Cutton Candy

Cutton Candy
Pertikaian



...πŸ’—*Cutton Candy***πŸ’—...


...----...


Baru pertama kali dalam hidupnya Kina merasa kalau bel istirahat merrupakan bel panggilan ghoib. Karena gadis itu sungguh tidak punya semangat. Rasanya dia ingin berlama-lama di dalam kelas saja.


Kina hendak berdiri dari duduknya. Pesan singkat dari Darrenjun membuatnya terhenti.


\=\=\=\=\=


***Juned**** : Gue ada di atap. Lo cepetan kemari. Sekalian bawain gue minuman 6 botol.*


\=\=\=\=\=


Kina menghembuskan nafasnya. Baru saja dia hendak membalas chat dari Darrenjun. Darrenjun lebih dulu mengiriminya pesan untuk segera menyusulnya.


Dan dengan terburu-buru Kina pergi ke kantin untuk membeli minuman pesanan Darrenjun. Lalu menyusulnya diatap sekolah.


...\=\=\=\=...


Kina memandangi anak tangga menuju atap sekolah dengan muka lesu. Tangannya mengengam satu plastik kresek berisi pesanannya Darrenjun.


Padahal dulunya tempat ini merupakan tempat paling dia benci. Tapi untuk sekarang tempat ini bakalan menjadi tempat keseharian baginya. Mangingat tempat ini merupakan tempat favouritenya Darrenjun.


Dengan langkah yang berat Kina menaikin anak tangga demi anak tangga untuk bisa sampai diatap gedung sekolah.


Haikal berdiri diantara Mark, Emilio dan Darrenjun. Sejak dari tadi dia sibuk menceritakan perrihal Kina dan hubungan antara Darrenjun dan gadis itu.


"Gue seriusan tuh anak permpuan galaknya luar biasa.”


"Gak percaya gue. Lo kan hobinya ngarang mulu,” timpal Emilio.


"Lo kok gak percayaan amat dah. Gue seriusan. Lo bisa tanyak sama tuh orang,” Haikal mengedikkan dagunya ke arah Darrenjun.


Mark dan Emilio melirik ke arah Darrenjun yang anteng.


Sementara yang diliatin hanya diam tanpa menggubris.


"Jadi tuh orang siapanya Darrenjun?” Tanya Mark.


"Nah. Itu yang pengen gue tau. Tapi nih anak sok main rahasia-rahasiaan,” Tunjuk Haikal ke Darrenjun


Darrenjun hanya mengedikkan bahunya acuh.


"Ngomong itu mulu lo perasaan. Gak bosan apa?” Omong Rey sembari bermain game yang ada di hapenya.


Dia dan Arji lebih memilih bermain game dibandingkan harus mendengarkan ocehan Haikal yang gak ada habisnya.


"Gak. Gak bosen gue. Sampek gue tau hubungannya dia dengan si Darrenjun apaan,” Jelas Haikal sambil memandang Darrenjun dengan tatapan menuntut.


Semuanya jadi memandang kearah Darrenjun, kecuali Arji yang masih berkutat dengan hapenya.


"Entar kalo anaknya ke sini gue bakalan kenalin ke kalian,” Final Darrenjun yang mulai jengah dnegan tatapan teman-temannya.


"Dia bakalan kesini?" Tanya Mark memastikan dan dibalas anggukan oleh Darrenjun.


"Wah gila tuh orang. Mau an amat kesini,” Celetuk Emilio.


"Uda dibilangin. Tuh cewek jadi-jadian,” omel Haikal sebel.


"Lo dari tadi pada bahas apaan sih?” Sambung Arji yang barusan mengalihkan perhatiannya dari hapenya.


Semuanya hanya memandang Arji dengan datar.


"Gini nih kalo dulu kecilnya kebanyakan makan micin. Gak nyampek-nyampek kan tuh otak,” omong Haikal yang sebel dengan ke lemotannya Arji. Padahal sejak dari tadi dia sudah semangat 45 menceritakan perihal seorang Kina. Teman sekelasnya.


"Sialan omongan lo. Gue dari kecil makannya Promina bukan micin asal lo tau aja,”


"Kagak percaya gue yang begituan. Pasti emak lo salah ngasih. Dia kira itu promina ehh taunya malah bubuk micin,” Tawa Haikal pecah dan diikuti yang lain.


"Sialan lo,” Jawab Arji dan kembali fokus ke hapenya.


Kina baru saja sampai di atap dan orang yang lebih dulu menyadari kehadirannya adalah Haikal.


