Cutton Candy

Cutton Candy
Selingkuh



...πŸ’“Cutoon CandyπŸ’“...


...-...


"Kina!”


Kina langsung berbalik saat ada yang meneriaki namanya.


Senyuman yang menghiasi wajahnya mendadak sirna saat tahu siapa orang yang sedang menghampirinya.


Alby.


"Lo mau apa?” Tanya Kina dengan sinis.


"Kin. Sorry, gue gak maksud buat Lo tersinggung,” Ucap Alby dengan perasaan bersalah.


"Lo masih mau bahas itu lagi?”


"Uda ya gue gak ada waktu buat ladenin orang kayak elo.”


Baru saja Kina ingin melangkah pergi. Alby lebih dulu menahan lengan gadis itu dan membuatnya langsung berbalik.


"Kin please. Dengerin dulu penjelasan gue,”Mohon Alby.


Kina menepis tangan Alby kasar. Tidak bermaksud pergi tentunya, Kina berdiri memandangi wajah Alby dengan kesal.


"Yaudah lo ngomong,” Ketus Kina.


Alby menarik nafasnya pelan. "Maaf. Gue tau gue salah. Emang gak seharusnya gue bersikap seperti kemarin. Bersikap seolah-olah gue tahu semua tentang permasalahan lo dan Yaya.”


"Please Kin maafin gue,” Mohon Alby lagi.


Kina memandang Alby dalam diam. Jujur Kina tak tega melihat ekpresi Alby yang sedih seperti itu. Lelaki itu hanya terlalu bucin. Sama sepertinya.


"Iya gue maafin,” Ucap Kina akhirnya.


Alby tersenyum senang sampai kedua matanya menghilang. "Makasih Kin,” Ucapnya.


Kina mengangguk singkat. "Iya sama-sama. Gue juga minta maaf sama lo.”


Alby mengernyitkan dahinya. "Maaf? Buat?”Tanyanya bingung.


"Karena gue uda ngomong kasar ke elo kemarin,” Jelas Kina dengan suara pelan.


"Oh itu.” Alby kembali tersenyum. "Lo gak usah ngerasa bersalah gitu. Gue ngerti kok, lagian lo pantes ngomong kasar ke gue. Emang gue yang salah juga.”


"Jadi sekarang lo masih mau kan temanan sama gue yang sok tau ini?”


Kina mengangguk cepat. "Masih dong,” Ucap gadis itu girang.


Lalu keduanya tertawa bersamaan.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang tengah meperhatikan interaksi keduanya dalam diam.


...****...


"Ini minum lo.”


Kina menyerahkan sebotol air pesanan dari Darrenjun yang telah ia beli lebih dulu dikantin sebelum menyusul lelaki itu di atap gedung.


Darrenjun tak menyahut. Lelaki itu masih sibuk dengan game yang ada di hapenya.


"Uda di buka,” Jelas Kina sedikit kesal. Tangan gadis itu sudah mulai pegal.


Darrenjun hanya mengangguk singkat tanpa mengalihkan tatapannya sedikitpun dari layar hapenya dan mengambil minum yang ada ditangan Kina. Lalu mulai meminumnya.


"Bilang makasih kek,” Omel Kina pelan. Meski ia tahu sendiri bahwa Darrenjun tak akan pernah mungkin menanggapi ucapannya itu.


Setelahnya Kina duduk disebelah Darrenjun. Duduk dalam diam tanpa melakukan apapun sampai lelaki itu kembali menyuruhnya.


"Masih Kin?” Tanya Mark dan membuat gadis itu menoleh ke arahnya.


"Masih apaan?”


"Jadi babunya Darrenjun lah,” Jelas lelaki itu.


"Menurut lo?” Tanya Kina sedikit kesal.


"Masih,” Jawab Mark dengan tawa cekikikan.


Kina mengernyitkan dahinya. Merasa bingung dengan tingkah Mark yang mudah sekali tertawa dengan hal apapun meski terbilang cukup sepele.


Arji tiba-tiba datang menghampiri Kina dan juga Darrenjun. "Minggir! lo dua gak boleh duduknya deketan,” Ucap lelaki itu dan duduk diantara keduanya.


Kina hampir saja terjungkal dari tempatnya kalau saja ia tak sigap. Berkat ulah Arji barusan tubuhnya terdorong ke samping.


"Lo ngapain sih?!" Tanya Kina kesal.


Arji menoleh ke arah Kina. "Lo berdua gak boleh duduk deketan,” Jelas Arji dengan melempar tatapan tajam ke arah Darrenjun.


"Kenapa? Lagian gue sama dia duduknya gak deketan amat kok,” Ucap Kina.


"Gak boleh pokoknya. Kalo mau duduk harus dengan jarak radius 1 meter.”


