
Happy Reading 🤗
.
.
.
.
.
Di sebuah rumah minimalis khas eropa, yang memiliki dua tingkat lantai, terlihat seorang pria dengan setelan jas duduk dengan wajah dingin menatap wajah pria yang babak belur. Pria itu hanya menunduk dengan penuh penyesalan.
“Kamu bersiaplah, hari ini kaka telah memesan tiket pesawat untukmu ke Washington”
“Ta-api….”
“Tidak ada tapi-tapian, kamu sudah menyinggung tuan Luffi, apa kamu masih punya muka untuk terus tinggal di sini? Bersyukurlah tuan Luffi masih membiarkanmu hidup” ucap sekretaris Han kepada Arsenio, pria itu terdiam membisu dengan wajah menunduk. Ia masih ingin tetap di kota Las Vegas, namun karena kecerobohannya membuatnya harus segera pindah. Ia tidak ingin menyusahkan sekretaris Han lagi, sekalipun masih sangat ingin menetap lama di kotanya itu, namun ia tidak mungkin egois hanya karena perasaan sukanya terhadap Adira. Tunggu, sampai dirinya benar-benar hebat dan melampui Luffi, baru bisa merebut Adira dari tangan Luffi. Anggap saja, ia mengalah untuk sesaat demi meraih kemenangan memperebutkan hati Adira.
“Baiklah kak, aku siapkan barang-barangku dulu” Arsenio beranjak dari duduknya dan berjalan menaiki setiap anak tangga untuk menuju lantai dua. Kamarnya berada di lantai dua sementara sekretaris Han memilih kamar lantai satu, karena tidak ingin merepotkan dirinya untuk naik turun tangga.
Sementara itu, di tempat lain. Dua pasangan sejoli baru saja ******* dengan kegiatan panasnya, keduanya saling beradu pandang dan tersenyum lebar, Luffi menarik tubuh gadisnya ke dalam dekapannya, dan ia menarik selimut tebal untuk menutupi kedua tubuh mereka yang polos. Tangan Adira memeluk tubuh kekar prianya, dan kepalanya bersandar di dada bidang milik Luffi, ia mengambil kesempatan itu untuk menghirup dalam-dalam aroma tubuh Luffi yang membuatnya candu, ia sangat menikmatinya.
“Dad….”
“Ssssstttttt. Jangan panggil daddy lagi, mulai sekarang panggil aku sayang atau panggil namaku, apa kamu mengerti?” Adira mendongakkan kepalanya melihat wajah Luffi, ia mengerutkan alisnya tinggi, merasa bingung dengan permintaan Luffi, padahal dirinya sudah terbiasa dengan panggilan “daddy” namun kini, Luffi memintanya untuk tidak menyebutnya daddy, sedikit tidak terbiasa baginya.
“Kenapa? aku sudah terbiasa dengan panggilan daddy”
“Status kita sudah berbeda, sekarang kamu bukan lagi putri daddy, dan aku bukan lagi daddy kamu, melainkan seorang pasangan, yang akan mengabdikan seluruh hidupnya kepada pasangannya. Kamu sekarang kekasihku, wanitaku, yang akan menghabiskan seluruh hidupku denganmu, dan tidak akan terikat dengan pria lain selain dengan diriku… apa kau mengerti sekarang?” tanyanya sembari membelai lembut rambut Adira.
“Apa itu artinya, kamu adalah sugar daddyku?”
TUK
CUP
“Jangan katakan kalau aku adalah sugar daddymu, aku akan menjadi priamu yang bisa kau andalkan, menjadi priamu yang selalu kau butuhkan, dan tidak ada sesuatu yang dipertukarkan demi sesuatu yang saling menguntungkan…. Aku tulus menjadi priamu karena atas dasar cinta, bukan karena saling menguntungkan” jelasnya dengan nada lembut. Senyum lebar terukir di bibir Adira yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih.
“Berjanjilah, kamu tidak akan meninggalkanku, hatimu akan terus menjadi milikku” Adira menyodorkan jari kelingkingnya di hadapan Luffi, pria itu tanpa ragu menautkan kelingkingnya dan mengangguk sebagai jawaban.
