Cutton Candy

Cutton Candy
Mantra



...πŸ’“Cutton CandyπŸ’“...


...****...


Kina masih dalam posisi diam. Sejak dari tadi ia terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Jika keduanya mengakhiri perjanjian mereka itu.


Akankah mereka bisa dekat seperti ini. Atau Darrenjun akan menjauhinya. Memikirkannya saja sudah membuat Kina sedih. Gadis itu tak ingin kehilangan teman berharganya itu. Meski Darrenjun memiliki sifat yang bertolak belakang dengan dirinya. Entah kenapa Kina sudah hampir terbiasa dengan sifat lelaki itu.


"Lo masih bad mood?”


Darrenjun barusan bertanya padanya dan membuat Kina langsung tersadar dari lamunannya.


"Eh… Enggak.”


"Terus kenapa diem?”


"Gak papa.”


"Lo gak usah bohong. Lo masih bad mood kan.”


"Gue uda bilang enggak juga. Lagian suka-suka gue dong. Kok elo yang sewot sih??" Sebel Kina.


"Gue gak sewot. Gue cuma nanyak doang.”


Kina mendecih. "Bilang aja lo kepo.”


"Gue gak kepo. Gue cumaβ€”β€œ


"Basa basi? Lo mau ngomong itu kan?”


Darrenjun mengangguk singkat.


"Dasar manusia Antartika mulut merica level 50.”


Darrenjun tak menggubris celaan yang diberikan Kina padanya. Dari pada memperpanjang masalahnya, Darrenjun memilih diam.


"Gimana kondisi elo?”


Kina tercekat. Tak biasanya lelaki itu begitu perhatian.


"Kenapa gak jawab? Lo terharu?” Ledek Darrenjun.


"Gak ah. B aja tuh. Gak usah ke pedean lo.”


"Gue gak ke pedean gue ngomong apa adanya.”


"Serah lo dah,” Ucap Kina malas.


Kina berjalan dengan langkah cepat meninggalkan Darrenjun yang telah tertinggal dibelakangnya.


"Lo mau kemana?” Darrenjun barusan menarik tas ransel milik Kina dan membuat Kina tertarik kebelakang.


"Paan sih lo. Rese amat dah jadi manusia.”


Darrenjun melepas tas yang tersampir pada pundaknya dan memberikannya pada Kina.


"Jangan sok lupa. Lo masih babu gue,” Ucapnya.


Lalu, ia pun berjalan lebih dulu meninggalkan Kina yang masih berdiri mematung memandang punggung Darrenjun yang mulai menjauh.


Lagi lagi helaan nafas keluar dari bibir Kina. Sebentar lagi, dia akan meninggalkan rutinitas seperti ini. Dan hatinya belum siap kehilangan teman seperti Darrenjun. Setelah lama bersama Darrenjun. Kina telah mengetahui banyak hal mengenai lelaki itu. Hal yang hanya ia simpan untuk dirinya sendiri.


Jangankan hanya untuk berbagi cerita. Mungkin hanya menyapa saja Darrenjun sudah enggan.


-


-


Darrenjun memasuki rumah besarnya. Tempat dimana ia berlindung dari teriknya matahari dan hujan. Dengan langkah malas ia berjalan didalam rumah itu.


Terdengar kedua orang tuanya sedang bercakap-cakap dengan seseorang di ruang tengah. Mungkin ada yang sedang berkunjung kerumahnya. Pikirnya.


Darrenjun tak terlalu memusingkan hal itu. Ataupun peduli dengan siapa orang yang sedang berkunjung. Lelaki itu memilih melewati ruangan itu begitu saja.


"Darrenjun.” Panggil seseorang padanya.


Darrenjun seketika membeku. Suara itu. suara yang sangat familiar. Lelaki itu langsung berbalik untuk memastikan bahwa orang itu bukan lah orang yang ia maksud.


Sayangnya perkiraannya tepat adanya. Lelaki itu membeku memandang orang yang tengah berdiri dengan wajah sendu ia menatap Darrenjun. Laura.


"Jun,” Panggilnya lagi. Laura mendekat. Tapi sebelum ia sempat melangkah. Darrenjun lebih dulu berteriak padanya.


"BERHENTI!" Teriaknya.


Laura langsung menghentikan niatannya untuk menghampiri Darrenjun.


"Jun,” Ucapnya sedikit terisak memanggil nama kecil Darrenjun. Nama yang selalu ia gunakan saat memanggil nama anak kesayangannya itu.


Darrenjun meremat jemarinya kuat. Ia sedih dan sakit disaat yang bersamaan. Wajah itu, adalah wajah yang ia rindukan selama ini. Tapi entah kenapa, saat melihatnya secara nyata Darrenjun merasa marah dan juga kesal. Bayangan Laura yang meninggalkannya tanpa kabar membuat Darrenjun geram setengah mati.


"Mau apa anda kemari?” Tanyanya dengan dingin. Lelaki itu bersikap seolah-olah tak mengenal Laura.


Laura menatap wajah Darrenjun dengan sendu. Hatinya begitu sakit dengan sikap Darrenjun yang begitu dingin padanya.


"Mama kangen kamu Jun. Mama rindu kamu,” Ucap Laura sembari terisak.


Darrenjun terkekeh pelan.


"MAMA? Apa anda merasa bahwa anda masih pantas disebut mama?”


Semua orang terkejut. Bahkan Laura tak dapat menyembunyikan kesedihannya yang begitu dalam.


"Maaf Jun. Maafin mama. Mama mohon.” Laura meremat dadanya yang terasa sesak.


"Gak ada lagi yang bisa di maafin,” Tegas Darrenjun.


Dengan langkah cepat Darrenjun berjalan meninggalkan semua orang yang ada disana. Lelaki itu ingin segera masuk kedalam kamarnya menyembunyikan dirinya diantara orang-orang itu.


Tapi tanpa ia duga Laura berhasil menahan lengannya dan membuat langkahnya terhenti.


"Jun tolong kasih mama kesempatan buat perbaiki kesalahan mama sama kamu,” pinta Laura dengan linangan air mata yang membanjiri wajahnya.


Askara, Jia dan Lucas hanya diam mematung melihat keduanya yang terlibat perang batin. Mereka bisa merasakan bagaimana sakit yang dialami keduanya.


Darrenjun menepis kasar tangan Laura.


"Apa? Kesempatan?” Darrenjun tertawa sinis. "Sudah banyak kesempatan yang saya berikan pada anda selama ini. Tapi apa? Anda malah tak peduli dan menyia-nyiakan semua kesempatan yang anda punya itu.”


Laura berusaha merahi tangan Darrenjun kembali. Tapi sayangnya Darrenjun menghalaunya lebih dulu.


"Maaf Jun.”


"BERHENTI MENJADI KORBAN DISINI.”


"Selama ini saya memerlukan anda. Tapi apa? Anda menghilang begitu saja. Sampai saya berhasilβ€”β€œ


"Menganggap anda telah tiada,” Lanjut Darrenjun dengan tegas.


"DARRENJUN! JAGA UCAPAN KAMU!" Peringat Askara dengan tajam. Sejak dari tadi ia berusaha menahan amarahnya.


Darrenjun memandang Askara dengan senyuman kecut. Lalu ia kembali berucap.


"Apa tujuan anda kemari untuk menebus segala dosa anda?”


"Saya rasa jika itu yg anda inginkan. Sayang sekali, karena sepertinya anda sudah terlambat. Karena berkat anda saya yang harus menanggung dosa anda. Ketika anda pergi tak ada kabar. Permisi,” Ucap Darrenjun. Mengakhiri segalanya dan ia berharap Laura berhenti menemuinya lagi.


Laura menangis mendengar ucapan Renjun barusan. Hatinya hancur berkeping-keping. Anak laki-laki yang menjadi semangat hidupnya begitu membencinya karena kesalahannya. Dadanya semakin sesak dan membuat lutut wanita itu menjadi lemas.


Ucapan Darrenjun bagaikan tombak runcing yang menyayat-nyayat hatinya. Pandangannya mendadak kabur. Hingga akhirnya wanita itu tergeletak dilantai tak sadarkan diri.


"LAURA! TANTE!” Teriak ketiganya.


Darrenjun menghentikan langkahnya. Secara perlahan ia berbalik melihat apa yang barusan terjadi.


Jia mencoba membangunkan Laura yang sudah tak sadarkan diri dengan cara mengguncang tubuh Laura. Tapi sayangnya, wanita itu tak bereaksi apapapun.


"MAMA!" Teriak Darrenjun dengan pilu.


-


-


Lucas memberikan secangkir coklat panas pada Darrenjun. Lelaki itu duduk tepat disamping Darrenjun mencoba memberikan kekuatan padanya.


"Kenapa lo gak pernah cerita soal kondisi mama selama ini?”


"Maaf. Gue juga baru tau tadi,” Jawabnya.


Darrenjun menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Rasanya ia menjadi pendosa. Lagi-lagi dia hanya berburuk sangka dan membuatnya menghakimi orang tanpa tau apa-apa.


Lucas menepuk pundak Darrenjun pelan. "Ini bukan salah lo. Jadi jangan nyalahin diri lo lagi.”


"Tapi, gara-gara gue penyakit mama kambuh.”


Lucas mendekat ke arah lelaki itu dan memeluknya erat mencoba memberikan kekuatan yang ia punya. "Lo gak sendirian lo masih punya kita. Gue yakin Tante itu orangnya kuat. Dia pasti bisa sembuh.”


Darrenjun hanya mengangguk kecil atas ucapan Lucas padanya.


Seorang gadis berlari dengan langkah tergesa-gesa. Sepanjang lorong ia berlari seperti orang gila sembari membaca nama pasien yang terletak pada papan nama yang ada di pintu masuk ruangan.


Langkahnya terhenti saat melihat dua orang yang sangat ia kenal sedang berpelukan.


Dengan langkah pelan ia mendekat ke arah keduanya. Nafasnya kian memburu karena sejak dari tadi gadis itu tak hentinya berlari.


"Darrenjun,” Panggilnya pelan.


Meski tak tau apa-apa Kina merasakan kesedihan yang amat sangat dalam menyelimuti kedua orang itu.


Lucas menyadari keberadaan Kina. Lelaki itu tersenyum ke arahnya.


"Kina.”


Kina hanya tersenyum kikuk perasaannya mengatakan bahwa kehadirannya disaat yang tak tepat.


"Sama siapa?” Tanya Lucas ramah.


"Sendiri.”


Lucas tersenyum simpul dan bangkit dari duduknya. "Gue mau ke toilet dulu. Temenin Darrenjun.”


Kina mengangguk.


Setelahnya Lucas pergi dan Kina duduk disebelahnya Darrenjun tempat dimana Lucas duduk tadi.


Hening


Sudah hampir 15 menit berlalu dan Kina tak berani berucap. ia masih begitu bingung harus mulai darimana. sampai rasa khawatir mendominasi dirinya.


"Gimana kondisi nyokap lo?” Tanyanya. memecahkan kecanggungan yang ada.


"Masih di ruang ICU,” jawab Darrenjun yang masih tertunduk memandang lantai keramik rumah sakit. sepertinya lantai itu cukup menarik untuk di pandangi.


Kina menggenggam tangan Darrenjun lembut dan menatapnya lekat. "Lo yang kuat ya. Gue yakin lo lebih hebat dari yang lo kira,” ucapnya penuh keyakinan.


Darrenjun mengangkat kepalanya dan memandang gadis itu dengan mata sembabnya.


"Semua ini karena gue. Karena ucapan gue mama jadi sakit kayak sekarang. Karena gue mama harus ngalami shock hebat dan pingsan.”


Darrenjun menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Jun. Berhenti nyalahin diri lo kayak gini. Lo gak salah. Mungkin mama loβ€”β€œ


"Gue salah Kin. Gue salah. Gue uda ngomong kasar dan ngebentak mama. Gue uda jadi orang tolol yang gak tau apa-apa tapi malah ngehakimi mama.”


"Junβ€”β€œ


"Gue jahat. Gue anak durhaka. Gue gak pantes di maafin.”


Darrenjun menangis menumpahkan kesedihannya lewat air mata.


Dengan keberanian yang ia punya, Kina memeluknya mendekap lelaki itu dalam pelukannya. berharap agar ia bisa memeberikan sedikit kekuatan bagi Darrenjun barang cuma sedikit. Kina tak sanggup melihat Darrenjun yang lemah seperti ini.


Darrenjun menangis dan memeluk Kina begitu erat seperti layaknya anak seusianya. Tak ada lagi sosok dingin bagi es hanya ada dirinya yang sebenarnya. Sejak dari tadi lelaki itu telah berusaha agar terlihat tegar di hadapan orang-orang. Tapi, semua hal itu tak berlaku saat ia berada didekat Kina. Entah kenapa saat berada didekat gadis itu, rasanya hal itu begitu sulit bagi Darrenjun dan lagi-lagi ia pun berakhir dengan kondisi menangis dihadapan gadis itu. Menjadi sosok dirinya sebenarnya.


"Gue gak bakalan maafin diri gue kalo terjadi apa-apa sama mama,” Lanjut Darrenjun dengan isakan.


Kina mengelus punggung Darrenjun dengan lembut hingga tangisnya mereda.


Darrenjun meregangkan pelukannya dan dengan cepat ia menghapus jejak air mata yang masih tertinggal di wajahnya.


"Sorry mendadak gue jadi melow.”


"Its ok Jun. Kalo gue ada di posisi lo, gue pasti bakal ngelakuin hal yang sama.”


Darrenjun hanya tersenyum tipis.


"Lo jangan khawatir mama lo pasti sembuh. Kita doain disini sama-sama ya biar mama lo bisa pulih,” Ucap Kina sembari menepuk punggung Darrenjun pelan.


Darrenjun memandang Kina dalam diam , lalu ia mengangguk.


Kina tersenyum bahagia. karena akhirnya Darrenjun bisa kembali tersenyum.


Tanpa gadis itu tau bahwa ucapannya sudah seperti sebuah mantra hebat bagi Darrenjun. mantra hebat yang bisa menangkan hatinya yang gundah.


"Makasih,” jawabnya dan kali ini Darrenjun memberikan senyuman hangat pada Kina.


Dan dalam hatinya ia bersyukur bisa berada didekat sosok seperti Kina.


Oh tidak sepertinya Darrenjun semakin ditarik oleh sihir Kina.


-


-


*1 jam sebelumnya*


Kina duduk diatas meja belajarnya. Gadis itu memandang layar laptopnya dalam diam. bukan sedang menonton drama atau apa. gadis itu hanya memandang layar hitam dengan pikiran yang berkelana entah kemana.


Ia masih dilema untuk memberitahu Darrenjun bahwa laptop kesayangannnya telah kembali dan harusnya mereka sudah bisa mengakhiri perjanjian konyol itu.


Kina menghelakan nafasnya. bagaimanapun perjanjian tetap lah perjanjian. ia tak boleh egois untuk membuat Darrenjun terus mengajarinya dan berada disekelilingnya. Kalau pun setelahnya lelaki itu tak mengangapnya sebagai teman lagi. yasudah lah Kina bisa apa, setidaknya ia senang pernah mengenal seorang Darrenjun.


Dengan keputusan yang sudah mantap. Kina mengeluarkan hapenya dari dalam laci meja belajarnya. gadis itu mencari nama Darrenjun pada kontak handphonenya.


Tawa kecil keluar dari bibirnya begitu saja. nama Darrenjun di kontak hapenya masih belum ia ganti. Rasanya nama itu memang sudah cocok untuk menggambarkan karakter seorang Darrenjun.


Batu es Antartika mulut merica level 50


Baru saja Kina ingin menelpon Darrenjun. Lelaki itu sudah lebih dulu menelponnya. Kening Kina mendadak berkerut, ini hal aneh menurutnya.


Ada apa gerangan? pikirnya.


Tak perlu waktu lama, Kina langsung mengangkat panggilan masuk tersebut.


"Iya Jun-"


"......"


Kina membeku di tempat.


"....."


"Oke gue kesana sekarang. Lo tunggu bentar. Share loc ke gue,” Ucapnya sedikit panik. Gadis itu yakin Darrenjun dalam keadaan yang tak baik.


Setelah panggilan terputus, Kina langsung bergegas mengambil jaket jeansnya dan tasnya yang tergantung di raknya begitu saja. Gadis itu sudah tak memperdulikan lagi keadaannya yang amburadul. Baginya keadaan Darrenjun saat ini lah yang lebih penting ketimbang penampilannya.


...*****...


...*πŸ’“Cutton CandyπŸ’“*...


...*****...