
Happy Reading
.
.
.
.
.
.
Kenyataan pahit membawa luka di hati, perasaan cinta yang sudah lama ia bangun untuk pria yang telah merawatnya. Perasaannya bukanlah cinta kepada ayah, melainkan cinta kepada pria dewasa. Cinta terhadap pasangan hidup. Sulit menjelaskan mengapa ia mencintai pria yang telah merawatnya, cinta itu tumbuh seiring kebersamaan mereka. kebersamaan itu membangkitkan perasaannya kepada pria yang tidak seharusnya ia menaruh hatinya.
Salahkah jika ia memupuk cinta itu? salahkah jika ia berharap untuk di cintai? cinta itu datang padanya, membuatnya tidak berkutik karena perasaannya yang menggila. Ia tidak tahu harus melakukan apa, di satu sisi pria yang dicintainya adalah pembunuh ayahnya, dan di sisi lain, ia akan menjadi anak paling berdosa jika ia bersamanya. Sungguh, ia benar-benar berharap agar waktu berhenti sebentar, pikirannya menjadi kacau memikirkannya.
Andai dirinya bisa memilih, ia tidak akan mencintai pria bejat itu, namun hatinya telah memiliki tuan lainnya, ia tidak berkutik, sebab dirinya tidak lagi berkuasa. Salahkan takdir yang membuat kehidupannya menjadi rumit, ia akan menerobos tabir dinding yang menghalangi cintanya, ia akan menghancurkan tabir yang menjadi pemisah itu.
“Simpanlah kartu nama ini. Jika sewaktu-waktu nona ingin pergi, segera hubungi saya. Saya akan siap membantu nona” sebuah kartu nama kecil persegi di sodorkan kepadanya, dengan ragu-ragu ia mengambilnya, melihat nama dan nomor telepon tertera di dalam kartu tersebut.
“Saya akan pergi sekarang, jangan pernah katakan kepada Luffi bahwa saya yang menolong nona. Sampai jumpa, jaga diri nona baik-baik” Adira menatap lama punggung pria yang menghilang dari balik pintu ruang inapnya. Ia terpaku pada kartu nama di tangannya, dan kemudian menyimpannya di saku bajunya. Gadis itu menghela napas kasar dan menatap setiap sudut ruangan yang bisa dijangkau oleh matanya.
“Aiiiishhh” desisnya menyentuh kepalanya yang sakit
“Daddy pergi ke mana? apa dia marah karena aku mencintainya? pria memang sulit ditebak, bukankah seharusnya senang karena aku mencintainya…ummmm, apa aku harus mencari pria lain, ah benar juga itu lebih baik untuk saat ini” gumamnya berbisik pelan. Tidak berselang lama, seseorang membuka pintu inapnya, ia menatapnya dengan seksama. Adira mengerutkan alisnya tinggi melihat pria dengan tinggi 180 cm. Tubuhnya sangat atletis, dia terlihat seperti seorang atlet basket, benar-benar tubuh yang indah.
Garis wajahnya yang lembut serta tatapan yang sangat tajam, eskpresinya begitu dingin ketika diam, pria itu terus melangkah ke arah bangsal, tempat Adira berada.
“Siapa dia. Aku belum pernah bertemu dengannya? apakah dia anak buah daddy?” batinnya mengamati setiap gerakan dari pria itu. Kini pria itu berdiri di depan Adira dengan tatapan yang sulit di mengerti, tiba-tiba seutas senyum tercetak jelas di bibirnya, senyuman yang mampu melelehkan batu es, senyuman itu seperti sebuah api yang menyala membara. Sangat tampan sampai Adira pangling melihatnya.
“Tampan sekali” tutur Adira tanpa sadar. Pria itu tertawa kecil dan Adira benar-benar terpaku dibuatnya. Pria itu kemudian duduk di kursi yang terdapat di samping bangsal menatap wajah Adira yang cantik, terlihat sangat imut, sulit baginya untuk berpaling, benar-benar mahakarya yang sempurna.
“Menarik” batinnya.
“Kenalin namaku Arsenio, aku di suruh oleh tuan Luffi untuk menjaga kamu” pria itu mengulurkan tangannya di depan Adira, gadis itu langsung berjabat tangan, tangannya sangat halus, dan ia tersenyum malu.
“Aku Adira, terima kasih sudah mau menjagaku, oh iya sekarang sudah malam, kamu istirahatlah” tuturnya tersenyum tipis.
“Tidak. Aku akan menjagamu, mulai saat ini kamu adalah tuanku dan aku adalah penjagamu” Adira terkekeh kecil mendengarnya, pria itu tampak serius sepertinya benar apa yang dia katakan.
