
Happy Reading
.
.
.
.
.
Luffi telah berada di swalayan yang berlokasi tak jauh dari rumah sakit. Ia berjalan menyusuri setiap rak yang menyimpan semua produk impor dan produk lokal. Matanya mengamati setiap produk di depan matanya, mencari barang yang dibutuhka Adira. bibirnya terus bergumam menyebut nama merek yang akan di beli. Tak sengaja ia melihat sekumpulan gadis remaja sedang memilih produk yang ia cari, ia kemudian menghampirinya tanpa sungkan sedikitpun.
Merasa bodoh amat untuk saat ini, adalah sesuatu yang sangat ia perlukan. Wajahnya seperti tertumpuk tanah hingga tak sedikitpun rasa malu ia perlihatkan di situasinya yang sekarang. Sejujurnya ia merasa canggung, apalagi sekumpulan gadis remaja tengah menatap aneh padanya, hanya karena dirinya berdiri di depan produk yang dipakai wanita tiap bulannya.
“Ekheem!” dehemnya sambil menatap datar wajah lima gadis remaja di dekatnya, ia kemudian melihat-lihat merek pembalut yang dipesan oleh Adira.
“Wah, tampan sekali! Siapa dia, dan apakah dia membelinya untuk pacarnya?” bisik seorang gadis remaja yang memakai kemeja kotak-kotak. Luffi dapat mendengar dengan jelas, entah apakah mereka sengaja atau tidak, namun ia tidak peduli.
“Sepertinya begitu, oh Tuhan. Sisakan satu makhlukmu yang seperti itu untukku”
“Aku juga mau, memiliki pria yang perhatian sepertia dia… jika aku kedatangan tamu nanti, dia akan membelinya untukku, aku tidak perlu repot-repot lagi seperti sekarang ini”
“Cih! sekalipun dia tampan tapi sepertinya dia setengah baya tahu” bisik salah satu gadis remaja yang begitu dekat dengan Luffi. Pria itu menatap sekilas mereka ber-lima kemudian berjalan melewatinya setelah mengambil dua bungkus pembalut merek Laurier Simguard.
“Oh my God! Tatapannya sungguh menggoda, seperti magnet yang sedang menarikku” pekik salah satu gadis tersebut, Luffi hanya berdecak dan terus berjalan menuju kasir. Untung saja tidak ada antrian ketika ia membawa barang ke kasir, hingga tidak membuatnya menunggu lama. Terutama, Adira sudah sangat membutuhkannya.
“Apa ada yang lain lagi, tuan?”
“Tidak” seorang kasir kemudian memasukan belanjaan Luffi ke dalam kantong plastik berwarna hitam, setelah itu seorang kasir mulai mengotak-atik komputer di depannya.
“Total semuanya 50 ribu yah” Luffi merogoh saku belakang celananya, untuk mengambil dompet, setelah itu ia membuka dompetnya dan mengambil lima dolar di dalam dompetnya, dan diserahkan kepada kasir. Kasir wanita itu pun menerima selembar uang dolar dari tangan Luffi.
“Terima kasih telah berbelanja di toko kami, jangan lupa untuk mampir kembali” tuturnya lembut dan menyerahkan uang kembalian kepada Luffi. Selepas membayar, Luffi keluar dari swalayan dan mulai menyeberangi jalan raya menuju halaman rumah sakit. Di tangannya menenteng kantong plastik hitam, kaki jenjangnya memasuki lantai dasar rumah sakit dan menuju lift berada, yang tak jauh dari pintu masuk utama.
Kini, ia telah berada di dalam lift, dan menekan tombol angka 3, lift tersebut mulai bergerak naik, ia berdiri paling depan, dengan empat wanita di dalam lift tersebut. Tidak butuh waktu lama, lift pun berhenti di lantai 3 dan pintunya perlahan-lahan terbuka lebar. Luffi bergegas keluar dan berjalan menuju koridor di mana ruang inap Adira berada.
Tepat di depan pintu ruang VIP A ia membukanya dan masuk ke dalam. Di dalam sana, terlihat Adira sedang berdiri bersandar di dinding, melihat hal tersebut, buru-buru Luffi menghampirinya.
