Cutton Candy

Cutton Candy
Siapa?



...💓Cutton Candy💓...


...*****...


Seorang lelaki duduk diatas rerumputan taman dan bersandar pada dinding tiang. Dalam kesunyian malam ia memejamkan kedua matanya menikmati keheningan yang selalu menemaninya. Tak ada teman dan tak ada siapa-siapa yang memahami hatinya yang sepi.


Tiba-tiba saja pikirannya teringat akan perkataan temannya yang mengusik hatinya yang kosong.


"Lo mulai suka kan ke dia?”


Dengan cepat lelaki itu membuka kedua matanya yang sempat terlelap. "Gue suka?yang benar aja,” Kekehnya pada dirinya sendiri.


Darrenjun mengeluarkan hapenya dari dalam sakunya. Bermaksud menyibukkan diri dan membuang segala pikiran aneh itu lagi. Meski saat ini ia sungguh tak berselera melakukan apa-apa. Bahkan game yang biasa ia mainkan terasa membosankan untuknya.


Ia terus saja menscrol layar hapenya yang tak ada notifikasi apa-apa. Dan tanpa di sangka tangannya terhenti saat nama seseorang berada pada panggilannya. Tangannya terasa gatal untuk menelpon nama orang itu yang mungkin akan merasa kesal karenanya.


Darrenjun mendekati hapenya kearah telinganya.


Dering pertama tak ada jawaban. Hingga pada dering kedua baru lah panggilan itu tersambung. Senyuman licik terukir di bibirnya. Saat orang ia yang telpon menjawab panggilannya.


-


Kina duduk dia tas sofa ruang keluarga sembari menikmati sepotong bolu karamel hasil buatan mamanya yang tengah gemar mencoba resep-resep baru yang ia lihat di internet.


Gadis itu menyaksikan tayangan yang ada di tv tanpa minat. Karena memang sebenarnya gadis itu tak terlalu suka dengan acara tv yang tengah tayang dihadapannya itu. Hanya saja gadis itu merasa bosan jika berdiam diri dikamar. Terlebih, hari ini papanya sedang ada dirumah dan menginginkan family time bersama keluarga kecil mereka.


Kina memasukan sepotong besar bolu karemael kedalam mulutnya dalam sekali suapan dan membuat pipi gadis itu mengembung.


"Kina kalo makan itu pelan pelan,” ujar sang mama, Tia yang menggelng-gelengkan kepalanya dengan tingkah anak perempuannya itu.


"Eamabolubuatan memeenak.”


"Kamu ngomong apa sih?” Tanya Tia yang merasa bingung dengan bahasa aliennya Kina.


Kina menelan bolu yang ada di dalam mulutnya secara cepat. "Kina bilang, bolu buatan mama enak,” jawabnya dengan semangat.


Tia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Oh. Kirain kamu ngomong apa tadi,” Ucap Tia.


"Berarti kalau gitu gak sia-sia mama belajar di internet". Lanjutnya.


Wanita itu sungguh senang dengan pujian yang diberikan Kina untuk hasil buatannya.


Tiba-tiba saja hape Kina bergetar dan membuat gadis itu langsung mengeluarkan hapenya dari dalam sakunya.


Gadis itu menatap layar hapenya cukup lama. menajamkan penglihatannya yang mungkin saja salah membaca nama dari sang penelpon.


Batu es Antartika mulut merica level 50 calling 📞


Kina memandang layar hapenya lagi. Berharap sang penelpon hanya sedang salah sambung. terlebih lagi, orang yang sedang menelponnya adalah orang yang paling ingin dia hindari.


Meski dilanda dengan dilema yang luar biasa. Kina tetap mengangkat telpon tersebut. Takut jika sang penelpon akan murka padanya dan berdampak pada kesepakatan mereka.


Dengan malas Kina menjawab panggilan tersebut. "Iya hallo. Ada apa lo nelpon gue malam-malam gini. Gak ada kerjaan lain apa?”Ucapnya tak suka secara erang-terangan. tidak puas kah orang itu menggangunya seharian penuh.


"...."


"LO GILA!" Teriak Kina cukup keras dan membuat kedua orang tuanya memandangnya dengan heran.


