
...πCUTTON CANDYπ...
...-...
...(Haruskah perasaan itu dipendam saja, atau biarkan dia mengalir mengikuti intuisinya??)...
-
Terlepas semua yang terjadi semalam, membuat Kina merasakan apa itu arti panas membara sesungguhnya. Jika diingat-ingat ia bahkan belum melakukan hal apapun bersama Darrenjun dan sebelum mereka melakukan banyak hal Darrenjun malah sudah lebih dulu berpaling darinya.
Kina mengepalkan tangannya kuat-kuat ia tak akan menyerah begitu saja, jika benar Darrenjun ingin melupakannya begitu saja. Ia tetap harus melakukan sesuatu terlebih dahulu pada lelaki itu. Karena ia benci jika harus menjadi pengecut tanpa melakukan perlawanan.
Jadi sudah diputuskan Kina akan memberi perhitungan pada oknum yang bernama Darrenjun Evans itu, berani sekali ia mempermainakan dirinya.
Semalaman Kina menunggu pesan dari Darrenjun, berharap lelaki itu menanyakan kabarnya yang pulang begitu saja dari rumahnya. Tapi sayang, semuanya hanya ekspetasi bagi Kina. Karena kenyataannya tak ada satu pun pesan maupun telpon darinya.
Mungkinkah Darrenjun begitu bahagianya bersama gadis yang berada dirumahnya semalam. Gadis cantik yang bernama Lisa itu. Hingga ia tak sempat menanyakan kabar Kina.
Oke. Kina akui Lisa memang lebih cantik dan menawan ketimbang dirinya, tapi tetap saja status Kina masih pacarnya Darrenjun. Jadi jika ingin dilupakan ada baiknya Darrenjun berterus terang agar ia tak harus pusing memikirkan perasaannya yang tak pasti itu.
Dasar lelaki.
Kina berjalan dengan langkah lebar, pagi ini ia ingin segera sampai kedalam kelasnya dan berniat menyibukkan diri dengan handphonenya, berniat melupakan segala perihal Darrenjun yang membuat kepalanya pusing. Dan akan ia tunjukan pada lelaki yang bernama Darrenjun itu, bahwa ia bisa lebih kuat dari perkiraannya.
"Kina!"
Suara seseorang yang begitu familiar memanggilnya, Kina mengehelakan nafasnya berat. Tak ada niatan sama sekali baginya untuk menghentikan langkahnya dan berbalik memandang orang itu.
Ia justru malah memilih memepercepat langkahnya dan mengabaikan panggilang orang itu yang terus meneriaki namanya dengan keras.
Greepp
Langkah kita terpaksa terhenti, saat orang itu berhasil menahannya.
Kina segera berbalik memandang orang itu, lalu segera ia tepis kasar tangan orang itu yang menahannya.
"Lo mau apa?β Tanyanya dengan garang.
Darrenjun mengkerutkan dahinya merasa bingung dengan perubahan gadis yang ada didepannya saat ini. Seingatnya mereka telah berbaikan dan tak memiliki permasalahan apapun lagi.
Lalu ada apa lagi ini?
"Lo kenapa?β Tanya Darrenjun yang masih heran dengan perubahan sikap Kina itu.
"Gue gak papa. Minggir gue buru-buru,β Ucap Kina dengan suara lantang, tak ada niatan baginya untuk bersikap lembut didepan Darrenjun.
Belum sempat Kina berbalik, Darrenjun lebih dulu menahannya.
"Lo bohong, lo ada masalah sama gue kan?βTebak Darrenjun.
Kina berusaha menahan kesabarannya. Ingin sekali ia langsung berteriak detik itu juga pada Darrenjun yang berdiri dihadapannya dengan keras.
*'Iya, gue kesal karena Lo uda cuekin gue semalam didepan cewek yang bernama Lisa itu'. *
Tapi sayangnya kata-kata itu hanya mampu ia ucapkan didalam hatinya saja. Kata-kata itu seperti tertahan didepan bibirnya.
"Gak, gue lagi males aja,β Jawab Kina seadanya.
"Kenapa? Lo lagi PMS? Atau ada masalah?Cerita ke gue,β Cercah Darrenjun.
"Gak usah sok perhatian.β
Kina ingin berbalik dan meninggalkan Darrenjun tapi sayangnya lelaki itu lebih dulu memblok jalannya dan mau tak mau langkahnya kembali terhenti.