“Aku bukan anak kecil lagi yang butuh penjaga, aku bisa menjaga diriku sendiri”
“Tetap saja, aku akan tetap menjagamu, ini adalah perintah bukan permintaan” Adira mendesah berat, mau tidak mau ia harus menerimanya, lagipula ia tidak dapat membantah perintah dari ayahnya, pria yang mendominasi. Adira menatap diam-diam pria dewasa di depannya, kisaran umur dua puluh tiga tahun, lebih tua lima tahun darinya. Ia menatapnya cukup lama, ketika pria itu asik dengan ponselnya.
“Kamu lucu”
“Hah?”
“Tidak ada hehehe” Arsenio tertawa kecil melihat wajah bingung Adira, keduanya berbincang cukup lama. Tak lama kemudian Luffi datang. Pria itu melihat kedekatan Arsenio dengan putrinya, ada rasa cemburu di hatinya, ketika melihat putrinya tertawa bahagia dengan pria lain. Bahkan kedatangannya pun tidak disadari oleh dua pasangan yang baru saja kenal. Luffi menghela napas kasar dan berdehem, membuat kedua manusia itu langsung melihat ke sumber suara.
“Kalian tampak akrab, syukurlah” tuturnya yang tidak sesuai dengan hatinya.
“Daddy dari mana?” tanya Adira dengan raut wajah serius memandang ayahnya.
“Cari angin” jawabnya datar dan berjalan menuju sofa. Ia menjatuhkan pantatnya di atas sofa dan mengotak-atik layar ponselnya, sementara Adira kembali fokus dengan Arsenio. Mereka berbincang dan tertawa bersama, Luffi menatap Arsenio dengan tatapan kesal, ia sangat tidak menyukainya, padahal dirinyalah yang memintanya untuk datang. Namun, tetap saja ada rasa tidak rela membiarkan Adira mengobrol bahagia dengan pria lain.
Kepalan tangan Luffi terlihat sangat jelas, terkepal sampai memperlihatkan urat-urat tangannya, ia menggertakan giginya dengan tatapan tajam ke arah Arsenio. Karena merasa kesal ia pun berdiri dan berjalan gabung bersama Adira dan Arsenio.
“Arsenio, kamu pulanglah. Sekarang sudah sangat malam, kamu pasti sangat lelah dengan pekerjaan kamu” ucap Luffi menatap pria di samping Adira.
“Tidak apa-apa tuan, aku senang bisa menjaga Adira di sini, lagipula kami masih ingin bercerita, bukankah begitu, Adira?” gadis itu mengangguk dengan senyum lebar menatap Arsenio lalu beralih ke arah Luffi. Luffi menatap dingin ke arah Adira karena tidak berpihak padanya.
“Besok baru kalian lanjutkan lagi, sekarang Adira harus tidur dan kamu harus segera pulang!” tegasnya dengan wajah dingin.
“Aku belum ngantuk dad, lagipula Arsenio baru saja datang, dan sekarang hari sudah sangat malam, akan sangat berbahaya jika dia pulang sekarang” jawab Adira menatap Luffi, ia memelas dan hal itu semakin membuat Luffi kesal padanya, bahkan kepalan tangannya semakin kuat tererat.
“Kota Las Vegas tidak pernah sepi, jadi tidak apa-apa baginya untuk pulang sekarang. lagipula dia adalah pria, jangan menjadi pengecut hanya karena hari sudah gelap” tegasnya tidak peduli.
“Aku tidak mau tahu, sekarang kamu pulang sekarang!” Luffi menarik tangan Arsenio dan membawanya pergi, Luffi mendorong tubuh Arsenio keluar dan ia pun menutup pintu ruang rawat inap putrinya. Adira menatap tak mengerti dengan sikap ayahnya yang sangat aneh menurutnya. Ia mengerutkan alisnya tinggi sembari menatap kedatangan Luffi.
“Jangan terlalu dekat dengannya”
“Kenapa? bukankah dia adalah suruhan daddy?” tanya Adira heran.
“Benar. Tapi, sekarang daddy yang akan menjagamu, kamu tidurlah, sekarang sudah malam, daddy juga mau istirahat” Luffi tersenyum tipis kala membelakangi Adira, ia berjalan menuju sofa dan membaringkan tubuhnya di sana. Sementara Adira tidak berkutik ia hanya mengangguk, sekalipun dilanda kebingungan terhadap sikap Luffi yang berubah-ubah.
.
.
.
.
.
Bersambung