
...❤️Cutton Candy❤️...
...-...
Kina baru saja keluar dari kelasnya bersama dengan kedua temannya. Mita dan juga Lala. Jam pelajaran sekolah baru saja selesai.
"Jadi gimana Kin? Lo jadi kan ikut kita makan bakso di warung kemarin?” Tanya Lala ke Kina.
Kina ngangguk. "Iya, gue juga lagi pengen makan bakso disitu.”
"Sip dah,” celetuk Mita.
Matanya Kina seketika menangkap sosok yang tak asing baginya. Dan tanpa pikir panjang Kina mulai berlari mengejar sosok yang menarik perhatiannya itu.
"Lah Kin, lo mau kemana?” Lala berhasil menahan tangannya Kina yang mau kabur.
Kina berbalik. "Sorry La, Mit. Kayaknya hari ini gue gak bisa ikutan. Tiba-tiba ada urusan mendadak,” omong Kina sambil melepas tangan Lala yang menahan tangannya.
"Ya elo mah.”
"Uda ya, gue cabut deluan. Sorry,” ucap Kina sambil melambaikan tangannya keudara.
Tanpa menoleh lagi. Kina berlari kencang menyusul seseorang yang sudah menghilang dari pandangannya.
...----...
Sedikit merasa lega karena untungnya Kina tak tertinggal jejak orang itu.
"Jun.” Hadang Kina ke Darrenjun yang sedang berjalan menuju parkiran motor.
Darrenjun menghembuskan nafasnya frustasi.
"Lo lagi!" Ucapnya dengan marah. Matanya menatap Kina dengan tajam.
Berbeda dengan responnya Kina, gadis itu malah menyengir tanpa beban. "Iya gue,” katanya dengan senyuman yang tak lekang dari bibir indahnya.
"Lo gak bosen-bosen apa? Ngejar gue mulu,” Tanya Darrenjun dengan intonasi yang mulai meninggi.
Kina hanya menggelengkan kepalanya dengan lambat. seperti adegan slow motion.
"Gak ... Gue gak bakalan bosen ngejar lo. Sampek lo setuju nolongi gue.” Jawabnya tanpa rasa bersalah.
Darrenjun merotasikan bola matanya malas. "Serah lo aja.” Dia mulai merasa jengah dengan kebatuannya Kina.
"Minggir!" Usir Darrenjun ke Kina.
Bukannya memberi ruang untuk Darrenjun lewat, Kina malah terus menghadang Darrenjun dari depan.
Dan mau tidak mau langkah Darrenjun pun terhenti.
Darrenjun menarik nafasnya mencoba mengontrol emosinya yang hampir pecah karena perbuatannya Kina. Kalau saja Kina itu laki-laki bukan perempuan, sudah dipastikan Darrenjun akan menghajarnya sampai babak belur. Tapi, balik lagi ke realita. Kina tetaplah seorang gadis keras kepala.
"Gue mulai bosen sama tingkah lo. Jadi selagi gue masih ngomong baik-baik. Mending lo jangan ganggu gue lagi,” Peringat Darrenjun ke Kina.
"Jun. Belum juga gue kasih tau niatan gue ke elo. Lo main emosi mulu dah perasaan.”
"Gue gak peduli lo mau ngomong apa. Jadi mending lo minggir.”
Kina menahan tangan Darrenjun mencoba membujuknya lagi. "Jun. Please dengerin gue dulu. Gue punya alasan nguber-nguber lo kayak gini.”
Dengan sekali sentakan Darrenjun berhasil melepaskan tangannya dari Kina.
"Lo jangan sok akrab ke gue. Gue jijik dengarnya.” Omong Darrenjun dengan kesal.
Kina menghembuskan nafasnya pasrah.
"Lo kenapa sih, omongannya 11 12 sama merica? Gue ngomong baik-baik dari tadi nah lo malah emosi.”
"Bukan urusan lo,” jawab Darrenjun datar.
Lalu berjalan melewati Kina yang masih berdiri dihadapannya.
"Jun!" Panggil Kina pelan.
Darrenjun menghelakan nafasnya kasar. Lalu berbalik menatap Kina.