"Kina suaranya!" Peringat sang mama.


Kina menjauhkan hapenya dari telinganya dan menoleh ke arah mamanya. "Maaf ma,”Ucapnya dengan cengiran andalannya.


Tia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tingkah anak gadisnya itu.


Kina kembali mendekatkan hapenya ke arah telinganya. "Apa-apaan sih lo? Kesepakatannya kan gak ada yang begituan. Ngacoh dah lo,” protesnya.


"....."


"Ahh lo mainnya ngancem mulu. Yaudah gue tanya Mama sama Papa gue dulu. Kalo diizinin gue pergi. Kalo kagak, maaf aja nih ya.”


"...."


Kina menjauhkan hapenya lagi dari telinganya dan mendekat ketempat orang tuanya duduk.


"Ma, Pa. Kina boleh keluar bentar gak nemuin si Darrenjun?” Pintanya.


"Ngapain?”


"Tau nih gak jelas nih manusianya, minta di traktir Ice cream katanya. Boleh gak? Kalo gak juga gak papa,” ucapnya pada kedua orang tuanya.


Gadis itu sangat berharap jika kedua orang tuanya akan melarangnya. Dan dengan begitu ia jadi punya alasan untuk menolak permintaan aneh Darrenjun tersebut. Kebetulan dirinya juga sedang malas untuk keluar rumah.


"Yaudah pergi sana. Sebelum jam 10 harus pulang,” Ucap sang mama.


Kina terpelongoh mendengarkan penuturan Tia barusan dan hampir saja ia lupa menutup mulutnya. Ini adalah hal terlangkah yang diucapkan Tia padanya. biasanya wanita itu akan memarahinya dan akan melarangnya dengan tegas mengingat hari sudah malam. dan ini, hanya demi menemui seorang Darrenjun Evans untuk dibawakan ice cream. Tia memperbolehkannya begitu saja. tanpa embel-embel wejangan yang ia katakan kepada Kina.


"Mama seriusan ngizinin Kina keluar?”Ulangnya.


"Ya iyalah. uda sana kamu pergi cepat. kasihan si Darrenjun kelamaan nungguin kamu.”


Kina memandang wajah mamanya takjub. dan kembali ia mendekatkan hapenya pada telinganya dan menjawab si penelpon yang mungkin sudah mendengar semuanya karena memang gadis itu sengaja tak memutuskan panggilan tersebut.


"Iya gue otw,” ucapnya singkat. lalu mematikan sambungan telepon tersebut.


Kina bangkit dari duduknya dan bergegas pergi untuk menemui Darrenjun.


"Emang Darrenjun itu siapa ma?” Tanya papanya. yang memang belum tahu apa-apa mengenai Darrenjun.


"Ohh itu, anaknya Jia yang paling kecil. Anaknya pinter banget Pa, sering ngikutin olimpiade dan selalu dapet juara satu terus. Dia itu satu sekolah sama Kina. Dan yang ngebantu Kina belajar,” ucap Tia dengan semangat.


Max hanya mengangguk-angguk dengan penjelasan istrinya barusan.


Baru Saja Kina ingin membuka pintu rumahnya, Max lebih dulu memanggilnya.


"Kina!"


Kina berbalik dan menoleh ke arah Max.


"Iya kenapa Pa?” Tanyanya dengan kening berkerut. kembali Kina berharap kalau papanya akan menahannya dan melarangnya untuk keluar.


"Entar kapan-kapan kamu ajak Darrenjun main kesini. Biar papa bisa kenal dia juga.”


Tuingg


Kina merasakan dentuman keras menghantam kepalanya saat ini.


Sirna sudah harapannya.


"Buat apa sih Papa kenal dia? dia bukan siapa-siapanya Kina juga.”


"Lah katanya temen?”


"Iya kita emang temenan. tapi gak dekat,” jelas Kina.


"Yaudah kalau gitu bawa aja. Biar papa bisa tau sih Darrenjun itu gimana orangnya. Soalnya mama kamu seneng banget kayaknya sama dia.”


