
...💗*Cutton Candy***💗...
...(Haruskah aku tetap bertahan, atau melepaskanmu saja, aku takut aku akan terlalu berekspektasi tinggi terhadapmu yang ujungnya berakhir dengan rasa kecewa)...
...-...
Suara decitan pintu yang baru saja dibuka membuat Lucas yang tadinya berniat ingin duduk bersantai di halaman depan mengurungkan niatnya. Lelaki itu sengaja, menunggu sosok yang sebentar lagi akan masuk ke dalam rumahnya.
Dengan senyuman jahil Lucas menunggu orang itu, tak sabar rasanya menggodanya.
Pintu depan baru saja terbuka dan dua orang yang Lucas tunggu masuk kedalam rumahnya.
"Iya deh iya gue tau lo dua masih pada-" Ucapan Lucas terputus saat melihat sosok yang amat sangat diluar prediksinya datang bersamaan dengan adiknya.
Seingatnya adiknya itu sedang bucin-bucinnya dengan pacarnya. Lalu kenapa sosok itu bahkan tak kelihatan wujudnya.
Apa Darrenjun sudah lupa pacarnya siapa?
"Loh Lisa. Kok bareng Darrenjun? Kina kemana?" Cecar Lucas pada sang empuh sembari melirik kesana kemari mencari sosok Kina yang mungkin saja tertinggal di belakang mengingat tubuh kecil gadis itu.
Lisa hanya tersenyum kikuk, sementara Darrenjun lebih dulu pergi dengan langkah lebar. Tak ada senyuman melainkan wajah dongkol.
Lucas menjadi bingung, sikap adiknya itu begitu aneh. Segera ia menoleh ke arah Lisa yang mungkin bisa menjawab kebingungannya itu.
"Kak Lucas gak peka amat sih? Ngapain juga sebut-sebut Kina?" Ucap Lisa sebal.
"Lah... salah gue apaan cobak? Kina kan pacarnya Darrenjun."
"Iya. Dulu..."
"Lah gimana-gimana?" Tanya Lucas yang kini mendekat ke tempat Lisa duduk. "Putus? Beneran atau boongan?"
Lisa mengangguk. "Beneran."
"Pasti karena Darrenjun kan? Gue tau memang kadang mulut tuh anak kebangetan sih. Kasihan kan si Kina harus sabar mulu-"
"Dihh bukan Injun yang salah, tapi Kina."
"Kina? Bohong."
"Bener kak," Ucap Lisa dengan kedua mata yang tampak serius. "Kemarin itu Kina nyiram aku pake es Boba karena dia gak suka sama rasa yang aku kasih dan lagi, Kina malah dorong aku sampek jatuh."
"Kina gak mungkin ngelakuin hal gitu. Lo pasti salah paham."
"Salah paham gimananya, emang dia ngelakuin itu semua makanya Injun benci ke dia kak."
"Lagian nih ya kak aku kasih tau, Kina itu anaknya ngeselin tau, mana muka dua lagi," Sambung Lisa.
"Muka dua? Lo jangan asal ngomong!"
Lisa mendadak bungkam dengan ucapan tajam Lucas.
"Kak-"
"Lo dan gue emang kenal sejak kecil, tapi enggak dengan Kina. Lo bahkan baru kenal dia beberapa Minggu doang. Jadi lo gak pantes nuduh Kina yang enggak-enggak hanya karena Lo gak suka Kina dekat dengan Darrenjun."
"Dan gue ingetin ke elo juga buat yang pertama dan terakhir kalinya. Lo jangan pernah nyakitin Kina atau lo berurusan dengan gue."
Lelaki itu telah berdiri dari tempatnya, sebelum ia pergi Lisa lebih dulu menahannya.
"Kenapa?" Tanya Lisa dengan kecewa.
"Kenapa kakak bela Kina sampai segitunya? Apa istimewanya dia? Kasih tau aku apa yang ngebuat dia lebih spesial ketimbang aku!" Ucap Lisa dengan intonasi suara yang mulai meninggi.
Lucas berbalik, menatap Lisa dengan wajah dingin. "Jawabannya, karena apa yang uda Kina lakuin selama ini buat Darrenjun gak akan pernah bisa lo lakuin dan lagi elo harus ingat, kalo lo cuma masa lalu buat Darrenjun," Tegas Lucas dengan dingin, tak ada lagi kelembutan dari setiap ucapannya pada Lisa.
Lelaki itu berjalan dengan langkah lebar, meninggalkan Lisa yang masih menatapnya.