“Kenapa kau berdiri, ayo duduk dulu, kalau kaki kamu tambah parah gimana?” tukas Luffi hendak memapah Adira menuju ranjangnya, namun gadis itu menolak. Sebab celananya benar-benar basah sekarang, ia tidak mau jika darah haidnya mengotori seprai yang telah di ganti oleh suster atas perintah Luffi, oleh sebabnya ia membiarkan dirinya tetap berdiri sampai sang daddy datang.
“Aku masih kuat kok, daddy tidak perlu khawatir, putrimu sangat tangguh, hehehe” jawabnya tersenyum lebar. Luffi mengangguk pelan, walau begitu ia tetap sedikit khawatir pada putrinya. Wajahnya yang pucat membuatnya ingin sekali membantu Adira, namun ia tidak berkuasa sebab putrinya pasti tidak akan mengizinkannya. Padahal yang ia lakukan murni untuk menolong bukan karena sesuatu hal lainnya.
“Astaga, daddy!” pekiknya menepuk jidatnya pelan, sembari menatap ke arah Luffi dengan pandangan lelah. Ia baru sadar bahwa dirinya membutuhkan pakaian ganti, tentu dalaman adalah sesuatu yang sangat penting, ia benar-benar membutuhkan dalaman, namun ia lupa untuk memberitahu Luffi.
“Daddy sudah memberitahu Jesika untuk membawa pakaian serta dalaman untukmu” tutur Luffi seakan mengerti kecemasan Adira. Gadis itu tersenyum kecil, sekalipun tersirat rasa malu di wajahnya. Tidak memiliki ibu sejak kecil bahkan hingga ia dewasa, yang hanya ia andalkan adalah daddynya sendiri. Mau tidak mau ia harus meminta bantuan kepada seorang pria, tidak ada teman wanita dalam hidupnya, oleh sebabnya ia harus membiasakan diri dengan lingkungan yang di kelilingi oleh ribuan pria-pria tampan.
“Daddyku memang yang terbaik” Adira memeluk tubuh kekar Luffi, menyandarkan kepalanya di dada bidang milik pria dewasa itu. Luffi membalas pelukan Adira mengelus lembut rambut Putri angkatnya. Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu, Luffi yang ingin melepas pelukan, tak diizinkan oleh Adira, gadis itu semakin mempererat pelukannya membuat Luffi hanya bisa pasrah.
Terdengar suara pintu terbuka, suara ketukan hells yang berpijak di atas lantai terdengar cukup jelas di kedua telinga orang yang sedang berpelukan, Luffi tahu itu adalah suara hells bawahannya.
“Mohon maaf tuan, ini pesanan anda” benar saja, wanita itu adalah Jesika. sekretaris kedua Luffi, wanita itu kemudian meletakan tote bag coklat di atas kasur, dan segera keluar dari ruangan tersebut.
“Ayo segera ganti pakaian, setelah ini daddy akan mengajakmu keluar” Adira melepas pelukannya dan tersenyum lebar menampilkan sejumlah deretan giginya yang putih rapi. Adira kemudian mengambil tote bag di atas kasur, lalu berjalan menuju bilik kamar mandi. Sementara itu, Luffi menjatuhkan pantatnya di atas sofa dan membuka ponselnya.
Sebuah gambar tiket yang di kirim oleh sekretaris Han terpampang jelas di layar ponselnya, tiba-tiba Luffi tersenyum puas melihat nama tiket pesawat atas nama Arsenio.
“Good. Aku akan menaikkan gajimu bulan ini menjadi tiga kali lipat” kalimat itu tertulis jelas di layar ponselnya yang akan di kirim kepada sekretaris Han. Ia memberikannya bonus karena merasa senang, pria yang mengambil posisinya di hati Adira akan segera berangkat malam ini juga, entah apa yang harus ia lakukan untuk mengekspresikan kebahagiannya itu.
“Akhirnya, tidak ada lagi serangga yang harus kuwaspadai. Hatiku lega sekali” gumamnya sembari melirik pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Sudah dua puluh menit Adira di dalam sana, namun tak ada pergerakan sama sekali yang terdengar olehnya, membuatnya sangat khawatir. Luffi kemudian bangkit dari duduknya, berjalan menuju pintu kamar mandi.
“Sepi sekali di dalam, apa terjadi sesuatu padanya?” Luffi hendak memegang gagang pintu toilet, namun bersamaan itu, seseorang dari dalam lebih dulu membukanya.
“Aku sudah selesai, ayo kita jalan-jalan sekarang!” serunya dengan style yang berbeda dari biasanya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung