DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)

DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)
BAB 25 Interogasi



Happy Reading


.


.


.


.


.


.


Luffi dan lainnya telah tiba di halaman luas Mansion, ia segera turun dari mobil dan berjalan mengitari pintu mobil sebelah kanan. Membukanya dan menggendong Adira dalam pelukannya. Gadis itu tertidur di pangkuan Luffi, ketika perjalanan pulang, sementara darah yang mengalir dari luka di pipinya sudah dibersihkan, dan lukanya telah di obati menggunakan alkohol untuk sementara waktu, guna mencegah terjadinya infeksi pada luka.


Luffi berjalan masuk ke dalam dan menuju kamar Adira, dengan penuh hati-hati, ia membaringkan tubuh kecil itu di atas kasur berwarna merah muda, Luffi menatap dalam tubuh lemah yang tertidur pulas, ia berdecak dan menggeleng. Situasi sesulit ini masih bisa membuat Adira nyaman, bahkan tertidur tidak sadarkan diri. Tiba-tiba seutas senyum terbit di bibirnya, ia terkejut dan langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar.


Luffi perlahan-lahan duduk di bibir kasur, dan mulai mencopot sepatu Adira, kemudian berdiri dan berjalan menuju lemari di mana pakaian Adira tersimpan di dalam. Luffi menarik salah satu baju dress pendek berwarna hitam, selain itu mengambil sebuah kotak obat yang berada di dalam boks yang tergantung di dinding. Ia kembali ke Adira, pria itu mulai membuka baju yang di pakai Gadis kecil itu, dan menggantinya dengan yang bersih.


Luffi seperti seorang ayah yang merawat putri kecilnya, ia mengambil beberapa tisu basah dan melapnya di betis dan tangan Adira yang penuh debu itu, selepas itu ia menempelkan handsplast pada luka Adira yang terdapat di kaki dan tangannya. Sementara luka di pipinya ia mengoleskan salep luka agar segera kering.


Setelah memastikan bahwa Adira baik-baik saja, Luffi berjalan keluar dari kamar Adira, dan berjalan menuju dapur, ia membuka salah satu pintu yang berada di dapur, lebih tepatnya di samping kulkas, rupanya itu adalah pintu yang menghubungkan antara Basement dengan bangunan utama. Ia menuruni setiap anak tangga, dan di lantai bawah terdapat dua pintu di sana, ia membuka pintu berwarna merah yang merupakan ruang bawah tanah, tempat di mana ia sering menyiksa dan membunuh musuhnya, sementara pintu berwarna hijau adalah parkir basement mobilnya.


Suasana di dalam ruangan begitu hening, cahayanya yang temaram menambah kesan menyeramkan, ruangan yang lumayan luas itu berisi benda-benda tajam untuk menyiksa para musuhnya. Di ruangan tersebut ada sebuah ruangan lain, terdapat sebuah bangsal berukuran dewasa, bangsal tersebut digunakan untuk memutilasi tubuh korban, ia telah menyiapkan semuanya.


Di tengah ruangan, ada seorang pria yang terikat di kursi, dengan cahaya lampu menyorot ke arahnya, selain itu ada empat anggota Talaskar, termasuk Billi di antaranya. Melihat kedatangan Luffi, empat pria itu segera menundukkan kepalanya, memberi hormat kepada boss besarnya itu. Billi memberikan kursi kepada Luffi, dan pria itu langsung menjatuhkan bokongnya di atas kursi kayu.


“Bangunkan bedebah itu!” titahnya menyilangkan kakinya, tatapannya begitu dingin pada pria yang telah menyakiti Adira, tangannya terkepal erat kala kembali mengingat kondisi Adira yang menyedihkan.


BYUUUURRR


Salah seorang pria menyiram air di wajah pria gondrong itu, pria itu gelagapan dan terkejut bangun. Ia terbatuk-batuk dan berusaha menggerakan tangannya untuk menyeka air di wajahnya, namun ketika ia benar-benar sadar, ia terkejut mendapati tubuhnya di ikat dengan tali nilon. Ia mengangkat kepalanya dan melihat di sekelilinya, lima pria sedang menatapnya dengan tatapan membunuh, terlihat seperti seseorang yang sedang haus darah.


