
Happy Reading
.
.
.
.
.
Karyawan yang terlambat itu, mulai membersihkan satu persatu toilet di setiap lantai gedung perusahan, tempat mereka bekerja. Dan kini mereka telah berada di lantai lima untuk melanjutkan bersih-bersih toilet, untung saja tidak terlalu kotor, hingga tidak banyak tenaga yang mereka habiskan atas hukuman tersebut. Perut Adira terus-terusan berbunyi keroncongan, sebagian karyawan di sampingnya meliriknya dengan tatapan iba.
“Nona Adira, pergilah ke kantin mengisi perutmu, kamu pasti lapar kan?” ujar salah satu karyawan wanita, Adira melirik lawan bicaranya dan melempar senyum lebar. Memang benar dirinya sudah sangat lapar, sekarang waktu telah menunjukan pukul sebelas siang, dan dari pagi dirinya belum makan apapun, ia benar-benar lapar, apalagi ada satu nyawa yang hidup di dalam perutnya, ia harus memikirkan nyawa yang bersemayam dalam rahimnya itu.
“Aku belum makan sejak pagi tadi, tapi… jika aku pergi makan duluan, bukankah akan terlihat tidak adil, sementara kalian masih bekerja” balasnya dengan wajah sedih. Tiga orang yang berada di dekat Adira tersenyum simpul, mereka menggeleng pelan dan menyuruh Adira untuk segera ke kantin.
“Pergilah, biarkan kami untuk mengerjakannya… takutnya kamu akan benar-benar pingsan jika tidak segera makan” sahut salah seorang pria, Adira mengangguk mengerti, ia lantas meletakan sikat kloset, dan melepas dua sarung tangan dari tangannya. Ia sangat senang, masih ada orang baik yang peduli padanya.
“Baiklah kalau begitu, aku tidak akan melupakan kebaikan kalian” ucapnya dengan penuh terima kasih. Ia lalu mengambil tas miliknya dan berjalan menuju koridor tempat lift berada. Ia berdiri di depan pintu lift, setelah memencet tombol buka, tidak berselang lama pintu lift secara otomatis terbuka lebar, dan Adira segera masuk ke dalam.
Ia menatap pantulan dirinya, di dinding lift berwarna silver, menjulurkan tangannya menyentuh bayangan wajahnya yang tampak lesuh, ia menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan, ketika mengingat ada begitu banyak sekali peristiwa di luar dugaannya. Mulai dari pembunuhan ayahnya, ia yang tinggal di kediaman seorang pria yang ternyata adalah musuhnya, lalu tiba-tiba timbul perasaan cinta yang tidak dapat dibendung, kemudian melakukan hubungan terlarang dengan pria yang dipanggilnya daddy, dan paling mengejutkan hatinya, adalah ia tengah mengandung benih dari seorang pria yang di panggilnya daddy sekaligus musuh dari ayah kandungnya.
Jika dipikir-pikir lagi, musibah yang menimpanya seperti skenario yang telah disusun sangat lama dan begitu rapi, hingga dirinya tidak bisa membedakan antara ketulusan atau sekadar main-main. Tiba-tiba pintu lift pun terbuka tepat di lantai satu, ia berjalan keluar dan tanpa sengaja menabrak seseorang yang hendak masuk ke dalam lift, pikirannya membuatnya tidak konsentrasi dan mengakibatkan kecelakaan kecil.
“Maaf, maaf….” Ucapnya melihat seseorang yang ditabraknya, seketika ia terkejut karena melihat pria di depannya adalah orang yang dikenalnya.
“Om Ali!” pekiknya dengan mata membelalak, namun pria di depannya hanya melempar senyum kecil yang memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. Pria itu membungkukkan sedikit punggungnya di hadapan Adira, itu adalah gestur tubuh untuk memberi hormat pada tuannya. Tiba-tiba Ali menarik tangan Adira ke tempat sepi. Adira mengikuti langkah pria yang dipanggilnya om.
“Apa yang nona lakukan di sini? Apakah anda bekerja di perusahaan Luffi? Apakah pria itu menindasmu?” Cercahnya dengan beberapa pertanyaan, terlihat raut wajah penuh khawatir dari pria itu, bahkan Ali memutar tubuh Adira untuk mengecek apakah ada luka di tubuh majikannya. Adira meraih tangan Ali, keduanya saling menatap satu salam lain, gadis itu melempar senyum tipis dibibirnya.
