
...💗Cutton Candy💗...
...****...
"Sorry ya Rey gue jadi ngerepotin elo terus," Ucap Kina yang baru saja turun dari motor Rey. Ia merasa bersalah terhadap Rey. Karena kondisinya, Rey jadi harus mengantar dan menjemputnya seperti ini.
Rey tersenyum sembari mengacak rambut Kina gemas. "Lo gak usah gak enakan gitu. Gue gak ngerasa direpoti sama sekali."
"Tapi kan gara-gara gue latihan elo keganggu, karena lo harus ngantar gue kerumah."
"Uda ya lo berhenti untuk khawatir soal itu. lagian gue ngelakuin ini karena gue mau jaga elo dan mastiin kondisi elo aman. Gue gak mau kejadian itu ke ulang."
Kina menunduk menatap kedua ujung sepatunya. Tatapan tulus Rey membuatnya sulit untuk bernafas. Bahkan ritme detak jantung Kina telah berdetak tak beraturan.
"Yaudah lo masuk gih. Gue mau pulang," Usir Rey sembari tersenyum manis padanya.
"Iya hati-hati."
Rey mengangguk singkat. "Bye."
"Bye," Kina melambaikan tangannya ke arah Rey yang beranjak pergi dari rumahnya.
Kina tak bisa untuk tidak tersenyum melihat bayang Jaemin yang telah menghilang dari pandangannya. Rey begitu baik dan juga perhatian. Hingga membuat Kina sulit untuk tak tertarik oleh pesona seorang Rey.
Kina melangkah menuju rumahnya dengan langkah riang gembira. Bahkan ia bersenandung ria.
Langkahnya terhenti saat melihat sosok yang begitu familiar baru saja keluar dari rumahnya.
"Elo," Tunjuknya ke arah orang itu.
Tak ada reaksi apa-apa dari orang itu. Hanya ekspresi datar yang ia tampilkan, sesuatu yang menjadi ciri khas dirinya.
Kina mempercepat langkahnya menghampiri orang itu. "Lo ngapain kerumah gue?"
Lelaki pemilik wajah dingin bak es itu menghelakan nafasnya pelan. "Gue bertamu. Gak boleh emang?" Ucapnya dengan sebelah alis terangkat.
Kina segera menggeleng cepat. "Bukan gitu. Gue ngerasa aneh aja, karena elo tetiba dateng ke rumah gue siang-siang gini. Gak elo banget."
"Jadi maksud lo, lo gak suka gue dateng ke rumah lo gitu?"
"Enggak," Sergah Kina cepat sebelum Renjun menjadi salah paham karenanya.
"Terus?"
"Ya gue gak ngelarang elo juga mau dateng. Lo jangan marah dong."
"Gue gak marah, gue Cuma kesinggung karena elo uda berprasangka buruk terhadap gue."
"Gue gak gitu kok."
"Itu buktinya?" Tunjuk Darrenjun tepat ke arah wajah Kina.
Kina menghalau jari telunjuk Darrenjun yang berada didepannya. "Lo apaan sih? Jawab doang apa susah ya cobak," Ucapnya kesal.
"Gue kesini cuma mau balikin tupperware milik mama lo," Jelas Darrenjun.
"Beneran?"
"Hm."
"Oh."
"Uda kan introgasinya? Gue mau pulang."
Kina mengangguk pelan.
Baru saja beberapa langkah Darrenjun berjalan, Kina memanggilnya.
"Jun."
Darrenjun berbalik menatap Kina. "Hmm."
"Tante Laura masih dirawat dirumah sakit?"
"Masih."
"Gue masih boleh gak jenguk tante Laura?"
Darrenjun mengangguk. "Masih. Tapi lo gak boleh pergi sendirian."
"Yah," Ucap Kina sedikit kecewa "Gue gak tau mau pergi bareng siapa masalahhya."
"Rey. Lo bisa ajak dia."
Kina menggeleng pelan. "Rey ada pertandingan. Jadi gak bisa ajak dia."
Darrenjun terdiam beberapa saat, lalu kembali berucap. "Hmm. Kalo lo mau, Lo bisa pergi bareng gue."
"Gue mau," Ucap Kina dengan wajah berbinar. "Lo seriusan kan?"
