Cutton Candy

Cutton Candy
Yaya = Mantan



...*πŸ’—Cutton CandyπŸ’—*...


...-...


Bel pertanda telah berakhirnya jam pelajaran sekolah baru saja berbunyi beberapa saat yang lalu.


Seorang gadis dengan tergesa-gesa memasukin perlengkapan sekolahnya kedalam tasnya dan membuat orang yang disebelahnya menjadi risih.


"Lo apa-apaan sih Kin?! Bel baru aja bunyi. Lo uda kayak orang kebakaran jenggot.”


"Sorry Mit. Gue buru-buru banget nih.”


"Mau datengin si Darrenjun lo ya?” Tebak Mita.


Kina mengangguk cepat.


"Uda ya, gue cabut dulu. Bye.” Kina melambaikan tangannya ke arah Mita dan Lala sebelum akhirnya menghilang dari kelas.


Tujuannya bukan untuk pergi ke kelas lelaki itu, melainkan ke arah lapangan basket sekolah. Sesuai perintah dari Darrenjun padanya.


Kedua temannya hanya menggelengkan kepala mereka melihat tingkah temnnya yang kelewat berani menurutnya.


...****...


Keadaan lapangan cukup ramai sekarang, karena sudah jam pulang sekolah. masih ada beberapa murid yang tidak langsung pulang dan memilih duduk disitu hanya untuk sekedar mengobrol ataupun yang sedang curi-curi pandang ke arah pemain basket yang sedang latihan. Padahal hari lumayan terik sekarang. Tetapi mereka semua rela melakukannya.


Kalau saja Kina tidak dalam ikatan perjanjian dengan Darrenjun, sudah dipastikan gadis itu akan lebih memilih menghabiskan waktunya didalam kamarnya sambil menonton episode demi episode drama dari pada harus berpanas-panas ria di lapangan.


Menyadari kehadiran Kina, Darrenjun langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri gadis yang tengah bingung mencari keberadaannya.


"Lo akhirnya dateng juga.”


Kina menoleh ke arah orang yang barusan mengajaknya bicara.


"Lo ngapain sih nyuruh ke sini? Panas tau,”Omel Kina ke Darrenjun.


"Suka-suka gue dong, lo cuma babu jadi gak usah banyak komplain,” terang Darrenjun dan membuat gadis itu merotasikan bola matanya malas.


"Dari pada lo banyak ngeluh mulu. mending sekarang lo beliin gue minum sana, sekalian buat yang lain,” Perintah Darrenjun.


Kedua pundaknya Kina seketika merosot kebawah. "Ya ela, kenapa gak bilang dari tadi sih? Gue baru juga nyampek,” ucap Kina sedikit kesal.


"Gue baru inget pas lo dateng. Uda buruan sana gue seret nih,” Usir Darrenjun dan membuat gadis itu berdecih.


Kina menghentakan kakinya ke lantai saat melewati Darrenjun yang berdiri di hadapannya dan hanya ditanggapin dengan tampang bodoh amatnya lelaki itu.


Meski kesal, Kina tetap melakukan perintah dari Darrenjun tersebut. Tak ada alasan baginya untuk menolak apapun yang diperintahkan oleh lelaki itu.


Agak menyesal sebenarnya, karena dengan bodohnya mau mengajukan diri untuk membuat kesepakatan menjadi seorang babu untuk seseorang yang memiliki hati bagai kutub dan mulut merica level 50 seperti Darrenjun.


...\=\=\=\=...


Di kantin, Kina langsung berjalan ke arah kulkas yang berada dikantin sekolah dan mengambil semua pesanan minuman Darrenjun padanya.


Sedikit merasa kesusahan saat membawa botol minuman yang barusan ia ambil, Kina hampir saja menjatuhkan beberapa botol yang berada ditangannya. dikarena jumlah minuman yang lumayan banyak.


Seseorang mendekat ke arah gadis itu dan mengambil beberapa minuman dari tangannya.


Kina langsung menoleh ke arah orang yang barusan membantunya.


"Thanks,” ucap Kina singkat.


Orang itu hanya tersenyum tipis. Lalu berucap. "Lo beli minumannya banyak banget.”


Gadis itu mengernyitkan dahinya. "Lo sebenarnya mau nanyak atau ngomong ke gue?” Tunjuk Kina ke dirinya sendiri.