"Lo gak capek apa?” Tanya Darrenjun ke Kina.
Darrenjun tak habis pikir mengenai apa yang ada dipikaran gadis itu. Sehingga dia terus menerus membuntuti dirinya tiada henti. Padahal Darrenjun telah mengeluarkan segala ucapan yang mampu membuat siapa saja enggan untuk mendekatinya. Tapi ini, dia malah dihadapin dengan seorang gadis yang tak kenal takut dan juga lelah.
"Ya capek lah. Apalagi harus menghadapin manusia kutub kayak elo,” ucap Kina jujur.
"Kalo lo capek. Udahan buntuti gue. Lo mau berusaha kayak apapun gue tetep gak bakalan mau bantui elo. Jadi, mending lo pulang sana dan cari orang lain yang bisa bantu elo.”
"Yang lain kagak bisa Jun. Cuma elo yang bisa bantuin gue.”
"Dan gue tetep gak peduli,” katanya.
Lalu Darrenjun menaikin motornya dan menyalakannya. Meninggalkan Kina yang masih berdiri memandang dirinya dengan kecewa. Kina meremat jemarinya, merasa kesal dengan perlakuan Darrenjun terhadapnya.
Apa sebaiknya dia menyerah saja untuk mendekati Darrenjun?
Sempat terbesit dipikiran Kina untuk menyerah melupakan segala perihal mengenai laptopnya.
Tapi, dirinya tak akan mungkin sanggup merelakan laptop kesayangannya pergi dari sisinya. Meski berat, Kina akan tetap berusaha mendekati Darrenjun guna menjalankan misinya. Mungkin hari ini dia gagal membujuk Darrenjun, tapi masih ada hari esok dan hari esoknya lagi bukan. Jadi masih ada harapan baginya membuat Darrenjun mau membantunya.
...-----...
Kina duduk didepan meja belajarnya sambil memainkan hapenya. Tadinya dia berniat serius untuk belajar. Kali aja dia memiliki secercah harapan untuk membantu dirinya sendiri.
Tapi, hanya 20 menit saja berkutat dengan pelajarannya. Kina hampir kehilangan fokusnya.
Tiba-tiba terbesit sebuah ide untuk membantunya menyelesaikan misinya.
Kina dengan cekatan mencari satu nama yang terdapat pada contact hapenya.
\=\=\=\=\=
***KinaZa****: Ji*
***KinaZa**** : Ji*
***AA**** : Paan??*
***KinaZa**** : Kenal Darrenjun gak??*
***AA**** : Kenal, kan kemarin lo uda ketemu dia diatap bareng gue*
***KinaZa**** : Oh iya gue lupa :D*
***AA**** : Lo mau apa sama dia??*
***KinaZa**** : Gue minta contactnya dia dong*
***AA**** : Bentar gue tanya ke orangnya dulu. kebetulan orangnya ada disebelah gue*
***KinaZa**** : Oke*
...\=\=\=\=...
"Ren, lo masih ingat dengan cewek yang nemuin lo di atap gak?”
Seketika firasatnya Darrenjun merasa buruk dengan ucapan Arji barusan. Entah apalagi motif tersembunyi Kina. Sehingga kali ini Arji terlibat juga.
"Gue ingat. Kenapa?”
"Dia minta nomor Whatssapp lo noh.”
"Buat apaan?”
Arji menepuk keningnya pelan. "Oh iya gue lupa tanya. Bentar gue chat dulu anaknya.”
Baru saja Arji mau mengetikkan sesuatu dihapenya, membalas chat dari Kina. Darrenjun lebih dulu bersuara. "Jangan kasih. Apapun alasannya.”
Tanpa membantah perkataan Darrenjun barusan. Arji tidak jadi mengirimkan pesan untuk Kina dan memilih untuk mengabaikannya saja.
Arji meletakkan kembali hapenya disampingnya. Lalu memandang kerahnya Darrenjun yang tengah memainkan PS nya.
"Ren, lo gak lagi ada something dengan dia kan?” Tanya Arji yang mulai penasaran dengan hubungan keduanya.
