Cutton Candy

Cutton Candy
Segala Rasa



...πŸ’“CUTTON CANDYπŸ’“...


...(Kita tidak diharus kan untuk mendengar perkataan orang lain, ada beberapa kata yang harus kita hilangkan jika itu perlu. Karena tidak semua perkataan mereka baik buatmu -Azkina )...


...*****...


"Eh elo uda tau gak ada anak baru yang wajahnya cantik banget.”


"Oh iya, anak mana?”


"Katanya sih dari Amsterdam.”


"Seriusan.”


"Anaknya cantik, berbakat lagi.”


"Oh maksud lo yang katanya mantannya Darrenjun itu ya?”


"Iya bener.”


Suara-suara di sekitar lorong kelas membuat langkah Kina memelan, ia sengaja melakukannya bukan tanpa alasan. Karena nama Darrenjun berada disana dan itu sungguh mengganggunya. Terutama mendengar bagaimana kedua gadis itu memuji Lisa, sungguh itu menyakitinya.


Langkahnya menjadi lesu bukan main, bahkan ia merasa sudah tak bersemangat lagi untuk berjalan menuju kelasnya. Kina merasakan apa itu insecure. Merasa dirinya tak ada apa-apanya ketimbang dengan gadis yang menjadi masa lalu Darrenjun itu.


Meski Darrenjun lebih memilihnya bukan berarti Kina merasa lega dengan itu semua. Karena kenyataannya sosok Kina tak ada apa-apanya ketimbang Lisa. Dirinya hanyalah sosok penggila drakor dan juga pengagum oppa-oppa drakor, sementara Lisa, memiliki hampir semuanya, cantik dan berbakat pula.


Jika keadaan seperti ini terus, Kina semakin takut bahwa Darrenjun mungkin akan berpaling darinya.


Kina menghelakan nafasnya berat, sekelabat bayangan aneh berputar-putar dikepalanya. Ia harus menemukan cara agar dirinya menjadi pantas untuk Darrenjun. dan membuat lelaki itu tetap mencintainya.


Siapa sangka jatuh cinta membuat seseorang bisa berubah menjadi 180 derajat. Jika kalian penasaran siapa salah satunya, sudah pasti Kina lah orangnya.


Karena gadis itu kini memperhatikan mading sekolah dengan cermat, pemandangan sangat langkah, mengingat bagaimana ia yang biasanya cuek dan tidak peduli dengan hal yang seperti itu sekarang malah menjadi begitu tertarik. Tentunya itu semua karena pengaruh jatuh cinta.


"Lo ngapain Kin?”


Kina segera menoleh ke arah orang yang baru saja menegurnya. "Lagi nyari informasi,” ucapnya seadaanya dan kembali fokus pada mading sekolah.


"Tumben?” Tanya Lala yang kini tengah berdiri disebelahnya, melakukan hal yang sama memperhatikan mading, meski ia tak tahu apa yang tengah ia cari.


"Lo mau cari informasi apaaan?”


Kina mengalihkan perhatiannya dari papan mading, kini berpaling menatap ke arah Lala.


"Gue mau ikut salah satu ekskul yang bisa nunjukin bakat gue dan gue-"


Lala mengerutkan dahinya, menunggu ucapan Kina selanjutnya.


"Gue gak tau mau ikut ekskul apa,” Lanjut Kina dengan kedua bahu yang melorot kebawah.


Kata-kata itu bukan lah hal yang sebenarnya yang ingin ia ucapkan, karena tujuan Kina itu hanya satu, menjadi populer dan diakui bahwa dirinya layak bersama Darrenjun Evans. Tapi, jika ia mengatakan hal yang sebenarnya, bisa-bisa Lala akan menertawainya, mengingat bagaimana ia menolak Darrenjun habis-habisan sebelumnya.


"Oh itu, mending lo ikutan cheers aja, gue denger mereka lagi butuh orang.”


"Seriusan?” Tanya Kina dengan wajah berbinar.


Lala mengangguk. "Seriusan. Lo tinggal tulis data diri lo dan langsung aja ke tempat ekskulnya.”


