Cutton Candy

Cutton Candy
Tak Berarti



...πŸ’“Cutton CandyπŸ’“...


...-...


Alby berdiri bersandar di samping tiang tinggi yang ada didepan parkiran. Lelaki itu sedang menunggu kedatangan seseorang.


Saat orang itu tiba. Alby langsung berdiri tegak dan menghampirinya.


"Kina,” Panggilnya dengan senyuman manisnya.


Kina langsung menoleh ke arah orang yang barusan memanggilnya.


"Alby,” Serunya.


"Gue boleh minta waktu lo gak?”


"Waktu?” Tanya Kina bingung. "Ngapain?”


"Itu. Ada yang mau gue omongin ke elo.”


"Yaudah ngomong aja,” Ucap Kina sembari tersenyum ke arah Alby.


Alby menggeleng. "Bukan. Maksud gue, gue mau ngomong berdua aja sama lo.” Lelaki itu melirik Kina dan Darrenjun bergantian.


"Bisa gak?” tanyanya lagi.


"Lama?”


"Cuma sebentar.”


Kina melirik ke arah Darrenjun yang ada disebelahnya. Meminta persetujuan dari lelaki itu.


"Jun.”


"Gue di kantin,” ucap Darrenjun singkat. "Jangan lama.”


Darrenjun memandang ke arah Alby dengan tatapan dinginnya. Seolah ucapannya bukan tertuju untuk Kina, melainkan untuk Alby saja.


Setelahnya Darrenjun pergi meninggalkan mereka berdua saja


Saat berjalan melewati Alby, Darrenjun menatap lelaki itu dengan tajam. Terlihat jelas sekali kalau Darrenjun membenci lelaki yang bernama Alby itu. Tak tau apa yang membuat Darrenjun membencinya.


Tentu saja Alby paham akan tatapan dingin Darrenjun padanya. Tapi, lelaki itu memilih untuk diam tak menghiraukannya.


"Lo mau ngomong apa?” Tanya Kina ke Alby. Setelah Darrenjun sudah pergi.


"Luka lo gimana?”


Kina reflek memegang wajahnya sendiri. "Uda mending kok. Tinggal bekasnya doang,”Ujarnya.


Alby menghembuskan nafasnya, sedikit menundukan kepalanya .


"Maaf". Katanya dengan perasaan bersalah.


Kina memandang Alby bingung. "Buat?”


"Soal kemarin,” Alby menggaruk belakang kepalanya. "Elo dan Yaya,” Lanjutnya lagi. Meski bukan dia penyebab wajah Kina seperti itu.


Kina mendengus kesal. "Yaya yang nyuruh lo minta maaf ke gue?”


"Bukan.”


"Terus?”


"Ini keinginan gue sendiri. Anggap aja ini perwakilan dari dia buat minta maaf ke elo,”terang Alby.


"Emang lo tau penyebab kita berantem?” Tanya Kina dengan kesal.


Alby menggeleng.


"Lo gak tau apa-apa tapi lo ngomong kayak gini. Lo tau gak, kalo ucapan lo ini ngeselin buat gue,” Sindir Kina.


Alby tercekat. Ia tak menyangka perminta maafnya ini bisa membuat Kina marah terhadapnya.


"Sorry Kin gueβ€”β€œ


"Al,” Potong Kina cepat dan membuat Alby tidak jadi melanjutkan ucapannya.


"Jujur gue kecewa banget sama lo,” Ujar Kina dengan kesal. "Gue kira kita itu temen. Tapi ternyata cuma gue doang yang ngerasa gitu.”


"Kina gak gue maksud,” Bantah Alby cepat.


"Terus maksud lo apa ngomong kayak gini ke gue? Lo mau bertanggung jawab atas hal yang lo gak tau gitu.”


"Kina gueβ€”β€œ


"Lo bahkan gak tau, kenapa gue dan Yaya bisa kelahi kayak kemarin. Tapi lo malah dateng-dateng minta maaf ke gue seakan lo tau semuanya.” Amarah Kina sungguh tak tertahankan lagi rasanya.


"Gue gak peduli gimana cintanya lo ke Yaya. Yang jelas gue gak suka kalo lo gak tau apa-apa tapi lo belagak tau semuanya,” Jelas Kina lagi.


