DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)

DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)
BAB 69 Tidak Peduli



Happy Reading


.


.


.


.


Setelah puas menangis, Adira keluar dari toilet dan membasuh wajahnya agar tidak terlihat seperti sedang menangis. Ia lalu menyimpan tasnya di loker penyimpanan barang untuk para karyawan. Di setiap lantai memiliki loker penyimpanan barang untuk pegawai yang bekerja di lantai tersebut. Adira mulai membersihkan toilet di lantai sepuluh, walau perutnya sangat lapar, namun ia sudah tidak berselera makan, ia mulai menyikat kloset kemudian lantai toilet. Hingga waktu jam siang tiba, ia menyelesaikan pekerjaannya membersihkan toilet wanita di lantai sepuluh, dirinya masih fokus menyelesaikan pekerjaannya, agar ketika tiba waktu pulang, ia tidak terlambat, mengingat begitu banyak toilet yang harus ia bersihkan, jadi ia memutuskan untuk menyelesaikannya sebelum waktu pulang tiba.


“Aku lebih memilih bertarung di medan perang daripada mengurus pekerjaan seperti ini, sungguh melelahkan sekali… sepertinya pekerjaan ini tidak semua orang bisa melakukannya dengan baik.” Jawabnya sembari menyeka keringat di dahinya. Ia melihat ruangan toilet wanita sudah bersih, menarik sudut bibirnya tersenyum kecil melihat pekerjaan pertama yang ia lakukan selesai dengan cukup sempurna.


“Saatnya membersihkan toilet di lantai dua belas, kamu harus semangat, pekerjaan seperti ini, jangan sampai membuatmu menyerah, aku masih membutuhkan Luffi untuk menghidupi bayi dalam kandunganku” ucapnya bergumam pelan. Adira mulai membereskan peralatan kebersihan, dan menempatkannya di tempatnya semula. Ia keluar dari toilet menuju lift, ia akan menuju ke lantai dua belas untuk membersihkan toilet di sana. Ia melewati lantai sebelas, agar rekan setimnya dapat membersihkannya.


Waktu terus berjalan, dan Adira masih berkutat dengan hukuman yang diberikan Luffi, atas ketidak disipilinannya, membersihkan toilet bahkan sampai melupakan kondisi tubuhnya, dan kini hari sudah sore, para karyawan sudah pulang dan tersisa dirinya di perusahan tersebut. Karena begitu asik dengan pekerjaannya, sampai melupakan bahwa hari telah malam. Sementara dirinya berada di lantai dua puluh delapan, tersisa satu lantai di mana ruangan pemimpin perusahan berada. Namun di sana adalah lantai khusus, yang sering dibersihkan oleh pegawai pilihan.


“Aiiisshh, aku lupa jika aku belum makan apapun sejak tadi pagi, pantas saja aku begitu lapar, lebih baik aku segera pulang, kurasa tubuhku sangat lemas sekarang” Adira bergegas menuju lift, suasana tampak gelap, tidak ada lampu yang menyala, ia buru-buru masuk ke dalam lift dan segera memencet tombol angka satu. Perutnya terus berbunyi keroncongan, wajar saja jika itu terjadi kepada orang yang lapar, Adira tertawa kecil dan mengelus perut ratanya itu.


“Sayang, maafkan mommy yah… kamu pasti sangat lapar sekarang, pekerjaan mommy hari ini sangat banyak, dan mommy tidak sempat makan, nanti ketika di luar mommy akan memberikanmu makanan yang paling enak” tuturnya berbicara kepada bayinya, walau sang bayi mungkin belum mendengar apapun yang dikatakan sang ibu, namun ia akan tetap berbicara pada bayinya itu.


Lift itu pun berhenti di lantai satu, ia langsung bergegas keluar. Suasana di luar tampak sepi, dengan lampu remang-remang di area lobi perusahan. Adira bergegas menuju parkiran motor, yang tersisa motornya saja. Ketika tiba di lokasi, ia menepuk jidatnya kala melupakan barang pentingnya, ia berdiri sembari berkacak pinggang, benar-benar sial.


“Kenapa aku harus melupakan barang sepenting itu? Astaga, sungguh hari yang sial” umpatnya merasa kesal dengan situasinya yang sekarang. Masalahnya kunci motornya berada di dalam tas yang entah di mana ia simpan, ia tidak ingat di lantai berapa dirinya menyimpan tas miliknya itu. Tiba-tiba ia merasa kepalanya pusing, terduduk di samping motornya sambil menyentuh kepalanya yang cenat-cenut. Terdengar ringisan kecil dari bibirnya, merasakan sakit kepala juga perutnya secara bersamaan. Ia terduduk di atas aspal dengan rasa sakit yang belum pernah ia rasakan, benar-benar menyiksanya.


