Cutton Candy

Cutton Candy
Hari Pertama



...πŸ’—Cutton CandyπŸ’—...


...-...


Sesuai dengan kesepakatan yang telah Kina dan Darrenjun setujui bersama. Hari ini merupakan hari pertama bagi Kina untuk menjalani misinya sebagai babunya Darrenjun selama 1 bulan penuh. Dan selama itu pula, Darrenjun juga harus mengajari Kina mempelajari hal yang berkaitan dengan tugas sekolahnya.


Kina datang lebih awal, menunggu Darrenjun diparkiran sekolah. Sesuai dengan permintaan Darrenjun sebelumnya.


Tadi pagi, gadis itu hampir saja lupa mengenai misinya. kalau saja dia tak membuat pengingat tentang misinya. beruntung dia langsung sigap sehingga bisa datang tepat waktu.


Darrenjun memasuki perkarangan sekolah dan memarkirkan motornya di parkiran sekolah.


Kina yang tadinya sedang duduk diatas motornya, langsung berdiri menghampiri Darrenjun yang barusan datang.


Darrenjun turun dari motornya dan melepas tas yang tersampir di pundaknya.


"Bawain,” Suruhnya ke Kina.


Kina menerima tasnya Darrenjun tanpa berniat membantah dan meletakannya diatas pundaknya.


Kini dia harus membawa dua tas sekaligus.


Darrenjun berjalan lebih dulu dan Kina mengikutinya dari belakang.


"Gue mau ke kantin. lo letakin aja tas gue didalam kelas,” perintah Darrenjun ke Kina.


Kina mengangguk. "Tapi. gue gak harus ngikutin elo kan?”


Darrenjun menghentikan langkahnya dan berbalik memandang Kina.


"Lo itu babu dan gue majikan elo. Jadi uda pasti lo harus ngikutin kemanapun gue pergi.”


"Terus kalo lo mau ke toilet gue juga harus ngikutin lo gitu?" Tanya Kina dengan mata yang sedikit melotot.


Darrenjun menoyor kepalanya Kina menggunakan jari telunjuknya.


"Lo jadi orang bego amat sih. masa iya gue nyuruh lo gikutin gue sampek toilet. Lo kira gue cowok mesum.”


Kina mengusap kepalanya. "Ya siapa tau lo begituan.”


"Lo mau emangnya?”


Kina menggeleng dengan cepat.


"Terus ngapain pake tanyak?”


"Gue cuma mau memastikan doang.”


Darrenjun menggelengkan kepalanya pelan. Tak mengerti dengan arah pikiran Kina yang terlalu bebas.


"Uda sana. Lo buruan antar tas gue ke kelas. Setelahnya lo ke kantin nyusul gue.”


"Oke,” Jawab Kina.


Lalu mereka berpisah. Darrenjun berjalan ke arah kantin dan Kina berjalan kearah kelasnya Darrenjun untuk meletakkan tasnya Darrenjun lebih dulu.


...\=\=\=\=\=\=...


"Lo mau ngapain disini? Lo kan anak kelas sebelah.”


Kina menoleh saat seseorang barusan bertanya padanya.


"Gue cuma mau letakin tasnya si Darrenjun. Lo tau gak dia duduk dimana?”


Haikal mengedikkan dagunya kearah tempat duduknya Darrenjun. dan Kina langsung menghampiri meja yang di maksud oleh Haikal tersebut.


Haikal mengikuti Kina yang tengah meletakkan tasnya Darrenjun. Baru pertama kali baginya melihat ada orang yang diberi wewenangan untuk membawa tas temannya yang terkenal dingin dan memiliki mulut pedas.


"Emang tuh anak kemana? Kok lo bisa bawak tasnya dia?” Tanya Haikal yang masih setia di dekat Kina.


"Dia di kantin. Katanya laper makanya gue bawa in tasnya dia,” Terang Kina secara singkat.


β€œMencurigakan,” Desis Haikal.


Kina berjalan melewati Haikal, tapi baru beberapa langkah berjalan Haikal menahannya.


"Lo punya hubungan apa sama dia? Masa iya tiba-tiba lo mau aja disuruh dia?” Tanya Haikal penasaran.


Dia masih penasaran dengan hubungan Kina dan Darrenjun. Karena menurutnya secara pribadi, Darrenjun itu bukan tipe orang yang mudah didekati.


Kina tercekat beberapa saat. Lalu dia kembali bersuara. "Kalo lo mau tau. Tanyak langsung sama orangnya aja sana,” jawab Kina seadanya.


"Kenapa harus nunggu dia? Kenapa gak lo aja yang ngomong langsung. Kan lo yang lagi ada disini,” omong Haikal lagi.


Kina jadi ngerasa greget sendiri dengan Haikal. Kenapa juga dia harus tau mengenai hubungannya Kina dengan Darrenjun.


"Lo kepo amat sih jadi orang,” ucap Kina sebal.