“Aku berjanji padamu, sayang. Hatiku ini akan selalu menjadi milikmu, tidak akan pernah mendua ataupun menjadikan wanita lain sebagai tuan dalam hati ini, sebab sedari lama hatiku telah kepincut oleh dirimu, apapun yang terjadi kita akan selalu bersama, kita tidak akan pernah dipisahkan bahkan jika aku harus melawan takdir yang berani memisahkan kita” perasaan Adira menjadi lega, ia memeluk erat tubuh pria di sampingnya, rasa cintanya semakin menggebu-gebu dan menjadi gila karena pria dewasa yang telah resmi menjadi pasangan hidupnya, sekalipun belum terdaftar dalam catatan sipil Negara.
“Apakah kita akan menikah?” tanya Adira dengan tatapan polosnya, Luffi menatap lama wajah kekasihnya, tiba-tiba sebuah kecupan hangat dan lama mendarat di keningnya, Adira memejamkan matanya merasakan perasaan Luffi yang mengalir di dalam tubuhnya melalui arteri darah. Ia begitu yakin pada Luffi, bahwa pria itu sangat mencintainya, tersirat dari matanya yang sangat tulus dan tidak ada sedikitpun kedustaan yang tersirat di matanya.
“Tentu saja, kita pasti akan menikah. Agar tidak seorangpun bisa mengambil kamu dariku, sekaligus aku bisa dengan bebas menghamilimu, membuat anak melalui rahimu, hehehhe” ungkapan Luffi membuat Adira malu, ia memukul pelan dada bidang Luffi. Hari ini adalah hari yang sangat bahagia baginya, bisa saling mengungkap perasaan satu sama lain, sungguh melegakkan. Ia bisa sepuasnya memandangi wajah prianya yang dulu tidak bebas ia lakukan, kali ini ia tidak akan melewatkan satupun kesempatan emas ini, mungkin itu adalah buah dari kesabaran selama ini ia pendamkan, hingga Tuhan mengabulkan setiap permohonannya.
“Ya sudah, aku mandi dulu, kita akan kembali ke Mansion sebelum malam tiba”
“Baiklah” Luffi menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, lalu beranjak turun dari atas kasur dan menuju bilik kamar mandi, sementara Adira masih dengan wajah berbinar-binar, bahkan pandangannya tidak pernah lepas dari pintu kamar mandi yang dimasuki Luffi tadi. Bibirnya tidak dapat berhenti untuk tersenyum, mengingat kembali ungkapan cinta yang dinyatakan Luffi tadi, gadis itu sudah terbuai dan mabuk kepayang oleh cinta dari ketua Mafia dunia bawah, ia sudah tidak memperdulikan status Luffi yang menjadi musuh ayahnya, bahkan membuat ayahnya, yang terpenting saat ini, adalah mereka berdua saling mencintai. Untuk kematian ayahnya, biarkanlah berlalu, tidak bisa ia ungkit lagi apalagi Luffi telah merawatnya dengan baik, dan ia sangat menghargainya.
“Aku benar-benar sangat mencintai daddy, sampai nyawaku pun akan kuberikan padanya jika dia memintanya, cinta ini membuatku gila dan tidak bisa berpikir sehat. Asal bisa hidup dengan daddy selamanya aku akan melakukan apapun demi menyenangkannya” gumamnya tersenyum simpul. Gadis remaja yang menaruh kepercayaan penuh pada pria yang dicintainya, semoga perasaan tulusnya tidak akan disia-siakan, ia hanya ingin menjadi pasangan baik untuk Luffi, tanpa harus mengungkit masa lalu yang memilukan, biarkanlah masalah itu hilang dengan seiring berjalannya waktu, agar dirinya bisa memulai hidup baru dengan seseorang yang sangat dicintainya.
Mungkin dirinya akan dicap sebagai anak durhaka oleh orang-orang, namun perasaan cintanya tidak bisa ia pungkiri, mungkin saja hubungan mereka adalah sebuah takdir yang akan mengakhiri dendam dari kedua geng terbesar di kotanya itu.
“Daddy, mommy, hiduplah dengan bahagia di atas sana, aku telah menemukan belahan hatiku yang akan menjagaku di sini… aku sangat menyayangi kalian berdua, aku mencintaimu dad, mom” batinnya dengan linangan air mata.
.
.
.
.
.
Bersambung