Cutton Candy

Cutton Candy
Kembali ke Sekolah



...đź’“CUTTON CANDYđź’“...


...-...


Pagi yang cerah untuk Kina memulai harinya yang baru.


Pagi ini ia begitu bersemangat, karena pada akhirnya ia sudah diperbolehkan lagi untuk ke sekolah. Gadis itu sudah hampir mati kebosanan dirumah. Bahkan Drakor yang menjadi penyemangat untuknya tak bisa membuatnya merasa betah.


Suara deru motor memenuhi perkarangan rumah Kina dan membuat gadis itu langsung bergegas keluar dari rumahnya. Penasran dengan siapa yang baru saja tiba.


Kina sempat menduga bahwa Darrenjun lah yang baru saja tiba, mengingat insiden kemarin dimana Rey terlihat sangat kacau dan tak memungkinkan untuk menepati janjinya mengantar Kina ke sekolah.


Tapi, siapa sangka dugaan Kina salah besar, kenyataannya Rey lah yang telah berada didepan rumahnya. Rey duduk diatas motornya dan tersenyum cerah ke arahnya. Layaknya mentari pagi.


Pemandangan favourite Kina.


Kina tidak bisa untuk tidak ikut tersenyum melihat senyuman Rey yang begitu menular baginya.


"Rey." 


Kina menghampiri Rey dengan gembira. Gadis itu berdiri di hadapan Jaemin dengan tas ransel yang berada pada pundaknya.


"Gue masih bolehkan nganter elo?" Tanya Rey dengan ragu.


Kina mengernyitkan dahinya, merasa aneh dengan pertanyaaan Rey barusan. "Justru gue seneng banget malah karena elo mau nganterin gue ke sekolah."


Rey menghelakan nafasnya. "Syukur deh kalo lo ternyata gak marah ke gue," Ucap Rey sembari mengelus dadanya.


"Marah? Karena?"


Rey menggaruk belakang kepalanya layaknya orang yang sedang salah tingkah. "Soal gue dan Alby."


"Oh itu. Ya enggak lah. lagian itu kan masalahnya elo dua, gak ada urusannya sama gue."


"Iya juga sih. Yaudah ayo naik." Ajak Rey.


Kina mengangguk semangat. Lalu naik ke atas motor Rey.


Saat berada di atas motor Rey dada Kina tiba-tiba bergemuruh bukan main. Hingga ia takut kalau Rey dapat mendengar suara detak jantungnya.


"Uda?" Rey menoleh dan lagi-lagi Kina tak bisa untuk tidak berdebar. Jarak kedua wajah mereka begitu dekat.


"Kin."


"Ah. Iya."


Rey tersenyum lalu mengarahkan tangan Kina ke arah pinggangnya memberi instruksi pada gadis itu untuk memeluknya. "Pegangan jangan di lepas," Ucap Rey dan membuat kedua pipi Kina bersemu merah.


Ia senang bisa mendapatkan suatu kehormatan seperti ini. Ini harapannya menjadi kenyataan.


Motor Rey melaju meninggalkan halaman rumah Kina. Saat keduanya telah pergi, tanpa mereka sadari seseorang sejak dari tadi telah berada disana. Dan dalam jarak yang tidak terlalu jauh ia memperhatikan keduanya dalam diam.


Helaan nafas panjang keluar dari bibirnya begitu saja.


"Gue telat," Ucapnya dengan senyuman kecut. Orang itu tak laiin dan tak bukan adalah Darrenjun Evans.


-


-


Sesampainya didalam kelas Kina tak bisa lagi menghindari segala pertanyaan demi pertanyaan yang keluar dari bibir kedua sahabatnya mengenai peristiwa yang baru saja menimpanya.


"Jadi kondisi lo gimana? Masih sakit?" Lala dan Mita tak dapat menyembunyikan ke khawatirannya pada Kina.


Kina menggeleng. "Uda mendingan."


Mita memukul pelan pundak Kina. "Elo jahat banget sih. kenapa gak ngasi tau kita kalo lo lagi sakit. Kita jadi ngerasa jadi sahabat yang payah buat elo hiks," Mita memeluk Kina sembari terisak.


"Sorry. Jangan nangis gini dong. Gue gak maksud nyembunyiin apa-apa sama kalian emang kebetulan aja hape gue juga rusak jadi gak bisa ngabarin kalian." Kina mengusap punggung Mita dengan lembut.


