
...πCUTTON CANDYπ...
...-...
...(Akan gue pastikan dia bakalan memilih gue ketimbang elo -Lisa)...
-
-
"Siti Fatimah."
"Apaan sih elo. Gue uda ganti nama dan nama gue itu Mita, asal lo tau aja."
"Lo segalanya pake ganti nama, lagian Siti Fatimah itu lebih cocok buat lo."
"Diem lo."
"Ogah."
Haikal menjulurkan lidahnya dihadapan Mita dan membuat gadis itu semakin geram dibuatnya, baru saja ia hendak melayangkan sebuah pukulan pada Haikal, Emilio lebih dulu bersuara.
"Lo bisa gak sih jangan ganggu pacar gue," Ucap Emilio pada Haikal dengan kilatan amarah.
Emilio sejak dari tadi telah berusaha menahan kekesalannya pada Haikal, ingin melayangkan pukulan padanya, tapi ia urungkan niatnya mengingat ada Mita disampingnya.
"PACAR!" Haikal berteriak dengan suara nyaring, hingga membuat kedua orang itu dengan sangat terpaksa harus menutup kedua telinganya.
"Lo ngawur. Gak mungkin," Lanjutnya.
"Gue gak ngawur. Ini fakta dan mulai sekarang lo gak boleh gangguin dia ataupun manggil dia dengan nama Siti Fatimah. Cuma gue doang yang boleh."
"Sorry aja nih ya mas sultan. Meski elo jadi pacarnya dia, gue tetep cinta pertamanya."
"For information, lo salah. Nyatanya gue lah cinta pertamanya bukan elo."
"Bohong."
"Gue gak bohong."
"Udah deh gak usah ngarang. Gak ada tuh begituan, gue yang kenal dia lebih dulu ketimbang elo."
"Emilio bener. Gue kenal dia lebih dulu ketimbang elo dan gue suka sama lo itu juga karena gue pikir dengan adanya elo, gue bisa lupain dia."
"Jadi maksud lo selama ini gue cuma jadi pelarian buat elo."
Mita mengangguk.
"Lo jahat amat dah."
"Ya kan gue juga gak sengaja, lagian kejadian itu kan uda lama."
"Tetap aja lo jahat uda bohongi gue," Ucapnya.
Haikal berdiri dari kursinya, lalu meninggalkan keduanya begitu saja.
Keduanya saling melempar pandang merasa aneh dengan kelakuan Haikal dan tak ada niatan dari keduanya sama sekali menyusul Haikal
"Lo cuma berdua?" Tanya Kina yang baru saja bergabung dengan keduanya.
Jika gadis itu ada disana, pastinya Darrenjun juga ada.
"Gue juga ada disini," Sahut Mark sembari mengangkat tangannya keatas menunjukkan keberadaannya pada Kina.
"Oh hehe gak kelihatan sih," Ucap Kina lagi.
Mark hanya merotasikan bola matanya malas, satu lagi pasangan hari ini.
"Oh ya lo tadi mau ngomong apa?" Tanya Kina begitu antusias.
Mita terlihat agak ragu menjelaskan perkara hubungannya dengan Emilio, bukan karena ia tak mempercai Kina, hanya saja terkadang gadis itu pasti akan mencerca dirinya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi dan jika ia mengulur waktu terlalu lama, akan sangat tidak baik jika Kina mendengar beritanya dari orang lain yang membuat Kina pasti akan kecewa padanya.
Kina masih menatap Mita dengan polos menunggu penjelasan dari temannya itu.
"Gue dan Mita pacaran," Ucap Emilio yang sudah tidak sabar mempublikasikan mengenai hubungnanya dengan Mita pada Kina.
"APA! PACARAN!" Satu lagi orang yang ikut teriak mengenai berita yang mengejutkan itu.
Lalu bagaimana dengan Darrenjun? Jika Kina berteriak dengan hebohnya maka berbeda dengan Darrenjun, lelaki itu tampak santai dan sama sekali tak terkejut. Ia sudah menduganya dari awal mengingat bagaimana Mita dan Emilio terlihat tampak akrab sejak ia memasuki kantin.