"Ok. Thanks buat infonya,” Ucap kina sembari meenpuk pelan kedua pundak Lala. ia segera pergi dari tempat itu, sekarang Kina telah berhasil mendapatkan apa yang ia cari. wajah Kina yang tadinya lesu kembali di hiasi senyuman.


Cheers adalah jembatan baginya memperoleh pengkauan orang-orang bahwa dirinya tidak kalah lebih baik dari Lisa.


Di sekolah mereka selain basket dan futsal, cheers memiliki peran yang sangat luar biasa untuk memperoleh kepopularitas. Bahkan hanya melakukan bagian terkecil sekalipun kalian akan tersorot dan dikenal oleh banyak orang.


Ia berjanji pada dirinya sendiri akan bekerja keras untuk bisa mewujudkan keiinginanya itu.


-


-


Bel istirahat baru saja berbunyi beberapa menit yang lalu, Kina mengeluarka handphoennya mengirim pesan pada Darrenjun untuk tidak usah mendatanginya ke kelas, dengan alasan ia memiliki urusan. Kina tak bisa jujur ia ingin mendaftar ekskul cheers pada Darrenjun, takut lelaki itu akan menentangnya dan mereka terlibat pertengkaran lagi.


"Ayo Kin,” Ajak Mita yang telah berdiri dari kursinya.


"Lo deluan, gue ada urusan,” Ucap Kina yang ikut bangkit dari tempatnya.


"Urusan apa?”


Kina mengangkat kertas biodata dirinya untuk ia berikan pada captain cheers nantinya.


Mita merebut kertas yang Kina pegang. Lalu membaca isinya.


"Lo mau daftar jadi anak cheers?” Tanya Mita sedikit shock.


Kina mengangguk yakin.


"Darrenjun uda tau lo mau ikut ginian?”


Kina menggeleng. "belum, entar gue kasih tau.”


"Lo sengaja ikut ginian karena takut kesaing Lisa kan?” Selidik Mita.


Kina bungkam. Karena sesungguhnya perkataan Mita barusan benar adanya.


"Lo diam berarti iya.”


Kina tak menjawab, ia masih diam seribu bahasa, bingung mau berdalih seperti apalagi.


Mita mengehlakan nafasnya pelan, lalu ia pegang sebelah pundak Kina.


"Kin, lo tau kan anak cheers itu kayak apa. Dan disana masih ada Jeha dan Amanda.”


"Gue tau dan gue gak ada pilihan lain, lagian mereka bisa apa? masalah gue dan mereka itu kan uda kelar.”


"Dan lo emangnya siap bakalan berinteraksi dengan Rey dan Arji lagi? Lo tau kan kalian baklan lebih dekat dari biasanya.”


Kina menjadi terdiam. Tapi, ia juga tak ingin menyianyiakan kesempatan ini, jarang sekali cheers mencari anggota.


"Itu sih terserah lo aja. Gue cuma bisa ngasih saran.”


"Gue deluan Kin, mau nyusul Lala dulu.”


Kina mengangguk pelan. Sekarang ia dibuat dilema.


Maju artinya harus siap menahan kosekuensinya dan mundur berarti ia kalah telak dengan musuh yang kelewat sempurna.


Sialan sekali kau Claudia Lisa, kalau saja saingannya tidak seberat Lisa. Kina pasti tidak terlalu pusing menghadapi ini semua. Sekarang Kina berharap bahwa saingannya itu lebih baik ibu kantin saja ketimbang gadis dengan sejuta bakat dan kecantikan yang luar biasa itu.


Kina sempat heran bagaimana gadis sesempurna Lisa tak membuat Darrenjun terusik dan malah lebih memilih dirinya yang jauh dari kata sempurnah. Jangankan ahli memainkan alat musik, memegangnya saja Kina sudah salah.


-


-


Kina melewati lorong yang berlawanan dari kelas Darrenjun, takut sosok itu akan menemukannya, meski jarak yang ia tempuh harus dua kali lipat dari jalan yang seharusnya ia lewati.


"Kina,” Sapa seseorang apadanya.


