Cutton Candy

Cutton Candy
Kotak Bekal



...❤️Cutton Candy❤️...


...-...


Kina berdiri disebelah motornya. Menunggu seseorang yang mungkin sebentar lagi akan sampai sambil menggenggam kotak bekal yang telah diapersiapkan tadi pagi. Meski lebih tepatnya bekal buatan mamanya dan dia hanya membantu memasukannya kedalam wadah.


Darrenjun memasuki perkarangan sekolah dengan motornya dan memarkirkannya di parkiran sekolah.


"Jun,” Panggil Kina ke Darrenjun yang barusan melepaskan helmnya.


Darrenjun hanya diam tak merespon panggilan yang ditunjukan oleh Kina padanya.


Kina menghampiri Darrenjun. "Ini buat lo,” Ucap Kina sambil menyerahkan satu kotak bekal yang dia persiapkan khusus buat Darrenjun dengan senyuman manis.


Darrenjun mengangkat sebelah alisnya. "Lo nyogok gue?”


Kina menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Kagak.”


"Terus buat apa lo ngasih ginian ke gue?”Tunjuk Darrenjun kearah kotak bekal yang dipegang Kina.


Kina mengehembuskan nafasnya pelan. "Gue ngasih ginian ke elo, karena gue mau jadi temen yang baik buat lo.”


"Gue gak tertarik,” Jawab Darrenjun datar.


"Tapi Jun—“


"Apa omongan gue semalam gak cukup buat lo ngerti juga?” Ucap Darrenjun dengan intonasi yang dingin.


Kina terdiam.


Darrenjun berbalik dan berjalan dengan langkah cepat menuju kelasnya.


Baru sepersekian langkah Darrenjun berjalan. Kina menghadang Darrenjun.


"Jun, terima dong bekal yang gue kasih. Capek lo nyiapin semuanya,” Bujuk Kina.


"Gue gak minta lo buatin. Lagian gue gak laper. Minggir lo,” usir Darrenjun dengan kasar.


Kina menggeser sedikit tubuhnya memberi jalan untuk Darrenjun lewat.


"Lo kenapa sih dingin amat jadi orang? Habis nelan kulkas ya?” ucap Kina setelah berhasil menyamakan langkahnya dengan Darrenjun.


Darrenjun merotasikan bola matanya malas dan memilih mempercepat langkahnya.


"Yaelah Jun, makan dikit doang juga gak papa kali. Gue jamin lo bakalan ketagihan.”


Darrenjun menghentikan langkahnya dan meremat tangannya sendiri. Dia mulai frustasi dengan kina yang lumayan menyebalkan baginya. Lalu berbalik menatap Kina dengan tatapan tajam.


"LO BUDEK ATAU BEGO SIH? HARUS BERAPA KALI GUE BILANGIN. KALO GUE GAK TERTARIK DENGAN SEGALA PENAWARAN YANG LO KASIH,” bentak Darrenjun dengan keras.


Kina hanya terdiam sambil mengerjapkan kedua matanya.


Lalu, Darrenjun meninggalkan Kina yang masih terpaku ditempat dengan langkah cepat. Dia mulai bosan dengan tingkah Kina yang begitu menyebalkan baginya.


Hanya beberapa langkah Darrenjun berjalan suara Kina membuatnya terhenti.


"LO PIKIR GUE BAKALAN NYERAH GITU AJA APA?!" Gantian Kina yang meneriakinya dengan emosi.


Darrenjun menghentikan langkahnya tanpa berniat berbalik. Berharap ucapan yang dilontarkan oleh Kina bukan tertuju untuknya.


Dengan langkah cepat Kina menghampiri Darrenjun dan berdiri tepat dihadapannya.


Sedikit mencondongkan tubuhnya didepan Darrenjun. "Gue kasih tau ke elo. Gue gak bakalan nyerah sampek kapanpun. Jadi lo harus ingat itu baik-baik,” ucap Kina dengan penekan. Lalu pergi meninggalkan Darrenjun yang masih melongo dengan penuturan Kina barusan.


Bukankah seharusnya dia yang membuat Kina jera dan bungkam. bukan malah sebaliknya.


-------


Kina memasuki kelasnya dengan mengerecutkan bibirnya. Mood Kina yang awalnya baik berubah drastis berkat Renjun.


"Eh Kin,” Sapa Arji saat berada tepat diambang pintu.


Mereka berpas-pasan didepan pintu kelas.


"Apaan?” Tanya Kina malas.


"Jutek amat lo.”