Darrenjun mengangguk. "Besok pulang sekolah gue tunggu lo di parkiran jangan lama."
Kina mengangguk semangat. "Oke. Lo tenang aja gue pasti cepet nyusul elo."
Tanpa sadar Darrenjun tersenyum tipis dengan tanggapan Kina yang terlihat lucu menurutnya.
-
-
"Lo uda lama?"
Kina berbalik dan mendapati Darrenjun yang telah berdiri dihadapannya. Darrenjun menggunakan jaket kulit dan membuat Kina yang melihatnya terpanah dengan penampilan Darrenjun seperti itu.
Darrenjun mengernyitkan dahinya saat melihat Kina yang diam dengan pertanyaaan ya.
"WOI." Teriak Darrenjun menyadarkan Kina yang masih diam ditempat.
"Eh."
Kina segera menggeleng kepalanay kuat tersadar dengan hal konyol yang baru saja ia pikirkan. yaitu mengaggumi penampilan dari seorang Darrenjun Evans. Hanya karena jaket kulit yang ia kenakan.
Darrenjun mendekat kearah Kina memangkas jarak antara keduanya dengan senyuman yang melengkung. "Lo ketangkap basah mandangi gue. Jangan bilang lo mulai naksir ke gue."
Kina mendorong tubuh Darrenjun pelan, menjauhkan lelaki itu dari dirinya. "Enggak! Siapa juga yang mandangi elo," Sergah Kina cepat. "Lo jangan geer gue."
"Oh ya," Goda Darrenjun.
"Iya."
Darrenjun tertawa kecil. Ia jelas tahu bahwa sejak dari tadi Kina memandanginya dengan tatapan yang mampu membuatnya merasa salting. Hanya saja Darrenjun pintar untuk menutupi kegugupannya.
"Pembohong."
"Enggak gue gak bohong."
"Gak usah ngeles. Lo natep gue tadi sampek iler lo keluar." Tunjuk Darrenjun kearah wajah Kina.
Kina melototkan kedua matanya, lalu segera mengelap bibirnya kasar. "Gue gak natep elo dan gue gak ileran."
Darrenjun tak menggubris ucapan Kina barusan. Tak berniat untuk melanjutkan pertengkaran mereka juga. Ia berjalan ke arah motornya dan mulai memasang helmnya.
"Lo masih mau diri disitu atau mau gue tinggal?"
Kina segera berjalan mendekat ke arah Darrenjun dengan kesal. Kesal karena Darrenjun telah menggodanya.
"Gak usah ngambek. Lo makin jelek jadinya."
Kina mencoba bersabar dengan ucapan Darrenjun barusan. Kalau saja ia tak ingat bahwa ia ingin menumpang motor Darrenjun saat ini. sudah dipastikan Kina akan melempar kan helm yang ada ditangannya ke arah Darrenjun.
Setelah Kina telah berhasil duduk diatas motor Darrenjun. Darrenjun melirik Kina lewat kaca spionnya. Ia tersenyum bahkan tertawa kecil. Wajah Kina yang ngambek sangat lucu untuknya.
"Lo pegangan, karena gue gak mau tanggung jawab kalo lo sampai jatuh."
Meski masih kesal Kina melakukan hal yang diperintah oleh Darrenjun. Tak berniat memeluk Darrenjun tentunya, berpegangan pada jaket Darrenjun sudah cukup untuknya.
Setelahnya kedua murid itu pergi meninggalkan halaman sekolah menuju rumah sakit.
-
-
"Ayo masuk," Ajak Darrenjun pada Kina.
Kina menggeleng cepat. "Gue gak mau masuk. Gue gak enak kalo jenguk mama lo dengan tangan kosong. Lo sih di ajak buat beli sesuatu buat tante Laura gak mau," Omel Kina pada Renjun.
Sejak keluar dari perkarangan sekolah Kina telah berpesan pada Darrenjun untuk membeli sesutau sebelum mereka sampai rumah sakit. Tapi sayangnya Darrenjun tak menghiraukan permintaannya itu, hingga keduanya telah sampai dirumah sakit.
Darrenjun merotasikan bola matanya malas. "Lo gak perlu bawa apa-apa kesini. Lo dateng aja mama gue uda senang. Ayo buruan masuk."
Kina menggeleng kuat. "Gue gak mau."