"Minggir gue mau lewat.β
"Gak, gue gak bakalan minggir kalo lo gak cerita masalah lo sama gue.β
"Gak usah maksa. Lo pikir lo siapa!" Teriak Kina dengan keras. Sudah hilang kesabarannya karena Darrenjun yang begitu keras kepala.
Darrenjun terhenyak beberapa saat mendengar ucapan Kina barusan. Hatinya sedikit terluka, karena kata-kata itu kembali lagi keluar dari bibir Kina. Kenapa gadis itu masih meragukan hubungan mereka?
"Gue pacar elo,β Terang Darrenjun.
"Oh ya, kalo bener gue pacar lo, terus yang dirumah lo semalam itu siapa? Kekasih elo, tunangan lo, atau istri lo?β Ucap Kina mulai sewot. Ini masih pagi dan Darrenjun sudah membuat moodnya benar-benar buruk.
Darrenjun terdiam beberapa saat, tampak berpikir dengan maksud perkataan Kina barusan. "Rumah gue?β Ulangnya.
"Maksud lo Lisa?β
"Iya!"
Darrenjun seketika tertawa dan membuat Kina merasa semakin jengkel. Bisa-bisanya Darrenjun tertawa disaat seperti ini.
"Lo marah karena itu?β
Kina diam, tak menggubris. Sudah cukup ia menjelaskan semuanya pada Darrenjun.
"Gue sama Lisa itu gak ada apa-apa. Dia itu cuma temen kecil gue.β
"Bohong. Buktinya kenapa dia manggil lo dengan sebutan Injun kalo lo emang gak ada apa-apa sama dia?β
"Itu panggilan sayang elo kan?β
Darrenjun kembali tertawa, tatapan Darrenjun yang mulai emosi melembut. Tangannya ia arahkan ke kepala Kina dan mengacaknya gemas.
Kina segera menepis kasar tangan Darrenjun dari atas kepalanya, rambutnya yang rapi telah berantakan berkat Darrenjun.
"Minggir gak usah modus.β
"Lo cemburu?β
"Enggak lah mana mungkin, gue sadar diri kali.β
Darrenjun menghembuskan nafasnya kasar, sepertinya Kina telah salah paham mengenai hubungannya dengan Lisa.
"Hubungan gue dan Lisa itu gak seperti yang elo pikirin, gue dan dia cuma temen gak lebih. Hati gue cuma buat elo.β
"Dasar pembohong. Lo gak usah ngalus deh, gak mempan ke gue.β
"Gue harus apa supaya lo percaya dengan ucapan gue?β Tanya Darrenjun yang mulai frustasi karena Kina yang tak mempercayainya.
"Kalo bener Lisa itu cuma sebatas temen kecil buat lo, kenapa lo manggil dia pake 'aku, kamu'? gue yang pacar lo tetap manggil lo, gue kan,β Ucap Kina dengan geram, ia sungguh tidak menyukai sikap kedua orang itu yang seolah-olah menjelaskan bahwa keduanya memiliki ikatan.
Darrenjun menaikan sebelah alisnya. "Bukannya elo yang gak mau dipanggil gituan sama gue?β
"Kapan gue pernah ngomong gitu ke elo?β
"Jadi lo ngode mau dipanggil begituan?? Oke gue bakalan turutin kalo itu mau lo,β Goda Darrenjun yang telah tersenyum lebar.
"Maksud aku, kamu.β
Kina mendadak terdiam, bodoh. Kenapa iya mengatakan hal itu dengan mudahnya pada Darrenjun.
Darrenjun bahagia bukan main, akhirnya sedikit demi sedikit perasaannya telah terbalaskan.
Kina yang marah-marah seperti ini membuatnya gemas, ingin sekali rasanya Darrenjun memeluk Kina dengan erat detik ini juga. Tapi hal itu tak akan mungkin dilakukan oleh Darrenjun, mengingat tempat mereka berada sekarang.
Jika Darrenjun tetap nekat, pasti keduanya akan diberi teguran oleh pihak sekolah karena telah melakukan hal yang tak senonoh.
Oh sungguh. Ingin sekali Darrenjun melakukan hal itu.
Darrenjun memegang kedua pundak Kina dengan erat dan disaat itu lah kedua mata mereka saling bertemu.
"Aku janji bakal manggil Lisa dengan sebutan elo, gue. Tapi gak sekarang kasih aku waktu". Pintanya penuh keyakinan penuh.
Meski berat untuk menyetujui permintaan Darrenjun barusan, Kina tetap mengangguk. ditatapnya kedua manik mata Darrenjun dengan lekat mencari kebohongan disana, tapi sayangnya ia tak menemukan apa-apa dan malah menjadi terpesona oleh sosok itu.