Kina menghembuskan nafasnya frustasi. Merasa gemas dengan ucapan sang papa.


"Nih ya Kina ingetin ke Papa. Papa gak usah berekspektasi tinggi soal Darrenjun. Darrenjun itu gak sebagus perkiraan Papa. Emang pinter sih anaknya. tapi sayang jelmaannya anak macan,” Jelas Kina.


Max langsung memandang ke arah Jia. Meminta penjelasan lebih lanjut.


"Hushh. Kamu ini suka banget ngejelekin orang,” Tegur Jia pada Kina.


Kina hanya merotasikan bola matanya malas. Gadis itu yakin setelah ini mamanya pasti akan mengomelinya. Tetapi sebelum itu terjadi. Gadis itu bergegas keluar dari rumahnya. "Uda ya Ma, Pa. Kina pergi dulu,” Pamitnya.


Kina hanya mengacungkan jempolnya ke atas dan pergi dengan langkah cepat. Menemui lelaki kurang kerjaan yang memintanya untuk dibelikan ice cream malam-malam seperti ini.


-


"Nah. pesanan lo,” Ucap Kina sembari menyerahkan satu buah ice cream tepat dihadapan Darrenjun.


Darrenjun mengambil ice cream tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun. Diam-diam lelaki itu tersenyum penuh kemenagan. karena telah berhasil mengerjai Kina.


"Lo ngapain sih malam-malam minta dibeliin ice cream segala. kurang kerjaan amat,” Omel Kina yang mengambil posisi duduk disebelah Darrenjun.


Gadis itu membuka bungkus ice cream yang ada ditangannya dengan kesal. Seakan-akan ice cream itu lah penyebab ia harus keluar malam-malam dari rumahnya.


"Gue gabut makanya nyuruh elo,” jawab Darrenjun sembari memasukan ice cream kedalam mulutnya.


"Lo gabutnya gangguin orang mulu,” Kembali Kina mengomel sendiri.


"Kenapa lo gak suka?” Tanya Darrenjun dengan menaikan sedikit intonasi suaranya.


Kina meremat jemarinya kuat-kuat. ingin sekali gadis itu melayangkan tinju pada lelaki menyebalkan yang tengah duduk disebelahnya itu.


"Gak siapa bilang. seuzon banget dah lo,”elaknya. Meski kesal, Kina tetap tau batasannya. Gadis itu tak ingin membuat lelaki itu murka.


"Lo harus tau. Gara-gara elo. Gue di omelin habis-habisan karena keluar malam gini.”


"Lo bohong.”


"Enggak. Gue gak bohong.” Bantah Kina.


Darrenjun menoleh ke arah Kina bahkan posisi duduk lelaki itu berubah memandang Kina.


"Gue denger tadi di telpon kalo orang tua lo ngizinin elo buat ketemu gue. Asalkan lo pulang sebelum jam 10,” Jelas Darrenjun.


Kina menjadi terdiam. Ucapan Darrenjun benar adanya.


Gadis itu mengalihkan perhatiannya dari Darrenjun ke arah ice cream yang ada ditangannya. Percuma ia menyangkal lagi. Karena Darrenjun sudah tahu kebenarannya dan lelaki itu begitu pintar dibandingkannya.


"Lo duduk disini sendirian cuma pingin makan ice cream doang?”


Darrenjun mengangguk.


"Dasar kurang kerjaan.”


"Suka-suka gue dong,” Jawab Darrenjun acuh.


Kina meremat jemarinya kuat merasa gemas dengan lelaki yang ada didepannya itu.


Darrenjun tahu benar bahwa Kina tengah menahan kekesalan oleh perkataannya barusan. Diam-diam lelaki itu tersenyum.


"Ayo,” Ajak Darrenjun yang telah bangkit dari duduknya.


"Lo mau kemana?”


"Ya pulang lah,” Jawab Darrenjun cuek.


"Pulang? Gituan doang,” Tanya Kina yang ikut berdiri.


"Kenapa? Lo masih betah disini?”


Kina menggeleng cepat. "Ya enggak lah,”Jawabnya dan bangkit dari duduknya.