"Nanyak elo,” Jawab lelaki itu sembari tertawa kecil dan membuat kedua matanya menghilang begitu saja.


Alby Jonathan. Ketua OSIS yang merangkap sebagai kapten futsal dan merupakan kebanggaan sekolah. Ganteng, cerdas, baik dan ramah anaknya. Contohnya seperti sekarang ini, lelaki itu dengan sigap membantu Kina yang kesusahan saat mengambil minuman-minuman itu dari kulkas.


Kalau saja Alby tidak ada saat ini. Bisa dipastikan keadaan botol itu pasti sudah bergelinding entah kemana-mana. Karena jarak antara kasir dan kulkas lumayan jauh.


"Oh ya, lo beli nih minuman kenapa banyak banget? Malah sendirian lagi bawanya,” tanyanya.


"Gue juga kepaksa belinya. Tadi tuh ada anak macan yang maksa gue buat beli ginian.”


"Ha?"


Alby melongoh dengan ucapan Kina barusan.


"Anak macan? Sejak kapan nih sekolah punya gituan?”


"Ada. lo aja yang gak tau,” Jelas Kina lagi.


Alby memandang Kina dengan aneh. ia masih bingung dengan ucapan absurd Kina barusan.


"Uda deh gak usah dibahas. Lo gak bakalan paham juga,” Ucap Kina yang mengerti dengan kebingungan dari Alby. Karena memang cuma gadis itu saja yang akan mengerti.


Kina berjalan ke arah kasir untuk membayar minuman yang ia beli. Dan diikuti oleh Alby yang memang sejak dari tadi membantunya membawa sisa dari minuman yang tak bisa ia bawa.


Setelah selesai membayar semua minuman yang ia beli. Kina melirik ke arah Alby lagi, lelaki itu masih setia menunggunya. padahal bisa saja lelaki itu pergi dari situ. Toh urusannya juga sudah selesai.


"Oh ya Al. Thanks ya uda mau batuin tadi,”Ucap Kina tulus.


"Gue gak kebayang gimana nasib gue tadi kalo gak ada lo.”


Alby mengangguk. "Iya sama-sama. Gue lupa, kita belum kenalan dari tadi. Nama lo siapa?" tanya Alby ke Kina.


Kina mengulurkan tangannya lebih dulu dan disambut oleh Alby.


"Nama gue Zaskina, panggil aja Kina. Gue cewek tulen,” Ucap Kina sedikit bercanda.


Alby tertawa dengan candaan yang dilontarkan Kina. "Lo ada-ada aja sih. Gue tau lo cewek. Gak usah di perjelas juga kali,”


"Siapa tau kan lo gak yakin gitu,” Tambah Kina lagi dan ikut tertawa dengan candaan yang ia buat sendiri.


"Ya yakin lah,” Ucap Alby dengan senyuman manisnya.


"Ohh iya nama gue Alβ€”β€œ


"Uda tau,” Potong Kina cepat. "Lo kan terkenal anaknya.”


"Apaan sih lo? Gue gak se terkenal itu kali,” Bantah Alby.


"Menurut lo doang tapian.”


Alby kembali tersenyum dan membuat matanya kembali menghilang.


"Yaudah kalo gitu, gue cabut dulu. Entar tuh makhluk beneran ngamuk lagi kalo kelamaan.”


"Makhluk? Maksud lo anak serigala itu?”


Kina mengangguk dengan semangat.


"Lo ada-ada aja sih bahasanya.”


"Lah emang begituan.”


Alby hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Terserah lo aja dah. Yaudah sana sebelum tuh serigala beneran ngamuk sama lo.”


"Kalo gitu gue tinggal ya. Makasih juga buat yang tadi.” Kina melambaikan tangannya pada Alby.


Alby mengangguk singkat, lalu ikut melambaikan tangannya ke arah Kina.


Setelah berpamitan dengan Alby, gadis itu langsung berjalan dengan langkah cepat menuju lapangan. Ia takut kalau terlalu lama mebawa pesanannya Darrenjun, lelaki itu pasti akan mengomel padanya.


Tidak mungkin juga lelaki itu akan peduli bagaimana susahnya Kina membeli minumannya. Beruntung tadi, Kina bertemu dengan Alby yang baik dan mau membantunya.


