
Happy Reading
.
.
.
.
.
Sekretaris Han dan Luffi duduk di kursi sofa ruang tengah, karena hari ini adalah hari minggu jadi perusahan libur, oleh sebabnya sekretaris Han berada di Mansion, selain karena mendapat perintah dari Luffi, salah satu alasannya karena ia ingin mengobrol sesuatu hal dengan boss besarnya. Keduanya duduk saling berhadapan, di jari mereka terdapat sebatang rokok, mereka sedang nyebat, menikmati sesaat hari yang tenang. Sesekali menghisap rokok dan mengepulkan asapnya ke udara.
Mata sekretaris Han sesekali tertuju pada Luffi, pria yang ditatap menyadari keanehan dari tindakan sekretarisnya, lantas bertanya
“Ada apa?” keduanya bersitatap, cukup lama sekretaris Han memandangi wajah Luffi, menarik napasnya panjang dan menghembuskan perlahan.
“Arsenio menyukai Adira, aku ingin menjodohkan mer….” Belum selesai dirinya berbicara, Luffi memelotoinya dengan ekspresi membunuh, tatapannya begitu dingin, hingga membuat sekretaris Han menjadi mati kutu. Itu adalah pandangan yang jarang diperlihatkan Luffi padanya, hanya ketika menghadapi musuhnya ia akan mengeluarkan tatapan mematikan. Sekretaris Han menyipitkan matanya melihat Luffi yang tidak biasanya, bahkan ekspresi wajah Luffi masih datar juga dingin, ia sendiri merasa terintimidasi.
“Jangan pernah katakan kalimat itu lagi! Seharusnya aku tidak mendengar namanya… aku bahkan belum memberinya pelajaran” jawabnya dengan nada dingin. Sekretaris Han mengernyitkan alisnya tinggi, merasa ambigu dengan kalimat yang dilontarkan bossnya itu. Ia yang penasaran lantas mengajukan pertanyaan.
“Ada apa dengan Arsenio, apa dia membuat masalah denganmu, tuan?”
“Jika dia bukan adikmu, aku sudah membunuhnya… Adira adalah putriku, kau tahu itu, bagaimana bisa Arsenio selancang itu padanya! Dia memberikan obat perangsang untuk Adira, jika malam itu aku tidak menemukannya, hidup putriku….” Luffi menjeda ucapannya dan melihat ke arah pria dengan setelan jas lengkap.
“Siapa saja yang melukai hidup putriku, aku pasti akan membunuhnya, bahkan jika itu kamu” sambungnya, kembali melanjutkan sebatnya. Ia menghisap dalam-dalam ujung rokok yang berada di mulutnya, hingga asap terkumpul di dalam mulutnya, kepalanya menengadah ke atas dan saat itu pula ia menghembuskannya ke udara, keluar melalui mulut juga hidungnya secara bersamaan.
Sementara itu, sekretaris Han terdiam dengan wajah murung, kedua tangannya terkepal kuat merasa marah pada jawaban Luffi yang lebih mementingkan gadis yang merupakan putri musuh mereka. Ia tidak habis pikir, sihir apa yang telah dirasuki Luffi sampai ia rela mengorbankannya hanya demi Adira.
“Apa kau mencintainya? jangan lupa dia adalah putri seorang musuh” ini kali pertama sekretaris Han berbicara lancang pada Luffi, seumur-umur dirinya tidak pernah membantah bahkan tidak selancang hari ini. Ada rasa sesak di hatinya kala mengetahui pria di depannya lebih peduli orang luar dibanding dirinya yang telah membersamainya beberapa puluh tahun yang lalu, namun karena kehadiran seseorang membuat hubungan mereka sedikit renggang. Terlihat seperti, hubungan mereka telah dimasuki orang ke tiga, hingga membuat hubungan yang sudah lama terjalin perlahan-lahan tidak seromantis dulu.
Luffi terkekeh kecil mendengar penuturan sekretarisnya, ia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, lalu meletakkan puntung rokok di dalam asbak. Luffi menyilangkan kakinya dan melipat kedua tangannya di atas perut, sementara itu, matanya tak pernah lepas dari wajah sekretaris Han, begitupun dengan sang empu.
“Apa kau sedang mengajariku sekarang hmmm? jangan lupa kau adalah bawahanku, sekretaris Han….” Tuturnya dengan penekanan pada akhir kata. “Lagipula, tidak ada salahnya menjalin hubungan dengan putri musuh sendiri, hidup lama bersamanya membuatku mendapatkan kehidupan yang belum pernah kurasakan, dia seperti peri yang memberikan kehidupan yang layak untuk kunikmati” sambungnya dengan senyum tipis di bibirnya. Jika Luffi terlihat sangat bahagia, maka tidak dengan sekretaris Han, wajah pria itu seketika muram dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ia membuka tiga kancing atas kemejanya, menghirup dalam-dalam oksigen disekitarnya.