"Nah. Itu noh orangnya yang gue ceritain barusan,” Katanya dengan semangat sembari menunjuk kearahnya Kina.


Kina sempat kaget karena tak disangka dia kembali bertemu dengan lelaki yang menyebalkan itu lagi. Dan dengan tak tau apa-apa Kina malah ditunjuk olehnya. Sehingga semua orang kini memandang kearahnya. Termasuk Rey.


Dia baru ingat kalau Rey juga salah satu dari mereka.


Arji yang masih memainkan hapenya tak menyadari dengan kehadirannya Kina. Fokusnya hanya untuk memenangkan game yang tengah ia mainkan.


Kina mendekat menghampiri Darrenjun dengan membawa satu plastik berisi minuman botol. Pesanan dari Darrenjun.


"Nah punya lo,” Serah Kina.


Darrenjun menerimanya, lalu membagikannya kepada teman-temannya.


Tanpa sengaja tatapannya Kina bertemu dengan tatapan matanya Haikal. Lelaki itu memang sejak dari tadi telah memandanginya dengan tajam.


Karena Kina lagi mode malas buat berantem, Kina milih untuk mengabaikannya saja.


"Lo masih ingat gue kan?” Tanya Haikal kepada Kina.Β Terlihat jelas sekali kalau lelaki itu masih memiliki dendam terhadapnya.


Kina hanya merotasikan bola matanya malas. "Gak tuh,” Jawabnya bohong.


Semua orang yang ada disitu langsung menertawakan Haikal yang dilupakan oleh Kina.


"Lo jangan bohong. Gara-gara lo pundak gue sakit,” Omel Haikal.


Kina hanya diam dan tak peduli. Salahnya sendiri telah menutupi jalan Kina untuk lewat.


Haikal meremat jarinya. Dirinya mulai sebel dengan Kina yang berpura-pura tak mengenalinya. padahal karena gadis itulah pundaknya masih terasa sakit.


Arji akhirnya berhasil memenangkan gamenya. Lalu dia memandang semua temannya. Sampaiβ€”


"Kina". Tegurnya.


"Lo ngapain ke sini?” Tanyanya dan semuanya jadi memandang kearah keduanya.


"Gue ada urusan,” jawab Kina seadanya.


"Lo ada urusan apaan di mari? Mau ngajak ribut lagi sama gue kan?” Timpal Haikal dengan gaya songongnya.


Kina menarik nafasnya. "Uda ya. Gue lagi malas ribut sama lo,” ucap Kina ke Haikal.


"Kalo lo mau tau. Tanya aja sama teman lo noh,” tunjuk Kina ke Darrenjun.


Darrenjun mendekat ke tempat Kina berdiri. Lalu dia rangkul gadis itu.


Semua orang yang ada disitu hanya diam menonton keduanya. Tidak dengan Arji yang hampir menarik Kina dari rangkulannya Darrenjun. Kalau saja Rey tidak lebih dulu menahannya.


"Kenalin, namanya Kina dan mulai sekarang dia bakalan jadi babu gue,” Jelas Darrenjun.


Semua orang yang ada disitu tercengang mendengarkan penuturan yang barusan dijabarkan oleh Darrenjun. bisa-bisanya keduanya memiliki hubungan aneh seperti itu.


Kina hanya bisa tertunduk lesu. Dirinya sungguh malu sebenarnya. Terlebih ada Rey disitu. Lelaki yang dia kagumi. Tapi mau bagaimanapun dia lah orang yang menginginkan ini semua. Jadi yang bisa dilakukannya saat ini cuma pasrah dengan keadaan yang tengah dia jalanin.


"Lo seriusan Ren?” Tanya Arji yang masih tak yakin dengan ucapan Darrenjun barusan.


Darrenjun mengangguk singkat. "Lo bisa tanya ke dia langsung.”


Darrenjun memandang Kina yang berdiri disampingnya.


"Kin. beneran yang diomongin Darrenjun barusan?” Tanya Arji penuh harap ke Kina dan dijawab dengan anggukan oleh gadis itu.


"Kenapa?” Tanya Arji yang masih tak terima dengan hubungan keduanya yang terdengar aneh.


"Bukan urusan lo,” Jawab Darrenjun cepat.


Arji memandang ke arah Kina, meminta penjelasan darinya. Tetapi, sayangnya gadis itu hanya diam tak berniat menjawab sedikitpun.


