Cutton Candy

Cutton Candy
Kepergian



...πŸ’“CUTTON CANDYπŸ’“...


...-...


...(Setiap pertemuan pasti ada Perpisahan, itu sudah menjadi hukumnyaΒ  -Azkina)...


...*****...


Jika di hari-hari sebelumnya, Darrenjun adalah orang yang mengantar Kina ke sekolah. Maka untuk hari ini, Rey lah orang yang akan mengantarkannya.


Pertandingan telah selesai dan sudah saatnya Rey kembali mengantar Kina ke sekolah. seperti rencana awalnya.


Mungkin dihari sebelumnya, berkat Rey pagi Kina menjadi lebih berwarna. Tapi tidak untuk hari ini. Entah kenapa, Kina ingin Darrenjun yang mengantarnya.


Bukan. Bukan karena perasaannya telah berubah terhadap Rey dan ia yang telah berpaling. Tapi, karena Kina mengkhawatirkan kondisi Darrenjun saat ini.


Meski keadaan Laura telah pulih pascah operasi, tetap saja Laura masih belum bisa dikatakan sehat. wanita itu masih memerlukan perawatan intensif dari dokter, tidak tahu untuk berapa lama.Β  Dan tentu saja hal itu membuat Darrenjun merasakan sedih, takut, cemas, gelisah. Seakan mereka menghantui gerak langkahnya.


Sesampainya di sekolah Kina masih saja memikirkan tentang kondisi Darrenjun, hingga membuat Rey merasa penasaran dengan diamnya Kina.


"Lo ada masalah ya?”


Kina tercekat sesaat, lalu ia menatap Rey dengan heran. "Enggak.”


"Bohong,” Sergah Rey.


"Lo dari tadi ngelamun,” Ucap Rey lagi dan membuat Kina terpaksa memutar otaknya, mencari alasan yang masuk akal.


"PR,” Ucapnya segera.


"Gue lupa ngerjain PR makanya gue kepikiran itu dari tadi,” Bohong Kina.


Rey tersenyum tipis. "Jadi karena itu?”


Kina mengangguk cepat. Masa bodoh Rey menganggapnya apa. yang terpenting ia sudah berhasil membuat Rey percaya.


"Yaudah sana gih deluan,” Ucap Rey lagi dan dibalas anggukan oleh Kina.


lalu setelahnya Kina pergi lebih dulu meninggalkan Rey.


Kina memeprcepat langkahnya, Tentu saja bukan kelas tujuannya. Tapi, Darrenjun. dia harus mencari lelaki itu untuk mengecek kondisinya.


Meski Darrenjun adalah si kutub Antartika dan si mulut merica level 50. Tetap saja, Darrenjun adalah temannya dan Kina harus membantunya melewati masa sulitnya ini. menghiburnya jika itu diperlukan.


...****...


Nafas Kina menjadi tak beraturan, akibat berlari menuju tempat yang ia datangi ini. Tak seharusnya ia berlari seperti itu tadi, tapi mengkhawatirkan seorang Darrenjun sungguh menyebalkan, ia tak dapat berpikir jernih.


Untungnya Kina langsung menemukan keberadaaan Darrenjun segera dan tanpa mengulur waktu lebih Kina menghampiri Darrenjun yang tengah bersandar pada meja tua yang ada di roof top,Β  Kedua mata Darrenjun terpejam, menikmati semilar angin yang menerpa wajahnya. bahkan kedua telinga Darrenjun telah tersumbat oleh earphone.


Kina yakin Darrenjun sedang menyembunyikan kegelisahannya itu.


Tak hanya Darrenjun yang berada disana, Emilio, Mark dan Haikal juga ada disana. Hanya saja ketiganya duduk berdekatan sembari memainkan handphonenya. Sepertinya ketiganya tengah asik bermain game online.


"Jun,” Panggil Kina pelan, saat jarak antara keduanya hanya terpisah beberapa inchi saja.


Darrenjun membuka kedua matanya, dan menatap Kina dengan sebelah alis yang terangkat. merasa terusik dengan kehadiran Kina.


"Ada apa?” Tanyanya dengan suara khasnya. Dingin dan menusuk.


Kina tak menjawab pertanyaan Darrenjun tersebut. Ia mengambil posisi duduk tepat disebelah Darrenjun duduk.


Lalu, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ranselnya dan memberikannya pada Darrenjun.


"Buat lo,” Ucapnya.


"Gue gak laper,” Tolak Darrenjun dan kembali pada posisinya.


Kina mendekat ke arah Darrenjun sembari menyodorkan kotak bekal yang ia bawa. "Bohong banget. Lo pasti belum makan kan. ayo dong cobain,” Bujuk Kina.


"Sana. jangan ganggu gue,” Usir Darrenjun.


"Gue bakalan pergi kalo lo makan bekal yang gue bawa.”


"Gak tertarik.”


Kina menghembuskan nafasnya frustasi.


Jika dalam keadaan normal Kina akan bersikap bodoh amat. tapi tidak untuk saat ini. Darrenjun terlihat pucat dan Kina yakin dari kemarin malam Darrenjun pasti melewati makannya.


