
Happy Reading
.
.
.
.
.
Waktu telah menunjukan pukul 12 malam, namun tak membuat kota Las Vegas tenang, kota yang dijuluki sebagai kota tanpa tidur itu selalu menjadi pusat perhatian orang-orang di berbagai penjuru dunia, tidak ada kata istirahat di sana, selalu bergelut dengan kegiatan yang menyenangkan.
Di sebuah Mansion mewah, tepatnya di ruangan bernuansa abu-abu hitam, terlihat seorang pria yang terus uring-uringan di atas kasur, mengubah posisi tidurnya, kadang telentang lalu mengubahnya lagi menjadi posisi tengkurap, begitu terus sampai beberapa jam berlalu, mata yang seharusnya sudah terpejam dan memasuki dunia mimpi indah, bahkan tak mampu ia lakukan, begitu sulit baginya, pikirannya kacau memikirkan keberadaan Adira yang tidak tahu kemana dirinya pergi.
Dengan tubuh berat, ia bangun dan keluar dari kamarnya. Ia menggunakan piyama pria panjang, berwarna navy. Menapaki setiap anak tangga satu persatu, hingga tiba dirinya di lantai dasar. Ia berjalan menuju kamar Adira berada. Ia berharap agar matanya melihat gadis kecilnya yang telah tumbuh menjadi wanita dewasa. Ia menahan napasnya, kemudian membuka pintu tersebut, namun harapannya kembali pupus kala, sang empu tak ada di kamarnya. Ia merasa kesal dan masuk memastikan keberadaan Adira di kamar mandi. Namun tetap tidak menemukannya.
“Astaga, anak ini membuatku sangat gila” gerutunya lalu melangkah keluar. Ia berjalan ke kamar samping Adira, dan menggedor-gedor pintu itu, sang empu berteriak kesal dari dalam, tidak tahu saja jika yang melakukannya adalah boss besarnya.
“Apa kau tidak menginginkan tanga… boss besar” pria dengan warna rambut pirang itu berhenti mengumpat, dan menunduk pada pria di depannya. Luffi menatap tajam bawahannya yang berani mengatainya kasar, namun ia harus menahannya demi putrinya.
“Di mana Adira? apa kau tahu jika dia tidak kembali ke Mansion hari ini!” teriaknya dengan keras, membuat pria yang masih terbaring tidur di atas kasur, terkejut bangun… mendengar suara teriakan keras yang membahana. Rasa ngantuknya tiba-tiba hilang, melihat wajah sangar boss besarnya. Billi dan Cristian menunduk dengan perasaan takut.
“Ka-kami akan mencarinya boss” tuturnya terbata-bata, langsung mengambil kunci mobil dan berjalan meninggalkan Luffi yang masih berdiri di depan kamar mereka. Pria itu menghela napas kasar dan berjalan keluar. Ia tidak mungkin berdiam diri saja, menunggu informasi dari anak buahnya, ia harus mengandalkan dirinya untuk bertemu putrinya itu. Sebelum keluar, Luffi pergi ke paviliun, tempat di mana anggota Talaskar tinggal. Beberapa anggota yang berjaga segera berdiri ketika melihat kedatangan Luffi. Mereka langsung menunduk hormat, seperti biasanya.
“Cek semua CCTV yang ada di jalan raya, maupun hotel atau apapun itu, segera kirim padaku jika kalian melihat keberadaan Adira!” titahnya dengan wajah datar.
“Kelihatannya, boss sangat marah, pasti ini menyangkut nona Adira” batin beberapa anggota Talaskar. Mereka menyanggupinya, dan Luffi bergegas keluar dari Paviliun menuju teras Mansion. Sementara enam pria yang di perintah oleh Luffi, langsung menuju sebuah ruangan, di mana deretan komputer canggih berada di atas meja panjang. Di sebuah dinding terpampang layar lebar yang memperlihatkan setiap sudut Mansion, bahkan hutan lindung sekalipun.
