
Happy Reading
.
.
.
.
.
Cahaya surya bersinar menerangi kota Las Vegas, kota yang dijuluki sebagai kota Dosa. Malam maupun siang tidak pernah menjadikan kota itu tenang, selalu ramai dengan segala aktivitasnya. Di sebuah Mansion yang terletak jauh dari pemukiman warga, bahkan berada di lokasi yang dikelilingi oleh hutan. Di sekitarnya pohon-pohon menjulang tinggi bertebaran di sana.
Seorang pria dengan setelan jas lengkap berwarna navy, sedang mengolesi selai kacang almond di atas permukaan roti tawar, kemudian mengambil selembar roti yang lain dan menempelkannya di atas roti yang telah di olesi selai. Pria itu meletakan di atas piring seorang gadis kecil.
“Makanlah yang banyak. Hari ini kamu sudah mulai belajar, guru kamu sebentar lagi akan datang”
“Siap Dad” ucapnya dengan tangan memberi hormat pada pria di depannya. Pria itu tersenyum simpul dan mengangguk pelan. Ayah dan anak itu kemudian sarapan dengan roti tawar dan susu sebagai pelengkapnya. Adira sangat menikmati roti di mulutnya, rasanya begitu lezat dari sebelumnya, ia bahkan tidak berhenti untuk memasukannya terus ke dalam mulutnya.
“Makanlah dengan pelan, apa kamu selapar itu? kamu akan tersedak jika tidak hati-hati” tegur Luffi ketika melihat cara makan Adira yang tak lazim, gadis itu terkekeh dan tidak menanggapinya.
“Roti ini sangat lezat dari biasanya, mungkin karena ada bekas tangan daddy, sehingga rotinya semakin enak… tanganku tidak bisa berhenti untuk memasukkannya ke dalam mulutku” jawabnya setelah menelan makanan di mulutnya. Luffi menganga dan melihat tangannya, apakah sekarang ia memiliki kekuatan sebagai seorang chef, tidak mungkin hanya semalam ia membuat makanan seenak ini, lagipula ia hanya perlu mengolesinya dengan selai… itu tidak ada bedanya dengan yang lain.
“Anak ini sangat pintar memuji orang lain, lidahnya begitu manis sampai aku sangat tersentuh mendengarnya” batinnya tertawa kecil. Ia kemudian melanjutkan sarapannya begitupun Adira. Kini ayah dan anak itu sudah selesai dengan kegiatan makannya, mereka beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruang tengah. Hari ini Luffi pergi ke perusahannya, dan Adira berjalan menemani Luffi sampai ke teras Mansion.
“Daddy, semangat mencari uang yah, aku begitu boros loh” tuturnya nyengir kuda.
“Iya, tenang saja… daddymu ini adalah pria terkaya di kota ini, dan kamu akan sangat kesulitan menghabiskan harta daddymu” balasan Luffi membuat dua anggota yang berjaga di depan Mansion terkejut. Pasalnya boss mereka belum menikah dan mereka sangat tahu betul, bahwa Adira adalah anak Mario, sejak kapan boss mereka mengangkat seorang putri, dan lebih mengejutkan, adalah Adira yang merupakan putri musuhnya. Kedua pria dengan tubuh kekar itu, saling melirik satu sama lain, lalu menatap lurus ke depan.
Mereka kembali melanjutkan tugasnya, seakan tuli dan buta pada sekitar, pura-pura tidak mendengar percakapan boss dan nona kecil itu, sekalipun mereka sangat penasaran, namun jika hal tersebut berada di luar daripada pekerjaan mereka, maka mereka akan acuh tak acuh.
Kali ini, sekretaris Han menjadi sopir Luffi, jika dulu Luffi ingin mengendarai sendiri mobil ke perusahan, maka tidak hari ini, ia meminta Han setiap hari untuk menjemput dan mengantarnya, sebagai seorang bawahan, Han mengiyakan perintah boss besarnya itu. Sekarang Luffi naik ke dalam mobil Buggati biru, sementara Adira menatap mobil yang membawa ayah angkatnya. Senyum terus terukir di bibir kecilnya, ia kemudian kembali masuk ke dalam setelah tak lagi melihat mobil yang membawa ayah angkatnya itu.
Tidak lama kemudian Cristian datang bersama dengan seorang pria yang seumuran dengannya, pria asing itu menenteng sebuah tas berwarna hitam. Adira melirik dua pria yang datang ke arahnya, ia yakin bahwa pria asing tersebut adalah gurunya, sebab Luffi telah memberitahunya ketika di meja makan saat sarapan pagi.
“Selamat pagi nona” sapa Cristian saat tiba di depan Adira.
“Pagi om”
“Kenalin, dia adalah guru kamu di sini, namanya adalah tuan Adam” jelas Cristian memperkenalkan pria di sampingnya kepada Adira, gadis itu melempar senyum tipis pada pria yang di panggil guru.
