DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)

DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)
BAB 28 Pergi Ke Perusahan



Happy Reading


.


.


.


.


.


.


Cristian terjatuh ke lantai dengan mata melotot menatap langit-langit ruang tersebut, ia menyentuh jantungnya yang berdetak lebih cepat dari normalnya, ia benar-benar terkejut merasakan bahwa dirinya baik-baik saja, sementara Adira ikut panik melihat reaksi Cristian yang berlebihan menurutnya.


Tembakan yang berasal dari pistol Adira menembus papan yang dijadikan sebagai objek tembak, Cristian melihat papan tersebut ternganga, ia kemudian bangun dan melihat ke arah Adira, memastikan bahwa gadis kecil ini kah yang melakukannya. Tembakannya tepat sasaran, dan tidak melesat sedikitpun.


“Kau yang melakukannya?” Adira mengangguk dengan senyum lebar di bibirnya, ia bahkan tertawa kecil melihat reaksi Cristian yang terlihat seperti orang bodoh.


“Kamu baru beberapa menit belajar, tapi sudah seperti ahli menembak saja, tidak mungkin kamu mempelajarinya secepat itu… katakan sejujurnya, kamu telah mempelajarinya sebelumnya, bukan?” Cristian duduk di depan Adira, gadis itu meletakan pistol di atas lantai, dan tersenyum mengangguk lalu menjawab.


“Yah benar, daddyku mengajariku cara menembak, saat itu usiaku baru menginjak lima tahun, daddyku bilang, bahwa aku harus menguasainya dan keterampilan ini akan sangat bermanfaat ke depannya”. Mulut Cristian ternganga, menatap tak percaya pada gadis kecil yang sedang berbicara, umur yang masih sangat kecil, tapi udah ahli dalam bidang menembak, dirinya bahkan di usia belasan tahu baru bisa mempelajari keterampilan menembak, ia kalah jauh dari Adira. Apakah ini yang di sebut sebagai perbedaan stratifikasi sosial.


“Hebat sekali” pujinya dalam hati.


“Lalu kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal? dan berpura-pura takut memegang senjata?” ketusnya mendesah kasar.


“Kalau aku mengatakannya, apakah om akan percaya padaku?” tanya Adira tertawa jenaka, ia yakin bahwa pria itu tidak akan percaya padanya, secara keterampilan menembak adalah sesuatu hal yang bisa dilakukan oleh orang dewasa, sementara dirinya baru berusia enam tahun, kenyataannya begitu sulit untuk dicerna. Cristian tampak berpikir, memang benar bahwa dirinya tidak akan percaya. Ia terkekeh sembari menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal.


“Benar juga”


Keduanya kemudian keluar dari ruang menembak, karena Adira telah menguasai menembak, maka Cristian tidak perlu mengajarinya lagi. Ia tiba-tiba menerima pesan dari boss besarnya, ia pun melirik ke arah Adira yang berjalan di sampingnya.


“Nona, bersiaplah. Kita akan ke perusahan” Adira berhenti dan menatap wajah Cristian, dahinya berkerut tidak mengerti kenapa ia harus ke perusahan, seakan mengerti kesulitan Adira, ia pun berkata lagi “Boss Luffi meminta nona, untuk datang ke perusahan. Bersiaplah, kita akan segera berangkat” Adira mengangguk dan tidak lagi bertanya, ia segera berjalan menuju kamarnya. Ia akan memakai gaun yang sangat cantik, untuk bertemu dengan Luffi, terutama ia akan bertemu dengan para karyawan Luffi, maka ia harus menampilkan yang terbaik.


Gaun merah polos nan sederhana, namun elegan melekat di tubuh gadis kecil yang tengah berkaca di kamarnya. Gaun tanpa lengan, bagian atas gaun terlihat sangat pas di tubuhnya, sementara bagian bawah gaun mekar seperti payung, terdapat renda hitam yang melingkar di bawah gaun, kisaran lima senti meter. Selain itu terdapat tali pinggang yang di ikat berbentuk pita. Tak lupa ia memakai bando berwarna putih dan terdapat ikon bintang pada batang bando sebelah kanan. Sementara rambutnya ia sanggul model bown bun, terlihat sederhana namun begitu menarik dengan bentuk wajahnya yang bulat.


Mata bulatnya menatap lehernya yang kosong, ia kemudian menarik laci mejanya, di sana terdapat sebuah kalung choker hitam dan segera dipakainya, kalung itu begitu cocok dan melekat indah di lehernya yang putih. Ia kemudian memakaikan sandal di kakinya, ia memilih sandal sunset beach, berwarna hitam.