Sebenarnya Kina tidak terlalu kenal dan akrab dengan Alby. Malahan tadi itu, kali pertama baginya bicara dengan Alby secara pribadi. Selain karena kelas mereka yang berbeda, Kina juga bukan tipe gadis yang mau bersosialisasi terhadap kelas yang bukan kelasnya sendiri.


Jadi bisa dikatakan, Kina hanya berteman dengan orang-orang yang telah dekat dengannya saja. Bukannya sombong, gadis itu hanya malas untuk memulai suatu percakapan dengan orang asing.


Alby itu sebenarnya cowok yang able banget menurut Kina. Dan fansnya dia juga lumayan banyak. Bahkan di kelas Kina sendiri teman-temannya banyak yang sering ngasih surat dan bingkisan buat Alby. Meski begitu, tetap saja Kina tidak pernah tertarik dengan lelaki itu.


"Kok lo lama banget beli gituan doang?” Tanya Darrenjun ke Kina yang baru saja menampakan dirinya di lapangan basket.


Kina meremat jemarinya dengan kuat menahan kekesalannya. Padahal cuaca sungguh terik sekarang dan Darrenjun malah menambah memanas-manasin suasana yang sudah panas. Tak tahu kah dia perjuangan Kina untuk membawa pesanannya dia ini.


Kina menyerahkan minuman yang barusan ia beli ke tangan Darrenjun.


"Iya gue habis ngepet dulu,” ucap Kina asal.


Darrenjun menaikan sebelah alisnya. "Lo ngomong apaan sih?”


Kina hanya merotasikan bola matanya. sesungguhnya dia sudah tidak berminat sama sekali untuk berbicara dengan Darrenjun.


Darrenjun mengeluarkan bebrapa uang ratusan ribu dari dalam saku celana training yang ia pakai. "Ini buat lo,” serahnya pada Kina.


"Buat?” tanya Kina bingung.


"Buat bayar tuh minuman lah, sekalian utang gue yang kemarin. Kan elo semua yang bayar.”


Kina speechles dengan ucapan Darrenjun barusan, tak menyangka kalau lelaki itu akan membayar semua uang yang telah Kina keluarin buat dia.


Melihat Kina yang terdiam membuat Darrenjun menyunggingkan senyuman meremehkan.


"Kenapa lo diem doang? Lo terharu ya karena gue bayarin semua uang yang uda lo keluarin?”


Kina mengeleng cepat. "Enggak. B aja tuh.”


"Yaudah nih ambil.”


Tanpa basa basi lagi Kina langsung mengambil uang yang berada ditangan Darrenjun dan menyimpannya dengan sebaik-baiknya sebelum lelaki itu berubah pikiran lagi.


Haikal datang bersama Mark yang sejak dari tadi duduk di pinggir lapangan. Keringat mengucur dengan derasnya pada pelipis kedua lelaki itu. entah apa yang barusan di lakukan oleh kedua lelaki itu, padahal keduanya tidak termasuk ke dalam anggota tim basket.


"Wihh ada yang dingin-dingin tuh,” ucap Haikal dan merampas plastik keresek minuman yang dipegang oleh Darrenjun seenaknya.


Setelah mengambil satu botol minuman dari dalam plastik. lelaki itu memberikan kembali plastik kresek yang dia rebut tadi.


Mark menoyor kepala Haikal pelan.


"Giliran gratisan ginian cepat amat lo,” ucapnya.


Untung saja air yang berada didalam mulut Haikal tidak keluar dari dalam mulutnya. kalau tidak, sudah dipastikan mereka akan kena semburan.


"Biarin. Lagian gue juga uda haus dari tadi,” Ucap Haikal singkat dan meneguk kembali minumannya.


Emilio yang barusan selesai latihan menghampiri mereka. "Buat gue mana?”Pintanya.


Darrenjun mengeluarkan minuman dari dalam kresek dan memberikannya pada Emilio.


"Thanks Ren,” ucap Emilio ke Darrenjun.


Darrenjun mengangguk singkat. Lalu berjalan kearah Arji dan Rey yang sedang istirahat di pinggir lapangan basket. Diikutin oleh Kina, Haikal, Emilio dan Mark.


"Buat gue mana?” Pinta Arji saat mereka baru saja bergabung dengan keduanya.