"Ihh biarin. Suka-suka gue. Minggir lo, gue mau masuk.”


"Ehh tunggu bentar,” Arji menahan tangannya Kina yang hendak masuk kedalam kelas.


Kina dengan cepat melepaskan tangannya Arji dari tangannya.


"Kenapa sih? Lo mau ngomong apaan?”


"Itu Kin … Anu … gue,” Arji menggaruk belakang kepalanya.


"Anu gimana sih? Gue gak ngerti lo kenapa?”


"Gue ... gue pinjem pulpen lo lagi ya. Lupa gue beli tadi.”


"Alah alsan lo itu-itu mulu dah perasaan. Bosen gue.”


"Ya mau gimana lagi Kin. Namanya juga gue lupa. Kalo kagak kan gue gak bakalan pinjem punyanya elo lagi.”


"Gak. Gue gak mau. Lagian kemarin kan gue uda ngomong kalo gue gak bakalan ngasih lo pinjem pulpen gue buat kedepannya.”


"Jangan dong Kin. Kalo lo gak mau minjamin gue, ntar gue nulisnya gimana dong?”


"Serah lo mau nulisnya kayak gimana. Gue gak peduli.”


"Yah Kin. Lo tega amat dah sama temen sendiri,” rengek Arji ke Kina.


Arji sedikit menggoncang kedua pundaknya Kina dengan manja untuk membujuknya. "Kin. Plis pinjemin gue pulpen.”


Bukannya membuat Kina merasa kasihan. Tapi yang ada Kina malah nambah emosi. Karena perbuatannya Arji membuatnya jadi terhuyung.


"Ihh apaan dah lo. Gue pusing tau,” Omel Kina ke Arji.


Arji langsung melepaskan kedua tangannya dari pundaknya Kina.


"Sorry Kin,” Omong Arji sambil nyengir.


Kina memijat kedua pelipisnya yang masih terasa pening karena perbuatannya Arji barusan.


"Jadi gimana Kin. Lo mau kan minjemin gue pulpen lo?”


"Iya. Tapi kali ini aja. KALI INI AJA. Gue mau minjemin lo pulpen. Besok-besok lo mau cari alasan apapun gue gak bakalan peduli. INGAT ITU BAIK-BAIK Mr. Raditya.”


"Iya Kin. Iya.”


Kina merogoh tasnya mengambil pulpen yang hendak dia pinjemin untuk Arji.


"Kin, entar aja deh gue ambilnya. Gue mau ke kantin dulu.”


"Oh yaudah. Tapi lo harus ingat omongan gue tadi.”


Arji mengangguk singkat. "Iya bosque.” Lalu pergi.


Baru beberapa langkah memasuki kelasnya Kina teringat akan kotak bekalnya yang nganggur. Sayang amat tuh bekal kalo dia buang.


"Arji.” Panggil Kina ke Arji.


Arji berbalik.


"Ini ambil buat lo,” ucap Kina sambil menyerahkan kotak bekal yang seharusnya untuk Darrenjun kepada Arji.


"Buat gue?” Tunjuk Arji ke dirinya.


"Iya buat lo. Lo mau gak?”


Arji mengangguk dengan semangat.


"Mau Kin. Lo yang masak?”


Kina menggeleng dengan cepat. "Bukan. Mama yang masak. Gue cuma bantuin masukin ke wadahnya,” Ucap Kina sambil menyengir.


"Mau siapapun yang masak gue gak peduli. Intinya gue seneng karena lo ngasih ginian ke gue.”


"Syukur deh kalo gitu. Dihabisin jangan dibuang.”


"Pasti Kin. Gue bakalan ngehabisin semuanya. Thanks ya.”


Kina terseyum. "Sama-sama. Tapi entar wadahnya lo balikin ke gue lagi ya. Kalo uda selesai.”


"Oke Kin.” Jawab Arji dengan semangat.


------


Arji memasuki area kantin dengan bahagia. Senyumannya merekah dan membuat seisi kantin memandangnya dengan kagum. Terlebih lagi Arji merupakan salah satu role mode bagi cowok-cowok yang ada di sekolahnya.


Memiliki tubuh tinggi. Wajah yang tampan dan suara yang bisa membuat semua gadis terpesona.


Arji mencari keberadaan teman-temannya.


"Arji!" Teriak Haikal ke Arji sambil melambaikan tangan diudara. Memberi tanda keberadaan mereka.