Lisa diam seribu bahasa. Ia begitu kecewa dengan perubahan sikap Lucas padanya. Tangannya ia remat dengan kuat membentuk sebuah kepalan. Dirinya menjadi sangat dongkol, bagaimana Kina bisa mempengaruhi Lucas seperti itu.
Dalam hatinya ia akan bersumpah membuat hari-hari gadis itu menjadi lebih buruk.
-
"Ada yang mau ketemu tuh," Ucap Tia dari ambang pintu kamar Kina.
Kina membalikkan tubuhnya yang sedang tiduran di atas ranjang memandang ke arah mamanya, tadinya ia berniat tidur siang tetapi pikirannya terlalu kalut memikirkan peristiwa yang akhir-akhir ini sering menimpanya dan bagian terparah itu jatuh pada hari ini.
"Siapa?" Tanya Kina.
"Turun aja, liat sendiri," Ucap Tia, lalu pergi meninggalkan Kina.
Kina bangkit dari tempat tidurnya, dalam hatinya ia berharap Darrenjun lah yang tengah menemuinya saat ini. Dengan cepat ia bergegas menemui sosok yang tengah menunggunya di ruang tamu.
"Kak Lucas," Panggil Kina dan membuat sang empuh berbalik memandangnya dengan senyuman lebar seperti bisanya. "Ngapain?" Tanya Kina yang penasaran sembari berjalan ke arah Lucas.
Lucas langsung bangkit dari duduk nya, masih mempertahankan senyumannya. "Mau ngajak lo keluar."
Kina menaikkan kedua alisnya, tampak bingung tentu saja. "Tumben."
"Ada yang mau gue omongin".
Kina hanya mengangguk, mengiyakan ajakan Lucas. Tanpa Lucas beritau Kina tau bahwa ada sesuatu yang sangat penting dan ia tebak pasti berkaitan dengan Darrenjun.
Lucas mengajak Kina untuk makan siang di MCD, tadinya Kina sempat menolak dan menyuruh Lucas untuk duduk mengobrol di taman saja, tetapi Lucas tidak setuju berdalih bahwa dia ingin makan siang.
"Lo beneran putus dengan Darrenjun Kin?" Tanya Lucas to the point, tadinya ia bermaksud menunggu sampai makanannya habis dulu. Tetapi bibirnya terlalu gatal untuk segera bertanya.
Kina menghelakan nafasnya pelan, wajahnya menjadi lesu. "Gue gak tau kak. Tapi kalo Darrenjun nganggepnya gitu berarti emang bener kita udahan."
"Itu gak mungkin. Darrenjun itu cinta banget sama elo."
"Kalo emang bener dia cinta ke gue, dia gak mungkin ngilang gitu aja kak. Jauhin gue, ninggalin gue," Ucap Kina yang mulai bergetar. Ia menjadi sangat lemah sekarang, hatinya begitu rapuh setiap mengingat hubungannya dengan Darrenjun.
Hubungan yang tadinya berjalan baik-baik saja mendadak hancur dan kini telah berubah seakan tak ada lagi harapan baginya untuk bersama kembali.
"Darrenjun gak mungkin ngelakuin hal itu kalo gak ada alasan. Gue kenal dia," Ucap Lucas dan membuat Kina yang sempat tertunduk lesu, mengangkat kepalanya lagi, menatap Lucas.
"Kalo pun iya, tapi alasannya apa? Darrenjun uda terlalu jauh buat aku kak, bahkan saat ini aku uda jarang ketemu dia disekolah."
"Darrenjun memang belum cerita apa-apa ke gue. Tapi please lo jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Everything Will be Okay Kin hubungan lo sama Darrenjun juga akan membaik dan satu hal yang lo harus tau gue percaya elo," Ucap Lucas mencoba memberikan semangat.
Kina tersenyum tipis ke arah Lucas, lalu kembali bersuara. "Emang elo uda tau permasalahan kita? kalo lo tau, lo pasti-"
"Gue tau, Lisa uda cerita."
Kina mendesah pelan. "Terus kenapa lo masih dukung gue?"
"Karena gue percaya lo bukan orang yang seperti itu, uda ya lo berhenti nethink, kalo ada yang ngusik elo, gue bakalan kasih pelajaran ke tuh orang."
Perasaannya seketika menghangat oleh ucapan Lucas barusan, meski hanya berupa kiasan semata. Kina sudah cukup merasa senang, karena Lucas berpihak kepadanya. Dan ia juga berharap apa yang dikatakan oleh Lucas itu semua benar.
-
Sesampainya di rumahnya, Lucas segera menaiki tangga yang ada di rumahnya menuju kamar seseorang yang ingin ia mintai penjelasan.