"Udah ah gue mau cabut minggir lo.” Kina melewati Haikal secara kasar karena ruang untuknya berjalan telah di blok oleh Haikal.


"Lo jadi cewek bar-bar amat sih? bilang misi kek.”


"Salah lo sendiri. tau orang mau lewat pake acara nutupin jalan segala.”


"Siapa yang nutupin jalan? Lo nya aja yang ke gedean.”


"Maksud lo ngatain begituan apa? Lo ngatain gue gendut gitu? Makanya gue gak bisa ngelewatin elo,” tanya Kina tak terima.


Haikal tersenyum miring memandang Kina. "Rasa-rasa embaknya aja dong gimana? Punya kepala kan?”


Sumpah nih ya, kalo aja Kina gak mikir dia ada dimana sekarang. sudah dipastikan Kina bakalan ngehajar Haikal habis-habisan.


Dari pada dirinya tersulut emosi lebih dalam lagi dan membuatnya berurusan dengan anak kelasnya mereka. Kina memilih pergi secepatnya dari situ.


Haikal yang merasa dirinya diabaikan oleh Kina. Melangkah dengan cepat dan kembali menghadang gadis itu.


"Kenapa lo diem? Lo mendadak bisu ya?”


Kina tak habis pikir dengan lelaki yang tengah berdiri dihadapannya ini. dirinya hanya ingin meletakin tas milik Darrenjun saja. Kenapa lelaki itu malah mempersulitnya.


"Woi ngomong dong!" Teriaknya tepat dihadapan Kina.


Kina mengusap telinganya sendiri. berkat suaranya Haikal yang melengking gendang telinganya Kina hampir pecah rasanya.


"GUE GAK BUDEK KALI! LO KALO NGOMONG SELOW NAPA!" ucap Kina sedikit menaikan intonasi suaranya.


"Idih. Si embaknya bisa ngambek juga ternyata. Woles mbak. Saya ngomongnya uda mode paling selow kali.”


Kina meremat jemarinya. berusaha bersabar sebanyak-banyaknya menghadapi orang semenyebalkan Haikal. Dari pada dirinya berakhir dengan sebuah perkelahian, Kina memutuskan keluar dari situ secepatnya.


Dengan langkah cepat Kina berjalan melewati Haikal.


"Minggir lo".


Kina menabrak pundaknya Haikal secara kasar dan membuat sang empu merasakan kesakitan.


"SAKIT WOII!!" Teriak Haikal sembari mengusap pundaknya sendiri.


Kina gak perduli dan malah mempercepat langkahnya.


Masa bodoh dengan laki-laki itu. yang terpenting dirinya berhasil keluar dari situ.


...\=\=\=\=\=...


Kina menyusuri kantin sekolah sembari masih membawa tasnya. tadi dia tak sempat masuk ke dalam kelasnya. karena pertengkaran dirinya dan juga anak laki-laki yang ada didalam kelasnya Darrenjun memakan waktu cukup lama. Kina takut, Darrenjun menjadi murka dan menganggap bahwa Kina tidak serius mengenai ucapannya.


Darrenjun mengangkat tangannya di udara, memberi tanda kepada Kina untuk menghampiri mejanya.


"Lo ngeletakin tas gue atau travelling ke Dubai dulu.”


"Anak beruang? Sejak kapan di sekolah kita ada yang begituan".


"Ada kok emang. Lo nya aja yang gak sadar.”


Darrenjun memilih tidak menggubris omongan Kina barusan.


Lalu Darrenjun berucap. "Tadinya gue sempat ngira kalau lo berubah pikiran.”


Kina tercekat. "Eh. lo apaan sih? Mana mungkin gue berubah pikiran.”


tuh kan bener firasatnya Kina. Kalau Darrenjun pasti akan menganggap dia main-main soal perjanjian ini.


"Yaudah sana lo pesanin gue nasi goreng satu, pake telur mata sapi.”


"Lah. bukannya lo uda mesen?”


"Siapa bilang?”


"Tapi kan elo yang nyampek luan ketimbang gue.”


"Iya lo bener. Tapi gue gak mau mesen sendiri. Kan sekarang gue ada babu. apa gunanya elo kalo gue juga yang mesen tuh makanannya.”


Kina merotasikan bola matanya malas. "Yaudah kalo gitu gue kesana.”


Kina berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah stan yang menjual nasi goreng.


Setelah beberapa menit, pesanannya Darrenjun selesai dan Kina kembali ke tempat duduknya. Menemui Darrenjun sambil membawa pesanan nasi goreng miliknya.


"Ini punya lo.”


Darrenjun menerima satu piring nasi goreng yang dibawa Kina untuknya.


Kina baru saja hendak duduk kembali. tapi Darrenjun lebih dulu menahannya.


"Gue lupa nyuruh lo bawain gue minum sekalian. Beli in gue es teh manis sana,” Suruh Darrenjun.