Mita menghentikan tangisnya lalu memandang Kina lagi. "Lain kali kalo ada apa-apa lo wajib cerita."


Kina mengangguk dengan semangat mengiyakan ucapan Mita berusan


Brakkk


Arji baru saja tiba. Ia melempar tasnya asal hingga mengakibatkan suara dentuman yang keras. Lalu ia berjalan cepat ke arah meja Kina.


"Lo gak papa Kin? Gue denger lo habis di tabrak dengan Yaya," Arji memegang kedua pipi Kina dan membuatnya sulit untuk bernafas.


Kina menepis tangan Arji dengan kasar dan menatap lelaki itu dengan dongkol. "Lo apa-apaan sih. Tuh tangan habis dari mana?"


Arji mendekatkan kedua tangannya ke arah hidungnya dan mengendusnya. "Toilet," Jawabnya dengan cengiran.


Kina terpelongoh, lalu mengeluarkan beberapa lembar tissue dari dalam tasnya. "Sialan lo, jangan-jangan lo habis BAB?"


Arji mengangguk dengan pelan.


"ARJI SIALAN!"


Kina melempar barang-barang yang berada pada mejanya ke arah Arji dengan bar-bar. bayangkan saja jika kalian menjadi Kina pasti kalian akan melakukan hal yang sama.


"Sabar dong Kin. Gue uda cuci tangan tau malah gue juga uda pake handsanitizer. Liat nih." Arji menunjukan handsanitizer yang ia punya pada Kina dan seketika amukan Kina pun reda.


Kina menghelakan nafasnya lalu memandang lelaki itu lagi. "Kirain lo lupa cuci tangan."


"Ya enggak lah. Gue gak sejorok itu."


"Yaudah sorry. Ambilin tuh barang-barang gue dong."


"Giliran ginian ngomongnya lembu." Meski kesal, Arji tetap melakukan permintaan Kina tersebut.


Setelah mengumpulkan barang-barang Kina yang telah berceceran di lantai. Arji mengambil tempat duduk didepannya. Lalu ia menatap gadis itu dengan lekat. "Gue gak nyangka si Yaya se nekat ini dengan lo. Mana tangan dan kaki lo ancur lagi kegores aspal."


Mita dan Lala memandang Kina dengan shock. "Yaya yang ngelakuin ini ke elo?" Tanya keduanya.


Kina mengangguk pelan.


"Kok tega," Ucap kedua gadis itu bersamaan.


"Iy..a karena salah gue juga sih."


"Salah elo?" Arji menyela.


Kina mengangguk.


"Lo gak usah sok kebaikan deh Kin uda liat juga karena dia emang gak suka sama elo."


"Iya karena gue yang salah makanya dia benci gue," Timpal Kina.


"Maksud lo?"


Kina menghembuskan nafasnya pelan. bagaimanpun ia harus bertanggung jawab dengan permasalahan ini dan meluruskan kesalah pahaman yang ada.


"Yaya cemburu karena gue deket dengan Rey dan juga Jeno."


"Tapi itu kan gak salah elo. Emang dianya aja yang kelewatan," Bantah Lala.


"Tunggu... Tunggu. Sejak kapan lo deket dengan Alby?" Potong Arji. Sepertinya ia menjadi tertarik dengan perbincangan mereka.


"Baru-baru aja sih," Ucap Kina seadaanya. Karena memang keduanya tak memiliki hubungan spesial.


"Jadi yang kemarin Alby nungguin elo karena kalian emang deket?" Tanya Mita yang baru menyadari tentang hubungan Kina dan Alby.


"LO GAK PACARAN KAN DENGAN DIA KAN?" Tanya Arji dengan nada melengking hingga Kina terpaksa menutup kedua telinganya.


"SUARA LO BISA BIASA AJA GAK SIH?" Gantian Kina berucap dengan suara melengking dan membuat ketiga orang itu langsung menyumbat telinganya dengan kedua tangannya.


Arji menyengir. "Hehe Sorry."


Kina mendengus sebal.


"Kak Arji."


Seorang gadis cantik menghampiri meja mereka dan membuat ketiga gadis itu menoleh ke arahnya.


Gadis cantik dan juga imut dengan poni didepan dan rambut panjangnya.


Kina, Lala dan Mita memandang gadis itu dengan kagum. Kagum karena kecantikannya tapi hal itu tak berlaku bagi Arji. Lelaki itu malahan menatapnya dengan tatapan kebencian.