Kina melongoh. "Apa-apaan sih lo?” Ketusnya.


"Lo tenang aja Kin. Gue ngelakuin ini demi lo juga.”


"Demi gue gimana maksud lo?”


"Demi menjaga hati dan perasaan gue ke elo.”


Plakkk


Haikal barusan menoyor kepala Arji. "Sok puitis lo kunyuk.”


"Lo jangan ikutan. ini urusan antara gue dan Kina.”


"Yang mau ngurusin urusan lo itu siapa Bambang? Gue jijik denger ocehan lo barusan.”


"Lo bisa ngomong begitu karena lo gak ngerti dengan perasaan gue saat ini,” Ucap Arji dengan menepuk-nepuk dadanya sendiri.


Haikal menghembuskan nafasnya kasar. "Nih bocah pengen banget gue gampar,” Ucap lelaki itu dan dengan langkah cepat ia menghampiri Arji.


Sebelum niatnya itu tersampaikan. Darrenjun tiba-tiba bangkit dari duduknya dan membuat Haikal berhenti seketika.


"Ayo,” Ucap Darrenjun. Dan membuat Kina langsung bangkit dari duduknya. Gadis itu mengerti maksud ucapan Darrenjun yang tertuju untuknya.


"Lo berdua mau kemana?” Tanya Arji yang ikut bangkit dari duduknya.


Kina serta Darrenjun kini berbalik memandangnya.


"Kelas. Lo mau ngikut?” Tanya Darrenjun dan dibalas anggukan oleh Arji.


****


"Lo kesambet apaan sih ngintilin gue mulu dah?” Omel Kina pada Arji.


Kina sungguh risih sekarang, sebab Arji terus saja menempel padanya.


Sementara Darrenjun, lelaki itu berjalan didepan mereka. Tak menghiraukan Arji yang terus mengekorinya dari tadi.


"Gue gak lagi kesambet. Gue cuma mau mastiin kalau kalian benar-benar gak ada apa-apa,” Terang Arji.


Kina menghentikan langkahnya dan otomatis Arji ikut berhenti. Bahkan Darrenjun yang ada didepan mereka ikut berhenti.


"Lo masih percaya dengan ucapan Naya kemarin?” Tanya Kina ke Arji dengan sedikit menaikan intonasi suaranya.


Arji mengangguk lalu menggeleng lagi. "Gue juga gak yakin,” Jawabnya.


"Nah terus ngapain lo masih ngikutin gue Arji Raditya?” Tanya Kina merasa gemas dengan lelaki itu.


Gemas ingin memukulnya.


"Gue cuma mastiin doang.”


"Mastiin kalau gue dan Darrenjun itu gak ada hubungan apa-apa? Itu maksud lo?”


Arji mengangguk dengan semangat. "Yup! Gue gak mau kedeluanan Kin.”


Kina menghembuskan nafasnya frustasi. Arji benar-benar membuatnya jengah. "Lo dengar ya ini baik-baik. Gue sama Darrenjun itu gak ada hubungan apa-apa dan kita juga gak mungkin bisa jadian.”


"Lo tau kan Darrenjun dan gue itu kayak apa?Jadi kita gak bakalan pernah cocok,” Jelas Kina panjang lebar.


Arji diam berpikir. "Iya juga sih Kin. Kok gue gak kepikiran gitu ya,” Ucap lelaki itu sambil menggaruk-garukan kepalanya menggunakan jari telunjuknya.


"Nah makanya lo jangan nethink gitu.”


"Iya iya deh sorry.”


Kina bisa bernafas lega juga. Karena Arji masih menjadi dirinya. Tipe orang yang mudah percaya dengan perkataan yang barusan ia sampaikan.


"Terus lo ngapain masih disini?” Tanya Kina.


"Gue mau ke toilet noh,” Tunjuk Arji ke arah toilet yang berada di ujung lorong.


Kina mengangguk sekilas lalu kembali berjalan.


Saat ketiganya melewati lorong kelas. Yaya, Jeha, serta Amanda lewat dari arah berlawanan. Dapat dilihat dari jauh ketiganya memandang Kina dengan tatapan penuh kebencian. Dan tentunya Kina melakukan hal yang sama pada ketiganya.


"Gak nyangka ya. Gak cuma gebetan sama pacar lo yang dia gebet. Bahkan temen-temennya juga. Heran gue.”


"Gue juga ngiranya dia tipe cewek yang cuek. Ternyata. Gak jauh-jauh dari cewek jablay,”Ucap Yaya dengan tawa mengejeknya. bahkan Amanda serta Jeha ikut tertawa.


"Oh ya kok bisa?”


"Ya iyalah namanya juga gatel. dan yang bikin keselnya dia munafik. katanya gak suka tapi ternyata..."