Jangan lupakan predikat Kina yang terkenal akan ke tidak pekaan dan tak kepeduliannya.
"Gue lama-lama duduk disini bisa tuli mendadak," Gumam Mark yang selalu saja menjadi saksi teriakan orang-orang itu.
"Kok bisa? Lo kapan dekatnya?!" Cercah Kina yang begitu penasaran dengan hubungan keduanya. Seingatnya Mita sama sekali tak pernah berinteraksi dengan Emilio. Bahkan seingatnya Mita sama sekali tak pernah mengobrol dengan Emilio.
"Baru."
"Terus kenapa lo mau jadian gitu aja sama dia?"
"Emang butuh alasan gitu untuk kita bisa jadian? Lagian gue suka Emilio dan dia suka gue. Yaudah kita jadian."
"Se simple itu?"
"Why not. Lo aja tuh yang diperibet, uda jelas-jelas suka juga masih aja gengsian."
Kina seketika terdiam. Perkataan Mita barusan kena sasaran tepat dihatinya dan begitu pula dengan Darrenjun, lelaki itu telah menatap ke segala arah, mencoba mengalihkan tatapan dari pasangan itu yang tengah menatapnya begitu tajam.
Tatapan Kina ia lihkan ke arah penjuru kantin, mencari keberadaan seseorang yang lebih dulu pergi dibandingkan dirinya. harusnya orang itu sudah disini, mengingat ada Mark juga.
"Lo nyari siapa Kin?" Tanya Mita yang merasa aneh dengan kegelisahan Kina.
"Lala," Jawabnya.
Ia mencari sekali lagi keberadaan temannya itu, tapi sayangnya ia tak menemukan sosok itu.
Kina mengalihkan perhatiannya kembali dan kini menatap Mark yang terlihat santai.
"Mark lo liat Lala?" Tanyanya.
Mark menggelengkan kepalanya. "Gue gak tau," Jawabnya tanpa beban seolah-olah Lala bukan lagi apa-apa untuknya. Dan hal itu membuat Kina merasakan firasat bahwa keduanya dalam keadaan yang kurang baik.
"Lo dan Lala gak lagi berantem kan?" Selidiknya.
Mark mengalihkan perhatiannya dari layar datar yang ada didepannya saat ini, lalu ia menghelakan nafasnya agak panjang, seperti sedang mempersiapkan sesuatu yang amat sangat mengejutkan.
Kini tak hanya Kina saja yaang penasaran dnegna apa yang terjadi mengenai hubungan keduanya, karena Mita juga tampak menanti jawaban.
"Kita udahan."
"WHATT!!" Sekarang tak hanya Kina saja yang terkejut bahkan Mita juga.
"Lo mutusin temen gue!?" Mita baru saja berucap dengan intonasi suara yang agak meninggi dan sebelum ia bertindak agak jauh, Emilio lebih dulu menggenggam tangan gadis itu.
Mark menggeleng. "Ini bukan soal siapa yang mutusin, tapi, memang uda seharusnya kita selesai sampai disini. Gue takut, baik gue dan dia akan terluka nantinya."
"Sok puitis lo. Jangan ngarang. Lo apain temen gue?"
"Gue gak ngelakuin apa-apa. Lo bisa tanya orangnya langsung."
Kina dan Mita bungkam, meski kesal keduanya juga tidak boleh menyimpulkan segala hal hanya dari sudut pandang mereka saja, harus ada klarifikasi dari kedua belah pihak.
Kepala Kina mendadak nyut-nyutan sekarang, memikirkan kemungkinan yang tengah terjadi.
"Injun," Sapa seseorang yang baru saja tiba berdiri didedapan meja mereka.
Keempatnya langsung menoleh bersamaan.
Seorang gadis cantik telah berdiri disana dengan anggunnya,
"Injun?" ulang ketiganya secara serempak.
Ekspresi Kina seketika menjadi suram saat melihat sosok itu. padahal ia sangat tidak ingin bertemu ataupun melihat gadis itu lagi, tapi sayang takdir tak meperbolehkannya.