Arji mempercepat langkahnya menghampiri teman-temannya yang tergabung dalam Exclusive squad. Yang beranggotakan 6 orang, yaitu : Rey, Mark, Emilio, Haikal, Arji dan Darrenjun yang baru bergabung. Julukan yang diberikan oleh anak-anak sekolahan pada mereka semua. Awalnya mereka risih dengan panggilan seperti itu, tapi lambat laun mereka mulai menyukainya. sampai sekarang masih menjadi misteri tentang siapa yang memulai memberikan julukan seperti itu.


"Kok lo lama?” Tanya Mark ke Arji.


"Tau lo, sampek makanan gue keburu habis nungguin lo yang lamanya kebangetan.”


"Nungguin. Nungguin pala lo. Kita baru mesen aja tuh makanan uda ludes deluan,” Timpal Mark.


Haikal sedikit memajukan wajahnya ke telinganya Mark. "Lo kok bilang-bilang sih. Pura-pura kagak tau aja napa.”


Mark merotasi kan bola matanya malas.


"Sorry, tadi macet,” Ucap Arji sambil nyengir.


"Alah bilang aja lo minjem pulpen dulu sama anak kelasnya elo makanya lama,” Ucap Emilio asal.


Arji diam. Sesungguhnya ucapannya Emilio bener adanya.


"Lah kan bener ternyata.”


"Seriusan lo minjem pulpen dulu baru ke sini?”Tanya Mark yang penasaran.


Arji mengangguk lemah.


Semua orang yang ada di meja tertawa dengan kelakuan Arji yang memang dari dulu tidak pernah membawa yang namanya peralatan sekolah. Syukur saja dia masih ingat untuk membawa buku dan juga tas. Entah apa moto hidupnya sehingga dia selalu seperti itu. Dan orang yang selalu menjadi tumbal dari kelakuan Arji tersebut adalah Kina.


Bisa dikatakan Kina adalah kotak pensil berjalan baginya.


"Lo sih. Makanya kalo sekolah itu niat napa. Segala begituan doang kagak pernah punya.”


"Lo gak mampu beli atau gimana? Mau kita sumbangin?” Tanya Rey dan mengundang tawa dari semua.


"Sembarangan lo kalo ngomong Rey. Gue masih mampu beli kali.”


"Terus. Kenapa yang begituan lo gak pernah bawa?”


"Gue lupa bawa.”


"Lo lupa bawa. Atau tuh pulpen uda lo jual semua? Kalo mau jual biar gue ikutan.”


"Ikutan gimana maksud lo?”


"Ikutan ngutipin hasilnya,” Tawa Haikal renyah.


"Omongan lo. Di filter sekali-kali napa,” Sebel Arji.


"Kagak bisa. Mulut gue uda terlahir sempurna dari lahir.”


Arji males nanggapin karena yang ada dia bakalan kalah dan alhasil dia bakalan dibully habis-habisan lagi.


"Uda ya. Serah lo mau ngomong apaan. Yang penting gue mau makan. Gue laper.” Arji meletakkan kotak bekal pemberian Kina ke atas meja dengan bangga.


"Wihh ... tumben amat lo bawa bekal,” Ucap Haikal heboh dan menarik kotak bekal miliknya Arji tanpa dosa.


Arji langsung merebut kotak bekalnya kembali dari tangannya Haikal.


"Bukan punyanya gue. Gue dikasih tadi.”


"Dikasih?”


"Dikasih sama siapa?”


"Ada deh,” Kata Arji sok misterius.


"Lo gak nyolong tuh makanan kan?”


Arji berdiri, sedikit menggrebak meja dan menatap Emilio dengan garang "Sembarangan amat dah lo kalo ngomong,” Ucap Arji dengan kesal.


Yang ditatap cuma cekikikan. "Siapa tau kan.”


"Ya kagak lah. Gue gak segila itu kali. Nyolong karena gue laper.” Arji kembali duduk.


"Lo lagi punya gebetan ya?” Tanya Rey tiba-tiba.


Arji menghentikan aktifitasnya yang hendak memasukan satu suapan nasi goreng kedalam mulutnya.


"Gebetan?”


Arji memandang Rey dengan bingung.


Rey menghelakan nafasnya. "Gini nih. Kalo punya badan gede. Tapi otaknya gak segede badannya.”


"Ah elo Rey, suka bener kalo ngomong,” Celetuk Mark sambil cekikikan.


Arji ngasih tatapan tajam ke Mark dan Mark auto diam. Karena kalo dibiarin, Mark bakalan terus ketawa sampek lupa nafas.