Tanpa mengetuk pintu kamar terlebih dahulu, Lucas masuk menerobos begitu saja ruangan yang menjadi privasi adiknya tersebut.
"Ren gue mau ngomong," Ucap Lucas cepat.
Darrenjun yang tengah belajar, memutar kursinya menghadap Lucas, wajah Darrenjun tampak tenang seakan-akan ia tak memiliki masalah apapun dihidupnya.
Darrenjun mengedikan dagunya memberikan kode untuk keluar menuju balkon.
"Lo mau ngomong apa?" Tanya Darrenjun to the point.
"Kenapa lo ngehindari Kina? Jangan bilang lo mau putus dengan dia."
"Ini bukan urusan lo kak. Sebaiknya lo jangan ikut campur."
"Iya lo bener ini emang bukan urusan gue, tapi setidaknya Lo kasih dia kepastian jangan gantungin dia gini aja dong Ren."
"Gue yakin Lo lebih kenal Kina ketimbang gue dan gue berharap lo gak gegabah."
"Gue tau yang terbaik buat semuanya, mendingan sekarang lo keluar dari kamar gue. Gue sibuk," Usir Darrenjun dengan dingin.
Lucas kehilangan kata-katanya, dalam satu tarikan nafas ia keluar dari kamar Darrenjun , sebelum benar-benar keluar Lucas menghentikan langkahnya.
"Dan satu hal lagi Ren, jangan pernah menyia-nyi akan orang yang tulus ke elo, karena belum tentu lo bakal dapat yang lebih baik dari dia," Ucap Lucas, lalu melenggang dari kamar Darrenjun.
Darrenjun menghelakan nafasnya berat , lalu memandang suasana sore yang hampir gelap itu di balkon kamarnya. Pikirannya berkelana entah kemana. Memikirkan segala hal yang telah terjadi saat ini.
-
Kina menarik nafasnya sedalam mungkin rasa dan perasaan yang menyesakkan itu terus saja menghantuinya. Hari ini ia bertekad untuk menemui Darrenjun bagaimanapun caranya.
Pagi ini ia sengaja pergi lebih awal dari biasanya, menunggu kehadiran Darrenjun di parkiran sekolah. meski harus menunggu, Kina tidak peduli yang terpenting ia harus bertemu dengan Darrenjun bagaimanapun caranya.
Baru saja beberapa menit menunggu, suara deru motor yang amat sangat familiar di telinganya memasuki area parkiran. Kina pun segera berdiri tegap tak sabar menemui sosok itu.
Darrenjun memarkirkan motornya tak jauh dari Kina berada.
Melihat Darrenjun yang hendak pergi, Kina pun segera berlari menyusul Darrenjun.
"Jun," Panggil Kina.
Darrenjun menghentikan langkahnya, lalu berbalik memandang Kina dengan wajah tanpa ekspresi miliknya, persis seperti dulu saat keduanya tak saling mengenal.
Hening.
Kina menjadi gugup setengah mati, Darrenjun terlihat asing dimatanya.
Haruskah ia melanjutkan ucapannya meski hal itu akan berdampak pada hatinya yang mungkin patah. Kina mencoba menimbang kembali keputusannya, tapi tak ada jawaban.
"Ada apa?" Darrenjun yang barusan bertanya.
"Selesai."
Darrenjun berjalan ke arahnya, memangkas jarak keduanya, lalu selanjutnya ia berbisik tepat di telinga Kina.
"Ada hal yang harus aku selesai kan," Ucapnya, lalu pergi meninggalkan Kina begitu saja.
Ucapan Darrenjun barusan begitu ambigu bagi Kina, segera ia berbalik.
"Maksudnya apa?" Tanya Kina yang berhasil menahan lengan Darrenjun.
"Jun jangan kasih aku harapan, kalo pada akhirnya kamu akan matahin harapan aku itu."
Darrenjun segera berbalik memandang kedua manik mata Kina dengan lekat. Bibirnya seakan keluh menyeruak kan isi hatinya pada Kina dan pada akhirnya lelaki itu memilih untuk bungkam menyimpan rapat-rapat perkataannya.
Suara ******* keluar dari bibir Darrenjun dengan bebas, dan selanjutnya hal yang mengejutkan pun terjadi. Darrenjun melepas tautan tangan Kina pada lengannya dan pergi begitu saja meninggalkan Kina yang masih menatapnya dengan tatapan kecewa.
Kina tertunduk, tak ingin mengejar Darrenjun kembali hingga sosok itu pun menghilang dari pandangannya.
"Jadi ini akhir kita?" Gumamnya pada dirinya sendiri.