"Kamu kenapa bisa disini?" Tanya Darrenjun yang agak terkejut dengan kehadiran Lisa.
Lisa tertawa kecil dengan pertanyaan Darrenjun barusan. "Ya sekolah lah. Mulai hari ini aku resmi jadi murid disini," Ucapnya dengan bangga.
Seperti ada petir yang tengah menyambarnya, Kina merasakan bahwa akan ada bahaya yang sedang menghampirinya. Semoga saja itu hanya firasatnya.
Apalagi kalau bukan untuk merebut Darrenjun darinya.
"Dasar gatel," Gumam Kina. Meski hanya dirinya dan yang maha kuasa yang bisa mendengar gumamannya itu.
Tak hanya Kina saja, Darrenjun pun merasakan firasat buruk. Ia yakin ini semua akan menjadi awal masalah yang baru baginya dan Kina, karena ia tahu bagaimana seorang Lisa. Gadis itu tak akan pernah menyerah mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Kalian saling kenal?" Pertanyaan Emilio barusan, membuat Darrenjun, Kina dan Mita menatap lelaki itu dengan penasaran.
"Ya kenal lah, aku kan-"
"Temen gue," Timpal Darrenjun, sebelum Lisa mengatakan hal yang tak masuk akal dan membuatnya terlibat dengan rumor yang tak masuk akal.
Kina tersenyum senang, Darrenjun membuatnya lebih percaya diri sekarang.
Eskpresi bahagia Kina dilihat secara jelas oleh Lisa dan hal itu membuatnya semakin membenci Kina.
"Lo kenal dia?" Darrenjun yang barusan bertanya.
"Dia dikelas gue," Jawab Emilio.
Darrenjun hanya mengangguk kecil.
Lisa menatap Kina dalam diam. Dimana letak kurangnya dia. Jelas-jelas Kina tak ada apa-apanya ketimbang dirinya.
Cantik
Lalu bagaimana bakat? Oh tentu saja ia memiliki banyak sekali talenta. Dan untuk Kina, ini lah yang masih ingin ia cari tahu.
Apa Kina bisa memainkan instrumen musik lebih baik dari dirinya? Jika ia, instrumen seperti apa?
Kedua gadis itu saling melempar tatapan penuh kebencian satu sama lain. Darrenjun merasakan perubahan atmosphere yang berada disekeliling dirinya, dirinya seperti diapit oleh kedua kutub. Jika harus memilih tentu saja ia akan memilih Kina. Kina adalah gadis yang ia sukai, orang yang telah mengubahnya menajdi sosok yang berbeda dan Lisa hanyalah potongan masa lalu yang pernah membuatnya mengetahui apa itu jatuh cinta.
Perasaan itu telah menghilang cukup lama dan Darrenjun sama sekali tak berniat mengulang kenangan itu kembali.
Sebelah tangan Darrenjun yang bebas ia arahkan ke arah tangan Kina, lalu ia genggam tangan gadis itu dengan erat. Mencoba meyakinkan Kina untuk tak merisaukan hal apapun lagi.
Kina menoleh, menatap Darrenjun dengan senyuman kecil. Ia merasa lega dan senang.
Lisa melihat semua itu dengan jelas, jangan pikir hatinya tak sakit. Ia begitu terluka dan terbakar oleh rasa cemburu. Ingin rasanya ia menarik paksa tangan Darrenjun dari tangan Kina, menjauhkannya dari gadis itu.
Siapapun tolong padamkan api cemburu dihatinya.
"Minggir mbak," Ucap Haikal yang tengah berdiri sembari membawa semangkuk mie ayam beserta es teh manis.
Lisa menggeser tubuhnya, memberi ruang untuk Haikal lewat.
Haikal duduk kembali diatas kursi yang telah ia tinggali.
Sebelum menikmati makanannya, Haikal meilirik Kina dan Darrenjun dengan sinis. "Gak usah pegangan kali, lagi gak nyebrang juga," Sindirnya.
Dengan cepat Kina segera melepas tautan tangan Darrenjun dari tangannya. Ia agak malu, ternyata tingkat bucin Darrenjun menular pada dirinya.
