
Happy Reading
.
.
.
.
.
Luffi memasukkan Adira ke dalam mobil miliknya, kemudian dirinya ikut masuk ke dalam, duduk di kursi kemudi dan menyalakan mesin mobilnya. Alih-alih memasang sabuk pengaman ke tubuh Adira, ia menyempatkan dirin untuk melahap bibir manis milik gadis di sampingnya. Adira terkekeh dan memukul pelan lengan Luffi. Pria itu tersenyum simpul, merapikan rambut Adira yang berantakan.
“Duduk yang manis, daddy akan menyetir”
“Hemmm” dehemnya. Adira membuka sabuk pengamannya, dan melepas jaket di tubuhnya, entah kenapa rasa panas membakar tubuhnya, bahkan ac yang dinyalakan Luffi di dalam mobil pun tak mempan untuknya. Luffi melirik gadisnya, mengernyit alisnya tinggi melihat keanehan pada diri Adira.
“Apa yang terjadi?” tanyanya, melirik ke depan, sesekali melirik anak manusia yang duduk di sampingnya itu.
“Tubuhku sangat panas, dan perasaanku benar-benar tak nyaman, daddy tolong aku, ini sangat panas aku tidak sanggup menahannya” tuturnya dengan suara lemah, wajahnya memerah dan berkeringat, cairan itu membasahi tubuhnya, ia meliuk-liuk dengan pose menggoda. Luffi segera menepikan mobilnya di tempat yang cukup aman tentu sangat sepi. Ia menelusuri setiap inci tubuh Adira, ia menyadari bahwa gadisnya telah diberi obat perangsang. Tangannya terkepal kuat merasa geram pada tindakan Arsenio karena berani mencelakai Adira.
“Daddy akan membawamu ke rumah sakit, bertahanlah sayang” saat hendak menyalakan mesin mobilnya lagi, Adira mencekal tangan Luffi dan merangkak naik ke atas tubuh Luffi. Pria itu tertegun dengan menelan salivanya. Adira duduk di atas pangkuan Luffi, dan mengalungkan tangannya di leher Luffi.
“Bantu aku, kumohon! aku tidak bisa menahannya, dad” bisiknya mendesah pelan. Matanya mulai sayu, cucuran keringat benar-benar membasahi tubuhnya, tampak sorot pandangan kasihan di mata Luffi, hatinya hancur melihat kondisi Adira di depan matanya. Adira sungguh di luar kendali, ia menangkup pipi Luffi dan mulai mencium bibir yang sedikit tebal darinya. ********** dan bermain-main dengan lidah Luffi. Mendapat serangan mendadak dan mematikan, membuat Luffi tidak berkutik, ia membiarkan tubuhnya di jamah oleh Adira. Gadis itu mulai menggila, tangannya bergerilya di perut sixpek Luffi, bermain-main di sana, kemudian meraba di bagian dada bidang Luffi, tepat pada salah satu kuncup yang menggoda, ia memainkannya, dan memelintirnya penuh kelembutan. Satu ******* keluar dari mulut pria itu, ia menggigit bibirnya menahan suara agar tidak mendesah.
“Sial! Dia mendominasi sekarang. Aku tidak akan membiarkannya” batin Luffi mencekal tangan Adira. Ia menatapnya dalam-dalam dengan deru napas tak beraturan. Tatapan memburu mangsa, tatapan itu sangat kuat dan kejam. Pria itu menarik tubuh Adira agar semakin intens dengannya, dan dengan lembut menuntun wajah Adira mendekat, pelan-pelan ia mendominasi permainan, mencium bibir gadisnya dengan penuh kelembutan, mengajarinya bagaimana cara ******* penuh gairah. Menggigit bibir bawah Adira, keduanya saling bertukar liur, itu adalah sebuah bentuk kenikmatan duniawi.
Kini, Luffi mulai bermain di leher Adira, memberikan kecupan dan jilatan maut miliknya, Adira mendesah hebat, merasakan sesuatu yang menggelikan. Tubuhnya menjadi lemas dan tak berdaya, Luffi kini mendominasi, membiarkan tubuh gadisnya terkulai lemas, sekalipun permainan belum mencapai puncaknya, sementara adiknya sudah mulai mengeras dan harus segera di tuntaskan, namun ia masih ingin membuat gadisnya takluk di bawah permainannya.