"Sorry Kin gueβ€”β€œ


"Gue pergi dulu,” Pamit Kina. Lalu gadis itu pergi dengan langkah cepat.


Kina tak habis pikir dengan isi kepala Alby itu. Sebucin itu kah dia dengan Yaya . Sampai-sampai lelaki itu rela melakukan apa saja demi Yaya.


Alby masih disitu, diam memandangi punggung Kina yang mulai menjauh darinya.


Alby menghelakan nafasnya berat. Bukan ini maksud tujuannya menemui Kina tadi. lelaki itu hanya ingin mengklarifikasi masalah yang terjadi antara Kina dan juga Yaya. Dan lagi ia tak bermaksud menyinggung perasaan Kina seperti tadi.


Sekarang, Alby bingung. Bagaimana cara untuk membuat Kina tak marah lagi padanya. Baru saja ia memiliki teman yang begitu baik sepertinya. Dan ia tak rela jika gadis itu membencinya hanya karena kebodohan dari tindakannya. untuk saat ini, Alby akan mencari cara agar Kina tak marah lagi padanya.


...****...


"Lo uda selesai ngobrolnya?”


Kina terperanjat dari tempatnya. Saat Darrenjun tiba-tiba berdiri dihadapannya. Ia tak menyangka lelaki itu ternyata malah menunggunya.


"Lo ngapain sih masih disini?” Tanya Kina sedikit kesal. Jantungnya hampir saja copot tadi.


"Suka-suka gue lah,” Jawab Darrenjun sewot.


Kina hanya mendengus sebal. Percuma berdebat dengan Darrenjun yang ada tetap dirinya yang akan kalah.


"Lo bukannya mau ke kantin?” Tanyanya heran. Karena seingatnya lelaki itu pergi lebih dulu darinya.


"Tadinya. Tapi gue urungi niat gue itu.”


"Kenapa?”


Darrenjun melepas tas yang ada di pundaknya dan memberikannya pada Kina. "Tas gue berat. Babu,” ucapnya dengan senyuman mengejek.


Kina hampir saja mengumpat pada Darrenjun kalau saja ia tak ingat perjanjian sialan itu.


Dengan cepat Kina mengambil alih tas Darrenjun dan membawakannya. Gadis itu berjalan lebih dulu, tanpa menghiraukan Darrenjun yang berjalan disebelahnya. Mood nya lagi tak baik, dan lelaki itu malah menambahkannya.


Darrenjun jelas tau bahwa gadis itu kesal dengan ucapannya barusan. Tapi ia tak peduli. Senang rasanya melihat wajah kesal Kina yang ada di depannya ini.


Kina seketika berhenti saat melihat pemandangan dua orang yang sangat familiar sedang berdiri tak jauh dari pandangannya. Baru saja gadis itu ingin melupakan insiden kemarin. Dan ini, orang yang enggan ia temui malah sedang berdiri dihadapannya.


Darrenjun yang berjalan tepat disebelah Kina ikut berhenti. Merasa heran dengan Kina yang berhenti secara tiba-tiba. Darrenjun mengikuti arah pandangnya.


"Rey, Yaya,” Ucap Darrenjun dan membuat Kina langsung menoleh ke arahnya. Gadis itu lupa bahwa Darrenjun masih berada disebelahnya.


"Iya,” Jawab Kina. Mencoba bersikap biasa saja dihadapan Darrenjun.


Ingin rasanya Kina berbalik dan menghindari kedua orang itu. Tapi itu tidak lah mungkin. Yang ada Darrenjun akan menangkap basah sikap anehnya ini. Dan nantinya dia pasti akan dituntut oleh Darrenjun untuk menjelaskan semuanya.


"Rey gue ada sesuatu buat lo,” Ucap Yaya malu-malu. seakan-akan gadis itu ingin menyatakan cintanya pada Rey.


"Apaan?” Tanya Rey dengan malas. Sebenarnya lelaki itu sudah enggan bertemu dengan gadis yang sudah berstatus menjadi mantannya ini. Tapi sangat jahat rasanya jika ia mengusir gadis yang ada didepannya begitu saja.


Dari pada berburuk sangka terlebih dahulu. Rey memilih mendengarkan gadis itu dulu.