"Ternyata mau juga.”


"Hahaha.”


"Gue sih yakin kalo dia pasti rela ngasih apa aja demi dapatin cowok yang dia suka.” Yaya menyunggingkan senyuman mengejek ke arah Kina secara terang-terangan dan yang Kina lakukan hanya diam mengamati ketiga gadis tersebut.


Ketiga gadis itu terus saja menyindir Kina secara terang-terangan. Bahkan mereka sengaja memperlambat langkahnya.


"Jangan-jangan dia dapaetin cowok-cowok cuma biar famous kali.”


"Hhahhah.”


"Munafik.”


Kina mengepal tangannya kuat-kuat berusaha menahan emosinya yang seakan ingin memuncak. Kalau saja Darrenjun dan Arji sedang tak ada didekatnya saat ini. Sudah dipastikan Kina ingin sekali melanjutkan perkelahian mereka yang tertunda. Tak peduli bagaimana hasilnya. Kina sungguh tak terima dengan ucapan Yaya, Jeha serta Amanda yang telah merendahkannya.


Tanpa Kina sadari Darrenjun terus saja memperhatikan interaksi gadis itu dengan gengnya Yaya. Karena sejak dari tadi Kina terus saja menarik dan menghembuskan nafasnya secara kasar. Bisa dikatakan bahwa gadis itu tengah menahan amarahnya.


Darrenjun menjadi yakin sekali bahwa ada sesuatu yang tak beres antara Kina dan juga Yaya. Melihat bagaimana tatapan mereka ketika berpapasan. Tatapn penuh kebencian dan dendam.


Setelah ketiga gadis itu pergi. Kina menarik nafasnya sedalam mungkin mencoba mengabaikan dan melupakan ucapan ketiga gadis tadi yang jelas tertuju untuknya.


"Gue ke toilet dulu,” Ucap Arji dan membuat Kina dan Darrenjun memandang lelaki itu.


Kina mengangguk.


"Tapi inget. Lo dua harus tetep jaga jarak dalam radius 1 meter,” Peringat Arji dan pergi ke arah toilet meninggalkan Kina dan juga Darrrenjun.


"Jadi bener dugaan gue kalo wajah lo ternyata hasil dari perkelahian dan pelakunya ketiga cewek barusan,” Tebak Darrenjun dan membuat Kina sempat tercekat.


Dengan cepat Kina merubah ekspresi wajahnya yang sempat terlihat murung agar Darrenjun tak curiga terhadapnya.


"Sotoi lo,” Bantahnya.


"Lo bisa bohongi yang lain. Tapi gak dengan gue,” Jelas Darrenjun dan membuat Kina kembali diam.


"Lo ngapain sih pake acara berurusan dengan mereka? Apa semua ini cuma karena kedekatan lo dengan Alby. Atau Rey?” Tebak Darrenjun lagi. Dan tentunya tebakan Darrenjun menepati sasaran untuk Kina.


"Lo jangan sok tau,” Jelas Kina.


Kina sempat speechless karena Darrenjun begitu dengan mudahnya bisa menebak isi pikiran gadis itu. Tapi, karena Kina tak ingin masalahnya merepotkan siapapun. Kina memilih membantahnya.


"Gue gak sok tau. Tapi gue yakin,” Timpal Darrenjun lagi.


Kina menghembuskan nafasnya kasar. Gadis itu memegang pelipisnya yang terasa nyut-nyutan.


"Gue tau ini memang bukan urusan gue. dan ini gak ada kaitannya dengan gue. tapi lo yakin mau ngebiarin ini berlanjut hanya gara-gara cinta bertepuk sebelah tangan lo doang? Jauhin Alby. Lo gak tau dia itu kayak apa dan Rey sebaiknya lo berhenti bucin ke dia.”


Oke Darrenjun sepertinya telah memasuki zona yang tak seharusnya ia sentuh.


Zona kehidupan pribadi Kina.


"Cukup Jun!"


Lo gak berhak ngomong kayak gitu".


"Kenapa lo gak terima? Karena gue ngomong sesuai fakta kan?”


Kina menggelang kuat. Emosinya baru saja meredah dan kini Darrenjun malah menambahkannya.


"Jun!" Panggil Kina dan membuat Darrenjun tak jadi melanjutkan ucapannya. Kini ia memandang kearah Kina.


"Lo gak lupa kan kalo hubungan lo dan gue itu cuma sebatas perjanjian?”


Darrenjun menjadi diam.


"Lo pernah bilang, kalo baik lo dan gue gak boleh ikut campur mengenai privasi masing-masing. Dan ini privasi untuk gue,” Terang Kina.


Skak mat.