“Akkh, sshhh… sakit sekali. Kenapa harus datang di situasi yang tidak tepat, benar-benar sial” Ia meringis memegangi perutnya, juga kepalanya yang membuat pandangannya menjadi tidak stabil. Sementara itu, di tempat lain… tepatnya di Mansion milik Luffi, pria itu sedang duduk di meja makan seorang diri. Menikmati hidangan steak di atas meja dengan pandangan serius. Tiba-tiba seseorang datang menghampirinya, dan berdiri di sampingnya.


“Maaf tuan, nona Adira belum datang, apa saya perlu mencarinya?” Luffi masih terlihat santai dengan ekspresi datar, mulutnya bergerak dengan ritme pelan, mengunyah makanan di mulutnya. Luffi lalu mengalihkan pandangannya ke arah pria yang merupakan bawahannya, dia adalah Cristian.


“Jika tidak ada maka carilah dia, sepertinya dia masih di perusahan” jawabnya dengan nada pelan dengan ekspresi santai, Cristian sedikit terkejut melihat reaksi Luffi yang tidak tampak biasanya. Pasalnya, jika terjadi sesuatu pada Adira pria itu akan langsung mengamuk, seperti orang kesetanan, namun apa yang dilihat Cristian barusan, seperti dua orang yang berbeda. Benar-benar membuatnya sulit memahami situasinya yang sekarang.


“Kau terlihat begitu mengkhawatirkannya, jangan lupa dia adalah musuh kita, Cristian!” jelasnya penuh tekanan. Cristian melebarkan matanya, ia seketika menunduk meminta maaf. Otaknya terus berpikir, tidak mengerti dengan situasinya, sebab reaksi Luffi yang tidak sedikitpun punya kepedulian terhadap Adira.


“Apakah terjadi sesuatu dengan mereka? Apakah mereka berdua bertengkar? Kenapa sikap boss Luffi begitu acuh tak acuh pada nona Adira?” bisiknya dalam hati.


“Maafkan saya boss”


“Carilah dia ke perusahan, jika kamu mengkhawatirkannya” setelah mengatakan kalimat tersebut, Luffi berdiri meninggalkan Cristian yang masih dengan posisi membungkuk. Pria itu menuju ruang tengah dan menjatuhkan pantatnya di atas kursi. Terlihat sebuah tablet di atas meja, ia meraihnya. Duduk dengan posisi kaki menyilang dengan mengotak-atik benda persegi di tangannya. Sementara itu, Cristian bergegas turun ke Basement, dan mengendarai Toyota GR Supra berwarna merah.


“Bukankah boss sangat menyayangi nona Adira, kenapa sekarang seperti orang asing, bahkan dari sorot mata boss tak sedikitpun rasa khawatir terlihat di matanya… apakah nona Adira melakukan sesuatu yang membuat boss besar, marah?” gumam Cristian sambil mengontrol mobil yang dinaikinya dengan setir kemudi di tangannya.


Sementara itu di sebuah ruangan luas dengan fasilitas, beberapa kursi sofa terletak di tengah ruangan, serta patung wanita sebagai hiasan di sudut ruangan dengan beberapa porselen mahal. Terlihat seorang pria sedang serius berkutat dengan benda persegi ditangannya, melihat grafik hasil penjualan produk-produk yang dipasarkan dibeberapa pasar internasional. Sesekali dirinya melihat arloji di pergelangan tangannya, waktu telah menunjukan pukul setengah Sembilan, sesekali pandangannya tertuju ke arah pintu masuk Mansion. Tiba-tiba terlihat siluet seorang pria berjalan dengan tergesa-gesa.


“Mohon maaf boss, nona Adira pingsan dan Cristian langsung membawanya ke rumah sakit” Wajah Luffi terlihat terkejut, namun ia langsung menetralkan keterkejutannya, ia hanya mengangguk pelan membuat pria yang berdiri sedikit keheranan.


“Oh, kamu urus saja dia… mulai sekarang kamu harus memata-matainya, jangan lewatkan satupun informasi tentangnya. Mulai sekarang perlakukan dia seperti musuh, mengerti?”


“Ba-baik boss” Jawabnya sedikit ragu. Dia adalah Billi, dirinya mendapat informasi dari Cristian dan saat ini rekannya sedang berada di rumah sakit, Cristian meminta Billi untuk memberitahu bossnya tentang keadaan Adira sebab, ketika Cristian menelepon sang boss, sang empu tidak mengangkatnya.


“Apakah boss serius dengan ucapannya? Ini bukan jebakan untukku, bukan?” Ucapnya dalam benaknya.


.


.


.


.


Bersambung