Yaya mengeluarkan sesuatu dari belakang tubuhnya. Sesuatu yang telah ia persiapkan. "Ini,” Ucapnya dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.


Senyuman yang dulunya adalah pemandangan favourite bagi Rey. Tapi tidak untuk sekarang ini.


"Gelang couple?” Ucap Rey merasa aneh dengan hadiah pemberian Yaya padanya.


Yaya mengangguk semangat. "Iya gelang couple,” Jawabnya membenarkan ucapan Rey barusan.


"Lo kan dulu pernah bilang. Kalo lo suka sama gelang ginian. Jadi waktu gue liat beginian tiba-tiba aja gue keinget elo Rey.”


Yaya menarik tangan Rey dan meletakan gelang yang ia bawa tadi pada telapak tangan Rey.


Tapi dengan cepat Rey menarik tangannya dan memberikan gelang tersebut kembali. sedikit memundurkan tubuhnya memberi jarak antara dirinya dan juga Yaya.


"Lo gila ya! Kita itu uda putus dan sekarang lo punyanya Alby. Lo paham gak sih?”


"Iya gue tau. Kalo Alby sekarang pacar gue. Tapi, gue bakalan putusin dia Rey. Asal lo mau balikan sama gue,” Rengek Yaya.


"Segampang itu lo mutusin Alby?”


Yaya mengangguk semangat. "Iya gue bakalan putusin dia secepatnya. Lagian, gue gak cinta sama Alby yang gue cinta itu elo Rey. Gue gak bisa move on dari lo.”


Rey memandang Yaya dengan tajam. "Dengar ya. Lo dan gue itu cuma masa lalu. Dan gue gak ada niat sedikit pun untuk balikan sama elo lagi. Lo harus paham itu.”


"Rey,” Rengek gadis itu. Yaya menahan tangan Rey. Tapi dengan cepat Rey menepisnya dengan kasar.


"Gue gak punya perasaan apa-apa lagi sama lo. Tolong lo segera lupain gue,” Ucap Rey tegas.


Yaya menggenggam jemarinya kuat. Merasa dirinya telah dicampakkan. Tapi, dirinya terlalu mencintai pria yang ada dihadapannya ini.


Rey pergi dengan cepat meninggalkan Yaya yang masih berdiri diam disitu.


Kina sulit mempercayai apa yang barusan ia lihat dan dengar barusan. Tak menyangka Alby sebegitu tak berartinya bagi kehidupan seorang Yaya. Padahal lelaki itu sungguh tulus menyayanginya. Tapi apa, gadis itu malah menyianyiakan perasaan Alby padanya.


Seketika Kina merasa kasihan terhadap Alby dan perjuangan yang tak ada artinya dimata gadis yang masih berstatus menjadi pacarnya.


"Lo jangan pernah ikut campur.”


Kina langsung menoleh ke arah Darrenjun yang barusan berucap padanya.


"Maksud lo apa?” tanya Kina merasa bingung dengan ucapan Darrenjun barusan.


Darrenjun memandang Kina lekat. "Jangan pernah ikut campur urusan mereka. Gak peduli, seberapa dekatnya lo dengan Alby. Gue harap lo bijak dalam menyikapi permasalahan yang bukan urusan lo,” ucap Darrenjun dengan tegas.


Kina hanya diam mendengarkan perkataan Darrenjun barusan yang jelas tertuju untuknya. Tak berniat membantah ucapannya juga. Darrenjun benar, ini tidak ada kaitan sama sekali dengannya.


Sungguh luar biasa kau Darrenjun Evans bisa menebak isi kepala Kina saat ini.


...****...


Kina dan Darrenjun baru saja menapakkan kakinya di kantin. Selain atap, kantin adalah tempat favourite mereka.


"Ayo,” Ajak Darrenjun pada Kina. Gadis itu sejak dari tadi hanya diam melamun. Memikirkan bagaimana kecewannya seorang Alby Jonathan. Jika ia mengetahui bagaimana dirinya dimata Yaya.


Kina mengangguk singkat dan mengekori Darrenjun dari belakang. Saat berjalan, Kina sedikit menundukkan kepalanya. Menyembunyikan wajah kacaunya. Terlebih lagi, Rey ada disitu. Gadis itu tak ingin Rey menyadari perubahan aneh pada wajahnya.


