Cutton Candy

Cutton Candy
Guru Private



...πŸ’“Cutton CandyπŸ’“...


...-...


Bel menandakan telah berakhirnya jam pelajaran baru saja berbunyi. Dan tentu saja gadis itu secepatnya keluar dari kelasnya untuk menemui Darrenjun sesuai janjinya mereka hari ni.


Tiba-tiba seseorang menarik lengannya dan membuat sang gadis sedikit terhenyak.


Gadis itu menatap si pelaku dengan kening berkerut.


"Ada apa?" tanyanya saat tau siapa orang yang barusan menariknya.


"Gue mau ngomong hal penting sama lo."


"Hal penting apaan?"


"Soal hubungan lo dengan Darrenjun," Jelasnya.


Kina menghembuskan nafasnya malas. "Kan tadi tuh anak uda ngomong soal hubungan gue sama dia itu apaan."


"Iya gue tau Kin. Yang pengen gue tau, kenapa lo bisa-bisanya mau dijadiin babu sama dia?" tanyanya.Β 


"Gue tau lo gak mungkin ngelakuin hal itu kalo lo gak terlibat sesuatu yang penting ke dia," Ucap Arji dengan tatapan serius.


Kina menghembuskan nafasnya pelan.


"Soal itu, sorry Ji. Gue enggak bisa cerita ke elo. ini masalah gue sama dia," jelas Kina.


"Tapi Kin. Lo kan belum kenal dia. Lo juga belum tau dia kayak apa dan yang lo lakuin saat ini bahaya buat lo juga."


Jelas sekali kalau Arji khawatir dengan Kina dan Kina jadi merasa tidak enak ke dia.


"Lo benar Ji dan thanks buat perhatian lo juga ke gue," Kina menepuk pundak Arji pelan.


"Tapi ini uda jadi keputusan gue. Jadi gue gak bisa berhenti gitu aja," Lanjut Kina lagi.


Arji diam beberapa saat, lalu dia kembali bersuara. "Yaudah deh, kalo emang itu privasi buat lo. Gue juga gak mungkin nuntut juga kan," katanya dengan senyuman kecut dibibirnya.


"Yang penting kalo ada apa-apa lo harus cerita ke gue ya," Pintanya dan dibalas anggukan oleh Kina.


Jujur, Kina jadi merasa tidak enak ke Arji. Karena hubungannya dengan Darrenjun membuat Arji jadi khawatir terhadapnya. Tapi mau bagaimana pun ini sudah menjadi tekadnya.


"Lo masih ada yang mau di omongin?". Tanya Kina ke Arji. Setelah keheningan melanda keduanya.


Arji menggeleng pelan. "Kalo gitu gue cabut dulu," pamitnya.


"Lo mau ke kelasnya Darrenjun?"


Kina mengangguk.


"Yaudah sana," Usir Arji pelan. Lalu lelaki itu pergi meninggalkan Kina.


Kina tidak langsung beranjak dari tempat itu. Ia masih memandangi punggung Arji yang perlahan mulai menjauh.


Arji memang bukan orang yang peka. Tapi Arji orang yang cukup perhatian dan jujur saja melihat Arji khawatir terhadapnya membuat hatinya merasa bersalah.


Kina menggelengkan kepalanya, membuang segala prasangkanya dan segera pergi menyusul Darrenjun yang mungkin sudah menunggunya.


...\=\=\=...


Kina dan Darrenjun memutuskan untuk belajar di kafe yang berada tak jauh dari rumah mereka. kafe yang cukup sepi pengunjung dan salah satu rekomendasi bagi mereka yang memerlukan ketenangan. Seperti mereka ini.


Sebelum mereka memulai sesi belajar. Kina dan Darrenjun memesan minuman dan juga snack yang ada di kafe, guna menemani waktu belajarnya mereka.


Darrenjun mengeluarkan peralatannya dan begitu pula yang dilakukan Kina.


"Sebelum kita mulai. Gue harus tau dulu level lo ada dimana," Ucap Darrenjun dengan serius.


Kina mengerutkan keningnya lalu menjawab lelaki itu. "Ihh elo kok rasis amat jadi orang? Segala gituan mau di level in," ucapnya tak terima.


