
...💓CUTTON CANDY💓...
...-...
...(Semakin kamu menghindar, maka semakin aku ingin mengejarmu -Darrenjun Evans)...
...(Ceilah Injun uda pintar gombal -mbak author)...
...-...
"Jalannya jangan cepat-cepat entar jatuh."
"Tungguin gue."
"Lo merepet mulu dah perasaan. Uda kayak emak-emak," Kesal Kina.
"Gue gak cocok buat jadi emak-emak. Jadi bapak-bapak sih iya. Bapak dari anak kita maksudnya."
Kina membulatkan matanya penuh. Demi apa, sosok Darrenjun yang seperti ini benar-benar membuatnya bergidik ngeri. Seketika Kina merindukan sosok Darrenjun yang dingin dan juga kasar.
"Idih geli, najisin. Lo kesambet apaan dah ngomong begituan. Kesurupan lo ya."
Darrenjun berusaha untuk tetap tenang mendengar setiap ucapan Kina yang hampir membuat darahnya mendidih. Berbicara lembut seperti ini bukanlah gaya khasnya, Tapi ia tak memiliki pilihan lain selain tetap tenang, guna untuk menjalankan misinya. Misi agar Kina bisa luluh padanya, sesuai dengan saran yang ia dapatkan dari kakak laki-laki satu-satunya itu, siapa lagi kalau bukan Lucas.
"Jun udahan dong nge-prank gue, lo yang sekarang bukan lo banget tau," Ucap Kina melas. Ia lelah mengahdapi kenyataan bahwa lelaki yang bernama Darrenjun mengubah karakternya secara ekstream.
"Gue gak pernah ngeprank."
"Lo jangan bohong. Lo naksir gue itu cuma bercanda kan? Iya kan."
Darrenjun sempat terhenyak mendengar perkataan Kina barusan. Padahal ia telah tulus dan gadis itu malah menganggapnya bercanda. Ingin sekali Darrenjun berteriak pada Kina detik ini juga, bahwa apa yang dia lakukan sekarang murni karena ia menyukai Kina. Malah mencintai lebih tepatnya.
"Gue gak pernah bohong soal perasaan gue."
"Tapi kenapa? Gue gak secantik cewek-cewek yang ngedekatin elo. Gue juga gak pintar, bahkan nilai gue bisa dibilang memprihatinkan dan gue-"
"Psstt." Darrenjun meletakkan jari telunjuknya tepat didepan bibir Kina, memberi intruksi pada gadis itu untuk menghentikan ucapannya yang telah merendahkan dirinya sendiri.
"Lo gak boleh ngomong kayak gitu. Lo emang gak cantik dan lo juga gak pinter. Jangan lupakan juga kalo lo itu ceroboh, kelewat ceroboh malah."
Entah kenapa Kina rasanya kesal mendengar ucapan Darrenjun yang kelewat jujur itu.
"Tapi anehnya gue suka elo yang begitu. Gue gak perlu elo yang sempurna. Karena elo yang sekarang uda cukup buat gue."
Darrenjun tiba-tiba menarik tangan Kina, lalu ia genggam tangan gadis itu yang masih terpaku menatapnya.
"Mulai sekarang lo itu pacar gue. Inget itu baik-baik."
Kina tak menggeleng ataupun mengagguk, karena perasaannya masih dilema. Hatinya masih merasakan perasaan bersalah terhadap Rey yang barusan ia tolak. Ia takut, jika perasaannya pada Darrenjun hanyalah bentuk pelarian saja.
Jadi untuk sementara waktu Kina tak ingin menyetujui ataupun menolak perasaan Darrenjun. Bukan bermaksud menggantungnya juga, ia hanya masih bingung saja.
-
-
Darrenjun baru saja menapakkkan kakinya masuk kedalam rumahnya, baru saja dua langkah ia memasuki rumah besar itu. suara berat Lucas membuatnya menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sang empu.
"Baru pulang Ren?"
Darrenjun menghelakan nafasnya pelan, ia tau maksud pertanyaan Lucas barusan. Karena pertanyaan lelaki itu bukan benar-benar menanyakan tentang kepulangannya. Tapi ada sesuatu hal yang lebih dari itu.
"Kok lesu gitu, sini dong cerita."
Tak menjawab, Darrenjun hanya berjalan mengikuti Lucas.
Lucas mengenakan kaos oblong berwarna biru dengan logo LV pada bajunya. Sepetinya Lucas tak ada kegiatan hari ini.
"Jadi gimana? ada kemajuan."
"Belum. Dia malah risih ke gue."
Lucas menepuk pundak Darrenjun pelan. "Kok give up gitu sih. Ayo dong semangat, gak boleh nyerah gitu aja. Lo ngelakuinnya sesuai dengan pesan gue itu kan?"