"Minta minta lo. Beli sendiri sono,” Suruh Haikal dan mendapat toyoran untuk kedua kalinya. Gantian Emilio yang barusan menoyor kepalanya.


Haikal meringis kesakitan. "Sembarangan amat lo noyor-noyor pala orang. Lo kira pala gue bola bekel apa.”


"11 12 Kan,” Tambah Mark.


Haikal menatap tajam Mark. "Sialan lo.”


Dan hanya dibalas dengan tawa cekikikan oleh lelaki itu.


"Bacot mulu lo pada. Mana nih minuman gue?" Kesal Arji sejak dari tadi ucapannya tidak digubris.


Darrenjun melempar minuman kearah Arji dan Rey.


"Thanks,” Jawab keduanya kompakan. lalu langsung meneguk minuman pemberian Darrenjun barusan.


Meski masih kesal dengan Darrenjun, Kina sedikit merasa bersyukur sekarang, karena berkatnya. Kina bisa melihat pemandangan indah seperti ini. Dimana Rey yang tengah minum dalam keadaan keringetan. Dan membuat tingkat ketampanan lelaki itu bertambah berkali-kali lipat dimata Kina.


Darrenjun mengernyitkan dahinya saat melihat masih ada sisa didalam plastik kresek yang ia pegang. Seingatnya, dia meminta Kina untuk membeli 6 minuman yang jumlahnya pas untuk dia dan teman-temannya dan ini minumannya malah sisa satu.


Mengetahui kebingungan Darrenjun. Kina merebut plastik yang Darrenjun pegang dengan cepat.


"Ini punya gue.”


Darrenjun hanya diam tak merespon.


"Ren, lo gak niat apa masuk ke tim basket?”Tanya Rey dan membuat semua orang memandang ke arah Darrenjun.


Darrenjun menggeleng dengan cepat. "Gak. gue gak minat sama sekali,” Jelasnya.


Kina sungguh tidak mengerti dengan isi kepalanya Darrenjun. Jika lelaki itu tidak berminat untuk gabung dengan tim basket. Lalu apa gunanya dia berada disini dan malah ikut bermain basket juga. Kalau untuk Haikal dan Mark, Kina bisa memakluminya karena memang kedua lelaki itu tidak memiliki kerjaan lain.


"Sayang banget bakat lo dipendam gitu aja Ren. Padahal gue yakin lo punya potensi. Apalagi waktu liat lo main tadi,” Ucap Rey yang masih berharap lelaki itu berubah pikiran.


"Gue tetap gak tertarik.”


Rey menghelakan nafasnya. "Yaudah, terserah lo aja. Tapi kalo lo berubah pikiran. Lo bisa bilang ke gue.”


Darrenjun hanya mengangguk singkat.


"Woii ... woiii ... liat tuh siapa!" Ujar Mark heboh sambil menepuk lengan Rey secara bar-bar dan membuat Rey meringis kesakitan.


"Lo apa-apaan sih? Sakit ogeb!" Teriak Rey ke arah Mark.


Mark memutar kepala Rey untuk melihat objek yang menarik perhatiannya itu.


"Itu noh siapa?” Tunjuk Mark kearah objek yang ia maksud dan diikuti oleh yang lainnya.


"Oh,” Ucap Rey singkat dan tak berniat untuk melihat pemandangan barusan itu lagi.


"Itu bukannya si Yaya ya bareng Alby?" Tanya Haikal memastikan kalo penglihatannya tidak salah.


Rey hanya mengangguk singkat tanpa berniat bicara lagi.


"Jadian?” kembali Haikal penasaran dengan kedekatan gadis yang bernama Yaya itu dengan Alby.


"Iya baru aja sih jadiannya,” Jelas Emilio ke yang lain.


Semuanya melempar tatapan ke arah Emilio penasaran. Karena sepertinya lelaki itu tau banyak informasi.


"Seriusan lo? Kapan jadiannya?” Arji akhirnya bersuara juga.


"Gue denger sih baru 3 hari yang lewat,” Jelas Emilio lagi.


Awalnya Kina tidak terlalu tertarik dengan arah pembicaraan mereka mengenai gadis yang bernama Yaya itu. Tapi melihat ekspresinya Rey yang berubah, membuat gadis itu sedikit penasaran dengan gadis yang tengah mereka bicarakan.


