
Happy Reading
.
.
.
.
.
Pagi harinya, Luffi sudah bersiap dengan pakaian kantornya, kemeja putih dengan setelan celana dan jas berwarna abu-abu tua, tidak lupa dasi yang bertengger di kerah kemeja yang senada dengan bahan celana serta jasnya. Sementara itu jasnya ia kancingkan, hingga membentuk tubuhnya yang proporsional dengan tinggi badan seratus delapan puluh sentimeter. Tubuhnya begitu atletis dan terjaga, dari lemak. Tidak lupa sepatu bermerek berbahan hitam, sepatu Oxford Vans senilai tiga puluh juta dolar, yang diproduksi oleh salah satu perusahan terkenal di Amerika, karena harga yang sangat mahal, sulit bagi orang lain untuk menjangkaunya, hanya orang-orang kaya ternama yang tercatat di sejarah dunia, yang mampu membeli sepatu tersebut.
Tanpa sarapan, pria itu bergegas keluar dari Mansion, terlihat sebuah mobil sedan bermerek berwarna hitam, terparkir di halaman Mansion, seperti biasa anggota Talaskar membungkuk hormat di hadapan Luffi, pria itu masih seperti dulu berjalan dengan angkuhnya melewati setiap anak manusia yang bersandar padanya.
Sekretaris Han berdiri di samping mobil, melihat langkah kaki Luffi yang berjalan ke arahnya, ia kemudian membuka pintu mobil dengan sebelah tangannya bersandar di atas perutnya, sembari dengan posisi punggung membungkuk kepada Luffi, sebagai tuannya. Luffi langsung menjatuhkan pantatnya di atas kursi jok belakang, sekretaris Han, pun menutup kembali pintu mobil, setelah itu ia langsung bergegas ke kursi kemudi, naik di kendaraan yang sama bersama Luffi.
Suara deru mesin mobil terdengar, perlahan-lahan mobil yang mereka tumpangi bergerak meninggalkan halaman luas Mansion megah itu, menuju jalan raya, di mana semua kendaraan berjalan di jalan tersebut untuk ke tempat yang dituju. Sekretaris Han sesekali melirik tuannya dari balik kaca spion bagian tengah.
“Ada apa?” Tanya Luffi dengan nada datar serta ekspresi wajah yang biasa ditampakkan, dingin dan datar itulah ekspresi yang menggambarkan wajahnya. Sekretaris Han kembali fokus menatap jalanan, dan terus menyetir di tengah macetnya jalan kota Las Vegas, ia mencari jalan pintas untuk dilaluinya agar tidak terjebak macet di tengah padatnya kendaraan bergengsi.
“Mohon maaf jika saya lancang, tuan, namun saya ingin menanyakan satu hal, apakah tuan serius tidak memiliki rasa terhadap nona Adira?” Sekretaris Han memberanikan diri bertanya. Ia sangat ingin tahu apa sebenarnya yang direncanakan bossnya itu, sebab dari penglihatannya, bahwa pria yang menjadi objek pertanyaannya adalah sangat mencintai Adira, tidak mungkin rasa yang terlihat di mata Luffi adalah sebuah kebohongan.
“Dia adalah putri seorang musuh, kau sangat tahu tentang aku… apa kau lupa bahwa aku adalah seseorang yang membenci berhubungan dengan seorang wanita, apalagi dia adalah putri dari musuhku sendiri… wanita sangat merepotkan, kekuasaanku bisa saja goyah karena wanita” jelasnya dengan sorot mata tajam, seakan kebenaran baru saja terucap dari lisannya. Terlihat smirik aneh di sudut bibirnya, menatap wajah sekretaris Han melalui kaca spion tengah, ia tersenyum nyaris tak terlihat, kemudian membuang pandangannya ke jendela sisi kanannya, melihat pemandangan yang memperlihatkan jejeran gedung pencakar langit, yang merupakan Kasino.
Kini tibalah mereka di perusahan PT Plaza Shoping Las Vegas, salah satu perusahan dari sepuluh perusahan terbesar di kota Las Vegas, dan perusahan milik Luffi masuk dalam tiga jajaran industri pusat perbelanjaan terbesar di kota tersebut. Sekretaris Han buru-buru turun dari dalam mobil dan berjalan dengan langkah lebar ke arah pintu mobil belakang, ia membukanya dengan posisi membungkuk. Terlihat sebuah kaki dengan sepatu bermerek turun dari dalam mobil, pria dengan gestur tinggi, memiliki bentuk wajah menarik nan rupawan, garis-garis wajah yang tampak elok di pandang. Hidung mancung, serta garis alis yang lurus dan tebal, bibir seksi yang jika ditatap ingin sekali dilahap. Bibir merah muda itu serta kelembaban dan kelembutan yang sempurna, begitu menarik perhatian para wanita.