Darrenjun membeku. Ucapan Kina barusan telah menohok dirinya. Bagaikan sebuah Boomerang untuknya. Dia lah yang telah mengucapkan kata-kata tersebut pada Kina sebelumnya dan kini gadis itu yang malah memperingatinnya.


"Gue deluan ke kelas,” ucap Kina sesudahnya, lalu pergi dengan langkah lebar meninggalkan Darrenjun yang masih berdiri diam disitu.


Darrenjun terus saja memandangi punggung gadis yang mulai menjauh meninggalkannya itu. Entahlah dia merasa bingung sekarang. bagaimana dirinya yang begitu tak peduli terhadap orang lain. Kini malah mengkhawatirkan gadis yang selalu bersamanya itu.


Darrenjun menggeleng kepalanya kuat mencoba mengusir segala pikiran-pikiran mengenai Kina.


seseorang tiba-tiba menepuk punggung Darrenjun dan membuatnya berbalik.


"Kina mana Ren?”


*********


"Lo jangan lupa besok gue ada urusan.”


"iya gue tau, mau diingetin berpa kali sih?”


"Gue ngingetin supaya Lo gak lupa,” Terang Darrenjun.


Kina merotasikan bola matanya saja. Lelaki itu tak mungkin mau mengalah. Itu sudah sifat alamiah bagi seorang Darrenjun Evans.


"Serah lo.”


keduanya berjalan ke arah parkiran motor.


"Oh iya gue lupa,” ucap Kina.


Darrenjun baru saja ingin memakai helmnya dan kegiatannya itu terhenti.


"Kenapa?” tanyanya pada Kina yang panik.


"Itu payung gue ketinggalan didalam.”


Darrenjun hanya mengangguk-nganggukan kepalanya dan melanjutkan aktifitasnya yang sedang memakai helm.


"Lo luan aja gak usah tungguin gue.”


"Yang mau nungguin lo siapa?” ucap Darrenjun lagi, lalu bebrapa saat kemudian lelaki itu melajukan motornya dan meninggalkan Kina sendirian.


"Dasar manusia kutub,” Ucap Kina kesal.


Kina kembali memasuki kafe yang ia dan Darrenjun kunjungi tadi.


Saat berada didalam gadis itu menghampiri salah satu pelayan yang lewat dihadapannya.


"Mbak,” Panggilnya.


Pelayan itu menoleh. "Iya mbak ada apa?”


"Itu. ada ngeliat payung saya gak yang ada di meja pojokan?”


"Oh payung pink?”


Kina mengangguk. "Iya mbak warna pink.”


"Ada mbak. embak tunggu sebentar ya biar saya ambilin,” Ucap sang pelayan dan dijawab dengan anggukan oleh Kina.


Setelah kepergian pelayan tersebut. Kina memandang ke sekeliling ruangan, memperhatikan satu persatu pengunjung kafe yang ada disana.


Saat melihat kesana kemari. Tatapan Kina seketika terkunci pada satu meja dimana terdapat seseorang yang amat sangat familiar dalam ingatannya. Naya.


Kina memicingkan matanya. memperjelas penglihatannya. Tapi, siapa sangka bahwa gadis itu benar Naya pacar Rey.


Gadis itu tengah duduk dengan seorang lelaki. Bukan Rey Agra yang ia kenal. Melainkan dengan seorang lelaki asing yang terlihat lebih dewasa dari usia mereka. Kalau Kina tebak, sepertinya lelaki itu seorang mahasiswa.


Kedua orang itu sedang bercakap-cakap bahkan tak jarang interaksi keduanya terlihat begitu dekat. Seperti. Hmm... orang yang sedang berkencan.


"Mbak ini payungnya.”


Kina berbalik menoleh ke arah pelayan yang menyerahkan payung miliknya.


"Ahh iya mbak makasih,” Ucap Kina pada pelayan tersebut.


"Iya mbak sama-sama.”


Lalu setelahnya Kina segera keluar dari kafe tersebut.


Sebenarnya Kina masih sangat penasaran dengan hubungan keduanya. Rasanya ia ingin memastikan bahwa keduanya tak memiliki hubungan apa-apa. Tapi tak mungkin ia menghampiri meja kedua orang itu dan bertanya secara langsung. Hanya untuk melepaskan rasa penasarannya.


"Apa mungkin Naya berselingkuh dari Rey?”Batin Kina.


Dengan cepat Kina menggelengkan kepalanya. Berusaha membuang segala pikiran buruknya mengenai Naya.


Gadis polos seperti Naya sangat tidak mungkin melakukan hal yang jahat seperti itu. Kina mencoba meyakinkan dirinya kalau lelaki itu hanyalah kerabat Naya saja.


Ya dia harus berpikiran positif.


...-...


...*πŸ’“Cutton CandyπŸ’“*...


...-...


...*Coment please **πŸ’•*...