"Maaf, karena tadi pagi gak bisa nganter kamu, hape sama motor aku rusak," Aku Darrenjun dengan jujur.
"Jangan marah ya," Pinta Darrenjun penuh harap.
Kina mengangguk dan sekarang ia baru tahu ternyata ia mulai tersihir oleh pesona Darrenjun sedikit demi sedikit.
-
-
"Kuy kantin," Ajak Lala dan Mita.
Kina mengangguk dan bangkit dari duduknya.
Kedua temannya mendadak berhenti saat hampir sampai diambang pintu. Kina mengerutkan dahinya dengan kelakuan temannya itu. "Lo ngapain tiba-tiba berhenti sih?" Kesalnya.
"itu. Darrenjun uda nungguin tuh," Tunjuk Lala ke arah luar kelas.
Kina mengikuti arah pandang kedua temannya itu dan menemukan Darrenjun yang telah berdiri menunggunya.
"Gue gak nyangka seorang Darrenjun yang banyak fansnya bucinnya ke cewek modelan elo yang gak peka."
"Lo niat muji atau menghina gue sih?"
Mita menyengir. "hehe sorry Kin, masi rada belum terbiasa liat lo dan Darrenjun dekat kayak gini."
Kina tak menggubris dan berjalan menuju Darrenjun yang telah menunggunya dengan santai. Meski terlihat biasa saja, tapi jauh didalam lubuk hatinya ia begitu bahagia melihat Darrenjun yang menunggunya seperti itu.
"Ayo ke kantin," Ajak Darrenjun saat menyadari Kina yang telah berada didekatnya.
Kina mengangguk, mengiyakan ajakan Darrenjun tersebut.
Darrenjun menggenggam tangan Kina, tapi dengan cepat ditepis olehnya.
"Peraturan nomor satu," Ucap Kina dengan lantang dan membuat Darrenjun menghembuskan nafasnya kasar.
Ia jelas tau, maksud perkataan Kina barusan dan aturan aneh yang mereka setujui bersama.
"Aturan nomor satu bisa dituker gak?"
"Kenapa?"
"Gue... eh maksud aku, aku gak suka. Diganti ya," Pinta Darrenjun penuh harap.
Baru saja Darrenjun ingin membuka suara, Kina lebih dulu memotongnya.
"Gak ada penolakan," Candanya dan membuat Darrenjun yang tampak kesal berubah menjadi senyuman.
"Punya aku," Ucapnya.
"Pinjem."
"Waduh... Waduhhh. ini nih kalo baru jadian bucinnya gak kira-kira," Ledek Haikal pada Kina dan juga Darrenjun.
"Paan dah lo."
Tatapan Haikal tiba-tiba tanpa sengaja melirik ke arah Mita, ia masih saja penasaran dengan gadis yang menjadi teman Kina itu, tampak familiar baginya.
Dengan nalurinya, Haikal mendekat ke arah Mita yang tengah berdiri tepat disebelah Lala. Ia pandangi gadis itu dengan lekat.
"Gue kenal elo," Ucap Haikal saat dirinya telah berada dihadapan Mita.
Mita langsung mengalihkan tatapannya ke arah lain. Berusaha menghindari tatapan Haikal yang seolah-olah menusuknya.
Kina mendrong tubuh Haikal dengan kasar. Menjauhkannya dari makhluk yang sellau bisa membuatnya emosi itu.
"Lo gak usah modus ke temen gue, cari cewe lain sana kasihan temen gue kalo sama elo yang modalan gratisan hidupnya."
Haikal mencibir. Ia ingin sekali adu mulut dengan Kina yang telah mengatainya itu. Tapi, niatannya itu terpaksa ia urungkan, mengingat dengan siapa Kina saat ini dan status keduanya yang telah terikat.
Jika Haikal tetap nekat, ia sangat yakin Darrenjun pasti tidak akan diam saja dan hal itu akan membahayakan dirinya. Karena yang ia tahu Darrenjun mungkin akan membalasnya berkali kali lipat.
Dan Haikal masih sayang akan nyawanya dan mau tak mau dia lebih memilih diam saja dan mencoba bersabar dari Kina.
Seketika Haikal menyesal karena tak memisahkan keduanya sejak dari dulu. Kalau begini ceritanya Haikal tak akan pernah menang melawan Kina.