“Apakah dia itu Dewa? Mataku bahkan tidak dapat berkedip karena ketampanannya yang menyilaukan, benar-benar pria langkah di Bumi ini” Seorang karyawan wanita ternganga dengan mulut mangap, melihat Luffi dan sekretaris Han berjalan melewati lobi perusahan yang hendak menuju lift khusus petinggi perusahan.
“Aku membenci dimadu, namun ketika itu berkaitan dengan tuan Dannie, aku akan ikhlas menjadi istri yang ke seratus”
“Tuan Dannie adalah pria idaman semua wanita di muka Bumi ini, ahh… sayang sekali status sosialku sangat rendah, jika tidak, aku mungkin tidak akan segan untuk merangkak di atas ranjangnya, wajah tampan rupawan, seperti medan magnet yang dapat menarik mangsa dengan mudah.”
“Cih! tidak masalah, halu pun jadi asal tidak denganmu” balasnya menyindir dan langsung bergegas menuju ruangannya yang berada di divisi keuangan. Sementara itu, seorang gadis dengan style berbeda, rok span di bawah lutut, berbahan hitam dengan atasan kemeja biru dongker yang memiliki renda-renda di bagian dadanya yang menutupi kancing kemejanya. Mendengar semua pujian terhadap Luffi, ia tertawa kecil namun penuh kebencian.
“Cih! Tidak tahu saja jika pria itu berhati kejam” ujarnya membatin. Dia adalah Adira, gadis itu menaiki lift karyawan menuju lantai dua puluh Sembilan, walau dirinya baru saja sembuh dari sakit, namun ia tidak ingin bolos kerja. Sebisa mungkin, ia harus menjadi karyawan teladan, lagipula kali ini dirinya tidak terlambat, Luffi tidak akan menghukumnya lagi. Tibalah dirinya di lantai yang dituju, ia berjalan keluar dari lift dan menuju salah satu koridor di mana ruangan Luffi berada. Ia melihat sekretaris Jesika berdiri di depan ruangannya sembari menatap padanya, Adira mengerutkan alisnya heran. Seperti sedang menunggunya datang.
“Selamat pagi tante” sapanya tersenyum lembut.
“Selamat pagi nona, mohon maaf nona, anda di larang masuk oleh tuan Dannie” Adira mengernyitkan alisnya tinggi, dan menatap wajah sekretaris Jesika dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Kenapa? Aku bekerja sebagai asisten daddy, seharusnya aku selalu disisinya, bukan?” Tiba-tiba sekretaris Jesika menunduk lalu meminta maaf kepada Adira, hal tersebut membuat Adira keheranan, bukan masalah gestur sekretaris Jesika melainkan mimik wajah gadis berkacamata itu membuatnya berprasangka buruk, ia merasa bahwa sesuatu buruk akan terjadi padanya.
“Mohon maaf nona, tuan Dannie menurunkan jabatan nona menjadi office girl, dan tuan juga meminta agar nona melakukan pekerjaan dengan baik dan benar, dan jangan membawa urusan keluarga dalam ranah pekerjaan” jelasnya merasa tidak enak hati, Adira menundukkan kepala dan menarik napasnya panjang. Pada akhirnya, hari terburuknya sudah tiba, hari di mana mimpi indahnya akan sirna, terbangun dari tidur panjang dengan mimpi yang menyenangkan. Kenyataan selalu terasa pahit, namun tidak bisa ia hindari.
“Baik tante, terima kasih informasinya… oh iya aku tidak tahu apa saja pekerjaan office girl, apakah tante bisa memberikan rincian pekerjaanku?” Sekretaris Jesika mengangguk, wanita itu lantas masuk ke ruangannya lalu kembali keluar dengan menyerahkan selembar kertas berisi pekerjaan tentang office girl.
“Terima kasih tante, kalau begitu aku pamit dulu” Adira segera meninggalkan sekretaris Jesika dengan lembaran kertas ditangannya. sesekali mendesah berat, jika teringat begitu cepat hubungannya kandas, padahal baru berumur jagung namun sudah tidak ada harapan lagi.
“Dia bahkan telah menyiapkannya dari awal, seperti telah direncanakan… apakah semua ini berada dalam genggaman skenariomu, Luffi?” batinnya merasa sakit hati, namun apa boleh buat, ia adalah pihak yang memiliki kuasa.
.
.
.
.
.
Bersambung