DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)

DARK ROMANCE (LOVE BETRAYER)
BAB 66 Makan di Tengah Malam



Happy Reading


.


.


.


.


Waktu telah menunjukan pukul satu dini hari, seorang gadis menggeliat di atas kasur. Tiba-tiba mata yang tadinya terpejam terbuka, ia menguap sangat lebar reflek dirinya menutup mulutnya dengan punggung tangannya. Ia seketika terbangun dari tidurnya, ketika mendapati dirinya sudah berada di kamar pribadinya, ia melihat ke sekelilingnya memastikan lagi bahwa tempat yang ia pijaki saat ini, adalah nyata miliknya.


Ia terdiam sembari mengingat kembali, terakhir kali ia tidur. Sangat jelas diingatannya, bahwa ia tidur di dalam mobil dalam pelukan Luffi, namun ia malah berakhir di kamarnya tanpa sepengetahuannya. Tak sengaja dirinya melihat ke arah pintu, sebuah nampan berisi semangkuk, yang entah apa isinya, serta susu putih, lagi-lagi dahinya berkerut, dan segera melihat isi dari nampan yang diletakan di atas nakas, samping kasurnya.


“Bubur gandum? Siapa yang membuatnya?” Terlihat secarik kertas terlipat di samping mangkuk berisi bubur, gadis itu segera mengambilnya, lalu membuka setiap lipatannya, ada sebuah tulisan yang sangat familiar di matanya, itu adalah tulisan Luffi.


“Aku membuatkan bubur untukmu, segeralah makan jika kamu sudah bangun, kamu dari siang belum makan… aku sungguh mengkhawatirkan kesehatanmu” seutas senyum terbit di bibirnya, ketika membaca tulisan tangan Luffi, ada perasaan hangat mengalir di hatinya, sangat nyaman karena perhatian kecil dari kekasihnya, namun kembali lagi ketika mengingat kejadian di rumah sakit, ia menjadi murung.


“Sebenarnya apa yang kamu rencanakan? Entah apakah ini adalah jebakan atau bukan? Semoga kamu bukanlah bagian dari orang-orang yang tidak memiliki hati” gumamnya mendesah berat. Ia lalu mengangkat nampan dan diletakannya di atas kasur, ia pun duduk bersila menghadap makanan yang dibuatkan Luffi untuknya, tangannya meraih sendok dan menyuapi bubur gandum ke dalam mulutnya, rasanya sangat enak, lambungnya sudah sangat kosong, sejak siang tadi belum ada sesuap makanan yang masuk ke mulutnya, wajar saja jika ia sangat merasakan lapar, sampai tubunya terasa gemetar.


Sementara itu di tempat lain, seorang pria yang mengenakan kemeja putih, tengah menghajar tiga pria bertato yang memiliki rambut gondrong, di sebuah bangunan tua terbengkalai puluhan tahun lalu. Tidak ada aliran listrik hingga suasana tampak mencekam, di ruangan tersebut hanya menggunakan sinar ponsel sebagai penerangan sementara. Terlihat tiga pria sudah babak belur, dan penuh luka di wajah serta darah segar mengalir dari goresan luka yang pecah akibat hantaman pukulan dari pria berkemeja putih. Sementara, salah satu pria yang mengenakan kemeja biru hanya menatap dengan ekspresi datar, serta ponsel ditangannya.


“Katakan, siapa yang menyuruh kalian melukai gadis di restoran Steakhouse, depan toilet wanita, pukul setengah dua belas siang? Saya akan menghabisi kalian jika kalian tidak mengaku sekarang!” tanyanya dengan nada tegas, serta tatapan penuh intimidasi. Korban yang terbaring di lantai penuh debu, tertawa kecil, dan meludah di atas lantai.


“Cih! Atas dasar apa kami harus memberitahumu? Salahkan saja gadis itu terlalu seksi dan cantik, sehingga kami tidak bisa mengurung hasr….” Kalimatnya tiba-tiba terpotong akibat tendangan serta injakan keras oleh Luffi.


BUGH


BUGH


BUGH


“Akkkkkhh, uhuk-uhuk, be-berengsek!”


“Tuan, saya akan mengurus sisanya, lebih baik tuan istirahat, apalagi sekarang sudah pukul satu dini hari” Luffi berhenti dan melihat ke arah sekretaris Han, ia kemudian melihat benda yang melingkar di pergelangan tangannya, dan benar saja, sekarang sudah sangat malam. Ia lalu mengangguk dan menyerahkan pisau kepada sekretarisnya.