Ia seperti berada di dalam sumur yang dalam juga gelap, terperangkap di dalamnya dengan situasi yang begitu mencengkam, mengepalkan tangannya hingga memperlihatkan urat-urat ditangannya yang tercetak jelas di atas permukaan kulit, apalagi melihat senyum lebar di wajah Luffi membuatnya menyeringai licik.
“Aku tahu kamu sangat setia, dan peduli padaku… tapi kali ini berbeda, Adira tidak akan mempunyai niat jahat terhadap kita, aku berharap kamu bisa menerimanya” Luffi berujar dengan nada rendah, ia memberi pengertian kepada pria di depannya, dengan harapan, bawahan yang sudah dianggapnya saudara sendiri bisa mengerti maksudnya, dan memahami setiap keputusan yang dipilihnya. Sekretaris Han melempar senyum tipis, dan terlihat tulus di depan Luffi. Ia mengangguk pelan sembari menatap dalam-dalam wajah Luffi.
“Baiklah jika itu adalah keputusan tuan, aku tidak akan menyakitinya, asalkan dirinya tidak melukai tuan” jawabnya membuat Luffi melebarkan bibirnya, ia merasa legah sekali karena, kini Adira sudah aman dan tidak akan diganggu oleh sekretaris Han, ia tahu bahwa pria itu tidak akan pernah melepaskan satupun musuhnya, namun saat melihat tatapan tulus dari pria berjas di depannya, Luffi sangat yakin pada sekretarisnya, bahwa dia tidak akan melanggar janjinya. Namun tatapan pria berjas itu, seakan mengisyaratkan sesuatu yang berbeda pada Luffi.
“Semoga kau tidak mengecewakanku” bisik Luffi dalam benaknya.
Sementara itu, di tempat lain, terlihat seorang gadis sedang uring-uringan di atas kasur, terkadang menghentakkan kakinya di udara dan menarik selimut lalu membuangnya. Ia berteriak memanggil nama Luffi dengan suara keras, merasa kesal pada pria itu, sebab ia ingin sekali keluar dari ruangan yang membuatnya bosan. Ia tidak tahu pin dari kamar yang ditempatinya, pintunya terkunci dan ia tidak bisa keluar, sementara itu ia sangat lapar sekali.
Matanya melihat benda persegi di atas nakas, itu tidak berfungsi sebab baterainya sudah lowbat, dan ia tidak memiliki cas di kamar itu. Ia tidak tahu harus melakukan apa, dirinya tidak memiliki pakaian yang cocok untuk keluar, jika hanya menggunakan kemeja Lutfi, itu terlihat sangat seksi dan ia tidak terbiasa dengan pakaian seperti itu. Bisa saja baginya menelepon resepsionis, untuk membukakan pintu untuknya, namun ia memikirkan pakaian yang akan dipakai nanti.
“Sial! Sial! Sial! Sungguh sial! akkkkkkkhhhh” teriaknya mengumpat, lalu menutupi wajahnya menggunakan bantal. Ia yang benar-benar kesal pada Luffi, karena meninggalkan dirinya dengan keadaan seperti itu, ia pun langsung beranjak dari atas kasur, berpijak di atas lantai dan meraih telepon genggam yang berada di atas nakas, setelah itu ia menekan beberapa tombol angka dan terdengar bunyi berdering. Tak lama kemudian terdengar suara seorang pria bersuara dari seberang telepon.
“Halo, ada yang bisa kami bantu?”
“Tolong berikan kunci cadangan kamar presidential suite!”
“Baik, tunggu sebentar yah nona” setelah itu, Adira meletakan telepon genggam dari tangannya, ia kemudian menuju ruang ganti, di mana pakaian Luffi berada, ia mencari kemeja berwarna hitam. Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, ia tersenyum lebar dan mulai mengganti pakaiannya menggunakan kemeja yang dipilihnya tadi. Kali ini ia harus mengesampingkan ketidaksukaannya pada pakaian seksi, agar bisa dirinya bisa keluar dari ruangan yang sungguh membosankan.
"Awas saja Daddy! aku akan menghabiskan seluruh uang yang ada di kartu daddy heheheh" ucapnya dengan tawa jahat. Ia ingin membuat Luffi merasa kesal karena menghabiskan uang milikinya, dengan begitu rasa kesal di hati Adira menjadi impas.
.
.
.
.
.
.
Bersambung