"Gue deluan," Ucap Mita yang segera pergi dari gerombolan itu.
Baru saja beberapa langkah menjauh. Haikal tiba-tiba berteriak dengan suara keras dan membuatnya membeku.
"SITI FATIMAH!" Teriak Haikal dan sontak perkataan Haikal barusan membuat semuanya memandang Mita yang tampak membeku.
Semuanya melirik keduanya secara bergantian, tampak penasaran dengan yang terjadi.
"Dari mana lo tau namanya Siti Fatimah" Tanya Kina yang merasa aneh dengan pengetahua Haikal itu. Karena setahunya hanya orang terdekatnya saja yang tau fakta tersebut. Lalu darimana Haikal bisa tahu?
Apa hubungan keduanya?
Haikal menoleh ke arah Kina dan tersenyum senang. "Jadi bener dia Siti Fatimah?" Tanyanya.
Kina dan Lala mengangguk bersamaan.
"Dia itu temen TK gue. Cewek yang selalu ngikutin gue kemanapun gue pergi dan nangis kalo gue ninggalin dia sendiri."
"Ha? Lo penipu," Bantah Kina cepat.
"Gue gak nipu, gue jujur. Lo bisa tanya dia gimana cintanya dia dulu ke gue. Tapi sayang gue gak suka dengan dia karena gue gak suka cewek posesif," Jelas Haikal.
Kina masih tak percaya dengan perkataan Haikal barusan, tapi saat melihat reaksi Mita yang diam saja membuat Kina agak yakin dengan ucapan Haikal tersebut. Tapi, yang membuat Kina tak habis pikir, bagaimana gadis seperti temannya itu menyukai lelaki amburadul seperti Haikal.
Mita merasa malu dengan semuanya, karena fakta itu benar adanya. Dengan cepat ia pun bergegas berlari menjauh dari gerombolan itu.
Ia benci jika masa lalu menyakitkan itu kembali memenuhi kepalanya. Agak trauma sebenarnya.
-
Langkahnya sudah jauh dari yang lain, dan Mita pun menghentikan langkahnya saat berada diujung lorong. Ada kursi disana dan ia pun segera duduk dengan pikiran yang telah berkelana entah kemana.
Wajahnya ia tutupi dengan kedua tangannya, berusaha menyingkirkan bayangan itu lagi. Padahal itu adalah kisah yang ingin ia kubur seumur hidupnya dan semua usahanya seolah-olah sia-sia jika begini jadinya.
"Jadi lo beneran Siti Fatimah?"
Mita langsung bangkit dari duduknya dan menoleh ke arah orang yang barusan bertanya padanya.
Ia menatap lelaki yang ada dihadapannya dengan sinis. "Kalo iya kenapa? Lo mau ngejek gue?" Tanyanya.
Orang itu menggeleng pelan, lalu tersenyum.
"Akhirnya," Ucap orang itu tampak lega.
Perubahan orang itu membuat Mita sedikit merasa aneh.
"Gue seneng akhirnya gue bisa ketemu elo lagi," dan tanpa disangka-sangka orang itu malah mendekat dan memeluk Mita dengan erat.
"Lo kemana aja selama ini."
Mita merasa shock dengan perbuatan lelaki itu padanya, dengan cepat ia melepas pelukan itu dan menatap orang itu dengan garang.
Lelaki itu tak merasa bersalah sama sekali, ia masih menatap Mita dengan tatapan aneh bagi Mita.
Emilio Marvin, siapa yang tak mengenalnya, salah satu pemain basket dan jangan lupakan tentang keluarganya. Anak tunggal dari keluarga konglomerat kaya raya. Jika diibaratkan mengenai status sosialnya, Emilio berada di urutan pertama dan disusul oleh Darrenjun, Arji, Rey, Mark dan juga Haikal.
"Lo mau apa? Jangan ngajak mesum ke gue atau gue teriak," Ucap Mita dengan wajah yang tak bersahabat sama sekali.
"Sorry, gue gak maksud. Gue terlalu senang aja ketemu lo lagi," Jawab Emilio yang masih mempertahankan senyumannya.
"Jangan sok akrab ke gue hanya karena lo temennya Darrenjun dan Mark."
Lelaki yang memiliki nama asli Emilio Marvin itu menatap Mita dengan sedih.
"Lo gak ingat gue?" Tanyanya. "Gue temen kecil elo."
Mita mengerutkan dahinya tak mengerti maksud ucapan Emilio, karena yang ia tahu hanya Haikal yang berhubungan dengan masa lalunya yang ingin ia segera lupakan itu.
