, niat hati untuk melerai perkelahian tersebut, namun ia malah terkena imbasnya.
“Seragam kalian menunjukkan bahwa kalian adalah pelajar, apa begitu sulit mencerminkan sebagai seseorang yang berpendidikan?” ucap Luffi tanpa takut sedikitpun. Lima pria remaja menghentikan aksi memukul, dan menatap tajam ke arah Luffi.
“Cari mati, serang dia!” pertarungan pun terjadi, Luffi mundur ke belakang. Ia telah siap dengan jurusnya, kedua tangannya terkepal dan kakinya memasang kuda-kuda sebagai pertahanan kuat dalam melawan musuhnya.
BUGH
BUGH
BUGH
BAGH
Luffi dengan lihai menangkis pukulan lawannya, dan melindungi wajah serta tulang rusuknya, ia menatap jeli pergerakan setiap lawannya itu. Ketika mereka menyerang, ia dengan gesit berpindah dan terus menangkis, saat ia melihat ada peluang untuk menyerang, Luffi melayangkan tinjunya ke salah satu pria dari lima pria yang berseragam sekolah.
Ia melakukan tendangan bebas dan dua musuhnya jatuh terpental ke atas tanah. Ia kemudian menyerang dua musuhnya lagi, memelintir tangan musuh, dan menendang belakang lutut hingga membuat lawannya jatuh. Kini sisa satu musuhnya yang harus ia bereskan. Melayangkan bogeman ke rahang musuh dan menendang aset berharga itu, membuatnya menjerit kesakitan.
BUGH
BAGH
Butuh lima menit untuk membabat habis mereka ber-lima, sekelompok anak remaja segera bangun dan berlari dengan mengacungkan jari tengahnya kepada Luffi. Pria itu tertawa kecil dan menggeleng pelan. Luffi mencari pria yang di rundung tadi, ia melihatnya sedang ketakutan di salah satu pohon, memeluk tasnya dengan erat.
“Mereka sudah pergi, kamu aman sekarang” ucapnya. Pria yang ketakutan itu mengangkat kepalanya dan melihat Luffi dengan tatapan syukur, ia berdiri di depan Luffi.
“Te-terima kasih, aku pasti akan membalas kebaikanmu” ucapnya gugup. Luffi tidak menanggapi ia kemudian pergi, namun pria yang dirundung mengikutinya, membuat Luffi berhenti dan menatapnya penuh tanya.
“Ada apa?”
“Mampirlah ke rumahku, sebagai tanda terima kasihku” karena Luffi tidak memiliki tujuan sekarang, ia mengiyakan dan mengikuti pria yang mengenakan seragam sekolah. Mereka berbincang cukup akrab dan terkadang tertawa lepas.
“Namaku Hansel, kau bisa memanggilku Han, siapa nama kamu?”
“Luffi”
Kedua pria itu menjadi teman baik, sejak peristiwa malam itu, sekertaris Han bekerja sangat keras untuk bisa berkelahi, Luffi mengajarinya beberapa metode dasar dalam bertarung, karena ketekunan dan tekad yang kuat, sehingga ia berhasil menjadi petarung yang andal. Ia tidak mau di rundung lagi oleh sebabnya ia mau berubah. Selain karena urusan pribadi, ia juga ingin membalas kebaikan Luffi untuk menjadi penjaganya.
"Aku berjanji untuk melindungimu tuan, bahkan jika aku harus menyerahkan nyawaku sendiri"
.
.
.
.
.
Bersambung