Setelah memastikan kecantikannya, ia kemudian keluar dari kamarnya. Cristian berdiri dengan wajah juteknya, pria itu mengerling matanya malas, melihat gadis kecil yang baru keluar, padahal dirinya telah menunggunya satu jam, entah apa yang dilakukan anak gadis sampai selama itu.


“Kamu terlambat satu jam, kenapa lama sekali? aku hampir berjamur di sini” ketusnya dengan nada kesal, pria itu berjalan cepat meninggalkan Adira yang sedang mengejarnya.


“Maaf om. Aku tidak tahu. Ini kali pertama aku pergi ke perusahan daddy Luffi, jadi aku harus tampil cantik di depan karyawan daddy Luffi” Cristian berdiri di samping mobil Lambhorgini coklat, ia kemudian membuka pintu depan bagian kanan, dan menyuruh Adira untuk segera naik, sementara dirinya duduk di bagian kiri, dan menjadi sopir untuk mengantar Adira ke perusahan Luffi. Adira menatap sedih dan berkaca-kaca, Cristian yang tidak sengaja melihatnya, menghela napas panjang ia menarik sudut bibirnya hingga membentuk lengkungan lebar.


“Aku tidak marah, lihatlah bukankah aku sudah tersenyum” Adira tertawa kecil, wajahnya kembali ceria dan tidak lagi sedih.


“Maaf yah om, aku tidak akan mengulanginya lagi” tuturnya merasa bersalah, Cristian hanya berdehem sebagai jawaban dan fokus menyetir, menatap lurus jalan di depannya. Seperti biasa, jalan raya dipenuhi oleh kendaraan beroda empat maupun roda dua, pria itu memelankan laju mobilnya dan selalu bersabar dengan situasinya saat ini, seakan sudah sering mengalaminya, hingga membuatnya terbiasa.


“Mengambil jalan pintas, untuk menghindar dari kemacetan sama saja dengan melempar diri ke api neraka, jalan pintas adalah hal yang selalu dipikirkan oleh para pengendara, karena ketidaksabarannya, membuatnya berada di situasinya yang sulit, di sana lebih macet lagi, bahkan mungkin tidak bisa bergerak”


“Oh seperti itu”


"Heem"


Empat puluh menit berkendara di jalanan yang penuh dengan kemacetan, dan kini mereka berhasil keluar dari jalan penuh rintangan. Napas lega keluar dari hidung dua anak manusia, akhirnya dapat bernapas dengan leluasa. Kini pandangan mata Adira tertuju pada gedung raksasa yang menjulang tinggi, tidak heran lagi, sebab kota Las Vegas adalah kota dengan bangunan-bangunan tinggi, bahkan di setiap sisi jalan sekalipun.


“Ayo, kita masuk” ajak Cristian. Adira berjalan di samping Cristian, mereka menginjak lantai lobi perusahan.


Di setiap sudut dan tempat, mata Adira selalu terpukau melihatnya, bersih dan rapi. Gadis itu melihat banyak sekali orang, mereka adalah karyawan di perusahan Luffi, dilihat dari pakaian yang mereka gunakan, formal dan rapi.


“Siapa gadis kecil itu? apakah putri boss kita?” seorang karyawati berbisik pada rekan kerjanya.


“Aku tidak pernah mendengarnya menikah, apakah benar dia anaknya, jika benar begitu, siapa istrinya? siapa wanita yang berhasil menaklukan hati dingin itu?”


“Gadis kecil itu sangat cantik, dia pasti putri tuan Luffi”


“Astaga, bolehkah pria yang berjalan di samping gadis itu, menjadi suamiku, tidak. Pria simpananku saja, suamiku tetap tuan Luffi”


Begitulah komentar karyawan Luffi, Adira mendengar jelas bahwa, sebagian besar mengagumi Luffi, Adira memelototi mereka, dan mengacungkan jari tengah kepada para gadis yang ingin menjadi istri ayah angkatnya, ia sangat tidak ridho. Entah kenapa ia merasa marah mengetahuinya.


“Anak itu! kurang ajar sekali”


“Jika aku menjadi ibu tirinya, aku akan menyiksanya… cih! menyebalkan”


Cristian tersenyum melihat wajah jutek para karyawati saat Adira mengacungkan jari tengahnya, ia menyukai ketegasan Adira, sebenarnya ia merasa muak pada tingkah genit mereka.


“Aku bisa membawa Adira untuk menghajar mereka, hehehhe. Akhirnya aku mempunyai tameng untuk melindungiku" batinnya tertawa puas.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung