Cutton Candy

Cutton Candy
Rasa



...πŸ’—Cutton CandyπŸ’—...


...-...


...(Rumus matematika itu sulit menurut lo. Sama kayak hubungan lo dan gue 😏😏 - Darrenjun )...


...*****...


"WOI!"


Haikal berteriak tepat di telinga Kina dan membuat gadis itu mengusap-usap telinganya.


"LO BISA GAK SIH? GAK PAKE TERIAK DI TELINGA GUE?” suara lelaki itu sungguh nyaring dan hampir saja membuat gendang telinga Kina pecah.


"GUE GAK TERIAK. YANG ADA ELO TUH!”


"GUE GAK BAKALAN TERIAK. KALO LO GAK MULAI DELUAN!"


"Lo nya aja yang baperan.”


"Gue gak baperan, lo emang nyebelin.”


"Nethink mulu lo jadi orang.”


"Gue gak nethink tapi kenyataannya lo emang kayak gitu.”


"Enggak!"


"Iya!"


"Enggak!"


"Iya!"


"Ribut mulu nih bocah dua!" Omel Emilio yang mulai kesal dengan pertengkaran Kina dan Haikal yang tak ada hentinya


"Tau. malah pake acara teriak segala lagi,”Tambah Arji yang baru saja meniup kedua telinganya menggunakan tangannya. Sepertinya lelaki itu hampir menjadi tuli berkat suara nyaring Kina dan Haikal.


"Salahin nih bocah satu. ngegass mulu hidupnya.”


"Yang ada elo tuh.”


"Gue enggak tuh.” Haikal memeletkan lidahnya pada Kina.


"Sialan lo.”


Haikal tak peduli dan lelaki itu masih meledek Kina dengan semangatnya.


"Lo bisa gak sih sehari aja gak nyebelin?”


"Gak bisa tuh.”


Kina mengepalkan tangannya kuat dan ingin bersiap-siap meninju wajah lelaki itu. tapi sayang sebelum itu terjadi. Mark datang bersama seorang gadis.


"Hai guys.” Sapa Mark yang baru saja tiba.


Lelaki itu datang bersama seorang perempuan yang amat sangat familiar oleh Kina.


"Elo!" Tunjuk Kina ke gadis itu.


Mark menatap Kina dan gadis itu bergantian. Lalu ia menggenggam erat tangan gadis yang datang bersamanya itu.


"Official nih ceritanya?” Goda Haikal.


Mark tersenyum penuh arti. "Iya. Biar gak ada yang nikung diam-diam,” jelasnya.


Kina menghampiri pasangan baru itu dengan wajah yang masih terlihat shock. "Lo dua sejak kapan bisa dekat?” Tanyanya sedikit keheranan dengan pemandangan pagi ini.


Lala tersenyum malu-malu dan untuk pertama kalinya bagi Kina melihat tingkah temannya yang seperti ini. Hampir saja gadis itu ingin muntah melihat akting temannya yang terlalu berlebihan menurutnya. Kalau saja ia tak diingatkan oleh Lala lebih dulu melalui isyarat yang diberikan Lala.


"Lo kepo amat dah jadi manusia,” Haikal barusan berucap.


"Paan sih lo? gue gak nanyak elo ya nyamuk. gue nanyak ke nih orang dua.” Kina kembali memusatkan perhatiannya pada kedua orang itu.


"Sembarangan amat lo ngatain gue nyamuk. Elo tuh yang nyamuk.”


"Uda ya gue capek dan gue gak mau berurusan sama lo.” Setelah lelah berurusan dengan Haikal, Kina kembali memusatkan perhatiannya pada Lala dan Mark.


"Jadi sejak kapan?” tanyanya lagi.


Lala menarik lengan Kina dan mendekatkan bibirnya pada telinga gadis itu. "Entar gue cerita,” Bisiknya.


Kina hanya mengangguk singkat. Meski tatapnnya masih tak lekang dari kedua orang itu. seperti layaknya seorang bapak yang mengintrogasi anaknya.


"Kita jadiannya baru kemarin. Lo tenang aja Kin gue bakalan jagain Lala kok,” Ucap Mark. Sepertinya lelaki itu paham dengan maksud perkataan Kina.


Kina tak menggubris gadis itu memilih diam. Meski tatapanya sudah tak menusuk seperti tadi. "Bagus deh. lo jagain temen gue. kalo gak, gue bom rumah lo,” Jelasnya.


Lala dan Mark tersenyum bersamaan dengan ucapan yang barusan di lontarkan oleh Kina pada keduanya.


"Sip dah. lo tenang aja,” Jawab Mark dengan percaya diri. Kini lelaki itu kembali mengeratkan genggamannya pada Lala.


"Yaudah yang langgeng,” Ucap Kina lagi.


Arji tiba-tiba menghentikan langkahnya dan membuat langkah yang lainnya ikut terhenti.


"Lo kenapa berhenti sih?!" Ucap Haikal kesal. Karena berkat Arji yang berhenti mendadak membuatnya menabrak tubuh Arji.


Arji mengarahkan jari telunjuknya ke arah bibirnya. "Diam. Liat noh.” Lelaki itu mengedikan dagunya ke arah objek yang dimaksud.


Semuanya mengikuti arah pandang Arji.


Pemandangan dimana Rey dan Yaya berdiri saling berhadapan entah sedang membahas apa.


"Lo ngapain masih deketin gue?” Tanya Rey tak suka. Gadis terus saja mengganggunya.


"Rey. Gue mau kita balikan.”


"Ha?” Lelaki itu tercengang dengan ucapan Yaya barusan. "Lo gila! Gue dan elo itu sama-sama punya pacar,” Jelasnya.


"Iya gue emang masih punya pacar. Tapi gak buat lo.”


"Gue masih punya pacar,” Ucap Rey tak terima.


"Oh ya siapa?”


Tantang Yaya. "Maksud lo. Pacar lo yang selingkuh itu?” Ucapnya dengan senyuman mengejek.


Rey terdiam.


"Lo jangan bohong Rey. Gue tau kalo lo baru aja putus karena lo nangkep basah pacar lo lagi selingkuh kan?”


"Jaga mulut lo!" Peringat Rey tegas.


Yaya menarik tangan Rey dan menggenggamnya erat. "Rey. Kasih gue kesempatan. Gue bakalan nyembuhi luka lo dan ngebuat lo bisa lupain dia. Kita mulai dari awal ya,” Pinta gadis itu yang menatap Rey penuh harap.


Rey melepaskan tangannya dari genggaman Yaya secara kasar. "Lupain angan lo yang terlalu berlebihan itu. Karena gue gak bakalan mau balikan sama lo!" Tegas Rey dan pergi dengan dari situ. Jelas sekali dari raut wajahnya, Rey sedang menahan amarahnya.


-


-


Meski status Lala telah menjadi pacar Mark, tapi tetap saja gadis itu tak ikut berada di atap. Mungkin Mark yang melarang Lala untuk bergabung bersama mereka semua. Mengingat perjalanan untuk sampai ke atap lumayan jauh dan bisa dipastikan Mark takut bahwa Lala akan kelelahan nantinya.


Baik sekali bukan.


Membayangkan hal itu saja membuat Kina tersenyum miris dengan keadaannya saat ini. Sejak dari tadi ia tak hentinya memandang Darrenjun dan Mark secara bergantian.


"Lo ngapain liat gue?” Tanya Darrenjun yang menangkap basah gelagat anehnya.


Kina mendecih. "Gak usah Geer gue gak ngeliatin elo tuh,” Elaknya.


Kembali Kina merasa miris terhadap nasibnya. Bukan kah beruntungnya Lala bisa diperlakukan baik oleh pacarnya tak seperti nasibnya yang apes harus bersama lelaki menyebalkan dan memiliki mulut sepedas merica level 50 seperti Darrenjun dan untungnya lelaki itu bukan pacarnya.


Setelah selesai meratapi nasibnya. Tatapan Kina tiba-tiba saja teretuju ke arah Rey. Dimana lelaki itu tengah bersender pada dinding dengan kedua mata yang terpejam. Dari wajahnya, jelas sekali kalau lelaki itu sedang bersedih. Mengingat dengan apa yang barusan terjadi dengan hubungannya.


"Lo gak niat ngehibur dia?” Tanya Darrenjun yang entah sejak kapan telah berdiri disampingnya Kina.


Kina menoleh ke arah Darrenjun. "Ngehibur?”Tanyanya.


Darrenjun mengangguk singkat. "Rey baru putus dengan Naya. Ini kesempatan buat lo. Hibur dia,” Lanjut Darrenjun


Kina seketika merasa speechless dengan ucapan Darrenjun barusan. Perkataan Darrenjun sama persis dengan ucapan Alby tempo hari.


"Lo yakin?” Tanyanya memastikan.


Darrenjun mengangguk singkat. "Kalo lo gak coba gimana bisa tau,” Jawab lelaki itu dan kembali duduk ketempatnya.


-


Kina berjalan dengan langkah cepat menghampiri Rey. keringat telah mengucur pada pelipisnya. Gadis itu baru saja berlari kencang tadi.


"Ini buat lo.”


Rey membuka kedua matanya yang sempat terpejam dan memandang Kina heran.


"Ice cream?” Ucap Darrenjun dengan menepuk keningnya menggunakan tangannya. Ia tak menyangka gadis itu malah memberikan Rey ice cream guna menghiburnya.


"Kok gak di ambil? Lo gak suka ya?” Tanya Kina merasa canggung. Karena ia salah mengira jika Rey akan senang dengan ice cream yang ia sodorkan.


Rey menggeleng cepat. "Enggak kok gue suka banget malah,” ucapnya dengan senyuman.


Lalu dalam sepersekian detik, lelaki itu mengambil ice cream dari tangan Kina dan langsung melahapnya.


Kina tersenyum lebar melihat Rey yang begitu semangatnya menikmati ice cream pemberiannya.


"Enak?”


Rey mengangguk. "Banget. Thanks ya,”ucapnya.


Kina mengangguk semangat. "Iya sama-sama Rey. Gue harap mood lo jadi baik setelah ini.”


Rey kembali tersenyum. Kali ini lebih lebar. Setelahnya Kina duduk disebelah Rey dan menikmati ice cream yang ia beli.


"Lo gak sakit hati Ren?” Darrenjun seketika menoleh ke arah orang yang barusan bertanya. Ternyata orang itu Mark.


"Sakit hati? Untuk?” Tanyanya bingung.


"Noh,” Mark mengedikkan dagunya ke arah Kina dan Rey yang sedang duduk berdua sambil menikmati ice cream mereka dan tak jarang keduanya saling melemparkan candaan.


Darrenjun terkekeh pelan. "Gak lah. Lo ada-ada aja,” Ucapnya.


"Lo gak usah bohong Ren. Gue tau kok, lo mulai demen kan dengan si Kina.”


Darrenjun menggelengkan kepalanya cepat. "Sotoi lo,” Ucapnya.


"Lo bisa bohongi gue lewat ucapan lo. Tapi enggak dengan tatapan lo.”


"Maksud lo?”


Mark menepuk pundak Darrenjun pelan. "Cuma lo yang tau jawabannya.”


Lalu, Mark pergi berpindah kearah Arji dan Haikal yang sedang asik Mabar.


Setelah kepergian Mark. Darrenjun kembali memandang ke arah Kina dan Rey lagi. Kedua orang itu terlihat asik dengan dunia mereka berdua.


Ya Mark benar, kalau Darrenjun memang merasakan sesuatu yang aneh saat melihat kedekatan keduanya. Tapi, dia tau batasan. Dia tak punya hak untuk merebut kebahagian gadis itu.


-


"Lo ngapain senyum-senyum mulu? Merinding gue liatnya.”


"Sialan. Lo kira gue setan, pake acara Lo merinding ngeliatnya.”


"Emang.”


Kina meremat pulpen yang ada ditangannya dengan kuat. Hampir saja gadis itu hilang kesabaran dan ingin melempar pulpen yang ada ditangannya ke arah Darrenjun. Lelaki itu selalau bisa membuat darahnya mendidih.


Kedua orang itu sedang berada di kafe tongkrongan mereka seperti biasanya. Melakukan rutinitas harian mereka. Yaitu belajar.


"Jun,” panggil Kina setelah menyerahkan kertas jawabannya pada Darrenjun.


"Hmm,” Jawab lelaki itu yang tak berniat berucap sedikitpun. Bahkan tatapannya tak lekang dari kertas yang ada ditangannya. Kertas yang berisi soal-soal yang barusan Kina jawab.


"Rey sama Naya kapan putusnya?”


"Sehari setelah pertandingan basket.”


"Maksud lo mereka uda putus dari seminggu yang lalu?”


Darrenjun mengangguk.


"Kok bisa?” Tanyanya lagi. meski sebenarnya ia telah lebih dulu tahu mengenai kandasnya hubungan keduanya. Hanya saja gadis itu masih penasaran mengenai cerita lengkapnya.


"Kalo lo penasaran tanya orangnya langsung.”


Kina mencebikkan bibirnya. "Iihh lo pelit amat dah. gue kan cumaβ€”β€œ


"Nah.”


Darrenjun menyodorkan kertas jawaban yang barusan ia koreksi ke arah Kina dengan kasar. Bahkan sempat terdengar suara dentuman. Hanya saja tidak terlalu keras. "Mendingan lo gak usah penasaran. Perbaiki nilai lo dulu.”


Kina mengambil kertas itu dengan kasar. Sambil melemparkan tatapan menusuk ke arah Darrenjun. "Iya. iya bawel,” Gerutunya.


Meskipun keduanya terlihat selalu bersama. Tapi bukan berarti hubungan keduanya bisa sedekat itu. Bahkan sampai saat ini, Kina merasakan ada sebuah dinding kaca tebal yang terbuat dari ice mengelilingi Darrenjun.


Kaca yang begitu tebal yang sangat tidak mungkin untuk dipecahkan. Lelaki itu penuh misteri dan Kina juga tidak terlalu ingin mencampuri kehidupan Darrenjun. Baginya itu privasi sesuai dengan kesepakatan keduanya.


Jadi dari pada memusingkan tentang hubungan keduanya yang terbilang cukup rumit. Kina memilih untuk menghiraukannya saja.


-


Hari telah sore dan matahari yang begitu terik telah tergantikan dengan pemandamg sore yang begitu indah. Bahkan angin sepoi-sepoi telah bertiup kesana kemari.


Darrenjun dan Kina baru saja selesai belajar bersama. Kini keduanya pergi menuju parkiran. Hendak pulang menuju rumah masing-masing.


"Lo mau langusung pulang nih?” Tanya Darrenjun pada Kina yang baru saja hendak memakai helmnya.


Gadis itu memandang Darrenjun dengan kening berkerut. "Rencana. Emang kenapa?”tanyanya dengan minat. Ini kali pertama Darrenjun terlihat serius bertanya padanya.


"Gak papa,” Jawab Darrenjun acuh. Lelaki itu mulai mengenakan helmnya.


"Lo gak jelas amat dah.” Omel Kina.


"Gue tadi cuma basa basi. Mau lo jawab atau enggak gue gak peduli,” Jelas Darrenjun.


Kina terpelongoh mendengar penuturan yang barusan dikatakan oleh lelaki itu padanya. Sungguh menyebalkan bukan?


Kina meremat jemarinya kuat. Merasa kesal dengan tingkah lelaki itu yang suka mempermainkannya. "Dasar kutub antartika,”rutuk gadis itu.


Darrenjun tak menanggapi ucapan Kina barusan. Lelaki itu hanya tersenyum tipis melihat wajah Kina yang terlihat begitu kesal karenanya. Setelahnya lelaki itu menyalakan motornya dan pergi dari situ.


Meninggalkan gadis yang menahan kekesalannya setengah mati karenanya.


...*****...


...*πŸ’“Cutton CandyπŸ’“*...


...*Vote and coment please **πŸ™πŸ™πŸ™*...