"Emang si Yaya itu siapa sih?” Tanya Kina tiba-tiba. Dan melempar tatapan ke yang lain.


Arji, Mark, Darrenjun, Emilio, Haikal bahkan Rey sendiri yang dari tadi diam ikut memandang Kina dengan heran.


"Lo gak kenal Yaya itu siapa?” Tanya Haikal yang masih tidak yakin dengan ucapan Kina barusan. Dia menganggap gadis itu hanya bercanda.


Kina menggeleng cepat. "Emang gue harus kenal?” Tanyanya.


"Seriusan elo gak tau?” Tanya Haikal memastikan lagi.


"Karena gue gak tau makanya gue tanyak. Ribet amat sih jawab gitu doang,” Ucap Kina sedikit sewot ke Haikal. Dirinya penasaran dan lelaki itu malah terus menanyakan hal yang sudah jelas-jelas gadis itu tak tau.


"Lo cewek seharusnya lebih tau soal ginian. Si Darrenjun yang anak baru aja tau, masa lo kagak?” Ucapnya dengan sedikit menaikan intonasi suaranya.


Kina menghembuskan nafasnya frustasi. kalau saja posisinya mereka tidak di area sekolah, ingin sekali rasanya gadis itu menjabak rambutnya Haikal sampai botak.


"Kenapa juga gue harus lebih tau? Lagian gue gak suka kepo ke orang,” Sebal Kina yang mulai bosan dengan deretan pertanyaan yang jelas-jelas ia telah mengatakannya.


"Yesika Yeji atau Yaya. Dia mantannya Rey,” Jawab Darrenjun singkat, menengahi perdebatannya Kina dan Haikal.


Kina memandang ke arah Darrenjun.


"Mantan?” Tanyanya lagi. Meyakinkan kembali kalau dia tidak salah dengar.


Darrenjun mengangguk pasti.


"Parah lo. Tuh anak kapten cheers padahal. paling famous satu sekolahan. lo masa iya kagak pernah dengar?” Gantian Emilio yang ikut mengata-ngatain Kina.


Kina menggeleng. "Gak pernah tau gue masalah gituan.”


"Lo aneh banget dah. Cewek masa ginian doang kagak tau. Nalurinya cewek itu kan gosip sana sini alias tukang gibah.” -Mark


"Sembarangan aja lo kalo ngomong. sorry ya gue gak tertarik tuh dengan gibahan.”


"Alah. Boong kan lo?” Tuduh Haikal.


"Gue gak bohong.”


"Pe ... ni ... pu ..."


Kina sudah hilang akal. Hampir saja gadis itu menarik baju milik Haikal, kalau saja Arji tak menahannya.


"Kina gak bohong,” Bela Arji.


"Dia emang gak hobi gituan. Kenal dan inget nama orang aja uda sukur sama nih anak,” Tunjuk Arji ke Kina.


"Tapi kalo lo tanyak nama pemain Drakor, dia jagonya,” Lanjutnya dengan bangga.


Tentu saja dia tau bagaimana seorang Kina yang memang terkenal paling cuek sejagat raya mengenai urusan orang-orang yang tidak termasuk kedalam ruang lingkupnya. Semboyan hidupnya adalah No kepokepo.com.


Selama bersekolah, Kina hanya mengenal orang-orang yang berada dikelasnya saja. terlebih dari itu. beruntung baginya bisa dikenal oleh gadis itu. Meski terkenal cuek. Kina tetap memiliki perhatian terhadap temannya apalagi kalau ada yang tengah kesusahan. Gadis itu akan siap membantu kapanpun.


"Lo kenal anak-anak disekolahan kita selain kelasnya elo siapa aja?” Tanya Mark pada gadis yang ada di depannya.


Kina diam mencoba memikirkan nama-nama orang yang ia ingat. "Yang gue tau cuma si Alby, nih dia,” Tunjuk Kina ke Darrenjun.


"Kalian gue kenalnya baru kemarin, terus si Rey juga gue kenal karena dia yang ngajak kenalan luan.”


Rey terkejut dengan ucapan yang barusan disampaikan oleh gadis itu. Dia tak menyangka kalau gadis itu tidak mengenalnya selama ini. Setahunya dirinya cukup terkenal, sampai ibu-ibu yang ada di kantin saja mengenalnya.