"Ohh jadi lo itu cuma babu,” Ucap Haikal dengan nada mengejek.


Kina menoleh ke arah Haikal. "Iya gue babunya Darrenjun. Terus lo mau apa?” Kesal Kina.


"Nih bocah malah nantangin.”


"Biarin.” Kina menjulurkan lidahnya ke arah Haikal.


"Elo!" Ucap Haikal murka dan mulai mendekat ke Kina tapi dihadang lebih dulu oleh Mark.


"Kalem gan,” Tahan Mark ke Haikal.


Haikal menepis kasar tangan Mark yang menahannya.


"Minggir lo. Gue mau ngasih pelajaran ke nih anak,” tunjuk Haikal ke Kina.


"Sini lo kalo berani. Lo kira gue takut apa,” Tantang Kina.


Dan adu mulut pun terjadi.


"Jangan mentang-mentang lo cewek. Lo kira gue bakalan biarin lo gitu aja apa,” Haikal memandang Kina dengan kesal.


"Lo gak usah bawa-bawa gender kalo mau ribut. Gue gak peduli lo apaan. Sini lo kalo berani.”


Kina maju beberapa langkah untuk menghajar Haikal. Sebelum itu terjadi Emilio lebih dulu menahannya. dia sudah tidak peduli lagi dengan keberadaan Rey. Yang terpenting baginya sekarang. Dia harus berhasil melawan Haikal yang begitu menyebalkan.


"Ha. Lo kira gue takut,” Gantian, sekarang Mark yang tengah menahan Haikal.


"Apa lo.”


"Jangan bacot mulu. Sini lo nenek sihir.”


"Sembarangan lo kalo ngomong. pake ngatain gue nenek sihir segala. Lo tuh yang gerandong.”


"Apa lo bilang!!"


Semuanya menjadi pusing dengan pertikaian antara Kina dan Haikal. Keduanya tak ada satu pun yang mau mengalah. Bahkan Mark dan Emilio yang membantu mereka malah kena serang oleh keduanya.


Darrenjun mulai jengah dengan keduanya. Dia sama sekali tak menyangka kalau Kina dan Haikal mengalami pertikaian yang sengit seperti sekarang ini.


"Gue mau ke kantin,” Ucap Darrenjun tiba-tiba.


Semuanya jadi diam dan memandang Darrenjun.


Kina mengalihkan pandangannya dari Haikal ke Darrenjun.


"Lo mau ke kantin Jun?” Tanyanya.


Darrenjun mengangguk singkat. Lalu pergi dari situ.


Kina melepaskan tangan Emilio dengan kasar dan bergegas menyusul Darrenjun.


Dan pertikaiannya dengan Haikal berakhir begitu saja.


"LO MAU KEMANA WOI??!" Teriak Haikal ke Kina yang sudah berada diambang pintu.


Gadis itu berhenti, lalu berbalik menatap Haikal.


Hanya sepersekian detik gadis itu mengubah ekspresi wajahnya untuk mengolok-ngolok Haikal agar lelaki itu kesal.


"ELO!" Katanya.


Lalu dia hendak maju mendekat ke Kina. Tapi dengan sigap Mark berhasil menghentikannya.


Dirasa cukup membuat geram sang lawan. Kina berlari menyusul Darrenjun dan menghilang dari situ.


Haikal melepas tangan Mark yang menahannya. "Lo ngapain pake acara nahan gue segala?” Kesalnya.


"Terus kalo gue gak nahan lo tadi. Lo beneran mau mukul dia?” Tanya Mark.


Haikal baru saja mau menjawab perkataan Mark. Tapi Arji menyela lebih dulu.


"Lo jangan coba-coba sakitin dia. Kalo lo berani, lo berusan sama gue", ucap Arji dengan tatapan membunuh.


"Oh jadi dia cewek yang lo taksir? Kok mau an amat sih?”


"Lo ngomong gitu karena belum kenal anaknya. Pokoknya kalo gue tau lo nyakitin dia, gue gak bakalan tinggal diam,” Jelas Arji. lalu lelaki itu pergi meninggalkan Haikal dan disusul yang lainnya.


Sekarang semuanya malah meninggalkan Haikal sendirian.


"Lah kok gue malah ditinggal. Padahal gue kan cuma becanda doang.”


...*πŸ’“Cutton CandyπŸ’“*...


...\=\=\=\=\=...


...***Jangan lupa vote dan komennya ya man teman ****πŸ₯°πŸ₯°*...


...***Makasih ****πŸ™πŸ™*...