Darrenjun berjalan lebih dulu didepan Kina dan membuat Kina sedikit kewalahan dibuat lelaki itu.


"Lo jalan cepatan amat dah,” Omel Kina yang mencoba menyamakan langkahnya dengan Darrenjun.


"Gue gak kecepatan. Emang dasarnya kaki lo aja yang kependekan.”


"Sialan lo.”


Darrenjun tak menggubris lelaki itu kembali mempercepat langkahnya. Ia sengaja melakukannya guna menggoda Kina.


"Lo sengaja kan jalan cepat?”


"Nah tuh tau,” Jawab lelaki itu enteng.


"Ngeselin lo.”


Darrenjun tak menggubris perkataan Kina. Lelaki itu terus tertawa dan berjalan dengan cepat meninggalkan Kina yang tertinggal jauh dibelakangnya.


Langkah Darrenjun tiba-tiba terhenti dan membuat Kina yang ada dibelakangnya menjadi kebingungan.


"Lo ngapain berhenti?” Tanyanya keheranan.


Darrenjun tak menjawab lelaki itu malah diam seribu bahasa.


Merasa penasaran Kina mengikuti arah pandang Darrenjun. Dan mendapati seorang wanita dewasa yang cantik berdiri tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Darrenjun,” Panggil wanita itu lagi dengan suara halusnya.


Jika bisa ia tebak, wanita itu seumuran dengan mamanya. Wanita cantik memiliki paras rupa mirip Darrenjun.


Tunggu.


Darrenjun?


Darrenjun tak bergeming. Lelaki itu masih terdiam ditempatnya memandang wanita yang ada didepannya dengan wajah shock


Kina memandang kedua orang itu secara bergantian. Gadis itu bingung dengan hubungan keduanya. Wajah keduanya begitu mirip, bak ibu dan anak.


"Jun,” Panggil wanita itu lagi.


Dan kini Kina menjadi terkejut bukan main, karena panggilan yang diucapkan wanita itu sama persis dengan panggilan yang ia berikan pada Darrenjun.


"Ada apa ini?” Pikirnya.


Wanita itu mendekat ke arah mereka hendak menghampiri Darrenjun yang masih diam membeku.


"Darrenjun,” Panggilnya lagi. Tatapan wanita itu begitu sendu saat memandang Darrenjun. Seperti ada kerinduan didalam tatapannya itu.


Darrenjun memundurkan langkahnya seperti ia sengaja menghindari wanita itu. Tentu saja hal itu membuat Kina semakin merasa aneh dengan gelagat lelaki itu. Baru saja Kina hendak merahi lengan Darrenjun. Lelaki itu lebih dulu pergi. Dan berlari menjauh meninggalkan keduanya.


"Jun tunggu! Jangan pergi. Jun!" Kembali wanita itu memanggilnya dengan suara yang mulai serak.


Tapi, sayang Darrenjun malah semakin mempercepat langkahnya. bahkan punggung lelaki itu sudah tak terlihat lagi.


Samar-samar Kina melihat wanita itu menangis dan tentu hal itu membuat Kina tak tega dibuatnya. ia langsung menghampiri wanita tersebut dan berjongkok dihadapannya. Menyamakan tinggi badannya.


"Tante gak papa?” tanyanya khawatir.


Wanita itu menggeleng lemah. "Gak papa". Jawabnya. Ia mengangkat wajahnya dan membuat Kina bisa melihat lebih jelas wajah wanita itu.


Seketika Kina merasa kagum dibuatnya. meski sedang menangis, wajahnya masih terlihat cantik. Sangat berbeda dengannya yang akan terlihat seperti hantu jika selesai menangis.


"Terima kasih,” Ucap wanita itu dan bangkit dari posisinya yang sebelumnya terduduk di lantai.


Kina mengangguk singkat dengan memamerkan senyuman tipis.


"Saya permisi,” Ucapnya lagi dan pergi dari situ.


Kina memandang kepergian wanita itu dalam diam. Punggung wanita itu jelas terlihat bergetar dengan hebatnya. Ia yakin bahwa wanita itu tengah menangis dengan hal yang entah apa itu.


...****...


...*💓Cutton Candy💓*...