"Lo lagi. Lo ngapain sih pake acara nyamperin ke kelas gue segala?" Ucap Arji dengan nada yang tak enak didengar.


Gadis cantik itu hanya menyengir dengan ucapan kasar Arji barusan.  "Iya aku lagi. Keyla hehe," Ucapnya polos.


Sekarang ketiganya tau nama si gadis cantik itu, Keyla. Sepertinya Keyla adik kelas mereka.


"Ini buat kakak," Keyla menyerahkan sekotak pulpen pada Arji.


Arji tak langsung menerimanya lelaki itu menatap bingung Keyla. "Buat apaan? Gue gak butuh."


"Kakak gak usah gak enakan gini'. Keyla menarik tangan Arji dan meletakan sekotak pulpen tersebut di atas tangan Arji. "Aku ngasih ini ikhlas buat kakak dari hati aku yang paling dalam."


Ketiga gadis itu terpelongoh mendengar penjelasan Keyla barusan. Mereka tak menyangka Keyla tau apa yang Arji perlukan.


"Gue punya duit jadi lo gak usah ngasih gue ginian. Lagian gue gak suka dideketin sama lo lagi."


"Jangan sotoi deh jadi orang."


"Keyla gak sotoi. Tapi Keyla tau apa yang kak Arji perlukan."


Brakkk


Arji bangkit dari duduknya dan menatap Keyla tajam. Baru kali ini Kina melihat Arji marah.


"Lo ngerti bahasa gak sih. Gue gak mau dideketin sama elo karena gue-"


"Iya kak Arji suka kan sama kak Kina," Potong Keyla.


Kina, Lala dan Mita tak dapat menyembunyikan keterkejutan mereka. Ketiganya telah menjadi penonton setia.


"Iya gue suka Kina. Lo mending pergi jangan deketin gue lagi."


"Gak akan. Aku suka kakak dan kak Kina gak suka kakak. Jadi aku bakalan buat kakak suka ke aku juga dan kita bakalan pacaran."


Lagi-lagi ketiganya takjub dengan ucapan ajaib Keyla barusan.


Arji mengepalkan tangannya kuat, lalu pergi meninggalkan Keyla begitu saja.


"Kak Arji tunggu!"


Arji tak menggubris panggilan Keyla untuknya. Malahan ia mempercepat langkahnya.


Keyla melirik ke arah Kina. "Kak Kina jangan suka ke kak Arji ya," Peringatnya.


Kina menatap Keyla sebentar lalu mengangguk pelan. "Enggak lo deketin aja Arji sana. Semangat," Dukungnya.


Keyla mengangguk semangat dan tersenyum senang. "Makasih ya kak Kina. Yaudah kalo gitu aku pergi dulu. Bye kak Kina, kak Mita, kak Lala."


Lalu ia pergi meninggalkan kelas mereka dengan berlari. Menyusul Arji yang telah menghilang dari pandangannya.


"Gue baru tau kalo di sekolah kita ada anak cantik kayak dia," Ucap Lala yang masih takjub dengan kecantikan wajah Keyla.


"Dia anak pindahan," Timpal Mita dan membuat keduanya memandangnya.


"Lo tau dari mana?"


"Gosip."


-


-


Bel baru saja bunyi beberapa menit yang lalu dan seluruh murid bergambar keluar kelas menuju kantin untuk menuntaskan rasa laparnya.


Biasanya saat seperti ini Kina paling semangat untuk menemui abang-abang bakso atau somay yang ada di kantin. Tetapi berhubung keadaannya yang tak memungkinkannya untuk berdesak-desakan ria di kantin ia pun tak ada pilihan lain selain menitipkan pesanannya pada kedua sahabatnya.


Gadis itu meniduri kepalanya di atas meja memejamkan matanya sembari menunggu sahabatnya. Handphonenya masih rusak dan ia tak punya kegiatan lain selain tidur.


Seseorang baru saja memasuki kelasnya dan meletakkan sepotong roti dan juga susu ke atas mejanya.


"Ini buat lo."


Kina mengangkat kepalanya dan mendapatkan Darrenjun yang tengah berdiri di hadapannya. Sekotak susu rasa stroberi dan sepotong roti tergeletak dengan manisnya di atas mejanya.


"Ini? Roti sama susu?"


"Lo bisa liat sendiri punya mata kan."