Kina tersenyum tipis pada orang itu yang kini berjalan ke arahnya. "Oh elo.”


"Mau kemana?” Tanya Alby padanya yang terlihat terburu-buru.


"Mau ke ruang cheers.”


"Cheers? Ngapain?” Tanya Alby dengan wajah shock.


"Mau daftar jadi anggotanya mereka lah.”


"Yakin? lo tau kan kalo disana itu masih-"


"Jeha sama Amanda,” Timpal Kina. "It's ok Al, gue bisa atasi itu semua.”


Alby hanya tersenyum tipis. "Oh yaudah kalo itu memang yang terbaik buat lo.”


"Yaudah kalo gitu Al, gue deluan ya,” Pamit Kina pada Alby.


Alby hanya mengangguk singkat dengan kepergian Kina. keduanya pun berpisah berlawanan arah.


Kina merasa begitu bersimpati pada Alby, sosok itu begitu baik, ramah dan juga pintar. Tadinya sosok Alby adalah si nomor satu terpintar disekolahnya, tapi semenjak kedatangan Darrenjun sosok itu pun tergantikan dan sekarang berpindah menjadi nomor 2.


Ngomong-ngomong soal Darrenjun, sejak dari tadi Darrenjun mengirimi dirinya pesan, menanyaka keberadaannya. tapi, ia mengabaikannya tak ingin Darrenjun membatalkan niatannya itu.


-


Darrenjun mengetuk-ngetuk jarinya diatas meja dengan gelisah tak menentu. ia merasa bingung dengan kelakuan Kina seharian ini, ia merasa begitu diabaikan oleh pacarnya itu.


"WOI RENREN! Lo bisa gak sih diem bae!” Teriak Haikal pada Darrenjun yang telah mengusik konsentrasinya, lelaki itu lagi pusing mengerjakan TTS hadiah dari adik sepupunya itu. Adik sepupunya yang berusia 6 tahun.


Haikal diberi tantangan oleh adik sepupunya itu untuk mengerjakan TTS, agar dirinya diakui jenius oleh sang adik sepupu mengingat dirinya yang selalu mendapat nilai yang cukup menggenaskan itu.


Darrenjun menarik tangannya dari atas meja setelah mendengar omelan Haikal tersebut. Bukan merasa takut karena mendapat omelan Haikal, Darrenjun hanya merasa malas hanya untuk berdebat.


"Tumbenan amat nih bayi kodomo belajar,” Celetuk Emilio yang baru saja tiba bersama Mita.


Darrenjun menegakkan punggungnya, mencari keberadaan seseorang yang sangat ia nantikan kehadirannya.


"Sorry dory aja nih ya mas sultan, Gue gak lagi belajar, tapi lagi ngisi TTS.”


Emilio menempelkan punggung tangannya ke arah kening Haikal memeriksa apa benar lelaki yang ada didepannya benar seorang Haikal Dafin.


Haikal segera menyingkirkan tangan Emilio dari keningnya, dan menatapnya dengan garang. "Lo mending pergi sono pacaran jangan ganggu gue please.”


Meski diselimutin dengan rasa penasaran, Emilio memilih menurut duduk diam.


"Dalam rangka apaan lo ngisi begituan?”


"Pertarungan harga diri,” Jawab Haikal dengan wajah dramatis.


"Bareng siapa?”


"Adik sepupunya yang masih SD,” Timpal Darrenjun.


Emilio seketika tertawa dengan keras mendengar penjelasan Darrenjun tersebut.


"Gue yakin tuh adek sepupunya curiga kalo otaknya Haikal gak guna sama sekali,” Ledek Emilio dan mendapat bogem mentah dari Haikal.


Bukannya membalas perkataan Haikal, Emilio samkin semangat tertawa.


Darrenjun menoleh ke arah Mita yang ternyata sejak dari tadi menatap ke arahnya.


"Lo penasaran Kina ada dimana sekarang?”


Darrenjun mengangguk cepat.


"Lagi di ruang cheers.”


"Cheers?” Ketiganya menatap Mita shock.


"Ngapain dah tuh mak lampir kesana?”