“Halo guru Adam, namaku Adira” pria bernama Adam mengangguk dan tersenyum balik padanya. Hari ini Adira mulai belajar, ia akan di ajari tentang pengetahuan dasar seperti membaca dan menulis, sekalipun dirinya sudah lancar berbicara di usianya yang masih kecil, namun ia tetap mendapatkan pendidikan tentang bagaimana belajar membaca. Jika biasanya anak-anak yang berusia 6 tahun, mereka belum di ajari bagaimana membaca, menulis ataupun hal lainnya, maka tidak dengan Adira, gadis itu akan di ajarkan tentang pengetahuan umum lainnya sebagaimana yang dipelajari oleh orang-orang dewasa. Namun, untuk hari ini, Adam akan memberikan permainan sederhana sebagai awal mula pembelajaran.
Luffi telah memikirkan pendidikan apa saja yang akan dipelajari oleh putri angkatnya, bukan hanya pengetahuan seperti yang diajarkan di sekolah, melainkan pengetahuan kehidupan seperti ilmu bela diri, bagaimana menggunakan senjata, dan cara menembak yang benar, baik dari jarak dekat maupun jarak jauh.
Ruang yang akan digunakan sebagai tempat belajar Adira, adalah ruang bermain. Kini Adam, Cristian dan Adira telah berada di sana. Adam, pria yang memiliki paras turki dengan rambut lebat di dagunya mengeluarkan sebuah plastik berisi potongan gambar. Ketiga anak manusia itu duduk di atas karpet berkarakter.
Adira mulai memasang puzzle batang di depannya, gadis itu begitu serius, setiap gerakan yang dilakukan Adira, Adam mencatatnya. Sementara Cristian ia juga mengamati setiap gerakan kecil Adira, diam-diam tersenyum lebar, membayangkan bagaimana jika ia sedang bermain bersama anaknya, dan mengajarinya dan menjelaskan, sebagaimana yang dilakukan Adam pada Adira.
Sebelum mulai memasang, Adam memberi contoh, memasang beberapa puzzle yang cocok dengan potongan puzzle lainnya, Adira mengangguk mengerti. Puzzle yang dipasang oleh Adam di serahkan kepada Adira untuk menyelesaikannya. Mata gadis itu begitu teliti dan bergerak mencari potongan-potongan puzzle yang cocok, tangannya mulai mencari dan mengambil potongan puzzle dan memasangnya. Ia tersenyum lebar kala satu potongan puzzle ia dapatkan. Tersisa lima puluh potongan puzzle lagi.
Butuh tiga puluh menit bagi Adira menyelesaikan tugas yang diberikan Adam padanya, ia sangat lelah sehingga ia harus merenggangkan otot-otot tangannya.
Setelah bersama Adam, kini Adira mulai belajar menembak. Kali ini Cristian yang menjadi guru Adira, sementara Adam telah pulang di antar oleh salah satu anggota Talaskar.
Cristian membawa Adira di salah satu ruangan pelatihan untuk menembak. Adira berdiri dan dihadapkan dengan salah satu objek papan putih berbentuk lingkaran, dan terdapat lingkaran kecil hitam pada bagian tengah papan. Cristian kemudian memasang headset yang berfungsi sebagai pelindung telinga dari suara tembakan yang dihasilkan. Selain itu Cristian memberikan kacamata tembak. Kacamata tersebut berfungsi agar objek yang ditembak terlihat sangat jelas, sementara objek lain yang tidak penting akan di blokir oleh lensa pada kacamata yang dipakai Adira.
Kini, Adira berdiri dengan memegang pistol berkaliber rendah, tangannya gemetar, dan menatap ke arah Cristian, seakan tahu kesulitan gadis kecil itu, Cristian berjongkok di belakang Adira, dan menyentuh tangan Adira.
“Jangan takut, aku akan mengajarimu cara menembak yang benar” ucapnya. Cristian menuntun kedua tangan Adira ke depan, jari telunjuk Adira berada pada pelatuk pistol. Tubuh Adira berdiri tegak, tepat di depan objeknya.
“Fokuskan mata kamu pada pistolnya, dan lihatlah sasaran yang akan kamu tembak, lingkaran kecil itu adalah sasarannya, hal yang paling penting dalam menembak adalah konsentrasi, kamu tidak boleh merasa cemas apalagi terburu-buru, bersabarlah dalam menarik pelatuk, dan yakinlah bahwa kamu sudah tepat sasaran. Jika kamu cemas dan terburu-buru, maka ketika kamu menarik pelatuk untuk menembak, maka tembakanmu akan menjadi tembakan buruk” jelasnya penuh kelembutan.
“Baik, om. Aku mengerti” Adira mulai fokus, dengan arahan dari Cristian ia mencoba menarik pelatuk, melenturkan ketegangan otot pada tangannya dan lebih menikmati kegiatan yang akan dia lakukan. Perlahan-lahan telunjuknya mulai menarik pelatuk dan….
DOR
Tembakan itu mengenai bibir titik hitam, Cristian tersenyum puas. Sekalipun tidak mengenai sasaran, namun itu adalah hasil yang bagus bagi pemula seperti Adira.
“Good job, nona (Kerja bagus)”
“Yeaaahh, aku bisa melakukannya, aku ingin mencobanya dan menembak om, apakah boleh?” Cristian terbelalak, saat pistol di tangan Adira ia arahkan di depan Cristian, pria itu melotot, namun gadis itu telah menarik pelatuknya dan….
DOR
DOR
.
.
.
.
.
.
Bersambung