"Lo mau masuk atau gue tinggal?" Ancam Darrenjun.
Darrenjun menarik nafasnya pelan, lalu menarik tangan Kina menuju ruangan dimana Laura dirawat.
Kedua orang itu menjadi pusat perhatian sepanjang lorong. Pasalnya kedua orang itu sejak dari tadi tak berhenti berdebat.
"Lepasin gue!"
"Gak akan."
Darrenjun membuka ruangan Laura dengan kasar sembari menarik tangan Kina dan masuk kedalam ruangan itu.
"Darrenjun."
Sapa Laura dengan senyum manis seperti biasanya. Ia senang karena akhirnya anak laki-laki satu-satunya itu sudah mau berbaikan dengannya.
"Sorry ma. Darrenjun gak maksud buat keributan."
Laura hanya tersenyum tipis. Ia masih tak tau tentang apa yang membuat Darrenjun terlihat kesal.
Lalu beberapa detik kemudian, Kina masuk kedalam ruang itu dan membuat kebingungan Laura terjawab sudah.
Kina berdiri dengan canggung di depan Laura.
"Selamat siang tante." Sapanya ramah.
Laura tersenyum sembari tertawa. Bukan karena melihat wajah gugup Kina. Melainkan karena melihat tangan Kina dan juga Darrenjun yang saling bertautan satu sama lain. Seakan keduanya tak ingin berpisah barang sedetik pun.
"Kalian pacaran ya?" Tanya Laura pada Kina dan juga Renjun.
Keduanya sama-sama mengernyitkan dahinya tak mengerti maksud dari perkataan Laura barusan.
Laura kembali tersenyum, lalu menunjuk ke arah tangan keduanya yang saling bertautan. "Itu kalian gandengan"
Kina dan Darrenjun mengikuti arah pandang Laura. Lalu terkejut dengan apa yang baru saja mereka lakukan.
Keduanya segera melepas tautan tangan mereka.
"KITA GAK PACARAN!" Teriak keduanya pada Laura cepat.
"Kalian kompak."
"Enggak!"
"Tuh kan kompak lagi."
Laura kembali tertawa dan membuat keduanya segera diam. Tak ingin berucap barang sedikitpun. Takut keduanya berbicara bersamaan dan mengakibatkan Laura salah paham.
"Ma Darrenjun tinggal dulu," Pamit Darrenjun.
Laura mengangguk.
Darrenjun sempat melirik Kina sebentar. Kina dengan bahasa insyaratnya menyuruh Darrenjun untuk tetap tinggal dan tak membuatnya canggung bersama Laura. Tapi sayangnya Darrenjun tak menggubris bahasa isyarat Kina itu. Malahan lelaki itu pergi melenggang meninggalkan Kina yang telah jengkel setengah mati.
Pintu baru saja ditutup oleh Darrenjun. Hingga hanya tersisa suara decitan didalam ruangan itu.
Setelah kepergian Darrenjun, Kina memandang ke arah Laura yang ternyata telah memandang ke arahnya.
Sedikit gugup Kina mendekat ke arah tempat tidur Laura dengan senyuman yang ia buat sealami mungkin.
"Tante gimana kabarnya?" Tanyanya yang telah berdiri di sebelah Laura.
"Lebih baik."
"Maaf ya Tante, aku gak bawa apa-apa ke sini. Tadi mau mampir dulu, tapi Darrenjun malah kebut ke sini. Sekali lagi Kina minta maaf ya tante," Jelas Kina panjang lebar dengan raut wajah bersalahnya.
Laura menarik tangan Kina, lalu menggenggamnya. Ia tersenyum sembari mengelus tangan Kina lembut.
"Tante gak marah. Malah Tante bersyukur karena Darrenjun Uda ngelakuin hal yang benar."
"Maksud Tante?"
"Tante masih belum diperbolehkan untuk makan sembarangan. Hanya pemberian pihak rumah sakit yang boleh Tante makan."
Kina hanya mengangguk sembari ber-O ria saja.
"Kamu gimana? Tante denger dari Darrenjun kamu ngalami kecelakaan saat mau jenguk tante."
"Kina uda gak papa Tante. Cuma kegores sedikit."