"Menurut L?”


"Gawat saingan lo bertambah kang es,” Goda Haikal pada Darrenjun.


Darrenjun meremat jemarinya kuat, segera ia bangkit dan pergi dari sana, menyusul ke tempat Kina berada.


"Seru nih, kalo gue nyusul.”


Haikal telah bangkit berdiri, tetapi sebelum ia beranjak dari tempatnya, kerah bajunya lebih dulu ditarik oleh Emilio.


"Gak usah ikut-ikutan, mending sekarang lo fokus ngisi tuh TTS ,dari pada harga diri lo tercoreng oleh adik sepupu lo yang masih SD.”


Haikal mendumel dalam hatinya, menumpahkan serapah hal yang mengganggu ke asikannya itu. Lalu ia pun kembali duduk dikursinya dan melanjutkan mengisi TTS dengan serius.


-


Derap langkahnya begitu pasti, melangkah dengan cepat sudah seperti orang yang tengah berlari ketimbang berjalan.


"Kina!” Panggilnya pada seserang yang sangat ingin ia temui saat ini.


Kina seketika terlonjak kaget, ia tak menyangka sosok itu datang kemari.


Baru saja Kina ingin menyerahkan kertas yang berisikian biodatanya pada captain cheers. Darrenjun lebih dulu merebut kertas itu, dibacanya isinya lalu menatap gadis itu dengan tajam.


"Lo mau ngapain dengan ini semua?”


Kina tak menjawab, segera ia rebut kembali kertas yang berada di tangan Darrenjun dengan kesal.


"Gue cuma pengen ikutan, emang gak boleh?”


"Gak!" tegas Darrenjun dan kembali merebut kertas milik Kina.


"Kok elo ngatur sih?” Tanya Kina yang mulai kesal dengan kelakuan Darrenjun tersebut.


Kina ingin menarik kertas yang sedang Darrenjun pegang, tetapi lelaki itu lebih dulu menghalaunya.


"Jun!"


"Kalo gitu kasih gue alesannya.”


Kina memilih diam menyimpan misinya itu rapat-rapat.


"Kenapa diem?0


"Ehmm... gue... lo gak mesti tau gue mau ngapain kan. Ini privasi gue,” tegas Kina pada Darrenjun.


Darrenjun terpanah mendengar kata-kata ajaib Kina barusan, dengan ini Darrenjun yakin sekali bahwa ada sesuatu yang ditutupi oleh Kina darinya.


"Balikin,” Pinta Kina sedikit memohon, tapi sayang Darrenjun tak mengidahkan perimintaannya itu.


Brakkk


Suara gebrakan meja membuat keduanya terdiam sesaat, lalu menoleh ke sumber suara.


Yuna, selaku captain cheers baru saja menggebrak meja dengan keras, dan membuat Kina maupun Darrenjun memandang ke arah gadis itu.


"GUE GAK PEDULI CERITA ASMARA LO BERDUA, YANG JELAS JANGAN BUAT Keributan Di Wilayah Gue!" Teriak Yuna dan membuat keduanya diam sesaat.


"Sorry,” Ucap Kina dengan perasaan bersalah.


"Jadi gimana? Lo jadi daftar kagak?” Tanya Yuna yang merasa gemas dengan keduanya.


Baru saja Kina ingin merebut kembali kertas miliknya, Darrenjun lebih dulu merobek kertas milik Kina tersebut.


SREKK


"Never,” jawab Darrenjun cepat, lalu segera ia menarik tangan Kina dan membawa gadis itu menjauh dari sana.


"Dasar orang aneh,” Ucap Yuna pada Darrenjun yang tengah menarik Kina dengan paksa.


Kina menepis tangan Darrenjun dengan marah. "Lo apa-apaan sih? kenapa lo robek kertas punya gue?”


Kina sudah tidak dapat mengontrol emosinya yang meluap karena ulah Darrenjun tersebut, persetan kata aku-kamu, karena kemarahan telah menguasainya.


"Kenapa harus cheers?” Tanya Darrenjun yang tak kalah kesal.


"Karena pengen.”