Setahu Arji dari dulu. Kina bukan termasuk orang yang suka mencari tahu tentang orang lain. Alias kepo. Karena, Kina itu tipe cewek tidak pedulian. terlebih lagi dengan orang asing. Nah ini, dia malah menguber Darrenjun yang jelas-jelas cuma orang baru di sekolahnya.
Apa jangan-jangan, Kina—
Darrenjun mengalihkan perhatiannya dari layar tv LED ke Arji.
"Lo naksir dia?" Terka Darrenjun.
Dan Arji langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bukan gitu. Gue gak mau aja dia ikut terlibat sama hal yang bisa ngerugiin dia nantinya,” jelas Arji.
"Lo khawatir ke dia karena dia teman lo. Atau—" Darrenjun menggelengkan kepalanya cepat.
"Gak jadi,” sambungnya. Lalu dia kembali memainkan PS nya.
Berbeda dengan Arji yang mulai penasaran dengan kalimat gantungnya Darrenjun. "Atau apa Ren?”
Darrenjun kembali mengalihkan perhatiannya dari layar LED yang ada di depannya ke Arji.
"Atau lo takut dia sakit karena lo naksir dia?” Lanjut Darrenjun.
Arji tak menjawab. Anak laki-laki itu memilih diam dengan pertanyaannya Darrenjun barusan. Biarlah itu semua menjadi rahasia dirinya. Meski itu bukan rahasia umum lagi.
Melihat ekspresi Arji yang berubah. Membuat Darrenjun mengerti akan satu hal. Kalau Arji beneran memiliki perasaan khusus pada gadis yang terus saja mengusik ketenangan hidupnya.
Dari pada banyak bertanya, Darrenjun lebih memilih diam dan tak memperdulikannya. Toh bukan urusannya juga.
...------...
Langit telah menjadi gelap, menandakan hari telah malam. Seorang gadis berjalan sendirian menyusuri gelapnya malam sambil memakan ice cream yang barusan dia beli di mini market dekat rumahnya.
Tadinya dia ingin memakan ice cream yang dia beli dirumah. Tapi karena godaan ice cream begitu dahsyat baginya. Dia pun tak sanggup untuk menolaknya dan memakannya dengan perasaan bahagia.
Langkah gadis itu tiba-tiba terhenti saat melihat seseorang yang sangat familiar di memori otaknya. Anak laki-laki itu tengah bermain bola basket dilapangan komplek dekat rumahnya sendirian.
Entah firasat apa yang membuat Kina yakin, kalau anak laki-laki itu sedang diselimuti kegundahan. Itu bisa terlihat dari ekspresi wajahnya dan bagaimana cara ia bermain bola basket.
Tanpa membuang waktu, Kina mendekat, mendatangi anak laki-laki itu.
"Jun!” Panggilnya girang sambil melambaikan tangannya diudara.
Darrenjun menoleh sesaat, helaan nafas berat keluar dari bibirnya saat melihat sosok yang barusan memanggilnya.
Gadis itu, mau apalagi dia malam-malam kesini. Tidak cukup kah dia mengganggu Darrenjun disekolah?
Hanya sepersekian detik ia memandang gadis itu. Kalau ia kembali melanjutkan permainannya. Tanpa memperdulikan Kina yang semakin menepis jarak diantara mereka.
"Ngapain lo disini malem-malem?” Tanya Kina basa basi. Berusaha memecahkan kesunyiannya malam.
Darrenjun kesal. Tentu saja. Dia menginginkan waktu sendirian dan gadis itu malah mengacaukannya.
Dengan kekuatannya, Darrenjun melempar bola basket yang ada ditangannya dengan asal. Tanpa peduli ada Kina yang sedang berdiri disitu.
Untung saja refleknya Kina cepat, sehingga dia bisa menghindari serangan bola basketnya Darrenjun.
"Tadinya gue lagi main basket. Tapi karena ada lo. Gue jadi gak mood buat nerusin,” ucap Darrenjun tanpa perasaan bersalah.
Kina memandang Darrenjun dengan kilatan amarah.
Tidak bisakah dia bersikap lembut sebentar saja terhadap Kina? Kina cuma mau berteman, bukan bermaksud yang tidak-tidak. Meski memang cara dia mendekati Darrenjun dengan cara yang lumayan menyebalkan.
