
Happy Reading 🤗
.
.
.
.
.
Cristian dan Adira menaiki lift menuju lantai paling atas, adalah lantai di mana ruangan Luffi berada. Mereka harus melewati dua puluh Sembilan lantai, untuk mencapai lantai tiga puluh. Dan sekarang, lift yang mereka naiki telah berhenti tepat di lantai yang dituju. Pintu lift terbuka lebar, kedua anak manusia itu segera keluar dari Lift dan menuju salah satu koridor di mana ruang CEO berada.
Di depan koridor, terdapat salah satu ruang, terdapat papan nama yang menggantung di atas pintu, itu adalah sekretaris Jesica. Mereka menghampiri ruang sekretaris Jesica dan mengetuk pintu.
TOK TOK TOK
CEKLEK
Pintu ruangan tersebut terbuka, seorang wanita dewasa berdiri di depan pintu, wanita itu tersenyum pada Cristian dan beralih menatap Adira.
“Apa kau nona Adira?”
“Iya benar”
“Mari, saya bawa kalian ke ruangan CEO”
Wanita itu berjalan di depan, hanya tujuh langkah telah sampai di depan ruangan Luffi. Jantung Adira berdetak cepat, entah kenapa ia merasa gugup bertemu Luffi di ruang yang berbeda, gadis itu menarik napas panjang dan perlahan-lahan menghembuskannya.
“Apa kau gugup?” tanya Cristian tertawa kecil, melihat wajah Adira yang pucat, Adira mencubit pinggang Cristian, membuat pria itu memelototinya, ia menahan sakit dan tidak berani mengeluarkan suara. Pintu ruangan Luffi terbuka, wanita itu masuk dan melaporkan kedatangan Cristian dan Adira. Namun adegan di depan mata membuat tiga anak manusia itu terkejut bukan main, pasalnya sebuah adegan terlarang kini di lihat oleh dua orang dewasa dan satu anak kecil.
Mata Adira melebar melihat, tubuh ayah angkatnya di tindih oleh seorang wanita yang menggunakan gaun seksi, ia ingin sekali muntah. Mata Luffi bertabrakan dengan mata Adira mengisyaratkan untuk menolongnya segera, namun gadis itu malah merespon datar, dan hanya pandangan menjijikan terlihat di matanya.
“Hiks-hiks, hiks… aku sungguh merasa kasihan pada daddyku, dia pasti akan di hajar habis-habisan jika pulang nanti. Apalagi ada bau ulat keket di tubuh daddyku… oh daddyku yang malang, kau akan binasa di tangan mommy” ucap Adira mendramatis, air matanya mengalir keluar, ia bahkan terduduk jatuh di atas lantai, menatap dua insan yang masih berpose mesra di lantai. Luffi mendorong kuat Sandra hingga terpental dari tubuhnya. Luffi melotot ke arah Adira, bagaimana mungkin gadis itu mengatakan hal tersebut.
“Anak ini mengatakan aku takut istri, kurang ajar sekali” batin Luffi merasa dongkol dengan ucapan Adira kepadanya. Luffi kemudian berdiri begitu pun dengan Sandra. Wanita dengan baju terbelah lebar di bagian dadanya menatap tak suka atas kehadiran Adira, ia bersedekap dan menaikan alisnya tinggi. Sementara Cristian dan Jesica saling menatap satu sama lain, mereka berdua pun keluar, meninggalkan drama keluarga yang sebentar lagi akan mulai.
“Anak kecil bisakah kamu keluar? aku ingin berduaan dengan kekasihku” tutur Sandra tebal muka, Adira mengeringkan matanya, ia kemudian berdiri dan bertolak pinggang di depan Sandra, sementara Luffi menjatuhkan pantatnya di atas kursi kebesarannya, dan menjulurkan kedua kakinya di atas meja kerja, ia menyaksikan pertarungan sengit antara ular keket dan panda kecilnya.
“Cih! apa tante tidak malu harus merebut suami orang? Jelas-jelas daddyku telah memiliki aku dan mommyku, apa pria di luar sana tidak menyukai tante, sampai tante begitu ngebet memohon-mohon untuk dijadikan kekasih daddyku?”
“Murahan sekali” gumamnya pelan, namun masih di dengar oleh Luffi dan Sandra. Wanita itu melotot dan sangat marah, sementara Luffi menahan tawanya, melihat wajah merah Sandra, karena malu.