"Maksud lo gimana tadi Rey? Gebetan?” Tanya Arji antusias.


"Iya gebetan. Lo bilang tadi kalo lo dikasih beginian kan?” Tunjuk Rey ke kotak bekalnya Arji.


Arji mengangguk dengan cepat.


Rey menjentikan jarinya ke udara.


"Jadi jelas banget kalo tuh orang demen ke elo. Itu sih opini gue doang. Karena gak mungkin aja ada orang iseng ngasih begituan ke elo.”


Ada. Kina contohnya. Orang iseng yang ngasih makanan cuma-cuma ke Arji.


Arji mencoba mencerna ucapan yang dikatakan Jaemin barusan padanya. Lalu, dirinya tersipu malu membayangkan jika Kina memiliki perasaan lebih padanya.


Diam-diam Darrenjun sejak dari tadi memperhatikan kotak bekal yang tak asing baginya. Dan seketika dia tersadar kalo kotak bekal itu sama persis dengan pemberian Kina tadi pagi padanya. Bisa dikatakan kalau seharusnya kotak bekal itu menjadi miliknya. Kalau saja dia mau menerimanya tadi.


Tapi, apa gunanya juga jika dia mengungkapkan hal sebenarnya ke mereka. Toh dirinya tidak ingin terlibat hal apapun lagi dengan Kina. Baginya begitu merepotkan jika harus berurusan dengan gadis sepertinya. Cukup masalah keluarganya yang membuatnya begitu stress dan membenci dunia. Tidak untuk hal apapun itu lagi.


"Lo kelamaan mikir. Gue minta dikit ya,” Belum lagi mendapat persetujuan dari Jisung. Haikal lebih dulu memasukan satu sendok nasi goreng kedalam mulutnya. Yang lebih tepatnya satu suapan besar.


Arji langsung merebut sendoknya berikut kotak bekalnya dari tangan Haikal. "Lo kalo minta kira-kira kali,” Omel Arji ke Haikal.


"CedikitdoangituJi. Pelitamatdahlo,” Omong Haikal dengan mulut yang penuh dengan nasi goreng.


"Lo ngomong apaan dah?”


Haikal mengunyah makanan yang berada didalam mulutnya dengan cepat.


"Gue bilang lo pelit amat.”


"Biarin. Ini tuh nasi goreng spesial cuma buat gue.”


"Alah spesial darimana? Sok tau lo.”


"Tau lah. Udah lo jangan ganggu gue pokoknya.”


"Enak Ji. Gue minta lagi dong,” Haikal mencoba membujuk Arji.


"Gak boleh. Ini tuh punyanya gue. Spesial buat gue dari orang yang spesial,” Ucap Arji malu-malu.


"Terserah lo mau ngomong apaan tentang tuh nasi goreng. Yang penting gue minta.”


"Gak. Gue gak mau,” Arji memeluk bekalnya dengan erat. Mencoba menjauhkannya dari Haikal.


“Ji lo pelit amat dah. Entar kuburan lo mirip korek api kalo lo pelit ke gue.”


"Gue gak peduli. Kalo pun kuburan gue kecil kayak korek api. Gue bakalan minta tolong ke Emilio supaya digedein sama dia.”


"Lah. Lo kok bawa gue sih Toyib?”


"Iya, karena cuma lo yang mampu wujud in itu semua,” Aku Arji.


"Thats right baby. Lo tenang aja, gue bakalan buat kuburan lo besar segede lapangan golf.” Emilio dan Arji bertos ria.


"Kok lo malah belain dia sih Mil?”


"Gue gak belain. Gue cuma mau membantu dia dengan kekayaannya gue yang melimpah ruah.”


Haikal hanya ngedumel dalam hati.


"Makanya lo punya gebetan sono biar dimasakin kayak tuh sih Arji,” Celetuk Mark.


"Kayak lo punya aja,” Omong Haikal ke Mark.


Mark auto manyun.


Rey, Emilio, Darrenjun dan Arji langsung ketawa dengan ucapan Haikal yang kelewat jujur.


"Dasar kutil badak. Lo yang mau dibully, kok malah gue yang kena.”


...--------...


Hai kalian... Iya kalian... Thanks ya uda mau nyempetin waktu buat baca work aku yang masih tahap pembelajaran lagi.


...-...


...***Aku harap kalian suka dengan apa yang aku tulis ****😊😊😊*...


...***Salam sayang buat mas Injun kesayangan ****🤗🤗*...


...(Jangan pada sirik sama author gak baik tau ****🤣🤣****)...