"Gue gak ingat elo siapa, gue cuma tau elo Emilio Marvin anak basket," Terang Mita.
Ekspresi senang Emilio seketika memudar, ia menatap Mita dengan tatapan kecewa.
"Gue Emilio, Lio elo. Bocah yang selalu ngikutin elo kemanapun elo pergi."
Mita mencoba mengingat kembali mengenai masa lalunya itu.
Lalu, setelah menemukan jawabannya, ia membulatkan matanya sembari menutup mulutnya, merasa terpacaya dengan siapa dia berhadapan. "Seriusan elo Lio temen kecil gue?"
Emilio mengangguk semangat. "Iya itu gue. Gue anak kecil yang tinggal di samping rumah nenek elo. Gue Lio."
"Oh iya, gue inget, elo kan anak yang janji mau ketemuan ditaman dan elo malah pergi ninggalin gue gitu aja?" Sambung Mita reflek.
Seketika mereka menjadi terdiam. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.
Kenangan itu kembali berputar bagai kaset film didalam kepala mereka.
Kenangan dimana Emilio meninggalkan Mita begitu saja, dan kepergiannya memberikan luka yang begitu dalam bagi Mita. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana ia menunggu Emilio di halaman rumah Emilio sepanjang hari, menunggu anak laki-laki itu keluar dari rumahnya untuk diajak main. Tanpa ia tahu bahwa anak laki-laki itu telah pergi dari subuh tanpa kata perpisahan.
"Maaf," Ucap Emilio memecahkan keheningan yang sempat mengerubungi keduanya.
"Buat?"
"Karena gue ninggalin elo tanpa ngasih tau elo lebih dulu."
Mita berusaha menunjukan seulas senyuman pada Emilio. "Lo gak usah ngerasa bersalah. Lagian itu cuma masa lalu."
"Gimana caranya gue gak ngerasa bersalah ke elo, gue ninggalin elo disaat gue janji akan jaga elo terus."
Mita terdiam.
"Harusnya gue berontak waktu kedua orang tua gue bawa gue pergi jauh dari elo."
Emilio menarik tangan Mita, lalu menggenggam tangan gadis itu.
"Gue gak pernah berhenti mikirin elo sedetikpun sejak kejadian itu. Seharusnya gue nyari elo lebih dulu. Maaf."
Mita memegang sebelah pundak Emilio berusaha menenangkannya. Meski sebenarnya ia pun merasakan hal yang sama.
Sakit
"Lo gak usah nyalahin diri elo. Itu cuma masa lalu buat kita."
Emilio menatap kedua mata Mita dan tersenyum tipis. "Lo bener. Dan gue gak akan pernah ngelakuin kesalahan yang sama buat kedua kalinya."
"Gue gak akan ngelepasin elo lagi," Ucap Emilio dengan keyakinan penuh.
Mita membeku. Sosok bocah lucu nan menggemaskan, dengan pipi cabinya yang selalu tersenyum dan tertawa bersamanya yang terkenang didalam memori otaknya, kini telah menjelma menjadi sosok lelaki yang tampan dan juga tinggi. Padahal dulu tinggi keduanya hanya berbeda beberapa centi saja.
Entah kenapa berdiri dihadapan Emilio yang telah berubah, membuatnya merasa gugup. Perasaan itu seakan kembali lagi, seperti nostalgia.
Perasaan apa ini?
Mita masih tidak percaya bahwa Emilio Marvin adalah teman kecilnya yang menjadi cinta pertamanya.
"Jadi pacar gue," Pinta Emilio.
Mita membulatkan matanya penuh.
"M... maksud lo? Kita baru aja ketemu masa elo-"
"Perasaan gue gak pernah berubah. Gue sayang elo. Elo cinta pertama buat gue dan gue harap elo dan gue bisa sama-sama terus."
Mita masih diam, hal ini begitu mengejutkan, bagaimana perasaan keduanya bisa sama.
"Gue akan sedih kalo lo nolak gue," Ucap Emilio penuh harap.
Dan tanpa disangka, Mita mengangguk dengan keyakinan penuh, seolah olah hatinya telah menuntunya untuk menerima lelaki yang menjadi cinta pertamanya itu.
Ia tahu ini begitu cepat bagi keduanya memutuskan untuk bersama, tapi tak ada salahnya jika ia mencoba. Biarkan hatinya yang bekerja.
...-...
...-...
...πCUTTON CANDYπ...
...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya man teman ππ...