Mobil yang dikendarai Luffi ketika pulang dari kantor, ia naiki kembali dan meninggalkan halaman Mansion, sekalipun tidak tahu kemana tujuannya, namun ia tetap mencari keberadaan putrinya, sampai menunggu informasi dari anak buahnya yang merupakan lulusan terbaik dari Stanford University. Ia merekrut mereka karena kemampuan mereka di bidang IT yang sangat menguntungkan bagi dirinya, ia bisa meminta anak buahnya untuk mencari informasi lawannya, dan bisa dengan mudah menjatuhkan lawannya.
Ia membawa mobilnya ke sebuah toko kue, namun tidak ada. Lalu pergi mencarinya di sebuah Cafe, bahkan di pusat berbelanjaan terbesar di kota Las Vegas, tidak menemukan jejak Adira sedikitpun, membuatnya begitu frustasi dan sangat marah. Ia memukul setirnya, sesekali menarik rambutnya kasar.
“Di mana kamu sayang, maafkan daddy… jangan buat daddy menderita seperti ini” gumamnya pelan merasa bersalah. Tiba-tiba sebuah notifikasi masuk ke ponselnya, ia segera membukanya, dan melihat kiriman pesan dari salah satu anggotanya. Sebuah video yang berdurasi tujuh menit itu ia tonton, dan betapa terkejutnya ketika melihat motor yang ia beli menabrak sebuah mobil di depannya. Matanya melotot sempurna, ia tidak berkutik, melihat cucuran darah putrinya membanjiri tanah tempat Adira terkulai lemas.
Sebuah dering telepon berbunyi, tanpa tenaga ia meraih ponselnya, lalu menerima panggilan itu.
“Saya sudah mengirimkan alamat keberadaan nona Adira ke nomor anda”
“Baik” Luffi melihat pesan yang di kirim oleh anggotanya, matanya menatap isi pesan yang di baca.
“Kindred Hospital Las Vegas-Sahara?” Luffi segera tancap gas, melajukan mobilnya menuju lokasi yang diberikan anggota Talaskar, genggaman tangannya pada setir begitu kuat, ia bahkan acuh tak acuh pada jalanan raya yang ramai, ia terus menyalip kendaraan di depannya, seperti anak muda yang ugal-ugalan di jalan, sebagian pengendara lainnya meneriakinya, bahkan memakinya. Namun, ia tidak peduli seakan tuli terhadap sekitarnya, tujuannya saat ini adalah agar segera sampai ke tempat tujuan untuk bertemu dengan seseorang yang sangat ia khawatirkan.
“Please, kumohon semoga kau baik-baik saja, sayang” Luffi terus mengucapkan untaian doa yang sebelumnya belum pernah ia lakukan, hanya sosok Adira yang mampu membuatnya gila seperti itu. Mobil bugatti Chiron itu berhenti di depan rumah sakit, namun masih dengan jarak yang lumayan jauh. Ia segera keluar dan berlari menuju pintu masuk, dan bertanya ke pihak resepsionis.
“Apakah ada pasien kecelakaan tadi sore, seorang gadis berusia 18 tahun?” tanyanya dengan nada khawatir, wanita yang bertugas itu kemudian menatap ke layar komputernya, kemudian melirik ke arah Luffi.
“Ada pak, dia sekarang berada di ruang VIP A lantai 3”
“Terima kasih” setelah mengucap kata terima kasih, pria itu segera pergi. Itu adalah ungkapan pertamanya kepada orang lain, seumur hidup ia tidak pernah melakukannya, namun entah angin apa yang merasukinya sampai membuatnya mengucapkan kalimat keramat itu. Kini ia menaiki tangga, dan tidak menaiki lift yang lebih cepat dan praktis, Dia langsung segera berjalan menapaki setiap anak tangga itu, sekalipun ada begitu banyak sekali anak tangga, namun tidak membuatnya lelah… rasa ingin bertemu dan melihat putrinya lebih besar hingga tak sedikitpun rasa lelah itu muncul.
Tiba dirinya di lantai 3, ia mencari ruang VIP A, matanya menangkap papan nama ruangan tersebut, tanpa ba-bi-bu ia pun membukanya. Terlihat sebuah bangsal yang ditempati oleh seorang gadis yang sangat familiar di matanya ia pun memanggilnya.
“Sayang”
.
.
.
.
.
.
Bersambung