“Dad, a-aku sudah tid-ak kuat lagi” tuturnya dengan napas memburu. Luffi tersenyum lebar. Tangannya menekan salah satu tombol di bawah kursi yang ia duduki, ajaibnya, kursi miliknya perlahan-lahan turun menjadi datar, ia memposisikan tubuh Adira menjadi di bawah tubuhnya, keduanya saling menatap cukup lama.
“Panggil aku Dannie, sayang” bisiknya di telinga Adira. Ia menggigit pelan telinga Adira, lalu turun ke leher dan mulai bermain-main di sana. Menjilati dan sesekali mengisapnya, hingga meninggalkan bekas merah di sana. Luffi tersenyum melihat mahakarya yang baru saja diciptakannya.
“Mulai sekarang, kamu adalah milikku, tanda ini adalah tanda kepemilikan. Kamu jangan sampai berdekatan dengan pria lain, mengerti?” tuturnya merapikan rambut Adira, dan menyeka keringat di dahi gadisnya. Ia mengecup lama kening Adira merasakan getaran jantungnya yang berdebar hebat.
“Aku akan selalu menjadi milik daddy, hari ini dan selamanya” jawabnya tersenyum lebar.
“Dannie sayang” panggilnya dengan penuh *******. Luffi tersenyum dan mulai melanjutkan aksinya. Keduanya bercumbu mesra, menghabiskan malam penuh cinta di dalam mobil bermerek. Malam itu adalah malam tak terlupakan bagi Adira, gadis itu merasa sangat bahagia bisa memberikan harta berharganya kepada pria yang sangat ia cintai, pria yang selalu dipanggil daddy olehnya. Sekalipun berada dalam pengaruh alkohol, namun masih tersimpan kesadarannya, ia akan menyimpan kenangan indah ini bersama Luffi, pria yang selalu diimpikannya menjadi pasangan hidup.
“Jangan menyesal karena mau denganku”
“Aku tidak akan menyesalinya, karena inilah yang kumau… berjanjilah untuk tidak membuatku cemburu?” ucapnya masih dalam keadaan penyatuan.
“Tidak ada wanita lain yang mampu menggetarkan hatiku, selain dirimu, sejak kecil kamu telah menaklukan hati pria dingin ini… kamu berhasil dan kamu menang sekarang” senyum lebar terbit di bibir Adira, mendengar kejujuran dari mulut Luffi, kalimat yang semakin membuat cintanya membesar. Ia seperti berada di atas tumpukan salju dan di bawah guguran bunga sakura, benar-benar hari yang penuh bahagia bagi Adira.
Sementara itu, di tempat yang sama, sebuah mobil hitam berhenti cukup jauh dari mobil yang sedang bergoyang, itu adalah mobil milik anggota Talaskar, yang di suruh Luffi, untuk membawa Arsenio ke rumah sekretaris Han, namun dua pria tersebut tidak tahu lokasi tempat tinggal sekretaris Han. Mau tidak mau, mereka harus mengikuti mobil Luffi, sekalipun jawaban yang mereka cari tetap nihil. Dan di sinilah mereka, berakhir dengan menonton pertunjukan gratis.
Kedua pria itu saling beradu pandang dengan tatapan sangar. Mereka menghembuskan napas kasar, lalu membuka pintu mobil. keduanya keluar dan berdiri dengan bersandar di badan mobil, sambil melakukan sebat. Mereka menghisap dalam-dalam rokok di tangan mereka, dan menyimpan asap rokok ke dalam mulut, kemudian dikeluarkan lewat mulut dan hidung. Asap rokok mengepul di udara membentuk huruf 0 yang membesar.
“Aku akan hubungi Billi untuk menanyakan alamat sekretaris Han” seorang pria berkata, dan salah satu temannya mengangguk pelan sambil melakukan sebat.
“Ayo kita pergi dari sini, aku tidak mau menonton mereka, yang ada adik aku malah menginginkannya”
“Apa kau sudah mendapatkan alamatnya?”
“Billi akan segera mengirimnya” kedua pria itu mematikan ujung rokok yang terbakar, dan membuangnya ke sisi jalan, kemudian masuk ke dalam mobil. Mobil yang ditumpangi oleh anggota Talaskar perlahan-lahan bergerak, meninggalkan mobil milik Luffi yang masih bergoyang. Sementara itu, Arsenio masih pulas dengan tidurnya, menutup mata tanpa tahu bahwa gadis yang diincarnya sudah dimiliki oleh Luffi.
.
.
.
.
.
.
Bersambung