Darrenjun mengangguk, mengiyakan pertanyaan Lucas barusan. "Kayaknya gue harus ganti planning."
"Jangan!" Teriak Lucas heboh dan membuat Darrenjun terkaget.
"Ini masih awal Ren dan lo baru ngejalaninnya satu hari, masih ada 3 hari lagi dan gue yakin sebelum itu terjadi Kina pasti luluh sama elo."
Darrenjun menaikan sebelah alisnya. "Elo yakin? Gimana kalo gak berhasil dan dianya malah makin risih ke gue?"
"Gak bakalan Ren."
"Elo yang bilang gak bakalan, buktinya seharian ini dia ngehindari gue terus. Apa namanya kalo bukan risih?"
"Mungkin aja kan dia malu di dekat lo, biasanya cewek begituan."
Darrenjun menatap Lucas dengna minat. "Malu? Maksud lo?"
"Ini ya gue kasih tau, cewek itu memang gitu, kalo didekatin makin jaim, tapi kalo dibiarin malah kangen. Jadi untuk permulaan lo harus kejar di terus, pepet jangankasih kendor. Pokoknya lo gak boleh ninggalin dia barang sedikit."
"Oke gue bakalan ngelakuin semua saran yang elo kasih."
"Oh ya, lo mikir Kina risih elo itu kenapa? Seumur-umur ya gue deketin cewek pake trik gituan dan semuanya berjalan lancar. Aman-aman bae malah."
"Dia ngajakin gue ruqiyah."
"Pffft HAHAHAHA," Tawa lucas pecah. "Lo seriusan mau diajak ruqiyah sama dia?"
Darrenjun mengangguk polos.
"Yaudah. Yaudah kalo gitu, lo harus lanjutin misi ini sampai selesai."
-
-
Pagi ini Kina sengaja bangun lebih awal. Bahkan sebelum Tia sempat membangunkannya, Kina lebih dulu telah siap untuk berangkat kesekolah.
"Ma Kina berangkat," Teriaknya pada sang mama yang masih berkutat didapur menyiapkan sarapan untuk keluarganya.
"Kenapa cepat banget, ini masih jam berapa?"
"Iya ma gak papa, Kina ada piket."
Sebelum pergi Kina menyempatkan diri untuk menyalim mamanya, lalu keluar dari rumahnya.
Saat berada diluar rumahnya, Kina menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Langit pagi masih lah gelap bahkan udara masih terbilang cukup dingin.
Tapi, bukan berarti itu membuat Kina menghentikan niatnya untuk berangkat sekolah pagi buta seperti ini, malahan ia dengan semangat dan riang gembira berjalan menyelusuri jalanan menuju halte terdekat.
Belum banyak orang yang berlalu lalang pada saat itu hanya ada beberapa pengendara dan juga pedagang yang baru menata barang dagangannya.
Kina tersenyum ceria, tak ada tanda-tanda orang itu didekatnya dan dengan begitu misinya pagi ini berhasil, misi menghindari lelaki yang bernama Darrenjun Evans itu.
Bayangan Darrenjun datang kerumahnya dan senyuman aneh Darrenjun benar-benar membuat Kina tak habis pikir, pasalnya sosok dingin itu bisa berubah hanya dalam satu malam.
Semilar angin menerpanya dan membuat tubuhnya merasakan sensasi dingin yang amat luar biasa, salahnya yang lupa membawa jaket saat pergi tadi.
Semakin Kina berjalan, maka semakin dingin pula udara pagi yang ia rasakan. Sempat terpikirkan olehnya untuk berbalik menuju rumahnya kembali dan mengambil jaketnya, tapi niatan itu lebih dulu ia tepis, karena jika ia melakukan hal tersebut, sia-sia saja ia melakukan semua ini.
Karena ia yakin. Saat ia keluar nanti Darrenjun pasti sudah tiba dirumahnya dan mau tak mau ia pun harus ikut dengan Darrenjun. Sebab itu lah ia kan menahan rasa dingin itu dan tetap berjalan dengan pendiriannya itu.
Langkahnya terhenti saat seseorang baru saja memberikan jaket berwarna hitam yang cukup kebesaran untuknya, jaket yang menutupi tubuh kedinginannya itu.
Dengan cepat Kina berbalik, melihat siapa pelaku tersebut.
Dan naasnya ia malah bertemu dengan orang yang sangat ingin ia hindari saat ini.
"DARRENJUN!" Pekiknya.
Darrenjun hanya tersenyum simpul, lalu membenarkan letak jaketnya pada tubuh Kina.
"Lo tau gue disini darimana?" Tanya Kina penasaran.
Setelah selesai membenarkan jaketnya pada tubuh Kina barulah Darrenjun menatapnya lekat. "For information, gue ngikutin elo dari tadi."
Kina terpaku sesaat, lalu kembali bertanya. "Kenapa gak ngomong?"