Kina bangkit dari duduknya dan kembali menuruti perintah dari Darrenjun. untuk membelikannya 1 gelas es teh manis.


Masih sebentar dia menjadi babunya Darrenjun. tapi dirinya sudah merasa seperti bertahun-tahun lamanya.


Kina membawa satu gelas es teh manis dan memberikannya ke Darrenjun.


"Lo mau apalagi? Biar sekalian gue beliin, sebelum gue duduk.”


Darrenjun menggeleng. "Gak ada. lo boleh duduk.”


Kina menghembuskan nafasnya lega, dan akhirnya dirinya bisa kembali duduk.


Melihat Darrenjun yang tengah makan, Kina jadi ngerasa bosan. Dari pada ia tertidur disitu. Kina mengeluarkan hapenya dari dalam sakunya, guna untuk membuang rasa bosannya.


Hape yang sedang Kina pegang tiba-tiba dirampas paksa oleh Darrenjun yang duduk dihadapannya.


"Kok lo ngambil hape gue sih Jun? Salah hape gue apa sama lo?” tanya Kina tak terima dengan sikapnya Darrenjun.


"Status lo itu masih jadi babu gue. Jadi lo gak boleh mainin hape lo didepan gue kalo bukan perihal yang penting.”


"Lah lo kok gitu sih? Kan perjanjian kita gak ada tuh yang begituan.”


"Lo mau lanjutin ini perjanjian atau berhenti?”


"Ya lanjut lah. Lo gila apa? Masa mau berhenti gitu aja.”


"Maka dari itu. Lo gak boleh ngebantah lagi apapun yang gue omongin.”


"Iya iya. tapi lo balikin hape gue dulu sini. Gue janji gak bakalan mainin ni hape di depan lo lagi.”


Darrenjun kembali menyerahkan hapenya Kina padanya.


"Itu peringatan pertama dan terakhir buat lo. Jadi lo harus ingat itu baik-baik.”


Kina hanya mengangguk pasrah. Tak disangka menjadi babu seorang Darrenjun harus sesulit ini.


...\=\=\=\=\=...


Kina memasuki kelasnya dengan langkah gontai. Dirinya sudah tidak bersemangat rasanya hari ini. Dia memilih duduk sambil memeluk tasnya dan menyenderkan kepalanya diatas meja.


"Lo darimana Kin? Tumben amat pagi-pagi uda kelayapan,” Tanya Mita yang duduk disebelahnya Kina.


"Iya lo mah, gak pake ngajak-ngajak lagi,” Sambung Lala.


Kina mengangkat kepalanya dari atas meja dan memandang kedua temannya.


"Gue habis jinakin anak serigala asal lo tau aja,” ucap Kina.


"Malah ketemu anak beruang yang nyebelin lagi,” sambungnya lagi.


Lala dan Mita cengok. Tidak mengerti maksud perkataan Kina barusan yang absurdnya luar biasa.


"Lo kira nih sekolah kebun binatang apa? Pake acara jinakin anak serigala sama anak beruang lagi.”


"Ya emang kayak gitu modelnya,” jawab Kina jutek.


"Terus tuh hewan lo kemanain sekarang?”


"Gak tau, gue gak peduli.”


"Uda ya, dari pada mood lo tambah hancur. Mending entar pas istirahat kita ke kantin borong ice cream. Lala yang bayar,” Ucap Mita semangat.


"Ihh apaan lo dah. Gak ... Gak ... gue gak mau.”


"Sekali-kali La. Jangan pelit sama temen sendiri.”


"Gak... Kagak mau gue. Lo aja noh yang bayar.”


"Yaelah lo mah. Kasihan tuh si Kina.”


Mita merangkul Kina. "Iya kan Kin?” Tanyanya dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat.


Kina hanya menghelakan nafasnya pelan. Lalu memandang kedua sahabatnya. "Sorry, gue gak bisa ke kantin bareng kalian.”


"Tuh kan La. Dia ngambek,” omong Mita semangat.


"Lah Kin. Lo ngambek nih ceritanya?!” Tanya Lala dengan sedih.


Kina menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan itu.”


"Ya terus?”


"Gue ada urusan.”


"Urusan apaan?” Lala dan Mita mendekat untuk mendengar lanjutan cerita dari Kina.


Kina memandang keduanya dengan sendu. "Sorry, gue gak bisa cerita sekarang. Gue janji bakalan cerita ke kalian segera.”


Keduanya hanya mengangguk.


"Yaudah deh. Gimana baiknya buat Lo aja. Kita gak bakalan paksa kok.”


"Yang penting kalo lo perlu bantuan, kita bakalan siap kok bantuin.”


Kina tersenyum tipis dengan sikap pengertian kedua sahabatnya itu. Beruntung baginya memiliki sahabat seperti mereka.


...\=\=\=\=\=...


...***Jangan lupa untuk memberi saran dan masukan kalian semua ya teman-temanΒ ****πŸ’“πŸ’“*...