"Disitu lo baru kenal gue siapa?” Tanya Rey yang masih terlihat shock.


Kina mengangguk dengan keyakin penuh.


Haikal tiba-tiba menepuk tangannya. Memecahkan keheningan yang ditimbulkan oleh Kina.


"Gue salut atas ke tidak pedulian elo selama ini,” Ucap Haikal heboh.


"Jadi lo belum tau kalau ada squad kece badai kayak kita semua selama ini?”


"Gue gak pernah tau,” Jawab Kina singkat.


Haikal mengakat kedua tangannya.


"No coment dah gue sama cewek kuper kayak lo.”


Kina hanya mengangkat kedua pundaknya acuh menanggapi ucapan Haikal barusan.


"Oh iya, Btw, lo uda punya pacar gak Kin?" Tanya Mark dan kini membuat semuanya memandang kearahnya dengan minat. Bahkan Rey yang dari tadi sibuk dengan hapenya tiba-tiba tertarik dengan pertanyaan ini.


"Hmm …” Kina menggelengkan kepalanya pelan. "Gue gak punya.”


Haikal tiba-tiba tersenyum penuh arti ke arah Kina.


"Jadi, kalo gituβ€”β€œ


"Dia punya cowok yang dia suka,” Sela Darrenjun.


"Jadi lo gak usah berharap ke dia lagi,” Jelasnya.


Padahal tadi, Arji sempat ingin membantah ucapan Haikal yang memiliki maksud tertentu pada Kina dan tentu saja lelaki itu tak akan membiarkan hal itu terjadi. Tapi, entah dorongan darimana Darrenjun malah lebih dulu membuka suara dan membuatnya sedikit lega.


Kina tercekat. Tidak menyangka kalau lelaki itu akan mengatakan hal itu dengan gamblangnya. Semoga saja dia tidak mengatakan siapa orang yang Kina suka. Kalau iya, mungkin gadis itu akan meminta pada siapapun untuk menguburnya detik itu juga.


"Lo tau darimana?” Tanya Haikal yang masih penasaran dengan informasi yang diketahui oleh Darrenjun tentang Kina.


"Dia yang cerita,” Tunjuk Darrenjun ke arah Kina dan membuat gadis itu sedikit tertunduk.


Tertunduk untuk mengucapkan sumpah serapah pada Darrenjun. Meski hanya dia dan tuhan saja yang bisa mendengar semuanya itu.


"Lagian lo bukan seleranya dia,” Tambah Arji dan melirik ke arah Haikal dengan jengah.


"Kok lo dua tau?” Tanya Mark yang merasa aneh dengan hal yang bisa diketahui oleh kedua lelaki itu.


"Tau lah. Dia kan sukanya modelan Park Seejon, Lee Jong Suk sama Ji Changwook. Hm …”


Arji mengetuk-ngetuk kepalanya menggunakan jarinya, mencoba mengingat kembali nama-nama aktor korea yang pernah ia tahu.


"Ah! gue lupa. Intinya aktor drakor semua,” Arji ngomong semangat 45.


Kina merotasikan bola matanya. Dia sungguh berterima kasih pada Arji yang telah membantunya untuk mewakilkannya bicara pada yang lain. Tapi, tidak harus sejujur dan selengkap itu juga. Hingga membuatnya di pandang aneh dengan yang lain.


"Jadi intinya Lo gak bakalan tertarik dengan modelan kita-kita gini?” Gantian Emilio yang buka suara.


"Ya enggak lah.”


Kina menoleh ke arah Arji yang lagi-lagi memotong ucapan Kina.


"Gue kan uda ngomong tadi. Gimana tipenya nih anak. Jadi lo semua gak usah pada berharap dah.”


Siapa pun tolong untuk membungkam mulutnya Arji Raditya yang semakin semangat menyeruakan ke haluannya Kina.


Yang lain hanya mengangguk-angguk mengerti. Tak ada lagi yang bisa dilakukan gadis itu selain pasrah dengan kekacauan yang telah ditimbulkan oleh Arji Raditya


...πŸ’—CCπŸ’—...


...-...


...Btw, makasih ya buat nyempetin waktu buat baca cerita aku....


...*Kalo gitu see you **😘😘*...