“Kau, dasar anak kecil nakal. Kuhajar kamu” Sandra yang hendak memukul Adira langsung di cegat oleh Luffi, pria itu dengan gesit melindungi putrinya, ia mencengkeram pergelangan tangan Sandra hingga meninggalkan bekas merah di sana, sementara gadis kecil itu menjulurkan lidahnya dan semakin membuat Sandra marah. Wanita itu menghentakan kakinya, dan keluar dari ruangan Luffi dengan napas memburu kesal.
“Good job, princess (Kerja bagus, putri)” pujinya tersenyum lebar. Pria itu mengajak Adira untuk duduk di atas sofa. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, Adira mencari ke sumber suara dan menemukan seorang pria sedang berjalan keluar dari bilik ruangan pribadi Luffi. Gadis itu menatap Luffi meminta penjelasan dari ayah angkatnya.
“Dia sekretaris Daddy, namanya Hanan” Adira mengangguk dan melempar senyum kepada pria yang berdiri di samping Luffi, namun sekretaris Han hanya menampilkan wajah datar, ia membungkuk membalas sapaan dari Adira, gadis itu menelan ludahnya kasar, merasa canggung dengan situasinya yang sekarang.
“Dia ini, apakah dia robot? tidak berperasaan sekali” cibirnya dalam hati merasa kesal.
“Jangan menatapnya dingin seperti itu! biar bagaimanapun, Adira telah menjadi putriku” tegurnya, namun tidak membuat sekretaris Han, mengubah ekspresi wajahnya. Ia tetap dengan wajah datar nan dingin, Luffi mendesah berat, dan memijat pangkal hidungnya, pria itu begitu sulit mengatur eskpresi wajahnya. Luffi kemudian menyuruh sekretarisnya untuk keluar, memberikan waktu kepada Luffi dan Adira untuk berbincang.
Sekretaris Han, menunduk hormat pada Luffi, kemudian pada Adira, setelah itu keluar meninggalkan ayah dan anak. Kini tinggal-lah mereka di satu ruangan yang sama. Luffi duduk dengan menyilangkan kaki menatap wajah imut gadis kecil di depannya.
“Bagaimana kelas kamu hari ini, apa kamu menyukainya?”
“Aku menyukainya, dad. Emmm... Apakah aku bisa datang ke sini lagi?” tanyanya dengan kedua jari telunjuknya saling bertemu, mata bulatnya menatap memohon pada Luffi, pria itu sangat gemas pada anak angkatnya, ingin sekali mencubit pipi gembul itu, namun ia harus menahannya. Ia mengubah duduknya menjadi tegap, dan mengatur ekspresi wajahnya, ia pun tersenyum dan mengangguk pelan.
“Kapan pun kamu merasa ingin ke sini, datanglah dan telepon daddy. Daddy akan menjemputmu, asalkan kamu harus rajin belajar” Adira tersenyum lebar ia mengangguk semangat, gadis itu berdiri dan menghampiri Luffi, ia memeluk tubuh pria itu erat.
“Terima kasih Daddy, I love you, so much (Aku sangat mencintaimu)”
CUP
Tiba-tiba sebuah kecupan hangat mendarat di pipi Luffi, pria itu tertegun cukup lama, mendapati dirinya di cium oleh Adira. ini pertama kalinya ia di cium oleh seseorang, seumur hidupnya belum pernah. Ia merasakan desiran hangat mengalir ke seluruh tubuhnya mengikuti jalannya arteri pembuluh darah.
“I-iya sama-sama, sayang” Luffi menjadi kikuk, pipinya menjadi merah karena panas, Adira menyadari ada yang aneh dengan Luffi segera berdiri dan menatap wajah Luffi lama. Tangan mungilnya terulur, dan menempelkannya di dahi Luffi, sangat panas sampai membuatnya terkejut.
“Daddy demam? apa sudah minum obat? aku belikan obat untuk daddy yah”
“Tidak perlu. Daddy baik-baik saja… sekarang daddy mau selesaikan pekerjaan daddy dulu, kamu minta Cristian atau sekretaris Han mengajakmu keliling” ucapnya mengatur deru napasnya yang tidak beraturan, Adira mengangguk, dan keluar dari ruangan Luffi. Sementara, pria itu memjiat pangkal hidungnya, merasa kesal pada dirinya sendiri.
“Aku tidak mungkin menyukainya kan? dia adalah anak musuhku. Aku mana mungkin menaruh hati padanya, konyol sekali”
.
.
.
.
.
.
Bersambung