“Lenyapkan mereka serta, tubuh mereka kamu lemparkan kepada peliharaan kita, yang berada di hutan lindung” tuturnya melirik tiga pria yang sedang ketakutan karenanya, ia terkekeh kecil kemudian berjalan keluar dari bangunan terbengkalai itu, dan meninggalkan sekretaris Han seorang diri untuk mengurus tiga pria yang telah berani bermain-main dengannya. Ia kemudian masuk ke dalam mobil sport Toyota Gr Supra berwarna silver, menyalakan mesin mobil dan kendaraan yang dinaikinya, itu melaju meninggalkan halaman luas gedung tua, tersebut.


“Tinggalkan kota Las Vegas sekarang, dan jangan pernah kembali apapun yang terjadi, jika kalian masih menginginkan nyawa kalian” ucapnya dengan nada datar, lalu menjatuhkan sebuah tas jinjing berukuran besar, berisi ratusan juta dollar di dalamnya. Tiga pria itu langsung tersenyum lebar, dan berdiri membungkuk kepada pria yang melempar tas tadi.


“Senang bekerja sama denganmu, tuan. Tenang saja, setelah menerima uang dari tuan, kami tidak akan pernah muncul di kota ini lagi, kami akan pergi jauh dari sini” ujar salah satu dari tiga pria itu, yang langsung mengambil tas jinjing, rasa sakit ditubuh mereka terbayarkan dengan uang hasil dari transaksi ilegal. Rasanya, tidak ada apa-apanya luka bahkan darah yang keluar, mendapatkan nominal uang ratusan juta dollar adalah impian semua orang, dan ini termasuk transaksi yang sesuai dengan bayarannya. “Hari ini kalian terbanglah!” titahnya dan langsung pergi meninggalkan orang-orang tersebut.


Di sisi lain, Luffi sudah sampai di halaman Mansion, turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam bangunan mewah, seperti biasa dua orang penjaga membungkuk hormat dan menyapanya “Selamat malam boss” Luffi hanya mengangguk dan terus berjalan masuk, ia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa ruang tengah, membuka beberapa kancing kemeja, hingga memperlihatkan dadanya yang bidang. Kedua tangannya terbentang dan bersandar di atas pembatas sofa, ia memejamkan matanya sejenak, merasa sangat lelah dengan kegiatan hari ini yang tak kunjung ada habisnya. Tidak tahu saja, jika ada seseorang sedang melihatnya dengan tatapan aneh.


Matanya membesar sekaligus terkejut, melihat noda darah dibaju putih milik Luffi, ia langsung menghampirinya, dan melihat beberapa bagian tubuh Luffi, membuat sang empu terkejut, Luffi membuka matanya dan mendapati sosok Adira tengah meraba-rabanya dirinya. Luffi langsung menghentikan aksi Adira, dan menatapnya dengan ekspresi dingin.


“Apa yang kamu lakukan? kenapa belum tidur?” Tanyanya datar. Adira menunjukan nampan berisi mangkuk dan gelas yang sudah kosong, di atas meja. Luffi seketika mengikuti arah tangan Adira.


“Terima kasih, buburnya sangat enak, aku suka” tuturnya tersenyum tipis, namun anehnya ekspresi Luffi tidak berubah, masih menunjukkan sikap dingin dan seolah-seolah tidak peduli. Luffi berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan Adira begitu saja, membuat Adira tidak mengerti dengan sikap Luffi yang berubah-ubah.


“Tidurlah, hari sudah malam” Dari jauh Luffi bersuara, tanpa berbalik melihat Adira yang sedang menatapnya dengan tatapan rindu. Adira menghela napas, dan mengangkat nampan yang ia letakan di atas meja tadi, dan dibawanya ke dapur. Setelah itu, ia kembali dan berhenti sejenak tidak jauh dari tangga, melihat ke atas.


“Apa kamu sekarang sedang menjaga jarak dariku?” gumamnya sedih. Ia lanjut jalan menuju kamarnya, hendak melanjutkan tidur yang tertunda karena lapar, matanya sudah mengantuk dan ingin segera sampai di atas kasur, agar jiwa dan pikirannya tenang sesaat, dan tidak memikirkan Luffi terus-menerus.


.


.


.


.


.


Bersambung