-
Seharian ini Kina hanya menghabiskan waktu dengan melamun saja. Seharusnya sebagai seorang pelajar ia tak melakukan hal tersebut. Tetapi apa dayanya, materi yang dijelaskan oleh guru-gurunya tak ada satu pun yang singgah di kepalanya.
Akhirnya Kina merasakan apa itu GALAU layaknya ABG seusianya.
Tak ada minat melakukan hal apapun selain berdiam diri dan melamun didalam kelasnya. Memikirkan kembali hal yang barusan terjadi antara dirinya dan juga Darrenjun.
"Lo bengong mulai dah perasaan. Udahan dong galaunya kan masih ada kita." Lala merangkul pundak sahabatnya itu berusaha menyalurkan semangat pada Kina.
"Iya Kin, jangan diam-diam bae juga. Kalo ada masalah ya cerita jangan dipendam. Meski kita gak bisa bantu setidaknya kita bisa ngebuat elo lega."
Kina menatap kedua orang itu, mencoba membuat seulas senyuman di wajahnya, meski hal itu sulit baginya.
"Gue gak apa-apa kok, cuma lagi bad mood aja bawaannya," Bohongnya.
"Lah kenapa? Aktor kesayangan lo wamil? Atau ada drakor yang nyesek gitu?"
"Ya bukan lah Mita, ini pasti ada hubungannya dengan Darrenjun. Iya kan Kin?" Ucap Lala dan membuat suasana di sekitar mereka menjadi canggung.
Mita segera menyenggol lengan Lala kuat, menyadarkan gadis itu atas situasi yang semakin canggung itu.
Saat melihat tatapan mata Mita barulah Lala sadar atas ucapan sembrono ya itu.
"Kin gue-"
"Gue ke toilet dulu ya," Ucap Kina, lalu segera pergi meninggalkan keduanya yang mungkin sebentar lagi akan berkelahi.
-
Kina berjalan dengan langkah pelan, ******* kecil keluar dari bibirnya sejak dari tadi, sejak ia meninggalkan kelas.
Haruskah perasaan ini menguasainya?
Seharusnya tidak. Tetapi bagaimana caranya agar ia bisa terlepas dari itu semua.
Bughhhh
Tubuh Kina terpental ke lantai hingga kakinya terseret oleh lantai keramik yang cukup kasar itu, hingga membuat lututnya memar dan berdarah.
Kina mengangkat kepalanya dan menemukan seseorang yang telah berlari meninggalkannya begitu saja.
Jika ini kebetulan sangat tidak mungkin, mengingat bahwa Kina berjalan ke sudut jalanan saja, jadi sangat tidak mungkin ia mengganggu orang lewat.
Kina kembali mendesah, kali ini lebih panjang. Lagi-lagi harinya menjadi sial.
"Kina!" Teriak seseorang yang kini berlari ke arahnya.
Kina menoleh dan mendapatkan Rey yang telah berdiri di hadapannya.
"Kenapa ini bisa terjadi? Siapa pelakunya?" Tanya Rey yang tengah memeriksa keadaan Kina dengan khawatir.
Kina menggeleng lemah. "Gak ngelihat orangnya, pelakunya keburu kabur."
"Kalo gitu pasti pelakunya belum jauh."
Rey hendak pergi, tetapi lengannya lebih dulu ditahan oleh Kina. "Gak usah dikejar Rey, percuma. Gue uda biasa."
Rey menoleh ke arah Kina lagi. "Jadi maksud lo, hal ini mau dibiarin gitu aja? Kin apa lo pikir dengan lo diam, akan ngubah segalanya?"
"Enggak Kin, mereka akan tambah semena-mena sama elo," Protes Rey.
"Gue tau, tapi gue bisa anggap ini semua hari sial gue."
"Tapi Kin..."
Rey mengepal tangannya kuat.
Sial, pikirnya. Ia menjadi geram dan berjanji pada dirinya akan mencari orang itu sampai dapat.
"Yaudah kalo itu mau elo, kalo gitu kita ke UKS ya biar gue gendong."
Rey telah berjongkok membelakangi tubuh Kina, memberi kode agar Kina segera naik diatas punggung lebar Rey.
"Gak usah Rey, makasih. Gue masih bisa jalan sendiri kok."
"Beneran?"
Kina mengangguk yakin.
Rey menghelakan nafasnya, lalu mengulurkan tangannya di hadapan Kina. "Gue bantu berdiri ya."
Kina tersenyum lebar, segera ia sambut tangan Rey yang ada dihadapannya.