Kina mendumel dalam hati. Sia-sia saja ia sempat tersentuh dengan perlakuan manis Darrenjun barusan. Karena pada kenyataannya lelaki itu hanyalah manusia es Antartika yang sangat sulit untuk bersikap manis.


"Buat gue?" Tanya Kina merasa aneh. Sebab ia tak merasa menitipkan apa-apa pada Darrenjun.


"Bukan. Tapi buat semut yang ada disana." Darrenjun menunjuk ke arah sudut ruangan.


Karena Kina yang terlalu polos atau karena wajah Darrenjun yang begitu meyakinkan untuknya, membuat Kina mengikuti arah pandang Darrenjun.


"Lo aneh," Ucap Kina ke arah Darrenjun. "Mana ada di kelas gue semut."


Darrenjun merotasikan bola matanya. Ia tak menyangka memberikan Kina sekotak susu dan roti harus seribet ini.


"Yang aneh itu elo. Uda tau tapi masih aja nanyak."


"Ya habisnya elo aneh. Tumben amat perhatian."


"Gue gak perhatian gue cuma iseng ngasi elo doang."


"Boong kan lo? Lo gak lagi sakit kan?" Selidik Kina.


"Gue bersikap baik ke elo karena elo itu makhluk hidup sama seperti gue."


"Paan sih gaje amat dah Lo."


"Lo gak usah banyak tanya lagi, gue ngasih itu bertujuan supaya muka lo yang kelewat jelek itu gak semakin jelek."


Kina melongoh mendengar penuturan Darrenjun barusan. Ia tak menyangka Darrenjun dengan mudahnya berucap seperti itu.


Setelah puas mengejek Kina Darrenjun pun pergi dari kelasnya.


Oh iya. Dia harusnya sadar bahwa Darrenjun tetaplah ia yang tak akan pernah bisa bersikap baik padanya.


Baru saja Darrenjun meninggalkan kelasnya. Mita dan Lala masuk kedalam kelas.


"Lah Kin. Katanya elo susah buat jalan. Nah ini kok malah beli roti sama susu sih?"


"Gue gak beli. Tapi Darrenjun yang ngasih."


"Darrenjun?"


Kina mengangguk.


Lala dan Mita langsung mendekat ke arah Kina hingga membuat Kina risih.


"Kalian ngapain sih?"


"Ya habisnya elo aneh sih. Masa gak ngeh dengan kode Darrenjun."


"Kode apaan?"


"Itu si Darrenjun naksir elo."


"Idih lo jangan sembarangan. Denger manusia nya habis dah Lo."


"Kita seriusan Kina. Masa iya Darrenjun yang dinginnya kayak kulkas bisa tetiba baik."


"Ya mungkin aja dia ayan. Udah ah gak usah di bahas. Lagian yang gue suka itu Rey bukan Darrenjun."


"Iya kita tau."


-


-


Ucapan Lala dan Mita tiba-tiba mengganggu pikiran Kina. Ia merasa bahwa perkataan kedua sahabatnya itu terlalu konyol. Sangat tidak mungkin jika Darrenjun menyukainya. Mengingat bahwa Darrenjun selalu bersikap dingin padanya.


"Lo uda lama nungguin?"


Kina menoleh dan tersenyum senang. Rey baru saja tiba dan menghampirinya.


"Enggak kok. Ini baru mau nungguin."


"Syukur deh. Kirain gue telat," Ucap Rey dengan senyumannya.


Kina memandang Rey dalam diam. Meyakinkan dirinya bahwa yang ia suka itu Rey bukan Darrenjun.


"Yaudah yuk kita pulang," Ajak Rey.


Kina mengangguk.


Baru beberapa mereka berjalan Rey berhenti dan membuat Kina heran. "Kenapa Rey?"


"Tas elo lepas."


"Kenapa?" Tanyanya bingung.


"Siniin biar gue bawa. Kasihan ngeliat elo bawa gituan."


"Gak usah aku-"


Sebelum Kina protes, Rey lebih dulu menarik tasnya dan meletakkannya disebelah pundaknya.


Kina tersenyum bahagia. Langkahnya untuk bersama Jaemin semakin dekat.


Rey adalah si peka dan juga perhatian. Berbeda dengan Darrenjun yang cuek dan juga hobinya bikin orang sakit hati. Jadi sangat tak mungkin bagi Kina bisa suka pada Darrenjun.


...****...


...đź’“CUTTON CANDYđź’“...


...Jangan lupa berikan saran dan masukan serta vote kalian ya 🤗🤗...