Sialnya, Darrenjun malah memilih tempat duduk yang dimana Rey berada tepat didepan mereka.


"Wajah lo kenapa Kin?”


Rey mencondongkan tubuhnya kedepan, menepis jarak antara dirinya dan Kina yang duduk tepat didepannya.


Semua orang yang ada di meja memandangnya dengan penasaran. Bahkan Mark yang sedang lahap-lahapnya memakan nasi goreng memandang ke arah Kina juga.


Tatapan mereka yang begitu intens ke arah Kina membuat gadis itu merasa gugup. Padahal ia tak pernah sekalipun merasa begitu.


"I… tu… Gue cuma kejedot pintu,” Bohong Kina.


Darrenjun seketika terkekeh pelan dengan ucapan yang barusan dilontarkan oleh Kina.


"Kemarin katanya kepeleset. Sekarang kejedot pintu. Besok-besok apalagi?”


Kina langsung menoleh ke arah Darrenjun yang duduk tepat disebelahnya dengan tajam. mengisyaratkan agar kelak itu segera tutup mulut.


Percuma saja Kina melakukan hal seperti itu. Darrenjun malah bersikap seolah-olah tak ada kejadian sama sekali.


"Uda di obatin?” Tanya Rey khawatir.


Kina mengangguk pelan. "Uda. ini tinggal bekasnya doang,” ucapnya.


Rey tersenyum tipis, tangannya terulur kedepan dan mengelus rambut Kina lembut. "Lain kali hati-hati,” Ucapnya masih dengan senyuman yang selalu menghiasi wajah tampannya.


Seketika Kina terdiam dengan perlakuan Rey padanya. Jantungnya seakan lomba lari acara 17an.


"Woi tangan lo apa-apan!" Teriak Arji yang duduk diseberang meja.


"Di elus Ji,” Ledek Emilio memanas-manasin hati Arji yang terbakar cemburu.


Rey langsung menarik tangannya dan memandang Arji dengan wajah tanpa dosa. "Sorry reflek gue,” Ucapnya dan membuat Arji hampir berdiri dari duduknya.


Meski Rey telah kembali ke tempat duduknya. Jantungnya Kina masih saja berdebar begitu hebatnya. bahkan pasokan oksigen di sekitar gadis itu mendadak menipis.


Darrenjun memandangi interaksi keduanya dalam diam. Lelaki itu merasa ada sesuatu yang aneh terhadap diri seorang Rey pada gadis yang ada disebelahnya ini. Menurutnya sikap Rey barusan terbilang cukup berlebihan jika mengingat luka yang Kina alami tak terlalu serius. Terlebih lagi status Rey yang sudah memiliki seorang pacar.


Apa sikap lelaki itu hanya sebuah rasa simpatinya kepada Kina saja. Atau Rey diam-diam memiliki hati pada Kina.


Ah sudah lah. Dengan cepat Darrenjun membuang segala pikiran bodohnya terhadap hubungan Kina dan Rey yang nantinya bisa merepotkannya. Dari pada ikut campur kedalam kisah cinta keduanya. Darrenjun memilih mengamatinya dalam diam.


"Muka lo uda cukup jelek sekarang malah tambah jelek,” Ejek Haikal pada Kina.


Kina menoleh ke arah Haikal dan menatapnya tajam. "Lo gak ngaca apa? Kalo muka lo lebih ancur dibandingkan gue,” Balas Kina.


"Wah wah... Sembarangan amat tuh mulut kalo ngomong. Filter mbak!" jelas Haikal.


"Biarin. Suka-suka gue. Lagian gue ngomong berdasarkan fakta,” Timpal Kina.


Brakkkk


Haikal baru saja menggebrak meja dan sekarang lelaki itu telah bangkit dari duduknya. "Lo nantangin gue mulu perasaan. Sini lo maju!" tunjuknya ke arah Kina dengan sorot mata kebencian.


Tak mau kalah, Kina ikut berdiri. Tapi tak menggebrak meja, mengingat ada Rey dan Darrenjun disitu. Rey mungkin akan memakluminya tapi tidak untuk Darrenjun. lelaki itu pasti akan mengamuk padanya.