"Buat apa? Lo pergi sepagi ini dengan tujuan ngehindari gue kan?"
Kina terdiam, ucapan Darrenjun memang benar adanya, tapi, bagaimana lelaki itu bisa tahu? Kina semakin curiga bahwa Darrenjun kerasukan.
Darrenjun menarik zip pada jaket yang dikenakan oleh Kina, sekarang tubuh Kina telah terbalut jaket yang kebesaran miliknya.
"Lain kali kalo mau pergi pagi, pake jaket. Udara pagi masih dingin entar lo kena flu."
"Gue gak perlu jaket dan gue gak kedinginan."
Kina telah bersiap-siap hendak membuka jaket yang telah membungkus tubuhnya, tapi dengan cepat Darrenjun menghentikannya.
"Jangan bohong. Hidung lo uda merah."
Darrenjun mendekatkan telapak tangannya pada sebelah pipi Kina. "Wajah lo juga uda dingin."
Kina segera menepis kasar tangan Darrenjun dari wajahnya. "Gue gak kedinginan."
"Pembohong."
"Gue gak-"
Sebelum ucapan Kina terselesaikan, Darrenjun lebih dulu menarik tangan Kina menuju motornya. "Gue laper, dan gue tebak lo juga belum sarapan."
"Sotoi lo. Lagian kalo lo laper, yaudah sana pergi. Gue ada urusan."
Kina segera berjalan meninggalkan Darrenjun, tapi dengan cepat Darrenjun berhasil menahan lengannya.
"Urusan apa?"
"Itu... Ada deh lo gak perlu tau."
"Gue ikut."
"Gak boleh ini rahasia."
"Gue gak bakalan bilang ke siapa-siapa."
"Tapi gue mau pergi sendiri."
"Gak boleh, gue ikut."
"Lo nyebelin amat sih."
Darrenjun diam tak peduli dengan kesalnya Kina karenanya.
"Bisa gak sih elo ngebiarin gue pergi sendiri?"
"Lo halu, gue bukan pacar lo."
"Gue gak halu, karena emang lo pacar gue. Pokoknya gue yang anterin lo kemana aja."
"Darrenjun!"
"Iya sayang."
Kina membeku.
"Lo terharu kan gue panggil sayang?"
"Enggak. Siapa bilang?"
"Itu buktinya wajah lo merah."
Kina reflek memegang kedua wajahnya sendiri.
Darrenjun terkekeh pelan, lalu memasangkan helmnya pada Kina. "Jangan ngebantah lagi, lo gue yang anter."
Kina menghelakan nafasnya berat, sia-sia saja ia bersusah payah untuk bangun pagi-pagi sekali, jika pada akhirnya ia tetap harus pergi bersama Darrenjun.
Padahal ia telah membuat Rencana untuk melanjutkan tidurnay kembali sesampainya disekolah dan sepertinya keinginannya hanyalah ekspetasi belaka.
Rasanya Kina ingin berteriak mengeatai Darrenjun.
'Kurang ajar kau Darrenjun Evans.'
-
-
"Emang benar ya kata orang-orang, sekolah adalah tempat tidur yang paling nyaman."
"Kok gitu?"
"Iya, karena lo gak perlu bantal ataupun kasur yang empuk, cukup melipatkan kedua tangan diatas meja lo bisa terlelap dengan mudahnya."
"Apaan sih lo La, gaje amat."
Kina tak peduli dengan kedua temannya yang sedang menyindirnya, karena matanya sudah tak dapat diajak kompromi lagi.
Masa bodoh jika hari ini Kina akan menjadi bulan-bulanan kedua temannya itu. yang terpenting untuknya sekarang hanya satu hal. Ia bisa tidur kembali sebelum jam pelajaran berlangsung.
"Woi Kin. Lo gak niat gitu ke kantin?"
Kina tak merespon, rasa kantuknya sudah tak terbendung. Bahkan ia seperti orang yang hilang kesadaran".
"La, si Kina gak pingsan kan ya?"
Lala mengangkat kedua bahunya. "gak ngerti gue."
"Bisa gawat nih bocah kalo pingsan. Tes aja kuy."
"Caranya?"
Lala mendekat ke arah telinganya Kina, lalu mulai memasang aba-aba.
"Satu.... dua..... ti...-"
"KINA ILER LO TUMPAH!!!!!!!!"
"AHHH!"
Kina segera bangkit dari posisinya lalu mengelap sudut bibirnya. Ia sempat merasa heran karena tak menemukan jejak air liur diwajahnya. Karena penasaran Kina segera mengambil hapenya lalu mulai bercermin.
Setelah puas bercermin, Kina menatap kedua temannya lagi.
"DASAR GAK PUNYA PERASAAN!!" Kesalnya.
Yang diteriaki hanya terkikik geli.