"Bucin kok disini, hargai yang jomblo napa," Ketusnya.
Darrenjun tak menjawab begitu pula Kina.
Entah kenapa ucapan Haikal barusan membuat Lisa merasa senang, seperti ada yang memihaknya. Meski pun kenaytaanya Haikal tak bermaksud seperti itu.
Setelah memasukkan beberapa suap mie kedalam mulutnya, barulah Haikal sadar akan kehadiran Lisa. Ia menoleh dan terkejut.
"Dia sapa?!" Tanyanya heboh pada teman-temannya.
"Anak pindahan dikelas gue, temennya Darrenjun. Baru masuk tadi," Jelas Emilio.
"Cantik." puji Haikal.
Haikal mengerjapkan matanya beberapa kali. Lalu ia mengulurkan tangannya dihadapan Lisa.
"Haikal. Bisa dipanggil sayang atau cinta juga boleh."
Lisa tersenyum manis dan menyambut uluran tangan Haikal. "Lisa, Claudia Lisa."
"Dewi."
"Namanya Lisa bukan Dewi," Sahut Mark yang merasa jijik dengan tingkah Haikal tersebut.
"Gue tau, gak usah diperjelas."
"Lo gak duduk?" Tawar Haikal pada Lisa sembari menggeser tubuh Mark yang berada disebelahnya dengan kasar, hingga membuat Mark hampir terjungkal dari temaptnya.
"Dasar buaya kering. Lo kalo modus liat-liat orang juga."
Haikal tak peduli, ia masih memasang senyuman andalannya dihadapan Lisa.
Baru saja Lisa hendak duduk, Rey tiba dan langsung menduduki tempat duduk yang telah dipersiapkan Haikal untuk Lisa tersebut
"Makasih," Ucapnya tanpa dosa.
Lisa berdiri dengan canggung, harusnya Rey tak melakukan hal itu padanya, dan sepertinya ini bukan waktu yang tepat baginya menemui Darrenjun.
"Kalo gitu gue balik ya," Pamit Lisa dan dibalas anggukan oleh Darrenjun dan yang lainnya. Berbeda dengan Haikal yang tampak tak terima dengan kepergian Lisa itu.
Haikal masih memandang Lisa dengan tatapan tidak rela. Lalu setelah gadis itu sudah tak terlihat baru lah Haikal menatap Rey yang ada disebelahnya dengan tajam. Ia harus memberi pelajaran pada Rey yang kurang ajar itu.
"Buaya jantan! Lo ngapain disini!?" Teriak Haikal pada Rey yang terlihat santai dengan aura kemarahan yang telah terpancar dari diri Haikal.
"Duduk."
"Gue tau lo lagi duduk."
"Lah terus ngapain lo masih nanya?"
Haikal menghelakan nafasnya mencoba mengontrol emosinya yang meluap.
"Lo tau gak, kalo gue uda nyiapin kursi kosong itu untuk ngasi dewi gue buat duduk dan elo gak tau dirinya malah duduk disini dan perbuatan elo itu uda ngebuat dewi gue pergi."
"GARA-GARA ELO DEWI GUE PERGI!" Teriak Haikal.
Rey menutup telinganya sambil menatap Haikal dengan bingung. "Dewi? Siapa dewi? Dewi ular maksud Lo?"
"Namanya Lisa Kal, Claudia Lisa. Bukan Dewi." Sahut Mita yang sejak dari tadi gemas dengna Haikal yang terus saja menyebut Lisa dnegan panggilan Dewi.
Lisa memang sangat cantik, tapi panggilan dewi bukan kah berlebihan sekali.
Haikal masih tersulut emosi, bahkan mie ayam yang ia beli tadi tampak tak tersentuh olehnya.
"Udah lo lanjut makan lagi dah. Kasihan mie ayam lo entar keburu dingin," Celetuk Emilio yang memberi kode pada Haikal, bahwa Mie ayamnya telah diselamatkan Mark kedalam perutnnya.