"Lo yang kesini. Lo kira gue bakalan diam aja dengan ucapan lo itu.”


Haikal baru saja ingin pergi menghampiri Kina. Tapi lebih dulu Mark menahannya.


"Lo ngapain nahan gue!? Mau ngebela dia iya?!" Tunjuk Haikal ke arah Kina. Lelaki itu berbicara dengan menaikan intonasi suaranya.


Mark menghelakan nafasnya berat. Lalu dalam sekejap Mark menarik tangan Haikal mendekat ke arahnya. "Lo gak liat tatapan si Arji yang uda siap bunuh lo,” Bisiknya.


Haikal tersentak, lalu dengan cepat ia melirik ke arah Arji. Ternyata ucapan Mark benar. Arji tengah memandang ke arahnya dengan tatapan tajam. Bahkan tangan lelaki itu sejak dari tadi sudah terkepal begitu kuat.


Memilih untuk menyelamatkan nyawanya. Haikal kembali ke tempat duduknya.


Meski tak jadi menghampiri Kina. Haikal tetap melempar tatapan penuh kebencian ke arah Kina.


Dan hal yang sama tengah dilakukan Kina, saling melempar tatapan penuh permusuhan dan kebencian.


"Kina lo besok ada waktu gak?” Tanya Rey pada Kina. Gadis itu langsung memutuskan kontak matanya pada Haikal dan memandang Rey yang ada didepannya.


Kina menggeleng. "Enggak kenapa?” Tanyanya.


"Besok gue tanding. Lo dateng ya,” Pinta Rey dengan suara lembutnya.


"Oh ya. Dimana?”


"Besok datangnya bareng Darrenjun. Dia tau tempatnya,” Terang Rey.


Kina melirik ke arah Darrenjun sebentar. Tapi sayang lelaki itu bersikap seolah-olah tak mendengar ucapan Rey barusan. malahan lelaki itu tengah sibuk dengan hapenya.


Kina melirik ke arah Rey lagi. "Iya pasti. Gue dateng,” Ucapnya dengan semangat.


"Janji?” Tanya Rey.


Kina mengangguk semangat. "Iya gue janji.”


Rey tersenyum lebar.


"Makasih ya Kin. Gue tunggu kedatangan lo.”


...****...


"Junβ€”β€œ


Lelaki itu berbalik memandang Kina.


"Elo yakin mau datang?” Tanya Darrenjun memastikan.


Kina mengangguk cepat. "Ya yakin lah,” Ucapnya. "Emang kenapa?”


Darrenjun menghembuskan nafasnya pelan. "Besok Rey tanding dan ada Naya juga disitu,” Terang Darrenjun.


Kina mengerutkan keningnya. tak paham dengan maksud ucapan Darrenjun barusan. "Terus hubungannya apa?” tanyanya.


Sekali lagi Darrenjun menghembuskan nafasnya. Kali ini lebih panjang. "Lo yakin mau ngeliat Rey mesra-mesraan dengan Naya di depan lo besok?”


Kina seketika tercekat. Ini adalah pertanyaan tersulit untuknya. Jika boleh jujur ia sungguh tak siap.


"Itu sih terserah lo mau datang atau enggak. Gue cuma ngingetin doang,” Jelas Darrenjun. Lalu lelaki itu berjalan ke arah motornya.


Kina masih berdiri diam disitu. Menimbang kembali keputusannya yang mungkin nantinya akan menghancurkan hatinya sendiri. Lalu tangannya menahan lengan Darrenjun dan membuat lelaki itu langsung berbalik.


"Gue. Gue gak bisa gak dateng,” Ucap Kina cepat.


"Kenapa?”


"Gue uda janji ke Rey. Lagian ini emang resiko gue, karena suka ke orang yang jelas-jelas gue tau kalo dia uda punya pacar,” Ujar Kina pelan.


Darrenjun mengangguk singkat. "Yaudah kalo itu mau lo. Jam 2 gue tunggu di taman komplek. Kalo lo telat gue tinggalin dan lo gak boleh nebeng ke gue. Lo harus bawa motor lo sendiri.”


Kina menangguk cepat. "Ok,” Jawabnya.


...*πŸ’“Cutton CandyπŸ’“*...


...Mohon saran dan masukannya teman-teman semua πŸ™πŸ™...