Dengan gerakan cepat Darrenjun menjitak kepala Kina pelan dan membuat sih gadis mengadu kesakitan.


"Awwww!" Pekik Kina.


"Maksud gue bukan itu," ucap Darrenjun kesal.


Kina mengusap-ngusap kepalanya yang cukup sakit akibat Darrenjun.


"Lo apa-apaan sih? Sakit bego."


Darrenjun memandang Kina dengan tatapan mematikan. "Lo ngatain gue bego?"


"Kagak, gue ngatain diri gue sendiri kok," Ucap Kina cepat. Sebelum Darrenjun menjadi murka padanya dan berdampak dengan kesepakatan mereka.


Kina menarik nafasnya mencoba bersabar menghadapi sifat Darrenjun yang 11 12 mirip roller coster.


"Lo bawa yang gue suruh kemarin?" Tanya Darrenjun tiba-tiba.


"Kertas ulangan kemarin?"


Darrenjun mengangguk singkat.


Kina membuka tasnya dan mencari keberadaan kertas ulang didalam tasnya.


Setelah menemukan kertas yang dimaksud oleh Darrenjun, Kina tidak langsung memberikannya kepada Darrenjun. Gadis itu malah mengangkatnya diudara.


"Sebelum gue kasih nih kertas ulangan. Gue mau bilang ke elo, kalo sebenarnya gue ini gak bodoh-bodoh amat. Jadi lo gak perlu khawatir buat ngajarin gue," Kata Kina dengan bangga.


"Bahkan nilai gue bisa kategorikan lumayan bagus," lanjutnya lagi.


Darrenjun mengangkat sebelah alisnya, dia merasa penasaran dengan hasil nilai yang dibanggakan gadis itu padanya. Dengan cepat Darrenjun merebut kertas yang dipegang oleh Kina.


Lalu dilihatnya dengan serius isi dari kertas tersebut. Gadis itu masih saja tersenyum bangga. dia yakin Darrenjun akan terkagum oleh nilai yang dia peroleh.


Setelah puas meneliti isi kertas tersebut. Renjun mengalihkan perhatiannya dari kertas yang ada didepannya kearah Kina.


Dengan kesal Kina merebut kembali kertasnya. "Yah lumayan lah, lo gak liat apa? Nilai gue lewat dari KKM," ucapnya tak terima.


"Lebih tepatnya nilai lo pas-pas an," terang Darrenjun.


Kina bungkam.


"Gue gak nyangka ternyata otak lo cuma sebeginian doang isinya," omong Darrenjun dengan senyum mengejek.


Kina tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya dengan ucapan Darrenjun yang bisa dikatakan kelewat jujur itu. Bisa-bisanya dia mengatakan hal barusan dengan mudahnya tanpa beban.


"Lo ngatain gue bego dong?" tanya Kina memastikan.


"Yup," Ucap Darrenjun dengan semangat.


Seandainya. Ya seandainya saja mereka tidak dalam mode perjanjian. sudah dipastikan senyuman Darrenjun yang begitu menyebalkan menurut Kina, akan berubah ke dalam tangisan. Tentu saja itu masih seandainya. Tapi balik lagi ke realita hidup. Gadis itu hanya bisa bungkam tanpa perlawanan.


Darrenjun membuka buku pelajaran yang telah ia persiapkan untuk mengajari Kina. lalu lelaki itu mulai menerangkan beberapa materi kepada Kina.


Semua rumus-rumus yang Darrenjun ucapin ke Kina berasa bahasa alien ditelinganya. Sebut saja Kina tidak mengerti apapun yang Darrenjun jelasin padanya.


Darrenjun mengangkat kepalanya dan memandang Kina. "Sampek sini lo paham kan?" Tanyanya.


Kina hanya menyengir memandang Darrenjun.


"Enggak."


Darrenjun menutup kedua matanya sebentar mencoba meredakan amarahnya. Dia sama sekali tak menyangka kalau mengajari Kina, akan sangat memberatkan seperti ini. Padahal dirinya tadi, telah mencoba menjelaskan semua materi yang ia ajarkan secara pelan dan juga terperinci.


Sekarang dia bertanya pada dirinya. Apa memang dirinya yang kelewat jenius atau gadis itu yang terlalu bodoh.