"Elo sih ada-ada aja, dari tadi juga tidur mulu kerjaannya."
"Tau nih bikin bete aja, biasanya ngajakin gibah ini malah tidur."
"Hayo lo, lo habis ngapain semalam?"
"Gue gak ngapa-ngapin. Lo dua jangan seuzon."
"alah Kin, gak percaya kita. Lo marathon drakor lagi pastian?"
Kina menggeleng kuat. Karena memang benar gadis itu sudah lama tak melakukan hobinya itu lagi.
"Lah terus?"
"Gue gak ngapa-ngapain, Cuma emang gue ngantuk bawaannya."
"Kalo gitu, elo pasti habis chatingan atau gak telponan sama Darrenjun kan semalaman?? Iya kan lo harus ngaku."
"Enggak, gue gak mau ngelakuin itu."
"Boong banget, jangan gengsi. Kita maklum kok, karena ini masih tahap awal lo dan dia pacaran."
Kina merotasikan bola matanya malas. "Gue harus bilang berapa kali?? Kalo gue dan Darrenjun itu gak pacaran."
"Boong. Kita gak percaya. Uda ahh La, ke kantin kuy. Kita tinggalin Kina."
Kedua gadis itu bangkit dari tempatnya dan meninggalkan Kina yang kesal setengah mati.
"Dasar anak firaun."
-
-
-
"Ji."
"Arji."
"Arji Raditya."
"Tiang."
Kina mempercepat langkahanya menyamai langkahnya dengan anak laki-laki yang bernama Arji Raditya itu, entah ia tak dengar atau memang sengaja mengabaikannya.
"Woi gue mau ngomong sama elo."
"Gue gak mau ngomong sama elo."
"Lo kenapa sih?"
"Gak papa."
Kina sungguh lelah sekarang, pasalnya Arji berjalan dengan sangat cepat dan sangat sulit bagi Kina menyamai langkah kaki Arji.
"Ji, lo liat Darrenjun gak?"
"Gak liat, gue bukan emaknya."
"Iya gue tau. Tapi masa lo gak liat dia, lo kan temennya."
Arji menghentikan langkahnya, lalu menatap Kina dengan wajah kesal.
"Gue emang temeennya, tapi bukan berarti gue harus tau kemana dia pergi. Lo jangan ikutin gue lagi, kalo lo cuma mau nanya soal Darrenjun."
Kina terpaku, baru kali ini ia melihat sosok Arji yang seperti itu. Dan yang membuat Kina semakin heran karena ia tak mengerti dimana letak kesalahannya. Padahal dia hanya bertanya tentang dimana Darrenjun berada bukan menanyakan kegiatan lelaki itu.
Ahh Kina pusing sekarang.
"Lo nyari Darrenjun?"
Kina berbalik dan terkejut melihat lelaki yang baru saja berbicara padanya.
Dia, Rey Agra lelaki yang ia tolak kemarin dan sebenarnya enggan ia temui untuk saat ini.
"Rey."
Rey mendekat ke arahnya lalu tersenyum manis seperti biasanya. Kina sangat heran, karena jantungnya tak berdegup kencang seperti itu lagi, padahal tatapan Rey sungguh bisa membuat siapa saja meleleh karenanya.
"Gak nyangka ya, elo dan Darrenjun jadian juga," Kekeh Rey.
"Ternyata ucapan Naya kemarin terkabul."
"Paan sih?"
"Maaf ya gue gak peka."
"Maksud lo apa? gue dan Darrenjun gak pacaran."
"Gak usah gak enakan Kin, kasihan Darrenjun kalo denger lo ngomong gitu, dia beneran sayang ke elo."
"Tapi gue dan elo-"
"Lo gak usah mikirin gue, karena gue bakalan move on secepatnya. Tadi gue ngeliat Darrenjun dilapangan bola bareng Alby."
"Haa? ngapain? kelahi?"
Rey menggeleng, lalu terkekh geli. "Se khawatir itu ya, cemburu gue."
"Apaan sih Rey, gue cuma takut Alby kenapa-napa," Bohongnya.
Rey tertawa dan membuat Kina semakin kesal.
"Uda buruan sana kalo khawatir."
"Enggak."
"Gue bilang lo khawatir ke Alby bukan Darrenjun."
Kina jadi diam. Rey membuatnya kehilangan akal.
"Yaudah gue cabut," Pamitnya.
Rey mengangguk singkat sebelum Kina benar-benar pergi darinya.
"Semudah itu gue ngomong bisa move on ke elo, padahal hati gue masih aja deg-deg an tiap dekat lo Kin," Gumam Rey pada bayangan Kina yang telah pergi.
...*****...
...💓CUTTON CANDY💓...
...Terima kasih buat pembaca yg baik, semoga kalian suka dengan karyaku, jangan lupa memberikan support kalian ya 😊😊...