"Dikit doang Jun.”


"Enggak.”


"Mending lo pergi aja Kin. Tuh si Darrenjun gak bakalan peduli sama lo juga,” Ucap Emilio yang berada tak jauh dari mereka.


Kina menatap Darrenjun kembali. "Lo beneran gak mau?”


"Gue gak laper.”


Kina menatap kotak bekalnya dengan sedih. baru saja ia ingin menyimpannya, Haikal merebut kotak bekalnya secara paksa.


"Uda buat gue aja."


"Apaan sih lo?" Protes Kina dan merebut kembali kotak bekalnya dari tangan Haikal.


"Darrenjun kan gak mau, jadi lo gak usah maksa. Mending buat gue aja."


"Enggak. Ini buat Darrenjun bukan buat lo."


"Tapi dia nya gak mau."


Kina menjadi diam.


"Uda deh, Lo jangan keras kepala. Dari pada mubazir mending ini bekal buat gue aja. Mumpung gue lagi laper."


Kina melirik Haikal dan Darrenjun secara bergantian. Tak ada pilihan lain untuknya meski sedikit merasa kecewa, tapi Haikal benar. Ia tak mungkin membawa kotak bekal itu lagi, yang nantinya akan terbuang sia-sia.


Dengan berat hati Kina terpaksa menyerahkannya pada Haikal. "Ya-"


"Sini."


Darrenjun secara tiba-tiba merebut kotak bekal tersebut dari tangan Kina.


"Lah, katanya gak mau," Protes Haikal.


"Gue gak pernah bilang gak mau. Gue cuma bilang gue gak laper," Jawab Darrenjun.


"Alasan mulu Lo," Kesal Haikal.


"Uda Kal Lo sini dah, gabung sama kita lagi. Ada Ciki nih," Teriak Mark pada Haikal.


Haikal menatap Kina dan Darrenjun dengan tajam. "Dasar labil," Gerutunya.


Tak ada yang menggubris ucapan Haikal barusan.


Darrenjun membuka kotak bekal tersebut , lalu melahap isinya.


Kina tak bisa untuk tidak tersenyum senang melihat Darrenjun yang melahap pemberiannya.


...******...


"Lo mau kerumah sakit ya?" Tanya Kina yang telah berada dihadapan Darrenjun.


"Hmm," Gumam Darrenjun.


"Gue ikut ya, nemenin elo."


"Gak usah. Gue mau sendiri."


"Gue janji bakalan diam. Dan gak ganggu elo."


"Mending lo pulang sana."


"Gak mau. Gue mau kesana."


"Nebeng elo," Ucap Kina cepat.


"Tapi kalo lo gak mau. Gue naik ojol atau gak-" KinaΒ  tersenyum bahagia melihat Arji yang berjalan menuju ke arahnya.


"Nebeng Arji," Lanjut Kina dengan semangat.


Darrenjun melirik ke arah Arji, lalu melirik Kina kembali.


Jika Arji ikut, Arji akan segera tau apa yang tengah terjadi dengan keluarganya dan Darrenjun membenci jika hal itu terjadi.


Darrenjun menarik nafasnya, lalu menyerahkan helmnya pada Kina. "Naik," Finalnya.


Kina langsung bersorak bahagia. Karena Darrenjun mengalah untuknya.


-


Darrenjun berjalan. Dengan langkah tergesa gesah memasuki ruangan dimana Laura dirawat.


"Mama," Panggilnya saat memasuki ruangan yang berdominasi dengan cat putih itu.


Laura tersenyum hangat dengan kehadiran Darrenjun.


"Darrenjun."


Laura melebarkan kedua tangannya memberi instruksi agar Darrenjun mendekat dan memeluknya. Laura tahu bahwa Darrenjun begitu khawatir terhadapnya


Tanpa membuang waktu, Darrenjun segera berjalan dengan langkah cepat kearah Laura


"Mama," Ucap Darrenjun sembari terisak. Semalaman ia gelisah memikirkan kondisi Laura yang terbaring dirumah sakit.


"Kamu jangan sedih lagi. Mama Uda sehat," Ucap Laura berusaha menenangkan Darrenjun.


"Jangan pernah sakit lagi," Peringat Darrenjun.


Laura terkekeh pelan. meski dari luar sifat Darrenjun begitu dingin dan dewasa. Bagaimanapun, Darrenjun tetap lah masih seorang remaja yang akan menangis jika merasakan sakit.


Tak ada yang berubah bagi Laura, Darrenjun tetap lah seorang bayi kecil menurutnya, yang akan ia jaga dan sayangi.


"Kamu tenang aja, mama janji akan segera keluar dari rumah sakit dan nepati janji mama untuk hidup berdua dengan kamu."


Darrenjun mendongakan kepalanya dan menatap kedua manik mata Laura dengan lekat. "Jangan ingkar janji."


Laura mengangguk dan mengelus kepala Darrenjun dengan lembut. "Anak mama sudah besar," canda Laura dan memeluk Darrenjun dengan erat sekali lagi. Seakan keduanya tak ingin dipisahkan oleh siapapun.