Darrenjun memandang Kina dengan serius. "Lo mau jadi babu gue terus?"


Kina menggeleng dengan cepat. "Ya enggak lah. Ogah banget."


"Yaudah kalo gitu elo yang fokus dong," Ucap Darrenjun kesal.


Kina hanya menyengir.


"Iya ... Iya sorry," katanya, mencoba menghibur Darrenjun yang sudah terlihat emosi.


Dan kembali mereka melanjutkan acara belajarnya mereka. Darrenjun yang serius untuk mengajari Kina dan begitu pula yang dialakukan gadis itu. mencoba fokus dengan penjelasan yang disampaikan oleh Darrenjun.


Keduanya telah larut dalam keheningan.


...\=\=\=\=...


"Untuk saat ini kayaknya lo belum bisa di ajarin dalam level yang tinggi. Jadi sebaiknya gue ngajarin lo dari dasar dulu."


Kina melototkan kedua matanya. "Maksud lo, gue harus turun peringkat gitu?" ucapnya dengan panik.


"Ya ampun Jun, Gue kan uda kelas 2 SMA. masa iya gue harus balik ke SD lagi," ucap Kina dengan sedih.


Darrenjun menepuk keningnya pelan. "Maksud gue bukan kayak gitu."


"Lah terus?"


"Materi yang mau gue ajarin dibalikin ke dasar supaya lo paham. Bukan lo yang balik ke SD lagi!" Kesal Darrenjun.


Darrenjun sungguh tak menyangka kalau Kina akan menyimpulkan perkataanya barusan seperti itu.


"Yaudah kalo itu yang terbaik," Ucap Kina pasrah.


"Ada baiknya lo hapalin dulu semua rumus yang gue ajarin. Dipertemuan berikutnya lagi, gue bakal ngasih lo soal-soal," Terang Darrenjun.


Kina mengangguk dengan semangat. "Ok ok. Gue bakalan lakuin apa yang elo suruh."


Darrenjun menyeruput es pesenan dia yang sempat dianggurin olehnya. Lalu lelaki itu memandang ke arah Kina.


"Lo ngelakuin ini semua buat apaan?"


"Soalnya gak mungkin lo niat banget nguber-nguber gue kalau bukan karena hal yang penting," tanya Darrenjun.


Kina terdiam beberapa saat, lalu gadis itu berbicara. "Ada deh. Lo gak perlu tau."


"Lo ngelakuin ini semua bukan karena semata-mata supaya si Rey ngelirik ke elo kan?" Tebak Darrenjun.


Kina memandang Darrenjun dengan horor. "Apaan sih lo. Sotoi amat dah," kesal Kina.


"Iya, gue emang naksir ke Rey. Tapi bukan berarti gue ngelakuin ini semua hanya samata-mata agar dia ngelirik gue."


"Oh jadi lo beneran naksir Rey? Padahal gue cuma bercanda tadi," ucap Darrenjun sedikit mengejek.


Kina tercekat. Ternyata dirinya telah dijebak.


"Eh. Enggak ... enggakk bukan gitu." Kina mencoba mengelak.


"Lo gak usah menyangkal lagi. Gue tau lo suka Rey dari dulu."


"Iya gue emang suka Rey. puas lo!" ucap Kina kesal.


Darrenjun hanya mengangkat kedua pundaknya acuh. Padahal dirinya hanya mencoba menggoda gadis itu. untuk membuatnya sedikit diam.


Dari arah berlawanan, seseorang berdiri memandangi sepasang remaja yang tampak tengah bercanda gurau. Senyumannya tiba-tiba terukir menghiasi wajahnya. Tak ingin ketahuan oleh keduanya orang itu pergi dari tempat ia berdiri tadi.


...\=\=\=\=\=...


...πŸ’“*Cutton Candy***πŸ’“...


...\=\=\=\=...


***Mungkin ceritaku ini masih pada berantakan dan perlu pembenahan lagi ****πŸ₯ΊπŸ₯Ί**** Tapi aku harap kalian tetap memberi support ke aku ya ****πŸ™πŸ™*


***Kalau gitu terima kasih untuk semuanya. salam sayang dari author ****😘😘*