Haikal mengalihkan perhatiannya dan sadar ternyata Mie ayamnya telah berpindah tempat.
Haikal yang menarik paksa Mie ayamnya dari Mark. Lalu menoyor kepala Mark. "Nih bocah lagi satu," Ucapnya geram.
"Tanggung Kal."
-
-
"Rey."
Sapa Lisa pada Rey yang baru saja keluar dari lapangan basket, sejak dari tadi Lisa telah menunggu Rey disana.
Tentunya ia menunggu Rey bukan karena iseng saja, tetapi ada sesuatu hal yang ingin ia sampaikan pada lelaki itu.
"Eh Elo," Ucap Rey yang tengah mengingat Yiren lagi.
"Temennya Darrenjun kan?" Lanjutnya.
Kata teman masih terasa aneh ditelinga Lisa dan semoga saja kata itu segera tergantikan sesuai rencananya.
"Gue sebenarnya lebih dari sekedar teman untuk Injun, ah... maksud gue Darrenjun."
Rey mengangguk-anggukan kepalanya, lalu kembali berucap. "Ada apa lo nemuin gue?" Tanyanya to the point.
Lisa menarik nafasnya dalam sebelum kembali berucap. "Gue mau lo bantuin gue jauhi Kina dari Darrenjun gimana pun caranya," Jelasnya dengan keyakinan penuh.
Rey terpelongoh mendnegar ucapan yang baru saja disampaikan oleh Lisa padanya, ia merasakan Deja Vu. Hanya saja ini beda kasus.
"Maksud lo apa?"
"Gue tau lo pernah dekat dengan Kina dan lo masih suka kan ke dia?"
"Sok tau lo."
"Gue tau semuanya Rey, bantu gue dan gue bakalan bantuin elo buat dapatin dia kembali."
Rey tersenyum sinis. "Lo lagi buat kesepakatan dengan gue?"
Lisa mengangguk pasti. "Gue mau Darrenjun putus dengan Kina dan dengan begitu elo bisa dapetin Kina lagi."
Rey meremat jemarinya kuat. jika ia tak ingat bahwa Lisa itu adalah seorang gadis sudah dipastikan Rey pasti akan meninjunya detik ini juga.
Rey memang masih memiliki perasaan pada Kina, tapi bukan berarti dia akan memaksakan hatinya. Karen ia tahu hati Kina bukan lagi miliknya, sudah ada Darrenjun disana menetap dengan indahnya.
"Dengar baik-baik. Lo dan gue itu sama-sama masa lalu buat mereka. Kalo emang lo suka Darrenjun, harusnya lo bahagia dengan pilihannya dia, bukan malah ngehancurin kebahagiaannya."
"Tapi kebahagiaannya dia itu cuma sama gue. Darrenjun itu punya gue."
"Itu namanya lo egois."
Rey berjalan meninggalkan Lisa, tapi sebelum dia benar-benar pergi, Rey menghentikan langkahnya, tapi tak berbalik.
"Barsikap lah sewajarnya, atau lo akan berurusan dengan gue." Setelah mengatakan hal tersebut, Rey berjalan dengan derap langkah lebar meninggalkan Lisa yang masih terpaku ditempatnya.
Hatinya benar-benar panas dan ia marah.
Lisa meremat jemarinya dengan kuat.
Sial.
Apa-apaan ini. kenapa rencananya untuk membuat kesepakatan dengan Rey gagal. Siapa Azkina sebenarnya? Bagaimana gadis seperti itu seakan-akan bisa menyihir Rey.
Jangan pikir setelah ini Lisa akan menyerah begitu saja karen hal itu tak mungkin terjadi.
Mulai sekarang ia akan bertekad untuk menunjukan bahwa Kina tak lebih baik ketimbang dirinya. ia harus bisa mendekati seluruh teman Darrenjun, dengan begitu gadis itu pasti akan tersingkirkan.
"Liat aja gue akan tunjukin siapa gue sebenarnya."
-
-
-
...Terima kasih telah membaca karyaku ππ...
...Jangan lupa memberikan saran dan masukan kalian ya man teman sekalian ππ...