"Bohong,” Timpal Darrenjun segera, ia sudah gemas rasanya karena Kina terus saja merahasiakan sesuatu yang entah apa itu darinya.


"Beneran.”


"Kin-" Panggil Darrenjun dengan lembut dan membuat gadis itu langsung membisu.


"Kamu nyembunyiin sesuatu kan dari aku?”


Kina menunduk, bingung harus beralasan apalagi, tatapan Darrenjun telah melemahkan hatinya.


"Cuma cheers jalan yang ngebantu aku buat bersinar.”


Darrenjun mengernyitkan dahinya, bingung maksud perkataan Kina barusan. "Bersinar?buat apa?” tanyanya kembali sembari menggenggam tangan gadis itu dengan lembut.


Kina mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk, memberanikan diri menatap kedua mata Darrenjun.


"Jun, aku tuh gak sepintar kamu dalam pelajaran. Aku juga gak bisa mainin alat musik, jangankan mainin, megangnya aja mungkin aku gak bisa. Aku juga gak cantik dan suaraku juga jelek, gak ada satupun yang bagus dari diri aku. Cuma cheers yang bisa bantu aku bersinar, meski jadi anggota tak terpenting sekalipun aku tetap bisa bersinar.”


"Aku gak mau terus-terusan jadi cewek yang numpang famous karena kamu yang terlalu sempurna buat aku. aku juga mau Jun dinilai pantas buat kamu.”


"Jadi ini alasan kamu ikut cheers?”


Kina mengangguk pelan.


Darrenjun menutup matanya sesaat, lalu menghelakan nafasnya pelan.


Sebelah tangan Darrenjun yang bebas ia arahkan ke atas kedua pundak Kina dan menatap manik mata Kina lekat.


"Kamu gak perlu berusaha berlebihan kayak gini cuma untuk dapetin pengakuan dari orang-orang, aku sayang kamu tulus apa adanya. Kamu yang sekarang aja, uda cukup buat aku, sangat cukup malah.”


"Kalau kamu kelewat bersinar aku nanti cemburu, karena itu berarti saingan aku bertambah. Uda ya jangan insecure lagi pacar aku.”


Kalau saja Darrenjun tak ingat tempat dimana mereka berada saat ini, sudah dipastikan Darrenjun akan memeluk tubuh mungil Kina itu dengan erat, Kina sungguh imut menurutnya. Jika seperti ini terus, Darrenjun tak bisa jamin untuk bisa jauh-jauh dari Kina.


Ini adalah gombalan, harusnya Kina segera mendorong tubuh Darrenjun menjauh darinya, ataupun memukul lelaki itu karena merasa jijik dengan kata-kata yang baru saja Darrenjun lontarkan padanya. Tapi entah mengapa, hal ini justru membuat Kina senang sekaligus merasa bahagia dengan perlakuan manis Darrenjun padanya.


"Aku minta maaf karena uda marah-marah sama kamu tadi,” Ucap Darrenjun dengan perasaan bersalah.


"Iya gak papa, aku juga minta maaf sama kamu, karena aku uda ngebuat kamu kesal.”


Darrenjun tersenyum dengan lebar sembari menggenggam tangan pacarnya itu dengan erat, seakan ia tak membiarkan genggaman itu lepas barang cuma sedetik saja.


Dari kejauhan seseorang melihat kejadian itu dnegna hati yang seakan-akan telah cabik-cabik begitu dahsyatnya. Dalam benaknya terus mengatakan kata 'seandainya' berharap posisi Kina digantikan olehnya.


Jangan pikir dia akan menyerrah dari segala hal yang telah terjadi dihadapannya saat ini, bahkan tekadnya kini semakin kuat untuk merampas apa yang seharusnya menjadi miliknya yang telah ia lewatkan.


"Lo boleh bahagia saat ini, karena kebahagian lo itu gak akan berlangsung lama.”


...-...


...πŸ’“** CUTTON CANDY**πŸ’“...


...Jangan lupa memberikan vote sebagai bentuk menghargai karya yang aku tulis, terima kasih πŸ™πŸ™...