Kina berdiri diluar ruangan. Ia sengaja tak langsung masuk. Membiarkan kedua ibu dan anak itu menikmati waktu mereka berdua.


Kina sempat menangis melihat kedekatan Laura dan juga Darrenjun. Ia merasa terharu dengan apa yang barusan ia saksikan saat ini. Akhirnya sisi dingin Darrenjun perlahan mencair dan Darrenjun merasakan kembali kasih sayang ibu kandungnya.


"Kamu kesini sama siapa?" Tanya Laura, saat keduanya menyelesaikan acara pelukannya itu.


"Kina," Jawab Darrenjun seadanya.


"Dia nya mana? Kenapa gak dia ajak masuk?" Laura melirik ke arah pintu ruangan mencari sosok Kina.


"Gak mau ganggu katanya."


"Ajak masuk gih, kasihan."


Darrenjun menghembuskan nafasnya sebentar, lalu bangkit dari posisinya. "Tunggu bentar ma."


Laura mengangguk dan tersenyum.


Kina meneggakan tubuhnya yang sempat bersandar pada dinding rumah sakit saat melihat kehadiran Darrenjun.


"Masuk."


Kina menggeleng pelan. "Gue disini aja. Lo masih perlu waktu berdua."


"Waktu berdua kita selesai. sekarang lo masuk, mama nanyain elo."


Kina terdiam hanya beberapa saat, lalu gadis itu masuk mengikuti Darrenjun.


Sedikit canggung awalnya, tapi saat melihat wajah Laura yang pucat membuat Kina tak bisa untuk tidak khawatir.


"Tante apa kabar? Masih sakit ya?"


Laura tersenyum lembut. "Baik."


Darrenjun meninggalkan ruangan Laura dan membiarkan keduanya mengobrol berdua.


Setelah Darrenjun pergi. Laura menggenggam tangan Kina erat dan membuat Kina langsung memandangnya.


"Jaga Darrenjun ya kalo tante gak ada," Ucap Laura penuh harap.


Kina tertawa hambar. "Darrenjun uda gede tante jadi-"


"Tolong temenin Darrenjun disaat terburuknya. Tante mohon sama kamu."


Kina terdiam.


Laura tiba-tiba meringis, rasa sakit yang sejak dari tadi ia tahan kembali menyerangnya.


"Tante kenapa? aku panggil dokter ya," Ucap Kina dengan panik.


"Jangan."


"Tapi tan-"


Laura menggeleng dan mau tak mau Kina terpaksa menuruti permintaannya itu.


"Dokter uda memprediksi, bahwa umur tante tidak lama lagi," Air mata telah memenuhi pelupuk mata Laura.


Kina menggenggam erat tangan Laura. "Tante harus segera pulih. Darrenjun akan sedih kalo tante gak putus asa kayak gini."


Laura tersenyum tipis. "Sekarang tante jadi lega. karena Darrenjun memiliki seseorang yang baik seperti kamu disampingnya."


"Akhhh," Kembali rasa sakit itu menyerang Laura.


Kina tak bisa untuk tidak menangis. Laura terlihat begitu kesakitan dan dari sini Kina yakin bahwa sejak dari tadi Laura menahan rasa sakitnya, agar Darrenjun tak cemas.


"Tolong kamu hibur Darrenjun ya. tante takut Darrenjun akan menjadi terluka karena semuanya. uda cukup tante nyakitin hati dan juga hidupnya. kamu mau ya?" Pinta Laura untuk terakhir kalinya.


Kina mengangguk dengan air mata yang telah membanjiri kedua matanya. Ekspresi Laura yang kesakitan membuatnya tak tega.


Laura tersenyum. "Makasih Kina," Ucapnya.


Laura sudah tidak dapat menahan rasa sakitnya lagi. semakin ia terlihat baik-baik saja, maka penyakitnya semakin menyerangnya. Hingga akhirnya Laura menutup kedua matanya dan terlelap.


"TANTE!" Teriak Kina histeris.


brukkk


Darrenjun masuk dengan langkah tergesa-gesa, menghampiri Laura yang sudah dalam keadaan tak bernyawa lagi.


"MA!" Teriak Darrenjun.


"MAMA BANGUN!" Panggil Darrenjun dengan isakan.


"MAMA JANGAN TINGGALIN DARRENJUN!" Ucapnya sembari menepuk wajah Laura pelan. Berusaha membangunkan Laura yang terlelap.


Tapi sayang hal itu tak bereaksi apa-apa.


Laura telah pergi, beristirahat dengan tenang, kembali ke pangkuan sang pencipta


Darrenjun menangis pilu. Baru saja ia merasakan kembali kehangatan pelukan ibu kandungnya yang selama ini ia rindukan. Tapi, takdir telah merenggut paksa malaikatnya itu. Impian yang ia punya seketika sirna, semua rencananya telah hancur lebur.


"MAMA!"


...******...


...Jangan lupa kasih vote dan komennya ya man teman πŸ™πŸ™...