"Syukurlah. Kamu tahu, Darrenjun khawatir banget ngeliat kondisi kamu waktu itu. Seharian dia bengong kayak orang frustasi," Tawa Laura, setiap mengingat wajah kacau Darrenjun pada saat itu.
"Darrenjun khawatir?" Tanya Kina merasa aneh.
"Gak mungkin Tante," Sergah Kina cepat.
"Tante serius. Darrenjun memang kelihatan dingin dan sedikit kasar."
"Tapi, sebenarnya Darrenjun gak sedingin dan sejahat itu. Dia cuma gengsi dengan hal-hal seperti itu. Tante rasa semuanya karena kesalahan Tante yang uda ninggalin dia, makanya Darrenjun selalu curiga ke orang-orang yang bersikap baik padanya." Laura tersenyum kecut. bayangan ia yang meninggalkan Darrenjun waktu dulu membuat hatinya sakit.
Senyumnya terukir dari bibir Kina, lalu ia dekatkan tangannya yang satunya lagi ke arah tangan Laura. Menggenggamnya dengan erat.
"Tante jangan berpikiran kayak gitu. Aku yakin Tante punya alasan yang tepat makanya Tante terpaksa ngelakuin hal itu. Bukan maksud Tante ninggalin Darrenjun."
Laura tercekat. Ia langsung memandang Kina dengan tatapan sulit diartikan. Lalu wanita cantik itu tersenyum hangat.
"Makasih ya. Karena kamu mau percaya dengan Tante."
Kina mengangguk. "Semoga tante segera pulih dan bisa berkumpul dengan Darrenjun lagi."
Decitan dari arah pintu ruangan membuat keduanya melirik ke arah pintu.
Darrenjun memasuki ruangan itu sembari membawa beberapa bungkusan yang entah apa itu.
"Serius amat ngeliatnya. lagi pada bahas apa?" Ucap Darrenjun yang berjalan mendekat ke arah Laura dan juga Kina.
Kina menggeleng. "Kita gak-"
"Lagi bahas kamu," ucap Laura dan membuat Kina memandang wanita itu. ternyata Laura tak sependapat dengannya.
Darrenjun menaikan sebelah alisya dan menatap keduanya dengan penasaran. "Oh ya. Bahas apa?" Tanyanya penasaran.
Laura melirik ke arah Kina sebentar lalu memandang Darrenjun lagi. "Kina katanya lagi jomblo. Kamu kapan nembak dia?" Canda Laura dan membuat Kina tersoontak.
"Tante!"
Laura tertawa melihat wajah Kina yang merah padam.
"Enggak kok Jun mama cuma bercanda. Mama gak tau Kina jomblo atau enggak."
"Dia uda punya pacar ma jadi berhenti godain dia."
Laura melirik Kina. "Kamu uda punya pacar?"
Kina segera menggeleng. "Belum Tante."
"Bukan pacar. Tapi gebetan," Timpal Darrenjun.
"Maksud lo siapa?"
"Rey," Jawab Darrenjun singkat.
Kina hanya diam.
Darrenjun mulai sibuk dengan bungkusan yang ia bawa tadi. Menata beberapa bungkusan ke atas meja.
"Lo makan dulu baru pergi," Ajak Darrenjun pada Kina.
Kina menggeleng. "Gak usah gue gak laper."
"Jangan bohong. Lo belum makan apa-apa dari tadi."
"Iya tapi gue gak nafsu makan."
Darrenjun membalikkan tubuhnya dan menatap Kina. "Kalo lo gak mau makan gue gak mau anterin lo pulang," Ancamnya.
Baru saja Kina hendak protes. Laura lebih dulu mendorong tubuh Kina untuk menghampiri Darrenjun yang telah selesai menata makannya.
"Lo curang. Mainnya ngancem mulu," Kesalnya.
Tak ada tanggapan dari Darrenjun, lelaki itu mulai memakan makanannya.
Laura hanya tersenyum melihat interaksi antara Kina dan Darrenjun. Dalam hatinya ia bersyukur ada Kina disebelah Darrenjun disaat ia tak bisa membuat anak laki-laki satu-satunya itu tersenyum seperti itu.
Setidaknya melihat hal ini membuat Laura merasa lega dengan segala kesalahannya dimasa lalu.
...-...
...💓CUTTON CANDY💓...
...Jangan lupa vote dan komennya ya teman-teman 🤗🤗...