“Aku baik-baik saja, om tidak perlu khawatir karena Luffi selalu memperlakukanku dengan baik… oh iya, mulai sekarang aku kerja di sini, atas kemauanku sendiri, aku bosan jika di rumah terus setidaknya aku memiliki pengalaman bekerja, jika sewaktu-waktu aku membutuhkan pekerjaan, dan aku bisa menggunakan kemampuanku ini, untuk melamar kerja di perusahaan lain.” Jelasnya panjang kali lebar. “Oh iya, om ada urusan apa datang ke perusahan daddy Luffi?” tanyanya mengerutkan kedua alisnya.
“Perusahaan tempat saya bekerja menjalin mitra kerja dengan perusahaan milik Luffi, dan sekarang saya datang untuk membahas beberapa proyek untuk dibangun di beberapa tempat di kota Las Vegas” Adira mengangguk pelan tanda mengerti, ia tersenyum simpul merasa sedikit bahagia bisa bertemu dengan pria di depannya, sebab hanya dialah sanak saudaranya di dunia ini, sekalipun bukan berasal dari darah yang sama, namun ia sudah menganggap pria di depannya adalah keluarganya.
“Apa yang sedang kalian lakukan di sini? Dan kamu Adira! Bukannya bekerja malah asik pacaran dengan pria, apa saya harus menambahkan beberapa pekerjaan lagi untukmu, agar kamu tidak sesantai ini?!” Tegasnya dengan tatapan marah. Pria itu adalah Luffi, ia langsung menarik paksa Adira meninggalkan Ali yang sedang menatapnya penuh emosi, terlihat dari kepalan tangannya yang erat sampai menimbulkan urat-urat tangan di atas permukaan kulitnya.
Sementara itu, di dalam lift khusus Ceo dan sekretaris Ceo, ada dua orang anak manusia yang saling beradu pandang, kilatan amarah bercampur menjadi satu, pria dengan setelan jas formal mendorong tubuh Adira hingga membentur dinding. Adira tidak dapat bergerak karena tubuh Luffi yang telah menguncinya, belum lagi lantai yang dituju adalah lantai terakhir. Ia menelan ludahnya kasar, melihat tatapan marah di mata Luffi.
“Siapa pria tadi? Apakah dia selingkuhanmu? Atau dia adalah tempat terakhir pelarianmu, jangan lupa kamu adalah bekasku, takutnya jika pria tadi mengetahui betapa murahannya dirimu, apakah dia masih ingin menidurimu, hmmm?” Bisik Luffi di telinga Adira, gadis itu mengepalkan tangannya mendengar kalimat yang merendahkannya.
“Tidak ada urusannya dengan tuan, lagipula saya tidak memiliki hubungan apapun dengan pria itu, saya baru pertama kali bertemu dengannya, dan itu pun karena ketidaksengajaan” jawabnya berusaha melepaskan diri dari genggaman Luffi, pria itu tertawa kecil dan semakin mengeratkan genggamannya di pergelangan tangan Adira, walau sang empu telah meringis kesakitan, tak sedikitpun empati Luffi tunjukan.
“Gugurkan janin dalam kandunganmu, itu akan memudahkanmu untuk menggaet pria di luar sana, apalagi kamu masih muda dan begitu seksi jika tanpa sehelai pakaian, aku bisa membantumu melakukannya, tenang saja itu semua gratis”
PLAK
Adira mendorong tubuh Luffi dan menampar wajah Luffi, gadis itu tidak bisa mengendalikan amarahnya terhadap pria di depannya, ia tidak tahu mulut pria itu begitu tajam seperti silet. Merendahkan dirinya tidaklah masalah, namun jika menyangkut nyawa anaknya, ia akan melakukan apapun bahkan jika harus menjadi seorang malaikat pencabut nyawa.
“Jaga ucapanmu! Sekalipun kamu tidak menginginkan bayi ini, jangan pernah menyuruhku untuk menggugurkannya, aku bisa saja menuruti semua permintaanmu tapi jangan pernah melakukan sesuatu yang bisa mengancam anakku, jika tidak ingin kedudukan serta nyawamu kuhancurkan!” Tegasnya dengan tatapan dingin, berdiri di depan Luffi yang tidak berkutik. Adira yang merasa sesak di depan Luffi segera memencet tombol bukan, dan pintu lift tiba-tiba terbuka. Adira segera keluar meninggalkan Luffi yang masih memegang pipinya yang panas. Sementara, pintu kembali tertutup membawa Luffi ke lantai atas.
Di lantai lima belas, Adira berlari menuju toilet wanita, mengunci pintu dan terduduk dengan tangisan pilu, memukul dadanya yang masih terasa sesak. Ia meluapkan amarahnya melalui tangisan, merasa kecewa atas sikap prianya yang sungguh keterlaluan.
“Luffi berengsek! Hiks-hiks, kamu berengsek, bajingan! Aku tidak akan memaafkanmu bajingan, sialan, akkkkkkkh!!”
.
.
.
.
.
Bersambung