“Siapa yang memerintahmu menculik putriku?” Luffi bertanya kepada pria gondrong, namun pria itu hanya tersenyum sinis.


“Saya tidak akan memberitahumu, siapa yang menyuruhku! Cih” jawabnya angkuh, Luffi tertawa kecil membuat pria gondrong itu menatapnya dalam, bahkan sangat serius mengamati setiap garis wajah Luffi.


Luffi meraih sebungkus rokok yang tersimpan di saku celananya, ia kemudian membukanya dan mengambil sebatang rokok berwarna putih. Setelah itu ia mematik api dan mulai membakar ujung rokok. Api itu mulai memakan ujung rokok dan mengeluarkan asap. Ia lalu menyebatnya, mengisapnya dan menahan asap rokok di dalam mulut, beberapa detik ia menghembuskannya ke udara, dan asap itu mengepul membentuk sebuah lingkaran, lalu menerpa wajah pria gondrong, pria itu menatap tajam Luffi membuat Luffi terkekeh jenaka.


“Ekspresi wajahmu sungguh membuatku sangat bergairah, katakan, dengan cara apa aku menghabisimu?” tuturnya kembali menyebat rokok di tangannya.


“Cih, jika kau ingin menggali informasi tentangnya, maka kau akan menyesal, karena saya tidak akan pernah membuka suara”


“Tancapkan paku itu pada kuku jarinya, jangan berhenti sampai dia mau mengatakan yang sebenarnya!”


“Baik boss” Billi kemudian berjongkok di depan lawannya, sementara pria yang diikat itu mulai memberontak dan menggeleng untuk tidak di lakukan, sangat menyeramkan mendengar perintah kejam dari pria yang duduk di depannya, ia bahkan sangat sulit menelan ludahnya, ia merasa seperti menelan tulang ikan yang banyak, kerongkongannya begitu sakit.


“Ja-jangan! saya mohon, jangan lakukan itu” pintanya mulai berkeringat dingin, namun Billi tidak mendengarkan, ia mulai menancapkan paku triplek yang memiliki ukuran dua belas senti meter itu.


TOK TOK TOK


“Akkkkkkkkkhhh, jangan!!” teriaknya kesakitan saat paku itu mulai menancap di daging ibu jarinya, darah mulai menetes, jatuh membasahi lantai. Pria gondrong itu berteriak keras, bahkan terlihat urat di kepalanya tercetak sangat jelas. Ia merasakan rasa sakit yang teramat dalam.


“Hentikan! baik-baik… saya akan mengatakan yang sebenarnya” Billi berhenti memukul paku itu, dan berdiri di samping Luffi. Pria yang di siksa itu terengah-engah, bibirnya gemetar hendak berbicara, sakit di ibu jarinya mengalir hingga ke otaknya.


“Tuan Stave, tuan Stave yang menyuruh saya untuk menangkap putri anda tuan, maafkan saya, saya mohon tuan… saya mengaku salah!”


“Oh, sudah kuduga, dialah dalang yang sebenarnya” batinnya dalam hati. Luffi membuang puntung rokok ke wajah pria gondrong, dan tersenyum sinis pada pria itu.


“Aku sangat membenci seseorang yang menghianati tuannya. Dan penghianat itu pantas untuk mati” seringai licik itu terlihat jelas di wajah Luffi.


“Berengsek! Bajingan!” teriaknya marah namun Luffi tidak mengindahkannya, ia menyuruh anggotanya membunuh pria itu dengan cara menikamnya. Billi melakukan itu, menusuk perut musuhnya dan memutar gagang pisau di tangannya, itu terdengar sangat nyaman di telinga Luffi dan begitu menikmatinya. Mata pria itu melotot lebar, menahan sakit di perutnya, matanya memerah memelototi Luffi.


Darah segar menyembur keluar dari mulutnya, ia mengepalkan tangannya menahan amarah pada sekumpulan pria di depannya, hingga pria itu menghembuskan napasnya dan meninggal di kursi kematian.


"Itu akibatnya jika berani mengganggu ketenanganku" tuturnya tersenyum puas menyaksikan kematian lawannya.


"potong tubuhnya dan beri makan Jaguar, dia pasti menyukainya"


"Baik boss"


.


.


.


.


.


.


Bersambung