Meski sulit rasanya untuk berdiri, Kina tetap melakukannya sekuat tenaga. Ia tak ingin merepotkan siapapun lagi. Kina merasa, Rey mempercayainya saja sudah cukup baginya.
"Dasar keras kepala," Gumam Rey yang mengetahui bahwa Kina sejak dari tadi memaksakan diri untuk terlihat kuat.
"Thanks ya Rey uda nolongin gue."
"Gak usah bilang makasih, gue amat senang bisa bantu elo. Jadi sekarang kita ke UKS ya. Gue khawatir entar luka lo jadi infeksi," Ucap Rey dengan suara lembut.
"Mulai sekarang lo harus bareng gue terus."
Kina menjadi terdiam, ucapan spontan Rey membuatnya menjadi tak enak hati. Mengingat bahwa Rey pernah memiliki perasaan padanya.
"Kok ngelamun?". Tanya Rey sembari menatap Kina khawatir. "Sorry kalo gue buat lo gak nyaman, jujur gue gak maksud."
"Enggak kok, gue malah senang karena lo masih baik ke gue."
"Gue gak ngerti dengan apa yang terjadi sama elo Kin, tapi please kalo ada apa-apa lo harus kasih tau gue. Gue gak mau lihat lo terluka kayak gini lagi."
Kina mengangguk semangat, meski dalam hatinya ia merasa ragu untuk memberi tahu Rey dengan apa yang sering menimpanya akhir-akhir in, akankah Rey percaya dengan ceritanya, atau lelaki itu akan menyalahkannya sama seoerti yang lain.
Rey membantu Kina untuk berjalan hingga sampai diruang UKS. Sebelah lengan Kina di pegang oleh Rey bertujuan untuk menompang tubuhnya saat berjalan.
Langkah Kina dan Rey mendadak berhenti, saat sosok yang amat sangat Kina rindukan berjalan dari arah berlawanan hingga keduanya saling bertemu.
"Rey, Kina," Sapa Lisa yang terlihat terkejut dengan posisi antara Kina dan Rey yang terbilang cukup dekat itu.
Kina ingin melepas tautan tangannya dari Rey, tetapi jika ia lakukan itu akan sangat berbahaya untuknya dan mau tak mau Kina hanya diam.
Darrenjun masih memandangnya dalam diam, tak ada reaksi apa-apa selain tatapan tajam nan menusuk itu.
"Kalian ada hubungan apa?" Tanya Lisa lagi dengan wajah tanpa dosa miliknya.
"Bukan urusan elo dan buat lo Ren, gue ngerelain Kina buat lo, karena gue percaya lo bisa ngelindungi Kina. Tapi gue kecewa sekarang, saat Kina sakit lo dimana? lo malah asik-asikan pacaran dengan cinta pertama lo ini. Dimana hati elo?"
Darrenjun mengalihkan tatapannya dari Kina yang telah tertunduk dan kini ia melempar tatapan tajam ke arah Rey.
"Lo playboy tau apa soal perasaan?"
Kina yang sempat tertunduk menatap Darrenjun dengan tatapan terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Darrenjun akan mengatakan hal seperti itu terhadap Rey, ia tahu kalo Darrenjun memang masih si mulut merica tetapi situasi seperti ini bukankah terlaku beresiko, mengingat bahwa Rey masih teman dekatnya.
Rey mengepal tangannya kuat, mencoba menahan emosinya.
"Gue emang Playboy, tetapi setidaknya gue gak pernah menyia-nyiain perasaan orang yang tulus ke gue."
Darrenjun hanya merotasi kan bola matanya saja, seakan ucapan Rey hanyalah bualan baginya.
"Gue gak peduli dengan celotehan elo, mulai sekarang berhenti ikut campur urusan gue," Tegas Darrenjun.
Kina hanya terpaku melihat perubahan sosok itu, Darrenjun yang dulu seakan menghilang dari pandangannya.
Rey benar-benar tidak dapat menahan emosinya lagi, ia melangkah maju hendak melayangkan satu pukulan ke arah wajah Darrenjun, tapi sebelum itu terjadi, Kina lebih dulu menahannya.
"Rey_"
Rey menarik nafasnya, lalu segera ia menarik Kina meninggalkan kedua orang itu dengan kesal.
Darrenjun mengepalkan tangannya kuat, bukan, bukan karena pertengkarannnya dengan Jaemin tadi, tetapi karena luka yang telah menggores kaki Kina, ia bersumpah akan segera menyelesaikan semua ini.
"Tunggu gue," Ucapnya dalam hati.
...-...
...❤️Cutton Candy❤️...
...-...
...Jangan lupa saran dan masukkannya ya semua 😊😊...