"Lo kira-kira kalau mau ngelempar. Untung aja gue bisa ngehindar! Kalau enggak—“
"Kalau enggak kenapa? Gue emang sengaja ngelemparnya ke arah elo, supaya tuh bola kena elo dan lo segera pergi dari sini. Engap gue lama-lama diintilin sama lo,” Terang Darrenjun ke Kina.
Kina tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya karena ucapan Darrenjun barusan. "Lo jahat banget sih jadi orang. Niat gue itu baik, asal lo tau aja.”
Darrenjun memungut bola basket yang barusan dia lempar dari lantai yang terbuat dari semen. Lalu tersenyum miring memandang Kina.
"Apa? Lo bilang baik? Lo bukannya ada maksud tertentu, makanya lo nguber-nguber gue terus.”
Kina terdiam. Sesungguhnya perkataan Darrenjun barusan benar adanya.
"Bener kan apa kata gue? Lo gak bisa jawab kan?” Darrenjun tersenyum miring menatap Kina yang bungkam seribu bahasa.
"Lo itu sama aja kayak yang lain. Katanya baik. Tapi munafik.”
"Kenapa lo ngomong kayak gitu? Gue gak seperti yang lo pikir.”
"Terus? Lo apa? Lo suci gitu?”
"Bukan gitu juga.”
Darrenjun kembali menunjukan senyuman menyebalkannya. "Jadi bener kan kalo Lo itu munafik,” Terang Darrenjun dengan jelas ke Kina.
Kina meremat jemarinya, emosinya sudah tak bisa terkontrol dengan baik. Tak terima dengan perkataan Darrenjun mengenai dirinya.
"Iya gue munafik dan elo juga.”
Darrenjun menaikan sebelah alisnya. "Maksud lo?”
Kina mendekat. memangkas jarak antara dirinya dan juga Darrenjun. "Lo munafik. Tapi lo gak sadar itu semua. Lo bertingkah kayak gini supaya orang-orang ngira kalau lo itu cowok yang kuat, padahal enggak. Lo itu cuma cowok lemah yang berusaha menutupi kelemahan lo dengan wajah dingin dan mulut merica lo itu. Jadi lo gak usah sok ngatain orang munafik kalau lo masih gunain topeng palsu lo,” ucap Kina dengan lantang.
Setelah mengeluarkan segala emosinya. Kina berbalik, pergi dari tempat itu dan meninggalkan Darrenjun sendirian.
Meski Kina telah pergi Darrenjun masih saja diam ditempat. Kakinya tiba-tiba terasa lelah dan dia terduduk ditempat itu menikmati waktunya sendirian lagi. Seperti tadi sebelum kehadirannya Kina.
Udara malam yang dingin tak membuat Darrenjun enggan untuk pergi dari situ. Bahkan sekarang posisi duduknya telah tergantikan dengan dia yang tengah berbaring sambil menatap bintang yang ada di langit malam.
Bukan bintang yang membuatnya tertarik untuk menetap ditempat itu. Tapi, karena pikirannya masih dipenuhi dengan perkataan Kina padanya barusan. Jujur saja, hatinya sedikit tersentil dengan ucapan jujurnya Kina mengenai dirinya.
Memang hanya itu ekspresi yang dia punya dan dia tunjukkan ke orang-orang yang ada disekitarnya. Hatinya teralalu takut untuk menerima segala hal yang mungkin bisa membuatnya seperti orang lemah. Darrenjun benci untuk dikasihani oleh orang lain.
Tanpa sadar Darrenjun tersenyum masam. Ternyata topeng yang dia gunain selama ini bisa terlihat juga. Padahal dia telah berusaha sebaik mungkin untuk menutupinya. Dan yang membuatnya kembali terusik karena orang yang bisa melihatnya itu adalah orang seperti Kina. Gadis yang terlihat bodoh dan juga ceroboh.
...\=\=\=\=\=...
...***Mohon saran dan masukannya dari kalian semua. Supaya author bisa menulis dengan lebih baik lagi ****😊😊*...